Catatan Popular

Sabtu, 13 Oktober 2012

KITAB ILMU IHYA ULUMUDDIN : BERKENAAN DALIL-DALIL AQAL (SIRI 4)

KARANGAN IMAM AL GHAZALI DALAM KITAB IHYA ULUMUDDIN.....SIRI 4

Berkenaan Dalil Dalil Aqal 

Ketahuilah, bahwa yang dicari dari bab ini, ialah mengenal al-fadhilah. (kelebihan) dan kenilaian ilmu. Dan selama belum dipahami kelebihan itu sendiri dan tidak diselidiki maksud daripadanya, maka tak mungkinlah diketahui adanya kelebihan itu menjadi sifat bagi ilmu atau bagi yang lain dari segala persoalan.

Maka sesungguhnya, telah sesat jalan orang yang ingin mengetahui bahwa si Zaid itu seorang filosuf atau bukan, sedang dia belum lagi mengetahui arti dan hakikat ilmu filsafat itu.

Al-fadliilah, berasal dari perkataan al-fadlli, yaitu lebih (az-ziadah). Apabila bersekutulah dua benda dalam sesuatu hal dan salah satu daripada keduanya, tertentu dengan suatu kelebihan, maka dikatakanlah : itu kelebihannya. Dan ia mempunyai kelebihan dari yang daripadanya, manakala kelebihannya itu mengenai yang menjadi kesempurnaan sesuatu itu sendiri. Umpamanya dikatakan : kuda itu lebih utama dari keledai, dengan arti : bahwa kuda bersekutu dengan keledai tentang sama-sama mempunyai kekuatan mengangkut. Tetapi ku da melebihi dari keledai, dengan kekuatan tampil ke depan, berlari dan ketangkasan melompat serta kebagusan bentuk.

Kalau diumpamakan : keledai itu mempunyai suatu kelebihan daging tumbuh, maka itu tidaklah dikatakan suatu kelebihan. Karena itu adalah suatu tambahan pada tubuh dan suatu kekurangan dalam arti yang sebenarnya. Jadi, tidaklah termasuk kesempurnaan sedikitpun. Dan hewan itu dicari untuk maksud dan sifatnya, tidak untuk tubuhnya.

Apabila ini telah anda pahami, maka tidaklah tersembunyi lagi bagi anda, bahwa ilmu itu suatu kelebihan, bila dibandingkan dengan sifat-sifat yang lain, sebagaimana kuda itu mempunyai suatu kelebihan, bila dibandingkan dengan hewan-hewan yang lain. Bahkan kecepatan melompat, adalah suatu kelebihan pada kuda dan tidaklah itu suatu kelebihan mutlak.

Ilmu itu adalah suatu kelebihan pada dirinya dan secara mutlak tanpa diperhubungkan kepada yang lain. Karena ilmu itu adalah sifat kesempurnaan bagi Allah swt. Dengan ilmulah, mulia para malaikat dan Nabi-Nabi. Bahkan kuda yang cerdik adalah lebih baik dari kuda yang bodoh.

Dari itu, ilmu itu suatu kelebihan mutlak, tanpa diperhubungkan dengan yang lain.Ketahuilah, bahwa sesuatu yang bernilai lagi digemari itu, terbagi kepada :

1.dicari untuk lainnya.
2.dicari karena benda itu sendiri.
3.dicari untuk tujuan lainnya dan bersama untuk benda itu sendiri.

Maka yang dicari karena benda itu sendiri, adalah lebih mulia dan lebih utama daripada yang dicari untuk lainnya. Yang dicari untuk lainnya, ialah dirham dan dinar. Keduanya adalah batu, tak ada gunanya. Kalau tidaklah Allah Ta'ala menjadikan keduanya untuk memudahkan memperoleh keperluan hidup,maka dirham dan dinar itu sama saja dengan batu yang terletak di tepi jalan. 

Yang dicari untuk benda itu sendiri yaitu kebahagiaan di akhirat dan kesenangan memandang Wajah Allah swt. Dan yang dicari untuk benda itu sendiri dan untuk lainnya, seperti : keselamatan tubuh. Keselamatan seseorang itu  umpamanya dicari, dari segi, bahwa keselamatan itu, adalah keselamatan bagi tubuh, dari kepedihan. Dan dengan keselamatan itu, dicari untuk berjalan dan mencapai maksud-maksud dan hajat keperluan.

Dengan pandangan tersebut, apabila anda perhatikan kepada ilmu, niscaya anda memperoleh pada ilmu itu sendiri suatu kesenangan. Jadi, ilmu itu termasuk dicari untuk ilmu itu sendiri. Dan anda peroleh bahwa ilmu itu jalan ke negeri akhirat, kebahagiaan akhirat dan jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Dan tidak akan sampai kepadaNya, selain dengan ilmu.

Kedudukan yang tertinggi bagi seorang manusia, ialah kebahagiaan abadi. Dan suatu yang paling utama, ialah jalan kepadanya. Dan tidak akan sampai kepadanya selain dengan ilmu dan amal. Dan tidak akan sampai kepada amal, selain dengan mengetahui cara beramal.

Maka asal kebahagiaan di dunia dan di akhirat, adalah ilmu. Jadi, ilmulah yang terutama dari segala amal perbuatan. Betapa tidak! Kadang-kadang mengetahui keutamaan sesuatu juga dengan kemuliaan hasilnya. Dan anda mengetahui bahwa hasil ilmu itu, ialah mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi. Itu semuanya adalah di akhirat.

Adapun di dunia, maka adalah kemuliaan, kebesaran, pengaruh, pemerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri. Sehingga orang Turki yang bodoh dan orang Arab yang kasar, secara naluri, mereka menghormati kepala-kepalanya. Karena kekhususan mereka dengan ketambahan ilmu, yang diperoleh dari pengalaman. Bahkan dengan tabiatnya,hewan menghormati manusia,karena perasaannya perbedaan manusia dg. kesempurnaan yang melebihi derajat hewan itu

Inilah keutamaan ilmu secara mutlak! Kemudian, ilmu itu berbeda-beda seperti akan diterangkan dan sudah pada tempatnya pula berlebih kurang keutamaannya, disebabkan kelebih-kurangnya itu, Dan keutamaan mengajar dan belajar, sudah jelas dari apa yang kami sebutkan dahulu.

Apabila ilmu itu, lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih utama itu. Maka mengajarkannya, adalah memberi faedah bagi keutamaan. Jelasnya, segala maksud manusia itu terkumpul dalam agama dan dunia. Dan agama tidak teratur, selain dengan teraturnya dunia. Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Dunia adalah alat yang menyampai- kan kepada Allah Ta'ala, bagi orang yang mau mengambilnya menjadi alat dan tempat tinggal. Tidak bagi orang yang mengambilnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.

Urusan duniawi tidak akan teratur, selain dengan amal perbuatan manusia. Amal perbuatan, pekerjaan dan perusahaan manusia itu, terbatas pada tiga bahagian : 

1.Pertama pokok : Alam ini tidak dapat tegak bila pokok ini tidak ada, yaitu empat : pertanian untuk pangan,pertenunan untuk sandang, perumahan untuk tempat tinggal dan siasah (politik), yaitu untuk kerukunan, persatuan dan gotong-royong mencapai sebab-sebab yang membawa kepada kehidupan yang lebih baik dan mengendalikannya.

2.Kedua : ialah, yang mempersiapkan bagi tiap-tiap usaha tersebut dan yang melayaninya. Seperti pertukangan besi, adalah melayani pertanian dan sejumlah usaha dengan persiapan alat-alat- nya. Seperti membersihkan kapas dari bijinya dan membuat benang. Semuanya itu demi untuk bertenun kain dengan persiapan amal usahanya.

3.Ketiga : ialah, penyempurna bagi pokok dan penghias, seperti menumbuk tepung dan membuat roti bagi pertanian, menggunting kain dan menjahit bagi pertenunan.

Yang tersebut tadi, bila dihubungkan kepada tegak berdirinya alam kebumian, adalah seumpama bahagian-bahagian dari seseorang, bila dihubungkan kepada keseluruhannya. Yaitu ada tiga macam pula. Adakalanya pokok, seperti hati, jantung dan otak. Adakalanya pelayan bagi pokok itu seperti perut, urat, urat syaraf dan pembuluh darah. Dan adakalanya penyempurna dan penghias bagi pokok, seperti kuku, anak jari, dan bulu kening.

Yang termulia dari segala pekerjaan itu ialah pokoknya. Yang termulia dari pokoknya ialah siasah, dengan kerukunan dan perbaikannya. Dari itu, usaha tersebut meminta kesempurnaan dari orang yang bertanggung-jawab, melebihi dari usaha-usaha yang lain.

Dari itu tidak mustahil, yang punya pekerjaan tersebut, menggunakan pengusaha-pengusaha yang lain. Dan siasah pada perbaikan orang banyak dan menunjukkannya ke jalan lurus, yang membawa kelepasan di dunia dan di akhirat, adalah atas empat tingkat :

1.Tingkat tertinggi, yaitu siasah dan hukum Nabi-Nabi as. terhadap golongan tertentu dan orang banyak, baik dhahir atau bathin.

2.Tingkat khalifah, raja-raja dan sultan-sultan. Dan hukum yang dijalankan mereka adalah terhadap golongan tertentu dan umum seluruhnya. Tetapi mengenai yang dhahir saja, tidak yang bathin.

3.Tingkat 'alim ulama, yang mengenal Allah dan agamanya, yang menjadi pewaris dari Nabi-Nabi. Hukum mereka adalah terhadap bathin golongan tertentu saja. Golongan orang awwam, tak dapat memahami untuk memperoleh faedah dari mereka.Kekuatan para ulama itu, tidak sampai kepada pengurusan amal perbuatan dhahiriyah golongan tadi, baik dengan menyuruh, melarang dan memerintahkan.

4.Tingkat para juru nasihat. Hukum mereka adalah mengenai bathin orang awwam saja.

Yang termulia dari usaha empat tingkat tadi, sesudah tingkat kenabian, ialah memfaedahkan ilmu dan mendidik jiwa manusia supaya terhindar dari pekerti tercela yang membinasakan dan menunjuk jalan, kepada budi pekerti terpuji yang mendatangkan kebahagiaan.

Itulah yang dimaksudkan dengan pengajaran. Kami sesungguhnya mengatakan, bahwa mengajar ini adalah yang lebih utama, dibandingkan dengan pekerjaan dan usaha lain. Karena keutamaan usaha itu, dapat di kenal dengan tiga perkara : adakalanya dengan menoleh kepada naluri, yang menyampaikan kepada mengenalinya, seperti keutamaan Ilmu Pasti dari Ilmu bahasa, karena Ilmu Pasti itu diketahui dengan akal, sedang Ilmu Bahasa dengan mendengar. Akal adalah lebih mulia dari pendengaran. Adakalanya dengan melihat kepada kepentingannya yang lebih lengkap, seumpama kelebihan pertanian dari pertukangan emas. Dan adakalanya dengan memperhatikan tempat pekerjaan itu, seumpama kelebihan pertukangan emas dari pada penyamakan kulit. Sebab yang pertama tempatnya emas dan yang kedua tempatnya kulit bangkai.

Dan tidaklah tersembunyi bahwa ilmu agama ialah memahami jalan akhirat, yang dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebersihan kecerdikan.

Akal adalah yang termulia dari sifat-sifat insan sebagaimana akan diterangkan nanti.
Karena dengan akal, manusia menerima amanah Allah.
Dan dengan akal akan sampai kesisi Allah swt.

Tiada ulasan: