Catatan Popular

Isnin, 24 Jun 2019

Masuk Surga Setelah Meninggalkan Kekufuran Padahal Belum Pernah Sujud Kepada Allah


Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pernah Berkata:”Tahukah kalian siapakah orang yang masuk Surga tetapi tidakpernah shalat walaupun sekali?” Kemudian dia sendiri yang menjawab: “Dia adalah Amr bin Tsabit”. Ibnu Ishaq berkata bahwa Hushain bin Muhammad pernah berkata: “Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid,’Bagaimana kisah Amr bin Tsabit itu?’, ia menjawab,’Dulunya, Amr bin Tsabit itu menolak agama Islam. Akan tetapi, saat terjadi perang Uhud dia menjadi simpatik kepada Islam. Kemudian dia mengambil pedangnya dan bergabung dengan kaum muslimin.

Saat perang sedang berkecamuk dia masuk ke kancah peperangan sampai akhirnyadia terluka. Ketika ditemukan oleh orang-orang yang sekabilah dengannya, mereka bertanya,’Apa yang membuatmu datang ke mari? Apakah karena kasihan pada kaum kabilahmu, ataukah karena kau ingin masuk Islam?’ Dia jawab,’Ya, karena aku ingin masuk agama Islam, aku telah berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga aku terluka begini’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi ura sallam bersabda,’Sungguh dia adalah ahli Surga.”‘ Dalam riwayat lain disebutkan: Kemudian dia meninggal -karena lukanya- maka dia masuk surga dan tidak pernah melaksanakan shalat sekalipun ( Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari (6/25) Kitab Al-jihad. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sanad hadits ini shahih) .

Kisah tersebut juga diriwayatkan dengan redaksi lain Az-Zuhri dan Urwah berkata: “Ada seorang budak hitam dari Habasyah yang tinggal di daerah Khaibar, saat itu dia sedang menggembalakan kambing milik tuannya. Ketika dia melihat penduduk Khaibar telah memegang senjata perang mereka, dia bertanya,’Mau apa kalian?’, mereka menjawab,’Kami akan memerangi orang laki-laki yang mengaku nabi itu.’ Saat mendengar kata “Nabi” disebut dia langsung pergi dengan kambingnya menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bertanya pada beliau,’Kepada apa Anda mengajak orang?’ Nabi menjawab,’Aku akan mengajakmu kepada Islam kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku ini adalah utusar Allah, dan aku juga mengajak agar kau tidak menyembah kecuali kepada Allah’.

Kemudian si budak tadi berkata ‘Apa yang bisa aku dapatkan bila aku mengikrarkan persaksian tadi dan beriman kepada Allah?’. Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Kau akan mendapatkan Surga bila mati atas hal itu.’ Lalu dia masuk Islam dan berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Hai Nabi Allah, kambing-kambing ini adalah amanat yang ada padaku.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan, ‘Keluarkan kambing-kambing itu dari laskar kami dan lemparilah dengan batu kerikil niscaya Allah akar membantumu memberikan amanat itu pada yang punya. Lalu dia kerjakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ternyata kambing-kambing itu kembali pulang kepada pemiliknya, hingga tuannya yang Yahudi itu tahu bahwa budaknya telah masuk Islam. Setelah itu beliau memberikan nasihat-nasihat kepada kaum muslimin.”

Dalam riwayat ini juga disebutkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sdllam memberikan bendera komando kepada Ali radhiallahu ‘anhu Dan di bawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu budak hitam itu meninggal. Kaum muslimin yang ada saat itu menggotongnya ke tempat berkumpulnya pasukan Islam, kemudian memasukkannya ke dalam kemah. Mereka berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke dalam kemah lalu berkata kepada para sahabat: “Sungguh, Allah telah memuliakan budak ini dan menggiringnya menuju kebaikan.

Agama Islam telah benar-benar berada dalam hatinya. Sungguh, aku telah melihat di sisi kepalanya dua bidadari yang cantik.” Al-Hafizh Al-Baihaqi meriwayatkan kisah ini dengan sanadnya dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: “Suatu saat kami pernah bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di perang Khaibar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan pasukannya lain datanglah seseorang dengan kambing-kambing yang sedang digembalakannya” Untuk selanjutnya riwayat ini sama dengan kisah budak hitam di atas.

Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa orang tersebut akhirnya ter bunuh dalam keadaan syahid, sementara dia tidak pernah bersujud kepada Allah Szlbhanahu wa Ta’ala sekalipun!”

Memberi Satu Dirham Lalu Allah Memberinya Seratus Dua Puluh Ribu Dirham


Melemparkan Diri Agar Tidak Jatuh Dalam Dosa Maka Allah Ganti Dengan Kebaikan


Pada masa Bani Israil ada seorang pemuda yang ketampanannya tidak tertandingkan. Dia bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya, ada seorang wanita yang keluar dari rumah seorang raja Bani Israil. Demi melihatnya, si wanita dengan cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk memberitahukan pada putri raja: “Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda yang menjual keranjang, tak pernah saya melihat pemuda setampan dia.” Sang putri berkata: “Suruh dia masuk.” Si wanita tadi keluar dan mengajak masuk pemuda itu. Setelah dia masuk, pintu dikunci rapat.
Lalu datanglah sang putri menemuinya dengan wajah dan bagian lehernya terbuka.

Maka si pemuda berkata: “Hai, tutuplah (auratmu), semoga Allah memaafkanmu!” Dengan terus terang si wanita menjawab: “Kami tidak memanggilmu untuk membeli daganganmu, Akan tetapi untuk melakukan sesuatu.” Si wanita pun mulai menggoda dan merayunya. Sementara pemuda itu berkata: “Takutlah kamu kepada Allah,” sang putri malah mengancam: “Bila kau tidak mengikuti keinginanku, aku akan beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa diriku berbuat macam-macam.”
Kemudian pemuda itu mengajukan permintaan: “Tolong sediakan untukku air untuk berwudhu.” Jawab sang putri: “Oh rupanya kau masih mencari alasan?! Hai pembantu, tolong sediakan untuknya air wudhu di atas mahligai itu”, sebuah tempat yang tidak mungkin pemuda itu bisa kabur dari situ .

Setelah pemuda itu tiba di mahligai, dia berdo’a: “Ya Allah, sungguh aku sekarang telah diajak untuk bermaksiat kepadaMu, tetapi aku memilih untuk melemparkan diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam perbuatan dosa.” Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya. Saat itu pula Allah menurunkan malaikatNya yang memegang kedua ketiak pemuda itu sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya.

Ketika sampai di tanah dia berkata: “Ya Allah, bila Engkau berkehendak, karuniakanlah kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang.” Allah mengabulkan do’anya. Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang yang terbuat dari emas, maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah itu dia berkata: “Ya Allah, bila ini merupakan rizki yang Engkau karunia-kan kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku keberkahan di dalamnya.

Tapi, bila rizki ini akan mengu-rangi jatahku yang tersimpan di sisiMu di akhirat nanti, maka aku tidak membutuhkannya.” Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas kesabaranmu menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi itu. Lalu dia berkata: “Kalau begitu ya Allah, aku tidak membutuhkan sesuatu yang nanti akan mengurangi jatahku yang ada padaMu di akhirat.” Maka diambillah kembali emas-emas itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Meninggalkan Suatu Perbuatan Ikhlas Karena Allah Ta Ala Maka Allah Keluarkan Dia Dari Masalah


Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah berbicara ketika masih dalam buaian (bayi) kecuali tiga orang, Isa bin Maryam. Beliau bersabda, ‘Dulu, dikalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang ahli ibadah. Ia dipanggil dengan nama Juraij. Ia membangun tempat ibadahnya dan melakukan ibadah di dalamnya’.

Beliau bersabda, “orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut tentang (ketekunan) ibadah Juraij, sehingga berkatalah seorang pelacur dari mereka, ‘Jika kalian mnghendaki aku akan memberinya ujian’. Mereka berkata, ‘Kami menghendakinya’. Perempuan itu lalu mendatanginya dan menawarkan diri kepadanya. Tetapi Juraij tidak mempedulikannya. Lalu ia berzina dengan seorang gembala yang meneduhkan kambing gembalaannya ke dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya iapun hamil dan melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, ‘Hasil perbuatan siapa?’ Ia menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatanginya dan memaksanya turun. Mereka mencaci, memukulinya dan merobohkan tempat ibadahnya’. Juraij bertanya, apa yang terjadi dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi’. Ia bertanya ‘Dimana dia?’ Mereka menjawab, ‘Itu dia!’ Beliau bersabda, ‘Juraij lalu berdiri dan shalat kemudian berdo’a.

Setelah itu ia menghampiri sang bayi lalu mencoleknya seraya berkata, ‘Demi Allah, wahai bayi, siapa ayahmu?’ Sang bayi menjawab, ‘Aku adalah anak tukang gembala’. Serta merta orang-orangpun menghambur kepada Juraij dan menciuminya. Mereka berkata kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas’. Ia menjawab aku tidak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah ia dari tanah sebagaimana yang semula’.

Beliau bersabda, ‘Ketika seorang ibu memangku anaknya menyususi tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat, maka ia pun berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia’. Beliau bersabda, ‘Maka bayi itu meninggalakan tetek ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda seraya berdo’a, ‘Ya Allah jangan kau jadikan aku seperti dia’. Lalu ia kembali lagi ke tetek ibunya dan menghisapnya’. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jarinya di mulut lalu menghisapnya.
Lalu ibunya melalui seorang wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Sang ibu berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia’. Beliau bersabda, ‘Bayi itu lalu meninggalkan tetek ibunya dan menghadap kepada wanita hamba sahaya itu seraya berdo’a, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia’. Beliau bersabda, ‘Dan pembicaraan itu berulang. 

Sang ibu berkata (kepada anaknya), ‘Dibelakangku berlalu seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat lalu aku berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia’. Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia’. Lalu aku berlalu dihadapan wanita hamba sahaya ini dan aku katakan, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia’. Lalu engkau berkata, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia’. Bayi itu berkata, ‘Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat itu adalah orang yang sombong di antara orang-orang yang sombong. Sedang terhadap hamba sahaya wanita itu, orang-orang berkata, ‘Dia berzina, padahal ia tidak berzina. Dia mencuri, padahal ia tidak mencuri’. Sedang hamba sahaya tersebut berkata, ‘cukuplah Allah sebagai pelindungku’.
(HR. Al-Bukhari, 6/511, Ahmad dan ini adalah lafazh beliau, Muslim dalam Al-Adab.)

Melemparkan Diri Agar Tidak Jatuh Dalam Dosa, Maka Allah Ganti Dengan Kebaikan


Khamis, 13 Jun 2019

KISAH HIKMAH RASULULALH INI ALASAN MICHAEL HART JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW 100 TOKOH BERPENGARUH NOMBOR SATU DUNIA


Michael Hart merupakan seorang ahli sejarah sekaligus penulis buku tersohor dari Amerika Serikat yang pernah bekerja sebagai guru besar Astronomi dan Fisika di Universitas Maryland AS. Selain itu, ia pernah bekerja pada NASA (di Indonesia kita kenal LAPAN atau LIPI), sebuah lembaga penyelidikan ilmu pengetahuan pemerintah Amerika Syarikat yang bertanggung jawab atas program penelitian luar angkasa.
Dari segi pengalaman maupun keilmuan tentu kita tidak boleh meragukan kualitaisnya. Banyak hasil dan karya besar yang telah ia hasilkan sepanjang hidupnya. 
Di antara karyanya yang utam dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa adalah The 100 yang menerangkan tokoh-tokoh berpengaruh sepanjang sejarah.
Dalam buku tersebut, Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia berpengaruh sepanjang sejarah melebihi tokoh lainnya. Lahir dari keluarga sederhana yang jauh dari pusat peradaban. Meskipun demikian, Nabi Muhammad menjadi seorang yang terjaga dan tidak terlibat dalam tindakan penyimpangan sosial yang menjadi tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliyah. 
Muhammad menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Tuhan. Tidak pernah sekalipun Muhammad berbohong, menipu, berzina atau mabuk-mabuk sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Arab di masa itu.
Kehidupannya setelah menikah dengan Sayyidah Khadijah. Keberadaan Muhammad di masyarakat Quraisy semakin di perhitungkan setelah berhasil menyelesaikan perselihan peletakan Hajar Aswad secara bijaksana. Meskipun demikian, nyaris tidak terdapat tanda-tanda kenabian dalam dirinya.
Semua kekayaan dan kenyamanan yang ada pada dirinya tak membuatnya tenang. Muhammad terkenal sebagai orang yang ramah, ringan tangan dan suka berbagi pada sesama. 
Beliau memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia. Beliau memikirkan keadaan masayarakatnya yang terbelakang dan jauh dari peradaban. Kegelisahan inilah yang membuatnya merenung di gua Hira hingga diangkat menjadi Rasul.
Muhammad menyebarkan agama Islam pada masyarakatnya selama -+23 tahun. Meskipun mendapat banyak cobaan tak sedikitpun mematahkan semangat sang nabi Allah. Bahkan kedudukan kemuliaan, kedudukan serta kekayaan ditawarkan pemuka-pemuka Quraisy tidak sedikitpun merubah tekadnya. 
Dengan lantang beliau berkata: “Andaikata kalian meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku. Aku tak akan sedikitpun menghentikan perjuanganku sampai aku berhasil atau hancur karenanya”.
Selama berdakwah di Mekah, tidak banyak prestasi yang dicapai Nabi Muhammad. Beliau kemudian hijrah ke Madinah dan mulai terlihat tanda-tanda keberhasilannya. 
Setelah kurang lebih dua puluh tiga tahun berdakwah Muhammad telah berhasil mengIslamkan seluruh jazirah Arab.
Beliau berhasil mendidik masyarakat terbelakang menjadi masyarakat yang berkembang secara budaya sosial politik maupun ketenteraan. 
Bahkan beberapa tahun setelah wafatnya, pengikutnya berhasil menumbangkan Imperium-Imperium besar dunia seperti Romawi dan Persia, kedua negara besar yang pernah menjadi super power dunia selama ratusan tahun. 
Bahkan janji pakaian kebesaran Kisra Persia kepada seorang Badui yang hendak membuhnuhnya beliau penuhi.
Sebagai tokoh agama, Muhammad adalah Nabi yang paling berhasil memunculkan kebangkitan agama di muka bumi. Ia adalah teladan terbaik bagi manusia yang ingin menemukan jalan kebahagiaan. 
Sepanjang zaman, betapa banyak tokoh yang menghormati Muhammad dan bertawasul kepadanya. Muhammad menyandang gelar paling termulia. Nabi ini selamanya akan menjadi teladan kebaikan bagi kehidupan.
Banyak tokoh-tokoh besar di dunia ini yang pernah mewarnai sejarah. Pribadi-pribadi besar umat manusia biasanya dapat dikenal melalui ideologi dan pengaruhnya dalam setiap peninggalan serta karya besar mereka. 
Alquran merupakan mukjizat besar dan agung Nabi Muhammad yang merupakan manifestasi dari kebenaran dan kepribadian spiritual beliau. Nabi Muhammad adalah sosok yang agung dan terpilih dengan kriteria kerohaniannya yang tinggi di mana pemikirannya mampu mempengaruhi dunia.
Besarnya pengaruh Muhammad tidak akan pernah padam dan akan kekal abadi sampai akhir zaman. Sebab jutaan manusia yang hasud padanya tak akan mampu memadamkan terangnya cahaya sang mataharinya dunia. 
Allah telah memberikan cahanya agama sucinya lewat Nabi Muhammad. Beliau adalah cahaya abadi yang menerangi permukaan bumi.
Tidak semua manusia kenal dengan tokoh besar semacam Thomas Aquinas, Lewis Coser, Sun Zhu, Manmohan Sing, Mahatma Gandhi, Vladimir Putin, Dalai Lama, Kisra Persia dan sebagainya. 
Namun penulis beranggapan bahwa satu pertiga penduduk manusia atau bahkan lebih tak akan asing dengan nama Muhammad sang Nabi Allah.
Muhammad adalah pribadi cemerlang di antara makhluk hidup dan senantiasa hidup karena pengaruh ideologinya yang mengakar kuat dalam kehidupan manusia. Sementara itu, cendikiawan tidak dapat mengabaikan kebenaran yang disampaikan Rasulullah.
Sosok yang diutus Tuhan untuk memberi petunjuk dan hidayah manusia haruslah memiliki sifat terpuji serta berkepribadian tinggi. 
Muhammad sejak kecil terjaga dari penyimpangan sosial dan jahiliyah seperti penyembahan berhala. Muhammad adalah pribadi sempurna yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya.
Selama mengharungi kehidupan, Muhammad melaksanakan ajaran Ilahi baik dengan berfikir secara praktis. Beliau mampu memadukan cipta, rasa dan karsa dalam kehidupan yang menyatukan dunia dan akhirat. 
Sehingga memaksa setan-setan untuk tunduk pada tekad kuatnya yang membaja. Keutamaan Muhammad tidak dimiliki oleh orang lain. 
Bahkan para ulama dunia dan Nusantara sekaliber Imam Al-Ghazali, Ali Khamenei, Hamzah Fansuri, Syeikh Yusuf Al-Maqassari, KH Hasyim Asy’ari dan lain sebagainya menekankan kita untuk menghormatinya.
Kini tiga belas abad setelah wafatnya, pengaruhnya masih mengakar kuat pada hati sanubari sebagian besar penduduk bumi. 
Meskipun beberapa pihak yang tak menyukainya cenderung menuduhnya dengan berbagai macam propaganda. Semoga kita boelh menjadikan Islam yang ada di bumi Nusantara sebagai rahmatan lil alamiin bagi alam semesta. 


Ahad, 9 Jun 2019

KISAH HIKMAH RASULULLAH : Kisah Rasulullah Yang Tidak Mau Diistimewakan


Biasanya orang yang memiliki kedudukan ingin diistimewakan, dihormati, dan dilayani.

Sebagai seorang pemimpin misalnya, dia bebas sekehendak hati memerintahkan anak buahnya untuk melakukan ini dan itu. Tanpa dia ikut mengerjakannya. Mungkin itu sudah menjadi ‘watak’ atau ‘karakter’ orang yang memiliki jabatan. Mereka selalu merasa di atas dan harus diistimewakan.    

Namun Rasulullah tidaklah demikian. Meski beliau adalah seorang pemimpin agama dan negara, seorang Nabi dan Rasul Allah yang terakhir, tetapi Rasulullah tidak pernah meminta kepada para sahabat dan umatnya untuk diistimewakan. 

Rasulullah bergaul dengan para sahabatnya tanpa ada sekat yang memisahkannya. Jika memerintahkan sahabatnya untuk melakukan suatu hal, Rasulullah juga ikut terlibat di dalamnya. Bahkan, Rasulullah memberikan teladan terlebih dahulu sebelum menyuruh sahabatnya untuk melakukan suatu hal.

Menurut Imam Bukhari , Muslim, diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah dan para sahabatnya akan memasak kambing bersama-sama. Rasulullah lantas membagi tugas untuk para sahabatnya. Ada yang bertugas menyembelih kambing, mengulitinya, menyiapkan tungku, menyiapkan air, dan memasaknya. 

Awalnya para sahabat tenang karena semuanya ada pembagian tugas. Namun suasana langsung riuh manakala Rasulullah mengatakan kalau dirinya yang akan mencari dan mengumpulkan kayu bakar.

Para sahabat ‘tidak terima’ dengan hal itu. Mereka meminta Rasulullah agar berdiam diri dan menunggu saja. Tidak perlu ikut bekerja. Apalagi mencari kayu. Tugas itu biar dikerjakan orang lain saja. Kata para sahabat dengan nada memprotes.

“Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan,” jawab Rasulullah dengan tegas.

Rasulullah lantas mengungkapkan bahwa Allah tidak suka melihat seorang hamba-Nya diistimewakan dari teman-teman yang lainnya. 

Begitulah Rasulullah. Kedudukan dan statusnya yang begitu agung tidak lantas menjadikannya lupa diri. Buta akan penghormatan. Dan selalu minta diistimewakan.

Beliau seolah memberikan teladan bahwa seorang pemimpin tidak cukup dengan hanya memberikan arahan apa yang harus dikerjakan anak buahnya, lalu kemudian berdiam diri dan bereluk tubuh. Jika tidak benar, maka ia akan memarahi anak buahnya habis-habisan.

Tidak seperti itu. Bagi Rasulullah, seorang pemimpin harus ikut turun ke bawah. Kalau perlu berkeringat sebagaimana anak buahnya berkeringat dan memastikan semua yang dikerjakan anak buahnya berjalan dengan baik dan lancar.


KISAH HIKMAH RASULULLAH : Kisah Rasulullah Bangga Menjadi Anak Yatim Di Hadapan Allah


Satu ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh Allah, “Hai Ibrahim, siapa kamu?”

Nabi Ibrahim yang mendapat pertanyaan ini pun bingung? Dalam pertanyaan tersebut, Allah sudah memanggil dengan nama ‘Ibrahim’. Andai belum disebut oleh Allah, saat ditanya “siapa kamu?” pasti akan dijawab dengan ‘saya adalah Ibrahim’.

Namun pertanyaan yang disampaikan Allah dengan seraya memanggil nama ‘Ibrahim’ itu sendiri. 

Kemudian Nabi Ibrahim menjawab sesuai pangkat yang diberikan oleh Allah kepadanya, “Saya adalah Khalilullah (kekasih Allah).”

Kemudian Nabi Musa ditanya Allah, “Hai Musa, siapa kamu?”

Nabi Musa menjawab, “Saya Kalimullah (nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah).”

Nabi Isa ditanya Allah dengan pertanyaan serupa, lalu dijawab, “Saya Ruhullah (nabi berjuluk ruh Allah)”

Yang terakhir, Nabi Muhammad ditanya Allah, “Hai Muhammad, siapa kamu?”

Nabi Muhammad mempunyai segudang gelar.

Di antaranya; kalimullah, shafiyullah, khalilullah, hujjatullah, salamullah, dan lain sebagainya.

Tapi Nabi Muhammad lebih suka menyebut dirinya dengan nama “yatim”. “Saya anak yatim,” begitu jawab Nabi Muhammad. 

Sebagaimana kita ketahui, Nabi Muhammad terlahir dari rahim Sayyidah Aminah dalam keadaan langsung yatim.

Ayah Nabi yang bernama Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad masih di dalam kandungan ibundanya.

Nabi Muhammad lebih memilih menonjolkan keyatimannya, bukan gelar kebesarannya. Padahal nabi di dunia ini berjumlah 124 ribu. Sebanyak 313 di antaranya, selain menjabat sebagai nabi, juga dipilih oleh Allah bertugas sebagai rasul atau utusan. Di antara mereka kemudian dipilih lagi ada 25 rasul yang wajib kita ketahui semua. 

Dari 25 rasul terpilih, ada 5 rasul pilihan. Kita mengenalnya sebagai ulul azmi. Mereka adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Dari mereka, Nabi Muhammad yang paling dipilih oleh Allah. 

Dengan ketawadhuan Baginda Nabi Muhammad tersebut, Allah memberi gelar Nabi Muhammad sebagai ‘Al-Musthafâ’ atau nabi yang terpilih dari para nabi pilihan. 

Dalam sebuah pidato di atas mimbar, Sayyidina Umar pernah berpesan:

“Hai manusia sekalian. Berendah hatilah kalian. Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah pernah bersabda: ‘Barangsiapa rendah hati, tawadhu’ karena Allah semata, derajatnya akan diangkat oleh Allah sedangkan di mata orang itu sendiri sebagai orang kecil, namun di mata orang banyak, ia sebagai orang agung. Dan barangsiapa sombong, akan direndahkan oleh Allah. Di mata masyarakat, ia tampak hina. Namun ia merasa dirinya sebagai orang besar. Bahkan ia sampai derajat lebih hina dari pada anjing dan babi’.” (Syu’abul Iman: 7790).

KISAH HIKMAH RASULULLAH : Kisah Kedermawanan Rasulullah Yang Melampaui Batas


Rasulullah adalah orang suka memberi. Tidak menimbun harta kekayaan untuk diri atau keluarga sendiri. Rasulullah tidak segan-segan memberikan hartanya kepada sahabat yang membutuhkan, meski dirinya pada saat itu juga dalam keadaan butuh.

Kedermawanan Rasulullah tidak diragukan lagi. Sehingga Anas bin Malik, salah satu pelayan Rasulullah, menilai kalau Rasulullah adalah orang paling dermawan (ajwadun nas).

Banyak cerita tentang kisah kedermawanan Rasulullah.

Diantaranya adalah kisah yang diriwayatkan Tirmidzi.

Dikisahkan bahwa pada saat itu Rasulullah yang sedang bersama Sayyidina Umar bin Khattab didatangi seorang lelaki. Seorang lelaki itu sengaja menemui Rasulullah untuk meminta sesuatu. Tanpa Fikir panjang, Rasulullah langsung memberinya.

Keesokan harinya, lelaki itu mendatangi Rasulullah lagi untuk meminta-minta. Tanpa banyak tanya, Rasulullah lagi-lagi memberinya sesuatu.

Pada hari ketiga, seorang lelaki tersebut menemui Rasulullah. Ia meminta-minta kepada Rasulullah. Namun sayang, pada hari ketiga itu Rasulullah sedang tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada lelaki itu. 

“Aku tidak mempunyai apa-apa sekarang. Tapi ambillah apa yang engkau mau dan jadikan sebagai Hutangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku akan membayarnya,” kata Rasulullah kepada lelaki itu.

Rupanya Rasulullah masih boleh memberi kepada lelaki itu, meski dirinya pada saat itu tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Caranya, lelaki itu diminta untuk berhutang kepada orang lain. Hutang itu lalu diatas namakan kepada Rasulullah. Jika Rasulullah sudah punya wang, maka ia akan membayar hutang lelaki itu.  

Apa yang dilakukan Rasulullah itu ternyata ‘dikritik’ Sayyidina Umar bin Khattab. Sayyidina Umar berpendapat, Rasulullah tidak perlu memaksakan diri untuk memberi kalau memang sedang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. 

Kritikan Sayyidina Umar bin Khattab itu langsung direspons seorang sahabat Anshar yang baru datang.

Sahabat Anshar itu menyarankan agar Rasulullah terus berinfak dan tidak mempedulikan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab.

“Jangan takut dan jangan khawatir dengan kemiskinan,” kata sahabat Anshar itu.

“Ucapan itulah yang diperintahkan Allah kepadaku,” kata Rasulullah kepada Sayyidina Umar.

Sikap dermawan sudah sangat melekat pada diri Rasulullah. Bahkan pada saat-saat akhir hidupnya, Rasulullah berpesan kepada Sayyidah Aisyah agar menyedekahkan hartanya yang tersisa. Rasulullah tidak ingin ketika wafat masih menyimpan harta.

Ketika Rasulullah sakit menjelang wafatnya beliau memerintahkan istrinya, Sayyidah Aisyah, untuk mengirimkan beberapa wang dinar kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib agar disedekahkan. Setelah menyampaikan pesan itu Rasulullah pingsan, Sayyidah Aisyah lantas dibuat sibuk akan hal itu.

Ketika Rasulullah sadar kembali, beliau menanyakan kepada Sayyidah Aisyah apakah wang dinarnya itu sudah diberikan kepada Sayyidina Ali untuk diinfakkan. Rasulullah lantas tidak sadarkan diri lagi, Sayyidah Aisyah sibuk dibuatnya sehingga tidak sempat menunaikan amanat Rasulullah itu.

Untuk yang ketiga kalinya, Rasulullah mengingatkan agar wang dinarnya yang disimpan Sayyidah Aisyah diberikan kepada Sayyidina Ali agar disedekahkan. Lag-lagi Rasulullah pingsan lagi.

Akan tetapi beberapa saat setelah kejadian itu, Sayyidah Aisyah menunaikan amanat Rasulullah itu. Beberapa wang dinar Rasulullah itu akhirnya diberikan kepada Sayyidina Ali dan disedekahkan kepada para sahabat yang membutuhkan.


KISAH HIKMAH RASULULLAH : Cara Rasulullah Bersyukur Kepada Allah Atas NikmatNya

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Rasulullah adalah contoh unggul seorang hamba yang bersyukur kepada Allah.

Beliau selalu mensyukuri apapun yang diberikan Allah kepadanya. Tidak pernah sekali pun Rasulullah mengeluhkan pemberian Allah. Apapun situasi dan kondisi yang menimpa dirinya. 

Rasulullah menunjukkan rasa syukurnya atas semua nikmat Allah bukan hanya melalui lisan saja, namun juga melalui perbuatan atau tindakan nyata.

Diantaranya adalah dengan tekun beribadah kepada Allah.

Kendati Rasulullah sudah dijamin Allah masuk surga, namun ibadahnya begitu hebat. Bahkan dikisahkan terlalu tekun dan khusyu’nya menunaikan shalat malam, kedua telapak kaki Rasulullah sampai pecah-pecah.
Rasulullah sangat tekun berpuasa, dzikir, dan juga sangat dermawan. Pun berbuat baik kepada sesama. 

Kedudukan istimewa sebagai seorang Nabi dan utusan Allah tidak membuat Rasulullah ‘berlengah-leha’ dan ‘kemaruk.’ Meski sudah dijaga Allah dari melaksanakan perbuatan dosa (ma’shum), Rasulullah sering dengan menangis juga meminta ampunan kepada Allah. 

Tentu saja hal itu membuat para sahabat penasaran, bahkan istrinya sendiri Sayyidah Aisyah.

Bagaimana mungkin seorang kekasih Allah, seorang yang dijamin masuk surga, dan seorang yang ma’shum, melakukan ibadah sampai segitunya.

Bukankah beliau tidak memiliki dosa atau kesalahan, mengapa beliau meminta ampunan kepada Allah. 

“Mengapa engkau melakukan itu semua Rasulullah?

Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” tanya Sayyidah Aisyah.

Ketekunan dan kekhusyu’an Rasulullah dalam beribadah, munajatnya, dan berbuat baik kepada sesama merupakan sarana untuk bersyukur kepada Allah.
Bukan sebagai sarana untuk pertaubatan atas segala dosanya ataupun sebagai sarana untuk mengharap surga.  

“Apakah aku tidak senang menjadi hamba yang banyak bersyukur” kata Rasulullah menjawab pertanyaan Sayyidah Aisyah di atas.

Begitulah cara Rasulullah bersyukur. Beliau bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah bukan hanya sekedar lisan - mengucapkan hamdalah - namun juga tindakan –yaitu dengan mengerjakan ibadah dengan tekun dan khusyu’.


Rabu, 29 Mei 2019

JA’FAR ASH-SHADIQ : Pergilah, Kini Engkau Bebas

Ada sebuah kisah bahwasanya seorang budak milik Ja’far ash-Shadiq sedang menuangkan air ke tangan Ja’far di dalam baskom, tanpa sengaja air tersebut mengenai baju Ja’far. Kemudian Ja’far menatap budak dengan penuh kemurkaan.

Sang budak berkata, "Wahai majikanku, (Allah berfirman) 'Dan orang-orang yang menyembunyikan rasa marah'."
Ja’far menjawab, "Aku telah meredam emosiku."

Budak berkata, "Allah juga berfirman, 'Dan mereka yang memaafkan kesalahan orang'." Ja’far menjawab, "Aku maafkan kesalahanmu."

Budak berkata lagi, "Allah berfirman, 'Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan'." Yang diucapkan budak itu adalah surat Ali Imran ayat 134.

Ja’far berkata, "Pergilah, kini engkau merdeka karena Allah, dan aku memberimu 1000 dinar."


UWAIS AL-QARNI : Tidak Sengaja Tertidur

Rabi’ bin Khutsaim berkata, "Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni, aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat Shubuh."

Aku berkata (pada diriku -pent), "Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu Zhuhur, beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Dan begitu masuk waktu Ashar beliau shalat Ashar. Selesai shalat Ashar beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib. 


Setelah shalat Maghrib beliau menunggu waktu Isya’, kemudian shalat Isya’. Selesai shalat Isya’ beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Shubuh. Setelah shalat Shubuh beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.

LELAKI ASING YANG PELIK

Syeikh Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapati seorang laki-laki sedang terdiam menyembah patung."

Kami berkata kepadanya, 'Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.'

Dia bertanya, 'Kalau demikian, apa yang kalian sembah?'

Kami menjawab, 'Kami menyembah Allah.'

Dia bertanya, 'Siapakah Allah?'

Kami menjawab, 'Dzat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.'

Dia bertanya, 'Bagaimana kamu boleh mengetahuinya?'

Kami jawab, 'Dzat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mu’jizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu.'

Dia bertanya, 'Apa yang dilakukan rasul kalian?'

Kami menjawab, 'Ketika beliau telah selesai menyampaikan risalahNya, Allah mencabut ruhnya, kini utusan itu telah meninggal.'

Dia bertanya, 'Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?'

Kami menjawab, 'Dia meninggalkan Kitabullah untuk kami.'

Dia berkata, 'Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!'

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata, 'Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat dalam mushaf itu.'

Lalu kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, 'Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.'
Kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.'

Selanjutnya dia meminta kami agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya lalu kami mengajarkan beberapa surat al-Qur’an. Ketika malam tiba sementara kami semua berangkat tidur, tiba-tiba dia bertanya, 'Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu juga tidur?'

Kami menjawab, 'Dia Hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah ngantuk atau tidur.'

Dia berkata, 'Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya.' Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan shalat. Demikianlah, kemudian ia qiyamullail sambil menangis hingga datang waktu Shubuh.

Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawan-kawanku, 'Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya.'
Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadanya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, 'Apakah ini?'

Kami jawab, 'Sekedar infak, kami berikan kepadamu.'

Dia berkata, 'Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah dzat lain (bukan Allah), sekalipun demikian dia tidak pernah menyia-nyiakan aku… maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Dzat yang aku sembah sekarang ini, Dzat Yang Maha Mencipta dan Dzat Maha Memberi rizki akan menelantarkan aku?'

Setelah itu dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian, aku mendapat khabar bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut. Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, 'Apa yang kamu inginkan?'

Dia menjawab, 'Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu sementara ketika itu aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.'

Kemudian aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur.
Dalam tidurku aku bermimpi melihat taman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya nampak seorang gadis sangat cantik.
Gadis itu berkata, 'Demi Allah, segeralah mengurus jenazah ini, aku sangat rindu kepadanya.' Maka aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mandikan jenazah itu dan kafani.

Pada malam harinya saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat berbahagia, didampingi seorang gadis di atas tempat tidur dibawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah.
"(Sambil mengucapkan), 'Salamun ‘alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra’d: 24).

ABU HANIFAH : Seorang Imam Yang Khusyu’

Yazid bin al-Kumaid berkata, "Abu Hanifah adalah seorang imam yang sangat takut kepada Allah. Suatu ketika Ali bin al-Husain, sang muadzin mengimami kami dalam Shalat Isya', dia membaca surat az-Zalzalah. Sementara itu Abu Hanifah menjadi makmum. Setelah selesai mengerjakan shalat, orang-orang pulang ke rumah masing-masing, sedangkan aku melihat Abu Hanifah masih berdzikir sambil menarik nafas.

Aku berkata, 'Aku harus beranjak dari tempat ini!, agar hatinya tidak terganggu oleh kehadiranku.' Kemudian aku pulang sementara lampu minyakku yang tinggal sedikit aku tinggalkan untuk penerangan dalam masjid.

Setelah fajar menjelang, aku datang lagi ke masjid. Aku melihat Abu Hanifah sedang shalat, dia memegang jenggotnya sambil berkata, 'Wahai Dzat yang membalas kebaikan sebesar biji sawi dengan kebaikan, Wahai Dzat yang membalas keburukan sebesar biji sawi dengan keburukan, jauhkanlah an-Nu’man hambaMu ini dari api Neraka dan dari perbuatan buruk yang mendekatkan kepada api Neraka. Masukkanlah ia ke dalam rahmatMu yang sangat luas.'

Kemudian aku mengumandangkan adzan, tiba-tiba lampu minyak itu menyala terang menerangi Abu Hanifah yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Ketika aku menemui beliau, beliau bertanya, 'Apakah kamu ingin mengambil lampu minyak itu?' Aku menjawab, 'Aku tadi telah mengumandangkan adzan shalat Shubuh.' Beliau berkata, 'Rahasiakan apa yang kamu lihat.'

Abu Hanifah kemudian shalat sunnah dua raka’at lalu duduk sehingga aku mengumandangkan iqamah. Beliau shalat bersama kami dengan wudhu yang beliau gunakan ketika shalat Isya' semalam.(Sejak mengerjakan shalat Isya’ hingga Shubuh, wudhu’ beliau tidak batal).

SAFINAH MAULA DAN ABU HARITS

Safinah maula Rasulullah berkata: "Ketika itu aku menumpang perahu, tak ku sangka perahuku pecah. Aku menyelamatkan diri dengan menaiki salah satu papan perahu itu.

Tiba-tiba angin kencang melemparkan aku hingga aku berada dalam hutan yang dihuni seekor singa.
Singa tersebut menghampiriku, maka aku berkata kepadanya: 'Wahai Abu Harits (julukan untuk singa) aku ini maula Rasulullah. Kemudian kepalanya mengangguk, dia mendekatiku lalu mendorong-dorongku dengan bahunya hingga keluar hutan. Aku dihantarkan sampai ke pinggir sebuah jalan. Setelah itu singa mengaum. Sepengetahuanku ia mengucapkan selamat tinggal. Demikianlah akhir pertemuanku dengan seekor singa."


AL-ALA’ BIN AL-HADHRAMI : Menunggang Kuda di Atas Air

Diriwayatkan dari Saham bin Munjab, dia berkata, "Dalam peperangan di wilayah Darain nama tempat di sekitar Bahrain, al-Ala’ bin al-Hadhrami bersama-sama kami. Al-Ala’ memanjatkan 3 macam doa, ketiga doa itu dikabulkan Allah.

Kemudian kami berjalan bersama-sama, sehingga tiba di suatu tempat. Kami mencari air untuk wudhu’ tetapi kami tidak mendapatkannya. Lalu al-Ala’ bin al-Hadhrami berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat kemudian berdoa:

Ya Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Wahai Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu yang sedang dalam perjalanan untuk memerangi musuhMu. Turunkanlah hujan kepada kami agar kami dapat minum, dan berwudhu dari najis. Jika kami telah meninggalkan tempat itu, janganlah ada seorang pun yang Engkau beri jatah dari air hujan itu.

Belum jauh jarak jalan yang kami tempuh, kami tiba di sebuah sungai deras yang airnya berasal dari air hujan. Dia berkata, 'Kita berhenti di sungai ini dulu untuk minum.' Aku mengisi bejanaku, lalu aku sengaja meninggalkannya di tempat itu. Aku berkata, 'Aku akan lihat, apakah betul permohonannya dikabulkan?'

Kemudian kami berjalan kurang lebih satu mil. Aku berkata kepada teman-temanku, 'Aku lupa, bejanaku tidak terbawa.' Aku balik lagi ke tempat itu, maka aku mendapati seolah-olah di sekitar daerah itu tidak pernah turun hujan. Selanjutnya aku ambil bejanaku dan aku bawa serta.

Setelah kami sampai di Darain, kami mendapati di hadapan kami terbentang sungai yang menghalangi antara kami dan pasukan musuh. Ketika itu al-Ala’ memanjatkan doa lagi:

Ya Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, Yang Maha santun, Yang Maha agung. Sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu, kami dalam perjalanan memerangi musuhMu, bukalah jalan untuk kami menuju musuhMu.

Tidak terduga kami dapat melewati sungai tersebut. Bahkan kuda-kuda kami satu pun tidak basah terkena air, sehingga kami dapat berhadapan dan menyerang musuh.

Setelah kami kembali dari peperangan, al-Ala’ mengeluh sakit perut, yang membawanya meninggal dunia. Sedangkan kami tidak mendapatkan air untuk memandikan jenazahnya. Kemudian kami kafani dengan baju yang dikenakan lalu kami kuburkan.

Tidak berapa lama dari perjalanan kami, kami mendapatkan mata air. Kemudian kami saling berkata, 'Marilah kita balik ke tempat itu untuk mengeluarkan jenazah al-Ala’ dan memandikannya.' Kami semua kembali, menyusuri tempat ia dimakamkan. Ternyata kami tidak mampu menemukan makamnya, dengan demikian kami gagal memandikan jenazahnya.

Kemudian ada seorang laki-laki berkata, 'Aku pernah mendengar dia berdoa kepada Allah,
'Ya Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, Maha santun dan Maha agung, sembunyikanlah jenazahku, jangan Engkau perlihatkan auratku kepada seorang pun.'
Lalu kami kembali dan kami meninggalkan jasad al-Ala’ yang telah di makamkan di tempat itu.

ABDULLAH BIN IDRIS AL-AUDI : Khatam al-Qur’an 4000 Kali

Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Ibnu Idris biasa menenun baju sendiri." Sedangkan al-Hasan bin ar-Rabi’ al-Burani berkata, "Suatu hari surat Harun al-Rasyid sampai ke tangan Ibnu Idris, ketika itu aku melihatnya, lalu surat itu dibaca, 'Dari hamba Allah, Amirul Mukminin Harun al-Rasyid untuk Muhammad bin Idris.' Seketika itu Ibnu Idris menarik nafas panjang lalu pingsan.

Setelah siuman, dia berkata, 'Innalillah. Dia kini mengenalku sampai-sampai menulis surat untukku, dosa apa yang menyebabkan aku seperti ini?'
Tatkala kematiannya di ambang pintu, anak perempuannya menangis. Kemudian sang ayah (Ibnu Idris) berkata, 'Wahai anak gadisku jangan menangis. Di rumah ini aku telah khatam membaca al-Qur’an sebanyak 4000 kali'."