Catatan Popular

Isnin, 2 September 2013

RIYADHUS SHALIHIN BAB 11: BERSUNGGUH-SUNGGUH

Kitab Riyadhus Shalihin (Taman Orang-orang Shalih)

IMAM NAWAWI


Bersungguh-sungguh

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad dalam membela agama Kami, maka pasti akan Kami
tunjukkan mereka itu akan jalan Kami dan sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang berbuat kebagusan.” (al-Ankabut: 69)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan – kematian – itu padamu.” (al-Hijr:
99)

Lagi Allah Ta’ala berfirman:
“Dan ingatlah akan nama Tuhanmu serta beribadatlah kepada-Nya dengan sepenuh hati,”
yakni hentikanlah segala pemikiran, untuk semata-mata menghadap kepadaNya.” (al-Muzzammil: 8)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, iapun pasti akan
mengetahuinya.” (az-Zalzalah: 7)

Juga Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apa saja – perbuatan baik – yang engkau sekalian berikan untuk dirimu sendiri, nanti
pasti akan engkau sekalian dapati di sisi Allah, keadaannya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya dan mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (al-Muzzammil: 20)

Lagi firman Allah Ta’ala:
“Dan apa saja kebaikan yang engkau sekalian kerjakan, maka sesungguhnya Allah itu Maha
Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)

Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi.

Adapun Hadis-hadisnya ialah:

95. Pertama: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi : “Barangsiapa memusuhi
kekasihKu, maka Aku memberitahu-kan padanya bahwa ia akan Kuperangi – Kumusuhi.
Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat
Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan
tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah
sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang
sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Akulah matanya yang ia gunakan
untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Akulah kakinya
yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu padaKu, pastilah Kuberi dan
andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Kulindungi.” (Riwayat Bukhari)
Makna lafaz Aadzantuhu, artinya: “Aku (Tuhan) memberitahu-kan kepadanya (yakni
orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa Aku memerangi atau memusuhinya, sedang
lafaz Ista’aadzanii, artinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu. Ada yang meriwayatkan
dengan ba’, lalu berbunyi Ista’aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu
berbunyi Ista’aadzanii.
Keterangan:
Yang perlu kita resapkan dalam Hadis ini ialah:
(a) Di atas itu, Hadis Qudsi namanya.
(b) Kekasih Allah ialah orang yang amat taqwa kepadaNya dan orang yang
memusuhi kekasih Allah ini pasti akan rusak binasa sebab dimusuhi oleh Allah.
(c) Jadi bila hendak mendekat pada Allah, lebih dulu penuhilah kewajiban-kewajiban
yang telah dipikulkan oleh Allah pada kita itu,
(d) Maka kalau orang itu sudah benar-benar dekat pada Allah semua
pendengarannya, penglihatannya,pengambilannya dan perjalanannya selalu diberi petunjuk
oleh Allah sehingga cahaya Tuhan selalu ada di kanan kirinya.


96. Kedua: Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari
Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya – ini juga Hadis Qudsi :
“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat
padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya
sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya
dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:
Hadis yang tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan belaka, baik bagi Allah
atau bagi hambaNya. Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada
Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan pahalanya,
juga pelakunya itu diberi kemuliaan olehNya selama di dunia sampai di akhirat. Makin besar
dan banyak ketaalannya, makin pula besar dan bertambah-tambah pahalanya. Manakala cara
melakukan ketaatan itu dengan perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau
memperlambatkan pahalanya, tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan
penilaian yang luarbiasa tingginya.
Demikianlah tujuan dan makna yang tersirat dalam isi Hadis tersebut. Wallahu A’lam
bish-shawaab.

97. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar
manusia yaitu kesihatan dan kelapangan waktu.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:
Lafaz Maghbuun dalam Hadis di atas itu, asalnya dari kata Zhaban, yaitu membeli
sesuatu dengan harga yang melebihi batas dari harga yang semestinya dan berlipat-lipat dari
yang seharusnya dibayarkan, jadi yang sepatutnya dibeli seratus rupiah, tiba-tiba dibeli
dengan harga seribu rupiah. Juga Ghaban itu dapat berarti menjual sesuatu dengan harga
yang terlampau sangat rendahnya, misalnya sesuatu itu dapat dijual dengan harga
limapuluh rupiah, tetapi hanya dijual dengan harga lima rupiah saja.
Orang mukallaf yakni manusia yang sudah baligh lagi berakal oleh Rasulullah s.a.w.
diumpamakan sebagai seorang pedagang. Kesihatan tubuh dan kelapangan waktu yakni
waktu tidak ada pekerjaan apa-apa yang diumpamakan sebagai pokok harta atau kapital
untuk berdagang itu, sedang ketaatan kepada Allah Ta’ala sebagai benda-benda yang
diperdagangkan.
Namun demikian sebagian besar ummat manusia tidak mengerti betapa pentingnya
memiliki dua macam kapital dan bingung untuk memilih apa yang hendak diperdagangkan
itu, padahal sudah jelas pokok kapitalnya ialah kesihatan dan kelapangan waktu dan yang
semestinya dikejar untuk mendapatkan keuntungan ialah membeli dagangan yang akan
dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukankah ketaatan kepada Allah itu akan
menguntungkan sekali, baik di dunia atau di akhirat. Bukankah itu pula yang menyebabkan
akan dapat memperoleh laba yang besar sekali di sisi Allah dan yang menjurus ke arah
mendapat kebahagiaan. Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebagian besar ummat manusia
sewaktu mereka hidup di dunia ini.
Baharu orang itu mengerti besarnya kenikmatan sihat dan lapang waktu itu,apabila
telah sakit dan banyak kesibukan, sehingga banyak kewajiban-kewajiban terhadap agama
menjadi kocar-kacir dan terbengkalai atau samasekali ditinggalkan. Semoga kita semua
dilindungi oleh Allah dari hal-hal yang sedemikian itu.

98. Keempat: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. berdiri
untuk beribadat dari sebagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya.
Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah,
sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang
kemudian?”
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?”
(Muttafaq ‘alaih)
Ini adalah menurut lafaz Bukhari dan yang seperti itu terdapat pula dalam kedua kitab
shahih – Bukhari dan Muslim – dari riwayat Mughirah bin Syu’bah.

Keterangan:
Dalam mengulas apa yang dikatakan oleh Sayidah Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa
Rasuiullah s.a.w. itu sudah diampuni semua dosanya oleh Allah, baik yang dilakukan dahulu
atau belakangan, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah r.a. memberikan uraiannya sebagai berikut:
“Sebenarnya tiada seorangpun yang dalam hatinya terlintas suatu persangkaan bahwa
dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta’ala yang telah diampuni yakni mengenai diri
Nabi s.a.w. itu adalah dosa yang kita maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang
dengan sengaja atau cara apapun. Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah s.a.w., juga semua
nabiullah ‘alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua
kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya samasekali (ma’shum minadz-
dzunub). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki persangkaan yang jelas
salahnya sebagaimana di atas.
Jadi tujuannya hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa
besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad s.a.w.
untuk memaha agungkan, memaha besarkan kepadaNya serta senantiasa mensyukuri
kenikmatan-kenikmatanNya. Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun
juga besar dan tingginya nilai apa yang diamalkannya itu, masih belum memadai sekiranya
dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Nya kepada manusia tersebut.
Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan karuniaNya itu, masih
belum sesuai dengan amalan baik yang kita lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah
amat banyak sekali. Jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya, maka
memerlukan adanya pengampunan sekalipun tiada dosa yang dilakukan sebagaimana
halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya ‘alaihimus shalatu wassalam itu.”

99. Kelima: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha juga bahwasanya ia berkata: “Rasulullah
itu apabila masuk hari sepuluh, maka ia menghidup-hidupkan malamnya dan
membangunkan isterinya dan bersungguh-sungguh serta mengeraskan ikat pinggangnya.”
Yang dimaksudkan ialah:
Hari sepuluh artinya sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan – jadi antara
tanggal 21 Ramadhan sampai habisnya bulan itu. Mi’zar atau izar dikeraskan ikatannya
maksudnya sebagai sindiran menyendiri dari kaum wanita – yakni tidak berkumpul dengan
isteri-isterinya, ada pula yang memberi pengertian bahwa maksudnya itu ialah amat giat
untuk beribadat. Dikatakan: Saya rnengeraskan ikat pinggangku untuk perkara ini, artinya:
Saya bersungguh-sungguh melakukannya dan menghabiskan segala Waktu untuk
merampungkannya.

100. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada
orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itupun sama memperoleh kebaikan.
Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan
mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena
oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya mengerjakan begini,
tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa
saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan
“andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)

101. Ketujuh: Dan” Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya RasuluHah s.a.w. bersabda:
“Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah
syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan kata huffat
sebagai ganti kata hujibat, sedang artinya adalah sama, yaitu bahwa antara seseorang dengan
neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk
ke dalamnya.

102. Kedelapan: Dari Abu Abdillah, yaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang
terkenal sebagai penyimpan rahasia Rasullah s.a.w., radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
bersembahyang beserta Nabi s.a.w. pada suatu malam maka beliau membuka – dalam rakaat
pertama – dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: “Beliau ruku’ pada ayat keseratus,
kemudian berlalulah.” Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam
satu rakaat, kemudian berlalu.”
Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka
- dalam rakaat kedua – dengan surat an-Nisa’lalu membacanya,kemudian membuka lagi -
sebagai lanjutan-nya – surat ali Imran, kemudian membacanya.
Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa – jikalau melalui
ayat yang di dalamnya mengandung pentasbihan – memahasucikan -beliaupun mengucapkan tasbih,jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun
memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta’awwudz -mohon perlindungan
kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliaupun berta’awwudz – mohon perlindungan.
Kemudian beliau s.a.w. ruku’ dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbtal ‘azhim.
Ruku’nya adalah seumpama saja dengan berdirinya – yakni perihal lamanya hampir
persamaan belaka -selanjutnya beliau mengucapkan: Sami’allahu iiman hamidah. Rabbana lakal hamd,” lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan: Subhana rabbial a’la, maka sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya – tentang lama waktunya.” (Riwayat Muslim)

103. Kesembilan: Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bersembahyang beserta
Rasulullah s.a.w. pada suatu malam, maka beliau memperpanjangkan berdirinya, sehingga
saya bersengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.”
Ia ditanya: “Dan apakah hal yang tidak baik yang engkau sengajakan itu?”
Ibnu Mas’ud r.a. menjawab: “Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan
beliau – tidak terus berma’mum padanya.” (Muttafaq ‘alaih)

104. Kesepuluh: Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
“Mengikuti kepada seseorang mayit itu tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya serta
amalnya. Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah
keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya.” (Muttafaq ‘alaih)

105. Kesebelas: Dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Syurga itu
lebih dekat pada seseorang di antara engkau sekalian daripada ikat terumpahnya,
nerakapun demikian pula.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:
Maksud Hadis di atas itu ialah bahwa untuk mencapai syurga atau neraka itu mudah
sekali. Jika seseorang ingin mendapatkan syurga tentulah wajib mempunyai kesengajaan
yang benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua
perintah dan menjauht semua laranganNya, tetapi jika ingin memasuki neraka – semoga kita
dilindungi Allah dari siksa neraka itu, tentulah dengan jalan mengikuti apa saja yang
menjadi kehendak hawanafsu, menuruti kemauan syaitan dan melakukan apa saja yang
berupa kemaksiatan dan kemungkaran.

106. Keduabelas: Dari Abu Firas yaitu Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, pelayan
Rasulullah s.a.w. dan ia termasuk pula dalam golongan ahlussuffah – yakni kaum fakir
miskin – r.a. katanya: “Saya bermalam beserta Rasulullah s.a.w., kemudian saya
mendatangkan untuknya dengan air wudhu’nya serta hajatnya – maksudnya pakaian dan
lain-lain. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Memintalah padaku!” Saya berkata: “Saya
meminta kepada Tuan untuk menjadi kawan Tuan di dalam syurga.” Beliau s.a.w. bersabda
lagi: “Apakah tidak ada yang selain itu?” Saya menjawab: “Sudah, itu sajalah.” Beliau lalu
bersabda: “Kalau begitu tolonglah aku – untuk melaksanakan permintaanmu itu – dengan
memaksa dirimu sendiri untuk memperbanyak bersujud – maksudnya engkaupun harus pula
berusaha untuk terlaksananya permtntaan tersebut dengan jalan memperbanyak menyembah
Allah.” (Riwayat Muslim)

107. Ketigabelas: Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu Abdir Rahman
yaitu Tsauban, hamba sahaya Rasulullah s.a.w. r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Hendaklah engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah
bersujud kepada Allah sekali sujudan. melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu
sederajat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari dirimu.” (Riwayat
Muslim)

108. Keempatbelas: Dari Abu Shafwan yaitu Abdullah bin Busr al-Aslami r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sebaik-baik manusia ialah orang yang panjang usianya dan baik kelakuannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

109. Kelimabelas: Dari Anas r.a., katanya:
“Pamanku, yaitu Anas bin an-Nadhr r.a. tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian
ia berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang Tuan
lakukan untuk memerangi kaum musyrikin. Jikalau Allah mempersaksikan saya -
menakdirkan saya ikut menyaksikan – dalam memerangi kaum musyrikin – pada waktu yang
akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang akan saya perbuat.
Ketika pada hari peperangan Uhud, kaum Muslimin menderita kekalahan, lalu Anas -
bin an-Nadhr – itu berkata: “Ya Allah, saya mohon keuzuran – pengampunan – padaMu
daripada apa yang dilakukan oleh mereka itu – yang dimaksudkan ialah kawan-
kawannya karena meninggalkan tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh Nabi s.a.w. -
juga saya berlepas diri – maksudnya tidak ikut campurtangan – padaMu daripada apa yang
dilakukan oleh mereka – yang dimaksudkan ialah kaum musyrikin yang memerangi kaum
Muslimin.
Selanjutnya iapun majulah, lalu Sa’ad bin Mu’az menemuinya. Anas bin an-Nadhr
berkata: “Hai Sa’ad bin Mu’az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah
(Baitullah), sesungguhnya saya dapat menemukan bau harum syurga itu dari tempat di
dekat Uhud.”
Sa’ad berkata: “Saya sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang dilakukan
oleh Anas itu, ya Rasulullah.”
Anas – yang merawikan Hadis ini yakni Anas bin Malik kemanakan Anas
bin an-Nadhr – berkata; “Maka kami dapat menemukan dalam tubuh Anas bin an-Nadhr
itu delapanpuluh buah lebih pukulan pedang ataupun tusukan tombak ataupun lemparan
panah. Kita menemukannya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-
cabiknya. Oleh sebab itu seorangpun tidak dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara
perempuannya saja, karena mengenal jari-jarinya.”
Anas – perawi Hadis ini – berkata: “Kita sekalian mengira atau menyangka
bahwasanya ayat ini turun untuk menguraikan hal Anas bin an-Nadhr itu atau orang-orang
yang seperti dirinya, yaitu ayat -yang artinya:
“Di antara kaum mu’minin itu ada beberapa orang yang menempati apa yang dijanjikan
olehnya kepada Allah,” sampai seterusnya ayat tersebut. (Muttafaq ‘alaih) Lafaz Layuriannallah, diriwayatkan dengan dhammahnya ya’ dan kasrahnya ra’,
artinya: Niscayalah Allah akan memperlihatkan yang sedemikian itu – apa-apa yang
dilakukannya – kepada orang banyak. Diriwayatkan pula dengan fathah keduanya – ya’ dan
ra’nya -dan maknanya sudah jelas – yaitu: Niscayalah Allah akan melihat apa-apa yang
dilakukan olehnya. Jadi membacanya ialah: Layara-yannallah. Wallahu aiam.

Keterangan:
Anas bin an-Nadhr r.a. mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. bahwa dalam
peperangan yang pertama yakni perang Badar tidak ikut, kemudian dalam peperangan
kedua, yakni perang Uhud ikut menyertai pasukan ummat Islam melawan kaum kafirin dan
musyrikin. Kemudian ia berkata di hadapan Rasulullah s.a.w. sebagai janjinya, andaikata ia
mengikuti, niscaya Allah akan menampakkan apa yang hendak dilakukan olehnya atau Allah
pasti mengetahui apa yang hendak diperbuatnya.
Ia mengatakan sebagaimana di atas itu setelah selesai perang Badar dan belum lagi
terjadi perang Uhud. Yang hendak diperbincangkan di sini ialah mengenai kata-kata Anas
tersebut berbunyi Maa ashna-’u, artinya: Apa-apa yang akan saya lakukan. Mengapa ia tidak
berkata saja: Aku akan bertempur mati-matian sampai titik darah yang penghabisan,
sebagaimana yang biasa dikatakan oleh orang-orang di zaman kita sekarang ini. Nah, inilah
yang perlu kita bahas sekedarnya.
Al-lmam al-Qurthubi dalam mengupas kata-kata Anas r.a. yaitu Maa ashna-’u itu
menjelaskan demikian:
Ucapan Sayidina Anas r.a., juga sekalian para sahabat Rasulullah s.a.w. selalu
mengandung makna yang dalam. Anas r.a. misalnya, dalam menyatakan janjinya akan
mengikuti peperangan bila nanti terjadi peperangan lagi dengan hanya mengatakan: Maa
ashna-’u, itu mempunyai kandungan bermacam-macam, umpamanya:
(a) Ia tidak memiliki sifat kesombongan dan ketakaburan dan oleh sebab itu tidak
mengatakan bahwa ia akan berjuang mati-matian sampai hilangnya jiwa yang dimilikinya
dan amat berharga itu. Orang yang sombong itu umumnya tidak menepati janji yang
diucapkan. Kadang-kadang baru melihat musuh sudah lari terbirit-birit atau sebelum
melihatnya saja sudah tidak tampak hidungnya.
(b) Anas r.a. sengaja memperkokohkan ucapannya sendiri dan benar-benar dipenuhi.
Diri dan jiwanya akan betul-betul dikurbankan untuk meluhurkan kalimat Allah yakni
agama Islam dengan jalan melawan musuh yang sengaja menyerbu negara dan hendak
melenyapkan agama yang diyakini kebenarannya itu.
(c) Ia hendak berusaha keras memenangkan peperangan dan mencurahkan segala
daya dan kekuatannya tanpa ada ketakutan sedikitpun akan tibanya ajal, sebab setiap
manusia pasti mengalami kematian, hanya jatannya yang berbeda-beda.
(d) Ia takut kalau-kalau apa yang hendak dilakukan nanti itu belum memadai apa
yang diucapkan, sebab mengingat bahwa segala gerakan hati dapat saja diubah-ubah
oleh Allah Ta’ala. Mungkin hari ini putih,tetapi besoknya sudah menjadi hitam. Itulah yang
dikuatirkan olehnya, sehingga semangatnya yang asalnya menyala-nyala, tiba-tiba
mengendur tanpa disadari.
Selanjutnya setelah terjadi perang Uhud ia menunjukkan perjuangan yang sebenar-
benarnya, sampai-sampai terciumlah olehnya bau-bauan dari syurga dan akhirnya ia gugur
sebagai pahlawan syahid fi-sabilillah. Untuk menegaskan janji Anas r.a. inilah Allah Ta’ala
berfirman dalam al-Quran:
Artinya: “Di kalangan kaum mu’minin itu ada beberapa orang (seperti sahabat Anas) yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah dan sungguh-sungguh memenuhi janjinya itu. Diantara mereka ada yang menemui ajalnya – sebagai pahlawan syahid – dan ada juga yang masih menanti-nantikan – yakni ingin mendapatkan kematian syahid dan oleh sebab itu tidak mundur setapakpun menghadapi musuh. Itulah orang-orang mu’min yang tidak berubah pendiriannya sedikitpun.” (al-Ahzab: 23)

110. Keenambelas: Dari Abu Mas’ud yaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri r.a.,
katanya: “Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas
punggung-punggung kita -untuk memperoleh upah dari hasil mengangkatnya itu untuk
disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak
benar jumlahnya. Orang-orang sama berkata: “Orang itu adalah sengaja berpamer saja -
memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan tidak karena Allah Ta’ala
melakukannya. Ada pula orang lain yang datang kemudian bersedekah dengan barang sesha’
- dari kurma. Orang-orang sama berkata: “Sebenarnya Allah pastilah tidak memerlukan
makanan sesha’nya orang ini.” Selanjutnya turun pulalah ayat – yang artinya:
“Orang-orang yang mencela kaum mu’minin yang memberikan sedekah dengan
sukarela dan pula mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar
kekuatan dirinya,” dan seterusnya ayat itu – yakni firmanNya: “Lalu mereka memperolok-
olokkan mereka. Allah akan memperolok-olokkan para pencela itu dan mereka yang berbuat
sedemikian itu akan memperoleh siksa yang pedih.” (at-Taubah: 79) (Muttafaq ‘alaih)
Nuhamilu dengan dhammahnya nun dan menggunakan ha’ muhmalah, artinya ialah
setiap orang dari kita sekalian mengangkat di atas punggung masing-masing dengan
memperoleh upah dan upah itulah yang disedekahkannya.

111. Ketujuhbelas: Dari Said bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Idris al-
Khawlani dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a. dari Nabi s.a.w., dalam sesuatu yang
diriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwasanya Allah berfirman – ini adalah Hadis
Qudsi:
“Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan pada diriku sendiri akan
menganiaya dan menganiaya itu Kujadikan haram di antara engkau sekalian. Maka dari itu,
janganlah engkau sekalian saling menganiaya.
Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu tersesat, kecuali orang yang Kuberi
petunjuk. Maka itu mohonlah petunjuk padaKu, engkau semua tentu Kuberi petunjuk itu.
Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu lapar, kecuali orang yang Kuberi makan.
Maka mohonlah makan padaKu, engkau semua tentu Kuberi makanan itu.
Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu telanjang, kecuali orang yang Kuberi
pakaian. Maka mohonlah pakaian padaKu, engkau semua tentu Kuberi pakaian itu.
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu berbuat kesalahan pada
malam dan siang hari dan Aku inilah yang mengampunkan segala dosa. Maka mohon
ampunlah padaKu, pasti engkau semua Kuampuni.
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu tidak dapat membahayakan
Aku. Maka andaikata dapat, tentu engkau semua akan membahayakan Aku. Lagi pula
engkau semua itu tidak dapat memberikan kemanfaatan padaKu. Maka andaikata dapat,
tentu engkau semua akan memberikan kemanfaatan itu padaKu. Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang
paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama bersatu padu
seperti hati seseorang yang paling taqwa dari antara engkau semua, hal itu tidak akan
menambah keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang
paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama bersatu padu
seperti hati seseorang yang paling curang dari antara engkau semua, hal itu tidak akan dapat
mengurangi keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.
Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang
paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama berdiri di suatu
tempat yang tinggi di atas bumi, lalu tiap seseorang memintasesuatu padaKu dan tiap-tiap
satu Kuberi menurut permintaannya masing-masing, hal itu tidak akan mengurangi apa
yang menjadi milikKu, melainkan hanya seperti jarum bila dimasukkan ke dalam laut – jadi
berkurangnya hanyalah seperti air yang melekat pada jarum tadi.
Wahai hamba-hambaKu, hanyasanya semua itu adalah amalan-amalanmu sendiri.
Aku menghitungnya bagimu lalu Aku memberikan balasannya. Maka barangsiapa
mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji kepada Allah dan barangsiapa yang
mendapatkan selain itu, hendaklah jangan menyesali kecuali pada dirinya sendiri.”
Said berkata: “Abu Idris itu apabila menceriterakan Hadis ini, ia duduk di atas kedua
lututnya.” (Riwayat Muslim)
Kami juga meriwayatkannya dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan ia
berkata: “Tidak sebuahpun Hadis bagi ahli Syam yang lebih mulia dari Hadis ini.”


Keterangan:
Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi s.a.w. dan berasal dari Allah semacam Hadis di
atas ini juga Hadis no. 11 dan no. 95 disebut Hadis Qudsi (suci). Bedanya dengan al-Quran
ialah kalau al-Quran merupakan mu’jizat sedang Hadis Qudsi tidak. Lagi pula hanya melulu
membaca saja pada al-Quran itu sudah merupakan ibadat. Yang penting kita perhatikan ialah:
(a) Menganiaya itu adalah benar-benar besar dosanya dan doanya orang yang
dianiaya itu tidak akan ditolak oleh Allah yakni pasti dikabulkan sebagaimana sabda Nabi
s.a.w.:
“Takutlah pada doanya orang yang dianiaya, sekalipun ia itu kaf’ir karena sesungguhnya saja
tidak ada tabir yang menutup antara doa orang itu dengan Allah.”
(b) Semua dosa itu dapat diampuni oleh Allah asal kita mohon ampun serta bertaubat
kecuali syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana dalam al-Quran disebutkan:
“Sesungguhnya Allah tidak suka mengampuni katau Dia disekutukan dengan lainNya dan Dia
suka mengampuni yang selain itu pada orang yang dikehendaki olehNya.”
(c) Kalau kita taat pada Allah, melakukan semua perintahNya, ini bukan berarti
bahwa Allah butuh kita taati. Kita taat atau tidak bagi Allah tetap saja. Maka bukannya kalau
kita taat, Allah tambah mulia atau kalau kita ingkar lalu Allah kurang kemuliaanNya. Itu
tidak sama sekali. Hanya saja Allah menyediakan tempat kesenangan (syurga) bagi orang
yang taat dan tempat siksa (neraka) bagi orang yang ingkar.
(d) Orang yang amat taqwa yang dimaksudkan dalam Hadis ini ialah Nabi
Muhammad s.a.w. dan yang paling curang itu ialah syaitan (setan) sebab syaitan itu
dahulunya bernama Izazil dan termasuk dalam golongan jin. (e) Begitu banyaknya air laut, kalau isinya hanya dikurangi oleh jarum yang melekat
di situ, maka kekurangan itu tidak berarti samasekali. Begitulah perumpamaannya
andaikata Allah mengabulkan semua permohonan makhlukNya.

Tiada ulasan: