Catatan Popular

Selasa, 9 Julai 2019

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH MEDINA KE 38 - JANGANLAH CITA CITA MU DITUJU SELAINALLAH

Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:


” Janganlah cita-citamu tertuju kepada selain Allah, kerana harapan seseorang tidak akan dapat melampaui Yang Maha Pemurah (Al Karim). “


Ibn ‘Atho’illah mengingatkan tidak sepatutnya seorang hamba menujukan cita-cta dan pengharapannya kepada selain Allah Ta’ala kerana selain Dia, tidak ada yang mampu untuk memenuhinya.

Tidak ada yang pemurah/dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Allah Ta’ala. Al-Junaid berkata Al Karim (Pemurah/Dermawan) itu ialah yang memberi/memenuhi hajat keperluan sebelum diminta.

Ada pula pendapat Al Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berharap.

Al Karim (Pemurah/Dermawan) iaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak hirau berapa pemberiannya dan kepada siapa diberikannya.


HIKAM ATHAILLAH SYARAH IBN ABBAD KE 38 - TUJUAN HANYA KEPADA ILLAHI

Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:


“Jangan biarkan niat keazaman anda lulus Nya kepada mana-mana yang lain, cita-cita tidak lulus hanya kepada Yang Maha Pemurah.”

Jangan biarkan niat anda lulus apa-apa jua yang lain dari Allah, kerana aspirasi harapan yang tidak lulus Yang Maha Pemurah. Seseorang dengan maruah akan menahan diri menyampaikan keperluan dan permintaan itu kepada orang yang bukan murah hati, dan yang hanya benar-benar murah hati adalah Tuhan Kedua-dua alam.

Kata-kata yang terbaik menggambarkan kemurahan hati: yang mulia adalah dia: yang menunjukkan belas kasihan apabila dia mempunyai kuasa, yang memenuhi setiap janji yang dibuatnya, yang apabila memberi memberi yang banyak di luar jangkaan dan tidak peduli berapa banyak dia memberikan atau kepada siapa yang jika permintaan dibentangkan kepada orang lain dia tidak akan gembira, yang jika diabaikan akan hanya menyalahkan dan tidak bertindak balas, dan yang tidak akan dikecewakan sesiapa sahaja yang mencari tempat tinggal dan perlindungan dan akan mencukupi dia di luar mencari cara dan sekutunya.

Dan kerana penerangan ini hanya bersesuaian dengan bermaruah Baginda, maka aspirasi yang alim harus tidak lulus-Nya kepada mana-mana lagi. [aarIf]) berkata:
Ia adalah [haram] bagi sesiapa yang percaya kepada mengesakan Tuhannya yang.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH SUFI KE 38 - SEGALA PEMBERIAN BERASAL DARI ALLAH



Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

“Jangan engkau melampaui niat tujuanmu kepada yang selain Allah. Karena sungguh Dzat Yang Maha Mulia (Allah) itu tidak dapat dilangkahi oleh suatu harapan (angan-angan)”.


Kalau kita memohon sesuatu kepada selain Allah, jangan sampai permohonan itu melampaui batas, karena Allah adalah dzat yang maha pemurah. Boleh meminta kepada selain Allah, tetapi kita tidak boleh percaya bahwa selain Allah itulah yang memberi, kita harus berkeyakinan bahwa Allah lah yang memberi dengan perantaraan orang yang kita mintai tersebut.


HIKAM ATHAILLAH SYARAH USTAZ BESTARI KE 38 - KEMURAHAN DAN LIMPAH KURNIAAN ALLAH


Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

لا تتعد نية همتك الي غيره ، فالكريم لا تتخطاه الأمل


“Janganlah anda melampaui niat dan pengharapan kepada yang lain daripada Allah lantaran segala angan-angan tidak boleh mengenepikan pemberian dan limpah kurniaan Yang Maha Pemurah itu.”


Kurniaan dan anugerah Allah ke atas segala makhlukNya amat melimpah ruah sehingga tidak wajar dan tidak beradab apabila seseorang itu mengharap dan memohon kepada yang lain daripada Allah.Sehubungan ini Allah berfirman
  
Maksudnya : Dan Dia telah memberi  kepada kamu sebahagian dari tiap-tiap apa jua yang kamu berhajat kepadaNya.Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah,nescaya lemahlah kamu menentukan bilangannya.Sesungguhnya manusia yangh engkar sangat suka menempatkan sesuatu pada bukan tempatnya,lagi sangat tidak menghargai ni’mat Tuhannya.(Surah Ibrahim ayat 34 )

Kita tidak patut memohon dan mengharapkan kepada yang lain daripada Allah apabila dasarnya membelakangi konsep ubuduyah kita kepada Allah.Pergantungan kita kepada pertolongan Allah mesti berada pada kondisi yang optimis dan positif.Sebagaimana Nabi Yusuf berkata setelah keluar dari penjara :

Maksudnya : “Aku rasa cukup (memadai) agamaku lebih daripada duniamu,dan aku juga memada dengan Tuhanku tentang agamaku.”
Demikian pula Nabi Ibrahim berkata sebelum dia dicampak ke dalam api :
“Aku merasa cukup daripada bermohon kepadaNya lantaran Dia Maha mengetahui akan hal keadaanku”.
Allah SWT adalah Zat Yang Maha Pemurah.Dia mengampunkan dosa dan memaafkan kesalahan orang-orang yang menyesal dengan kesalahannya dan bertaubat ke atas segala ketelanjurannya.Justeru itu apabila anda memohon dan mengharap kepada yang lain daripada Allah nescaya Dia tidak meredhai permohonan dan pengharapan anda itu.
Apabila seseorang itu menghayati konsep kemurahan Allah yang tiada batasan itu akan timbul empat bentuk kebahagiaan dan kedamaian dalam hatinya apabila dia menghadapi pelbagai situasi dalam hidupnya.Inilah apa yang diungkapkan oleh Abu al-Hasan Sariyy al-Saqatiyy (saudara kandung Syeikh Junayd al-Baghdadi) dengan katanya :
  
Maksudnya : Empat perkara yang membawa seseorang itu kepada ketenangan hati dan jiwa ;
1.    Takut atau gerun akan kemurkaan Allah semata-mata
2.    Pengharapan hanya kepada Allah semata-mata
3.    Kecintaan hanya tertumpu kepada Allah semata-mata
4.    Bermesra dan jinak hanya dengan Allah semata-mata.

Justeru itu benarlah kata Abu al-Harith al-Muhasaibi didalam kitabnya Ar-Ri’ayah Li HuquqiLlah : “ Hendaklah kamu berputus asa dengan makhluk tetapi jangan sekali-kali berputus asa dengan Allah”.Inilah penegasan Allah SWT didalam firmanNya yang mengisahkan nasihat Nabi Ya’akub kepada anak-anaknya dalam usaha mencari puteranya Nabi Yusuf yang hilang :
  
Maksudnya : Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah.Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaun yang kafir.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH USTAZ MUHAMMAD WAFI KE 38 - PERTOLONGAN ALLAH


Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:


"Janganlah cita-citamu tertuju kepada selain Allah karena harapan seseorang tidak akan dapat malampui Al-Karim (yang maha pemurah)".


Hikmah ini sebagai buah/hasil dari hikmah sebelumnya dengan mengangan-ngangan serta mempelajarinya, yakni Dzat yang memiliki wujud yang haq yaitu wajib wujudnya (adanya) yang tiada duanya maka dari itu wujudnya adalah wujud yang azaly yang tiada awalnya.

Sedangkan apa yang kau saksikan disekililingmu dari dunia itu wujudnya tidak seperti Allah melainkan wujudnya bertahap (sedikit demi sedikit) dalam rentan waktu yang lama.

Disaat aqalmu telah sempurna dalam keyaqinan ini dan ilmu dan haqiqatnya telah terpatri dalam hatimu maka itulah tauhid yang telah ditetapkan Allah dan yang terkandung dalam suatu kalimat yang Allah mensifatinya dengan kalimat thoyyibah yaitu (لااله الا الله).

Jika kita telah mengetahui bahwa wujud Allah, kekuasaanNya, kemurahanNya, serta kepemilikanNya tiada yang membandingi, maka jelaslah bagi kita untuk hanya menggantungkan cita-cita pada Dzat yang tunggal dalam segala makna dan sifat-sifat yang telah disebut sebelumnya.

Dan telah kau ketahui bahwa sang pemilih wujud/lari dari sifat wujud hanya Allah saja, maka wajiblah bagi kita untuk tidak melampui Allah dengan cita-cita kita, apapun cita-cita itu dari mana cita-cita muncul.

Dan jikalau cita-cita (harapan) itu berhubungan dengan rizqi, maka tujukanlah harapanmu hanya pada Dzat yang seluruh kerajaan langit dan bumi ada pada kekuasaanNya.

Jikalau harapan itu berhubungan dengan kesehatan, maka tujukanlah harapan itu hanya pada Allah yang nabi Ibrohim kholilulloh berkata :

Artinya : "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku".(QS. As-Syu'ara'-80)

Jikalau harapan itu berhubungan dengan keturunan dan kesejahteraan serta rasa aman maka mantapkanlah harapan itu berdasar ayat Allah :

Artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik". (QS. An-Nahl- 97)

Jikalau harapan itu berhubungan dengan tercegahnya sesuatu yang tidak dia sukai seperti amannya dia dari orang dzolim atau musuh maka mantapkanlah harapan itu hanya pada Allah yang telah mengkhitobi nabi musa dan harun dengan ayat :

Artinya : Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thoha: 46)

Dan demi umurku, berdasarkan keterangan-keterangan diatas bagi orang yang berharap dengan harapan-harapan diatas kepada selain Allah maka dia telah menyekutukannya dan dia telah ragu pada kalimat thoyyibah لاإله إلاالله

Jika kau bertanya tentang ucapan nabi musa dan harun saat keduanya menyatakan takut pada fir'aun :

Artinya : "Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas". (QS. Thoha : 45)

Maka saya jawab : bahwasanya harapan keduanya untuk terlepas dari kekejaman fir'aun tersebut itu tertuju pada Allah, bukan fir'aun, karena yang dikehendaki dari ucapan tersebut adalah agar Allah tidak menjadikan fir'aun mampu untuk berbuat buruk kepada keduanya. Maka dari itu ucapan tersebut adalah puncak dari ketauhidan kepada Allah SWT dan sifat-sifatNya yang agung maka dari itu Allah menentramkan hati keduanya dengan jawabanNya :

Artinya : Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thoha: 46)

Oleh karena itu maka tauhid, ‘itiqod dan ucapan lisan wajib terbangun darinya tauhiduttholla'at As sulukiyyah. Dan juga hubungan-hubungan sosial sedangkan untuk yang kedua (hubungan sosial) ini sebagaiman yang telah diperintahkan nabi kepada Abdullah bin Annas disaat dia mnegikuti nabi dari belakang,

"Wahai anak muda, saya akan memberi tahu kepada kamu beberapa kalimat : " meminta penjagaanlah kepada Allah maka Allah akan menjagamu , meminta penjagaanlah kepada Allah maka kamu akan menemukanNya dengan menghadap kearah kamu, ketika kamu meminta maka memintalah kepada Allah, dan kekita kamu meminta pertolongan maka meminta pertolonganlah kepada Allah, sesungguhnya suatu umat ketika berkumpul untuk meminta pertolongan kepada kamu atas sesuatu yang sudah Allah berikan kepada kamu, dan kekita mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu yang sudah Allah pastikan, maka akan dihilangkan catatan-catatan dan ditutup beberapa buku.

Dan perkara tersebut bukanlah tauhid yang mencukupi dalam hakikatnya, akan tetapi sebuah aqidah yang tidak bisa terlepas dari hasil sebuah aplikasi (praktek) disaat praktek atau aplikasi kemantapan hati untuk mengarahkan harapan hanya kepada Allah subhanahu Wata'ala maka segala hal yang berhubungan dengan sebab-sebab (rizki, kesehatan, kekuatan, aman,tentram) akan selaras dengan perintah Allah dan menjadi begian yang tak akan terpisahkan dari tauhid Allah.

Jika ini sudah jelas, maka antara sebab-sebab pokok dan sebab-sebab rohmat ilahi juga perantara-perantarNya tidak akan ada bedanya, karena sebagaimana menjadikan hujan sebagai sebab adanya tumbuhnya tanaman , makanan sebagai sebab adanya kenyang, obat sebagai sebab sembuhnya seseorang, begitu juga derajat rasulallha disisi Allah dan cinta rasul sebagai sebab turunnya rohmat dan syafa'at bagi hamba-hambanya sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An Binya : 107
Artinya : "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (QS. Al-Anbiya' : 108)

juga pada surat An nisa' : 64
Artinya : "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisa' : 64)

Dan semua itu boleh dijadikan perantara asal dalam hatinya tidak boleh hilang bahwa semua itu adalah kehendak dan perintah dari sang tunggal dalam wujudnya. Serta perbuatan "makan" saat lapar, minum saat haus serta memakan obat saat sakit adalah sebuah bentuk aplikasi dari seorang hamba atas apa yang telah menjadi perintah Allah / kehendakNya. Serta bentuk memuliakannya untuk hamba tersebut yang mengherankan, terkadang ada seseorang yang sakit meminta tolong kepada dokter seraya berkata : "Dok, tolong sembuhkan penyakit saya ini dan dia tidak merasa bersalah dan menghiraukan ucapan tersebut, dan dia tidak tahu bahwa ucapan tersebut akan merusak ketauhidannya.

Tiada beda antara Assabab Al ja'liyyah yang ada dalam obat untuk penyembuhan, Assabab ajja'liyyah Yang ada dalam tawashul untuk sembuh lewat derajat rasullah salallhu'alaihi wasalalam, sebab Allah menaruh sebuah hikmah yang jelas atau tidak terang dalam penyembuhannya lewat obat maupun tawashul kepada rasulallah maupun yang meminum air zamzam.

Dan yang lebih mengherankan lagi sebuah golongan yang membeda-bedakan antara kebolehan tawashul kepada nabi saat hidup dan wafatNya, disyari'atkan saat beliau masih hidup, tidak disyari'atkan saat beliaui telah wafat.

Jelas sekali ini adalah ucapan yang keliru mareka berasumsi bahwa masyru'nya adalah kekuatan dzatiyyah /jasad beliau ketika masih hidup kekuatan itu ada tapi ketika sudah mati kekuatan itu sudah redup dan hilang, padahal tawasshul yang kita bahas disini adalah tawashul letak derajat rasulallah disisi Allah dan lebih jelas lagi maqom /derajat rosul terus ada meskipun beliau sudah wafat. Cukuplah do'a yang disunahkan rasulallha shalallahhu'alalihi wasalam setelah adzan sebagai bukti yang bisa dijadikan justifikasi.

Akan tetapi takutlah kamu untuk memahami sebab-sebab tersebut dengan "kekutan yang dititipkan pada sebab tersebut" karena pemakaman tersebut dapat mengarahkan bahwa Allah sengaja menaruhnya disebagian wujud sesuatu serta memberinya kekuasaan dan bisa berfungsi, pemikiran seperti ini adalah syirik yang jelas karena akan muncul apa bedanya kamu membuat berhala atau seseorang untuk disembah dengan kamu membuat sesatu dengan disebut "kekuatan yang ditiitpkan sebagai sesembahan ?

Adakalanya kamu menjadikan kekuatan tersebut sebagai kekuatan Allah SWT yang mana kekuatan tersebut disandarkan kepadanya dan tidak terpisah darinya yang telah ditiitpkan dan ditaruh pada sesuatu yang disebut dengan sebab jika demikian jelaslah kamu menjadikan kekuatan tersebut sebagai sekutu Allah, bahwa sekutu yang lebih kuat dari Allah yang mana Allah tidak bisa dikatakan tuhan jika tanpa kekuatan tersebut . padahal jelaslah bahwa Allah terlepas dari kesalahan-kesalahan pemakaman seperti ini sebab Allah telah berfirman :

Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya". (QS. Ar-Rum : 25)

Juga pada ayat :

Artinya : "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah". (QS. Fathir : 41)

Katakanlah padaku, mana dari ayat-ayat tersebut yang menetapkan adanya kekuatan yang ditiitpkan pada sebab ?

Ingatlah bahwa segala sesuatu didunia ini yang tumbuh dan berkembang besar dan kecil, jelas dan samar, semua telah diatur oleh Allah untuk membaca tasbih yang tak pernah terputus dan mengesakannya yang tak pernah diam dengan aturanya " لاحول ولاقوّة الا بالله"

Semoga Allah menghidupkan kita dan mematikan kita, serta menggiring kita berdasar tuntutan aturan yang kokoh ini, keyaqinan dalam aqal keteguhan dalam hati, dzikir dengan lisan, dan menjadikan perkara-perkara tersebut sebagai pemberi syafa'at bagi kita dihadapan keburukan dan kekuarangan.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH TO’ FAKIR KE 38 : AL-KARIM, TUMPUAN SEGALA HAJAT


Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:


  “ JANGAN DILAMPAUI NIAT TUJUAN KAMU KEPADA SELAIN-NYA KERANA AL-KARIM TIDAK DAPAT DILAMPAUI OLEH SEBARANG HARAPAN.”

Orang yang masih dalam perjalanan sangat teringin untuk cepat sampai kepada Allah s.w.t. Dia terpesona melihat keadaan orang-orang yang telah sampai. Kadang-kadang timbul rasa tidak sabar untuk ikut sama sampai kepada tujuannya. Perasaan tidak sabar akan menimbulkan harapan atau cita-cita agar ada seseorang yang dapat menolong mengangkatnya. Orang yang diharapkan itu mungkin terdiri daripada mereka yang telah sampai atau mungkin juga dia menaruh harapan kepada wali-wali ghaib dan malaikat-malaikat. Maksud dan tujuannya tidak berubah, iaitu sampai kepada Allah s.w.t tetapi dalam mencapai maksud itu sudah diselit dengan harapan kepada selain-Nya. Ini bermakna sifat bertawakal dan berserah dirinya sudah bergoyang. Sebelum dia terjatuh, Hikmat 38 ini menariknya supaya berpegang kepada al-Karim. Walau kepada siapa pun diletakkan harapan namun, harapan dan orang berkenaan tetap mencari al-Karim. Tidak ada harapan dan cita-cita yang dapat melepasi al-Karim.

Al-Karim adalah salah satu daripada Asma-ul-Husna. Nama ini memberi pengertian istimewa tentang Allah s.w.t. Al-Karim bermaksud:
1:  Allah s.w.t Maha Pemurah.
2:  Allah s.w.t memberi tanpa diminta.
3:  Allah s.w.t memberi sebelum diminta.
4:  Allah s.w.t memberi apabila diminta.
5:  Allah s.w.t memberi bukan kerana permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.
6:  Allah s.w.t memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.
7:  Allah Yang Maha Pemurah tidak kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
8:  Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah s.w.t memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali al-Karim nescaya permintaan, harapan dan angan-angan tidak tertuju kepada yang lain melainkan kepada-Nya. Allah al-Karim menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya tanpa ada kaitan dengan sebarang permintaan, cita-cita atau harapan sesiapa pun. Dia menentukan dan menetapkan hukum pada setiap kejadian-Nya dengan kehendak-Nya juga. Dia menyediakan segala keperluan makhluk-Nya dan mempermudahkan makhluk-Nya memperolehi rezeki masing-masing dengan kehendak-Nya juga. Tidak ada sesuatu yang campur tangan dalam urusan-Nya membahagikan kebaikan kepada makhluk-Nya.

Manusia terhijab memandang kepada kemurahan al-Karim oleh sikap mereka sendiri. Mereka menerima sesuatu kebaikan al-Karim sebagai perkara semulajadi sehingga mereka lupa perkara yang mereka anggap sebagai semulajadi itu sebenarnya dijadikan, tidak ada sebarang kebetulan pada urusan Tuhan. Tuhan mengatur sesuatu dengan rapi, kemas dan sempurna, tiada sebarang kecacatan dan tidak ada kebetulan. Pergantian siang dengan malam, perubahan cuaca, keberkesanan sistem sebab-akibat adalah kurniaan al-Karim untuk manfaat makhluk-Nya, tanpa sesiapa meminta Dia berbuat demikian. Sistem perjalanan darah, pernafasan, perkomahan, penghadhaman dan semua yang ada dengan manusia adalah kurniaan al-Karim yang memberi tanpa diminta. Manusia tidur malamnya dan dikejutkan oleh al-Karim pada siangnya tanpa diminta. Al-Karim menaburkan ikan-ikan di laut sebagai makanan manusia tanpa diminta. Al-Karim menurunkan hujan dan menyuburkan pokok-pokok tanpa diminta. Tidak dapat dinilaikan betapa besar dan banyaknya nikmat yang disediakan oleh al-Karim untuk makhluk-Nya tanpa mereka meminta. Makhluk berbangsa manusia adalah yang paling banyak menikmati kemurahan al-Karim.

Makhluk yang tidak dibekalkan nafsu dan akal  tidak tahu meminta. Mereka menerima apa sahaja yang al-Karim sediakan buat mereka. Manusia yang dibekalkan nafsu dan akal selain menerima segala nikmat yang disediakan oleh al-Karim tanpa mereka mengajukan permintaan, mereka juga mempunyai keinginan, harapan, cita-cita dan angan-angan. Dalam banyak perkara yang mereka inginkan mereka ajukan permintaan kepada Allah s.w.t. Allah al-Karim bukan sekadar memberi apa yang diminta malah Dia memberi juga apa yang dicita-citakan, diharapkan dan angankan.

Al-Quran mengingatkan manusia supaya mengenang nikmat kebaikan dan kemurahan Allah al-Karim.
Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak  dustakan (wahai umat manusia dan jin)? ( Ayat 13 : Surah ar-Rahmaan )

 Ayat di atas diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah sahaja iaitu surah ar-Rahman. Wahai bangsa jin dan bangsa manusia yang dipikulkan tanggungjawab pengabdian kepada Allah s.w.t! Perhatikan nikmat, rahmat, kasihan belas dan kasih sayang-Nya, yang mana satu yang mahu kalian dustakan? Allah s.w.t menanyakan yang sama sebanyak 31 kali. Tiang Arasy bergegar sekiranya Allah s.w.t ajukan pertanyaan ini kepada para malaikat yang menanggung Arasy. Apakah tidak hancur hati kamu mendengar pertanyaan Tuhan ini? Makhluk bangsa jin yang beriman menyambut pertanyaan Tuhan ini dengan jawapan:
Ya Tuhanku! Tidak ada sesuatu pun dari kurnia Engkau, ya Rabbana, yang dapat kami dustakan.

Allah! Ar-Rahman! Al-Karim! Kepada siapa lagi hendak kamu ajukan permintaan? Kepada siapa lagi hendak kamu sandarkan harapan? Bukankah Dia telah berfirman:

Ia telah menetapkan atas diri-Nya  memberi rahmat. ( Ayat 12 : Surah al-An’aam )

Contohilah sikap Nabi Ibrahim a.s yang sentiasa bergantung kepada al-Karim dan tidak kepada yang lain. Beliau a.s menolak pertolongan yang ditawarkan oleh malaikat Jibrail a.s. Beliau a.s yakin bahawa Allah al-Karim tidak akan membiarkannya. Penyerahan Nabi Ibrahim a.s kepada al-Karim tidak sia-sia.
Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera atas Ibrahim!”. ( Ayat 69 : Surah Anbiyaa’ )

Allah s.w.t, al-Karim, menerima penyerahan penuh Nabi Ibrahim a.s dan Dia melindungi hamba-Nya yang bertawakal itu.
Berkata pula seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kitab Allah: “Aku akan membawanya kepadamu dalam sekelip mata!”  Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di sisinya, berkatalah ia: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidak menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”. ( Ayat 40 : Surah an-Naml )

Al-Karim yang menyejukkan api dari membakar Nabi Ibrahim a.s, Dia jugalah yang membawa Balkis dan istananya kepada Nabi Sulaiman a.s. Kurniaan Al-Karim tidak dapat diukur dan disukat. Dia memberi terlalu banyak kerana Dia sangat Pemurah.

Wahai Tuhan kami. Walau bagaimana banyak sekalipun kami menyebut kebaikan Engkau namun ia tetap tidak mencukupi. Ampunilah kami lantaran kelemahan kami menyatakan syukur yang selayaknya kepada Engkau.

HIKAM ATHAILLAH SYEIKH SAID RAMADHAN AL BUTHI KE 38 - Hasrat atau angan-angan kuatmu janganlah sampai melewati kepada selain Allah

Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 “Hasrat atau angan-angan kuatmu janganlah sampai melewati kepada selain Allah, karena Allah yang mulia tidak akan terlewati oleh angan-angan.”


Kalam hikmah ini, sebetulnya adalah sebegai pengokoh dari kalam hikmah sebelumnya (Hikmah 37). Telah kita pahami pada kajian kalam hikmah sebelumnya, bahwa Dzat yang wajib adanya hanyalah satu, Allah SWT, tidak ada tandingan bagiNya.

Dialah Dzat yang ada dan berdiri sendiri, tanpa ada yang menyertai. Dan Dialah Dzat yang ada sejak zaman azali, tidak ada permulaan bagiNya. Ketika anda melihat di sekitar terlihat aneka barang, pada hakikatnya itu tidak wujud, karena semua alam diciptakan oleh Allah sesaat saja. Maka kita mengerti bahwa segenap makhluk yang ada tidak memilki daya dan upaya, semua gerak-geriknya ada dalam kontrol kekuasaan Allah yang Maha Esa.

Jika akal anda sudah tercetak dengan model konsep keyakinan di atas, serta telah menjadi pemahaman yang terpatri dalam lubuk hati. berarti makna tauhid yang terkandung dalam kalimat لاإله إلا الله betul-betul tertancap kuat dalam otak dan hati anda.’ Dan menyadari bahwa dalam kekuasaan Allah, tidak ada kekuasaan tandingan, dalam kemuliaan Allah tidak ada kemuliaan yang menandingi, dalam kerajaan Allah tidak ada kerajaan yang menandingi dan dalam ketuhanan Allah tidak ada Tuhan yang menandingi.

Karena sudah diyakini bahwa setiap sesuatu yang wujud, muncul dari kehendak Allah, bersamaan dengan maunah-Nya dan akan kembali ke hadirat-Nya. Dan telah anda pahami, sesungguhnya Dzat yang wujud dan memiliki segala yang ada hanyalah satu, Allah Dzat yang Maha Esa. Sebab itu, jangan sampai angan-angan anda melewati pada selain Dzat yang maha bijaksana, Allah Azza wa Jalla.

Jika engkau menginginkan rizeqimu berlimpah, maka bersegeralah datang pada Dzat yang maha mengusai Langit dan Bumi serta isinya.!
Jika engkau beranagan-angan fisikmu ingin sehat, maka bersegeralah datang kepada Dzat yang telah dijadikan pengaduan oleh Nabi Ibrahim..!

Sebagaimna perkataanya yang ada dalam firman Allah: “Jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku”(QS. Al-Syuara, 80)

Jika engkau mendambakan ketenangan, keberuntungan dan kesentosaan, maka segeralah menghadap pada Dzat yang berfirman: 

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”. (Qs. Al-Nahl, 97)

Dan jika engkau memiliki kehawatiran dan takut dari gangguan orang dzalim atau musuh, maka mengadulah pada Dzat yang telah berfirman;
Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thaha, 46).

Maka jangan sekali-kali anda mengadukan segala keinginan dan kebutuhanmu kepada selain Allah. Karena hal demikian termasuk tidak mengesakan Allah. Jadi, akidah itu harus terbangun dari dua unsur, lahir dan batin (Hati dan prilaku) tidak boleh sebagian. Hati yakin pada keesaan Allah, tapi prilaku dzahir tak mencerminkan apa yang diyakini, ini salah. Prilaku dzahir mencerminkan keyakinan pada Allah, tapi akidah di dalam hatinya rusak, juga salah. Jadi akidah yang benar harus terbangun darii dua unsur tadi itu. Tak boleh ada yang dikurangi sedikitpun.

Sebagaimana didikan Rasulullah terhadap shahabat Abdullah bin Abbas yang terurai dalam hadis berikut; Nabi saw bersabda:
 “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.  Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh, selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR Imam Tirmidzi)

Begitulah bimbingan Rasulullah terhadap ummatnya dalam masalah akidah, sangat konprehensif. Jika sudah jelas, angan-angan dan semua tujuan harus ditujukan kepada Allah, maka interaksi selanjutnya yang dilakukan termasuk sebuah tindakan taat. Seperti berusaha untuk mendapatkn rizeki, berobat untuk memperoleh kesehatan belajar untuk memiliki ilmu pengetahuan dst.

Sebab-musabab seperti ini termasuk kelakuan taat (menjalankan perintah Allah), dan bagian yang tak terpisahkan dari lingkup garis akidah. Mestinya kita juga ngerti, bahwa antara sebab-sebab material seperti contoh di atas dan sebab-sebab untuk mendaptkan rahmat Allah itu sama.

Semisal menjadikan hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya seperti para Nabi, Shahabat dan Shalihin sebagai perantara untuk meraih rahmat Allah SWT. Karena, sebagaimana Allah menjadikan hujan sebagai sebab munculnya tumbuh-tumbuhan, makanan sebagai sebab ras kenyang, obat-obat sebagai sebab sembuhnya penyakit, juga menjadikan pangkat Rasulullah yang tinggi di sisiNya, sebagai sebab mendapatkan rahmat dan syafaat.

Bukankah Allah berfirman sesungguhnya Rasullah diutus sebagai rahmat untuk semesta alam.
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’,107)

Sangat jelas, seorang muslim boleh menjadikan obat sebagai lantara sembuhnya penyakit, minum air agar segar dan berusaha agar dapat rizqi. Juga boleh menjadikan Rasulullah sebagai wasilah atau pelantara untk mendatangkan rahmat Allah serta meraih kesuksesan. Langkah semacam ini, termasuk interaksi yang sesuai tatanan ketentuan Allah yang memang dianjurkan untuk dilaksanakan.

Maka sangat heran, jika ada seseorang yang mendapati pasien penderita penyakit yang mengadu kepada dokter, “Dok tolong sembuhkan penyakit saya”. Dia tidak menggubris dan tidak memprotes perkataan itu sama sekali, padahal permohonan semacam itu dapat merusak pada akidah.

Namun, jika ia mendapati seorang yang mengahadap kepada Allah seraya berkata; “Ya Allah aku bertawasul kepadamu dengan berkah pangkat Nabimu, Muhammad saw, agar Engkau menyembuhkan penyakit yang kami derita”.

Dia bertindak mengkafirkan dan memusyrikkan terhadap orang yang berdoa seperti ini, bahkan kadang ia menyuruhnya bersyahadat. Jadi, apa bedanya antara kausalitas semu yang Allah tempatkan dalam obat sebagai penyembuh dan pangkat Nabi yang dibuat tawasul untuk berbagai kebutuhan?

Lebih heran lagi, adalah kelompok yang membedakan antara hidupnya Nabi dan wafatnya. Mereka meyakini, bahwa tawasul kepada Nabi SAW disyariatkan hanya pada waktu hidup beliau, tidak setelah wafatnya. Kelompok seperti ini mengartikan bahwa tawssul kepada Nabi akan berhasil hanya melalui kekuatan fisik beliau saja. Setelah beliau wafat, hilang sudah kekuatan itu. Sehingga jika masih bertawasul kepadanya, maka tak ada faidah. Tentu, keyakinan semacam ini keliru, karena menganggap Nabi memiliki kekuatan intrinsik yang dapat merealisasikan keinginan sesorang.

Bahkan dia terlibat dalam kesyirikan yang menghawatirkan, karena kekuatan secara hakiki hanyalah satu, kekuatan Allah SWT yang maha Raja. Menjadi maklum, tawassul yang disyariatkan, adalah bertawasul dengan pangkat Nabi yang tinggikan oleh Allah untuk memperoleh ampunan dan syafaatNya. Tanpa menganggap bahwa Nabi yang memberikan segalanya, namun tetap berkeyakinan semua muncul dari Allah SWT yang terwujud karena berkahnya.

Semoga iman kita tambah kuat dan tidak goyang walau ada badai yang menerjang, serta mendapat keselamatan di hadapan Tuhan. Amin


HIKAM ATHAILLAH SYARAH GURU LANANG KE 38 - JANGAN MEMINTA PERTOLONGAN SELAIN ALLAH


 Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:



Laa tata’adda niyyatu himmatika ilaa ghairihi falkariimu laataakhaththahul-aamalu.

 “Jangan lewatkan niat kepentinganmu kepada Allah. Sedangkan Allah Dzat yang Maha Mulia itu tidak bias meliwati angan-angan”.


Tidak kurang dari 17 kali setiap hari kita membaca Al-Fatihah, yang pada salah satunya mempunyai arti :
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”.


Ayat tersebut di atas tentulah tidak cukup kalau hanya dibaca dan dihafalkan saja. Akan tetapi lebih daripada itu, haruslah kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian amatlah tidak sesuai dan sama sekali tidak cocok dengan apa yang kita ucapkan, apabila dalam menghadapi suatu keperluan kita meminta pertolongan kepada selain Allah.


Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, tidaklah pernah akan kekuarangan atau marah kepada hamba-Nya yang suka dan seringkali meminta kepada-Nya. Tetapi justru Dia akan mencurahkan segala kasih dan saying-Nya kepada hamba yang suka meminta tersebut.


Kenyataan di atas menimbulkan inpirasi bagi sastrawan arab, sehingga mengatakan:
“Janganlah memohonkan hajatmu kepada bani Adam, tetapi memohonkan kepada Allah yang pintunya tidak pernah tertutup. Allah murka jika kamu meninggalkan permohonan kepada-Nya, dan bani Adam akan marah jika terlalu sering dimintai”.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH AL SYARQAWI KE 38 - KEBUTUHAN MU HANYA ALLAH

Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

“Jangan sampai tekadmu tertuju pada selain-Nya karena Tuhan Yang Mahamulia (karim) tidak mungkin akan terlampau oleh harapan dan angan”

Jangan sampai kau menuju kepada selain Allah dalam memenuhi kebutuhanmu. Akan tetapi, ungkapkan hajatmu kepada-Nya dan mintalah dari-Nya. Tekad yang tinggi selalu mencari pemenuhan kebutuhannya kepada sosok yang mulia; dan tak ada yang benar-benar mulia kecuali Allah swt.


Setiap orang yang mulia; jika sudah menetapkan sesuatu, pasti akan memenuhinya; jika berjanji, akan menepatinya; jika memberi, akan menambahkan pemberiannya melebihi harapan. Dia tidak peduli berapa banyak dan kepada siapa dia memberi. Dia tidak mengurangi dan tidak pernah mengecewakan siapapun yang berlindung kepadanya. Dia akan mencukupinya dengan segala pertolongan. Sifat-sifat ini tidak dimiliki selain oleh Allah swt. Karena itu, selayaknya harapan dan asa para pengharap tidak boleh melewatinya dan menuju kepada selain-Nya.


Ketahuilah bahwa meminta kepada makhluk dianggap bertentangan dengan ‘ubudiyah (penghambaan di hadapan-Nya) bila didasari oleh rasa bergantung pada makhluk dan lalai untuk meminta kepada Allah. Lain halnya bila permintaan tersebut diiringi dengan keyakinan bahwa makhluk yang dimintainya hanyalah wasilah (perantara), tetapi yang sebenarnya memberi adalah Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Ini tidak bertentangan dengan ‘ubudiyah.


HIKAM ATHAILLAH SYARAH SYEIKH QUTUB KE 38 : AL-KARIM TUMPUAN SEGALA HAJAT

Menurut Kalam Hikmah ke 38 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

"Jangan melampaui/melanggar niat dan tujuanmu [hasrat dan harapanmu] kepada lain-Nya. Maka Tuhan yang maha pemurah itu tidak dapat di lampaui oleh sesuatu harapan (angan-angan) hamba.''

Sebaiknya bagi orang yang mengharapkan berhasil hajatnya, jangan meminta kapada selain Alloh (makhluk), karena itu bertentangan dengan sifat ‘ubudiyyah. Itu kalau permintaan itu disandarkan/bergantung pada makhluk, dan lupa pada Alloh ketika berdo’a. apabila permintaan pada makhluk (manusia) menjadi perantara untuk meminta kepada Alloh, dan selalu memandang Alloh-lah dzat yang memberi. Permintaan seperti ini masih diperbolehkan.
Perasaan yang luhur enggan membuka kebutuhan [hajat] -nya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Alloh Ta'ala.

Syeikh Junaid al-Baghdadi berkata: ''Dermawan [Al-Karim] itu ialah yang memberi kebutuhan seseorang sebelum diminta.''

Ada pula berpendapat: ''Dermawan [Al-Karim] ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berharap.''

Dermawan [Al-Karim] yaitu apabila berkuasa mema'afkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak memperdulikan tentang berapa banyak pemberiaannya, dan kepada siapa yang ia berikannya.

Al-karim adalah salah satu dari Asma’ul husna. Asma’ ini memberi pengertian yang istimewa tentang Alloh.
Al-karim berarti:
1.    Alloh Maha pemurah.
2.   Alloh memberi tanpa diminta.
3.   Alloh memberi sebelum diminta.
4.   Alloh memberi apabila diminta.
5.   Alloh memberi bukan karena permintaan tetapi cukup sekedar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Alloh tidak mengecewakan harapan hambanya.
6.   Alloh memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.
7.   Alloh Yang Maha Pemurah tidak dikira berapa banyak yang diberikan-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
8.   Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Alloh memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali Al-Karim niscaya permintaan, harapan dan angan-angannya tidak tertuju kepada yang lain melainkan kepada-Nya.

HIKAM ATHAILLAH SYARAH HJ SALIM BAHRISEY KE 38 - AL KARIM SEGALA TUJUAN


Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

“Jangan melanggar/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada lain-lainNya. Maka Tuhan yang maha murah itu tidak dapat diliwati oleh sesuatu harapan (angan-angan). “

Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenamya kecuali Allah ta’ala.

Al-Junaid berkata : Al-Karim (Dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta.

Ada pula pendapat : Al-Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan-angan (berharap).

Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak hirau berapa pemberiannya, dan kepada siapa memberinya.