Catatan Popular

Selasa, 6 November 2012

ASAL USUL TAREKAT NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH DI NUSANTARA



Nama lengkap tarekat ini adalah Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ma’shumiyah Ahmadiyah Mazhariyyah. Di Indonesia disingkat namanya menjadi Tarekat Naqsyabandiyah Al Muzhariyah. Tarekat Naqsyabandi cabang Muzhariyah ini berasal dari India. Masuk ke kawasan Indonesia sudah 150 tahun yang lampau tidak langsung dari India tapi melalui kota suci Mekkah. Gerakan tarekat sufi ini sampai sekarang masih subur berkembang di Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan dan penyebaran agama Islam di India Tarekat Naqsyabandiyah adalah yang di depan sebagai motivator dan penggeraknya. Salah satu tokoh Naqsyabandi yang paling masyhur dan berjasa atas penyebaran agama Islam dan tarekat adalah Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrondi ( Imam Sirhindi ).

Setelah Syaikh Ahmad Faruq wafat kepemimpinan di khanaqah pusat Kota Delhi dilanjutkan oleh putranya yang bernama Syaikh Muhammad Ma’shum Al Ahmadi, kemudian dilanjutkan oleh putra Muhammad Ma’shum yaitu Syaikh Muhammad Syaifiddin Al Ahmadi. Khanaqah yang satu ini tetap pada posisinya sebagai yang paling menonjol dan berwibawa di India. Mereka menyebut diri sebagai keluarga Al Faruqi atau Al Ahmadi. Hampir seluruh keluarga ini menjadi syaikh Naqsyabandi dan ulama’ yang sangat terkemuka di belahan India. Keluarga mereka rata-rata ahli hadist dan tafsir serta mempunyai reputasi pendidikan agama yang sangat luar biasa.

Di belakang hari kedudukan syaikh Naqsyabandi di Kota Delhi tidak selamanya ditangan keluarga. Tokoh dan pengganti yang paling menonjol dan mempunyai bakat kesufian Naqsyabandi serta menguasai berbagai cabang ilmu ke agamaan adalah syaikh Habibillah Al Marazjan. Di India beliau terkenal dengan nama Mirza Mazhar Jan-i janan atau Mudzhar khan atau Syamsuddin Habiballah. Beliau dengan tekun dan penuh semangat melanjutkan perjuangan pendahulunya yaitu Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrandi untuk menegakkan syariat Islam di India dan meluruskan serta menolak paham wahdatul wujud.

Setelah Syaikh Habibillah Al Marazjan wafat puncak kepemimpinan Naqsyabandi di Kota Delhi diganti oleh Khalifah kepala dari syaikh Habibillah yaitu Syaikh Abdallah Al Dahlawi. Di India beliau dikenal dengan nama sufinya yaitu Syah Ghulam Ali Yahya. Karena kealiman dan bakat kesufianya yang luar biasa sehingga khanaqah nya berhasil menarik pelajar dari seluruh India, Afganistan, Bukhara ( Rusia ), Samarqandi, Tasykent, dan Kurdistan.

Syaikh Abdallah ad Dahlawi mengangkat puluhan khalifah dari luar negeri. Salah satu khalifah nya adalah seorang keturunan darah dari Imam Rabbani al Mujaddid al Fits-tsani yang bernama syaikh Abu Sa’id al Ahmadi. Syaikh Abu sa’id juga mempunyai banyak murid dari berbagai belahan dunia ini. Syaikh Abu Sa’id wafat di Tonk pada tahun 1835.

Setelah syaikh Abu Sa’id wafat beliau digantikan oleh putranya yang bernama Ahmad Sa’id al Ahmadi. Syaikh Ahmad Sa’id menetap di kota Madinah. Beliau mengajar tarekat Naqsyabandiyah dan berbagai cabang ilmu keagamaan, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pelajar yang datang dari berbagai belahan dunia. Seperti ayah nya, syaikh Ahmad Sa’id juga mengangkat puluhan khalifah dari Turki, Damaskus, Pakistan, Afganistan, dan Daghistan.

Setelah syaikh Ahmad Sa’id wafat pada tahun 1861, kepemimpinan syaikh tarekat di Madinah digantikan oleh putranya yang bernama Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi.

Nah, dari syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi inilah dibelakang hari muncul nama tarekat NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH di Indonesia, khususnya di Madura Jawa Timur.

Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi sangat berpengaruh seperti pendahulunya. Beliau sangat terpelajar dalam ilmu tasawwuf dan agama, dikagumi para pelajar dari luar kota Madinah seperti dari Daghistan, India, Afrika, Yaman, Damaskus, Kurdistan, Afghanistan, serta Mesir, dan mengangkat sejumlah khalifah dari negara-negara tersebut.

Syaikh-syaikh tarekat Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi ini menisbatkan tarekat Naqsyabandiyah nya menjadi tarekat NAQSYABANDIYAH AL MUDZHARIYAH.

Jadi, munculnya cabang muzhariyah, khalidiyah, Sulaimanliyah, haqqani, dan sebagainya adalah karena memang dinisbatkan kepada syaikh-syaikh yang berpengaruh dalam silsilah tarekat itu. Salah satu contoh adalah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pengikut tarekat Naqsyabandi cabang khalidiyah ini dinisbatkan kepada syaikh Maulana Khalid Kurdi (wafat pada tahun 1826 di Damaskus). Maulana Khalid adalah khalifah dari Abdallah ad Dahlawi untuk daerah Kurdistan. Syaikh-syaikh Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari Syaikh Maulana Khalid menamakan dirinya pengikut tarekat NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH.

       Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi wafat pada tahun 1884. Khalifah nya yang paling berpengaruh di Mekkah adalah Syaikh Abdul Hamid as Syirwani dan Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Syaikh Muhammad Shaleh adalah seorang ulama Afrika Utara yang sangat masyhur dari keluarga az Zawawi.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki adalah ulama’ dan guru tarekat Naqsyabandi yang sangat saleh. Seorang pengamat dari Belanda yang banyak menulis tentang Islam dan tarekat, Snouck Hurgronje, menaruh rasa hormat dan memberi kesaksian bahwa Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seseorang yang dapat diajak bicara, Ulama’ yang shaleh dan seorang sufi yang dengan mendalam telah menyelami rahasia-rahasia tarekat. Syaikh Muhammad Shaleh, kata Snouck Hurgronje, menolak orang-orang yang ingin masuk tarekat kalau belum memiliki pengetahuan keislaman yang mendalam (sebagian penulis Indonesia menuduh Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis. Dia dituduh pura-pura masuk Islam dan mengganti namanya dengan nama Haji Abdul Gaffar). Terlepas dari pujian orang luar seperti Snouck Hurgronje, kenyataanya Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seorang wali Allah yang memang sangat disegani oleh ulama’-ulama’ lain yang ada di Mekkah pada waktu itu. Syaikh Muhammad Shaleh adalah khalifah dari syaikh Maulana Mudzhar al Ahmadi yang sukses menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah kepada para pelajar yang datang ke Mekkah.

Murid-murid Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi juga terdapat dari kalangan raja-raja. Contohnya adalah Raja Muhammad Yusuf. Dia adalah seorang pengganti tahta kesultanan Riau Indonesia pada tahun 1858, dia bergelar Yang Dipertuan Muda Kesepuluh. Di samping seorang raja, dia bertindak sebagai Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah di kepulauan Riau antara tahun 1859 hingga 1899. Contoh yang lain adalah raja-raja Pontianak, Kalimantan Barat, yang tergolong garis keturunan Rasulullah SAW dari Marga al Qadri. Mereka adalah murid-murid dari syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Para pelajar dan pegawai kesultanan Pontianak yang pergi menunaikan ibadah haji oleh Sultan semuanya dipercayakan untuk diurus oleh keluarga Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Hubungan anatara syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki dengan kesultanan Pontianak begitu erat. Pada tahun 1884 ketika putra Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Abdullah punya masalah politik dengan syarif Mekkah, beliau hijrah ke Pontianak Kalimantan Barat. Tujuh tahun kemudian atas persetujuan residen Belanda beliau diangkat menjadi mufti sunni di Kesultanan Pontianak. Bahkan di kemudian hari cucunya yang bernama Syaikh Yusuf Ali Abdallah az Zawawi pernah menjadi mufti sunni di Negara Bagian Trengganu Malaysia hingga akhir hayatnya tahun 1980.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi mengangkat berpuluh-puluh khalifah. Sejumlah khalifah yang sangat terkenal antara lain Syaikh Abdallah az Zawawi (Putranya sendiri), Syaikh Abdul Hamid dari negara Daghistan, Syaikh Muhammad Murad al Qazani dari negara Uzbekistan, Syaikh Abdul Adzim dari Madura Indonesia.

Syaikh Abdul Hamid ad Daghistan bersahabat karib dengan pensyarah hadist Muslim yaitu Syaikh Nawawi Banten. Di samping bersahabat dengan Syaikh Nawawi beliau juga bersahabat dengan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan Madura Indonesia.

Syaikh Muhammad Murad al Qazani juga menyebarkan tarekat dan mengangkat 3 khalifah untuk Pontianak antara lain: Sayyid Ja’far al Saqqaf, Sayyid Ja’far al Qadri, dan Syaikh Haji Abdul Aziz dari kampung Kamboja.

Semua khalifah-khalifah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang dijelaskan di atas sekarang tampaknya telah putus dan hilang dari Indonesia. Justru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah bisa berjaya sampai saat ini karena berkat perjuangan dari khalifah Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Syaikh Abdul Adzim dari Bangkalan Madura Jawa Timur.

Syaikh Abdul Adzim adalah seorang Wali Allah yang sangat terpelajar. Beliau menguasai berbagai cabang ilmu agama. Sebagai mursyid Tarekat beliau telah sukses menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah ke Republik Indonesia. Hampir semua keluarganya mengabdikan dirinya kepada Islam dan menjadi ulama serta waliyullah. Beliau masih sepupu dengan ulama legendaris seperti Syaikh KH Muhammad Kholil Bangkalan, dan Syaikh KH Zainal Abidin Kwanyar (Bujuk Cendana) Bangkalan.

Syaikh Abdul Adzim mempunyai beberapa khalifah yang sangat 'alim. Mereka diangkat Khalifah oleh Syaikh Abdul Adzim untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Nusantara ini. Lima di antara mereka adalah Syaikh Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Muhammad Shaleh al Maduri, Syaikh Zainal Abidin kwanyar Bangkalan (Bujuk Cendana), Syaikh Muhammad Jazuli Sampang, dan Syaikh Ahmad Syabrawi al Maduri.

Dari 5 khalifah Syaikh Abdul Adzim al Maduri tersebut Tarekat Naqsyabandiyah menjadi kokoh di Nusantara ini. Selama 100 tahun lebih Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mendominasi Jawa Timur dan Kepulauan Madura. Sebelum wafat para syaikh-syaikh tarekat mengangkat khalifah atau pengganti baru. Hingga sampai saat ini Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah tetap ada dan berjaya di Republik Indonesia ini.

Pada era tahun 1975 hingga tahun 1996 guru mursyid Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah yang paling berpengaruh dan paling banyak pengikutnya adalah Syaikh KH Lathifi Baidhowi dari Malang Selatan Jawa Timur. Sebelum beliau wafat pada tahun 1996, Kepemimpinan Mursyid oleh Syaikh KH Lathifi Baidhowi diberikan kepada putranya yang bernama Syaikh KH Zahid Lathifi dan putra KH Ali Wafa yang bernama KH Thaifur Ali Wafa. Kedua guru Mursyid ini sekarang aktif di Indonesia.

Garis silsilah atau rantai isnad Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sebagai berikut ; Syaikh KH Lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari syaikh KH Ali Wafa Ambunten Sumenep, Syaikh Ali Wafa memperoleh ijazah dari Syaikh KH Ahmad Syirajuddin Sampang, syaikh Ahmad Syirajuddin Memperoleh Ijazah dari Syaikh KH Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Hasan Basuni memperoleh ijazah dari Syaikh Abdul Adzim Bangkalan, Syaikh Abdul Adzim memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki, Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi memperoleh Ijazah dari Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi al Madani, Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi memperoleh ijazah dari syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi, dan seterusnya. Demikianlah rantai isnad atau jalur silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah milik syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang Indonesia.

            Selain ijazah dari jalur Madura tersebut Syaikh KH lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari jalur langsung Mekkah. Ijazah tarekat yang diberikan Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sama-sama Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ahmadiyah. Untuk mengetahui asal-usul dari rantai isnad ini mari kita kembali kepada Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi.

Seperti telah disebutkan, Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi juga mengangkat khalifah-khalifah dari Negara Turki, Damaskus, Afganistan, Daghistan, Pakistan dan lain-lain. Salah satu khalifah dari Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi dari Afganistan adalah Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Shaykh Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afghanistan. Karena kesalehan dan kealimannya beliau banyak menarik pelajar dari seluruh Negeri Afghanistan.

Dost Muhammad al Qandhari lahir dan menerima pendidikan di kota Qandahar Negara Afganistan. Sewaktu masih muda beliau bertemu dengan guru besar Tarekat Naqsyabandiyah India yaitu Syaikh Abdullah ad Dahlawi di Masjid Nabawi Madinah. Pertemuan itu sangat mengesankan bagi Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Syaikh Abdullah ad Dahlawi telah menuangkan faid (rahasia-rahasia tarekat) kepada dada Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Dost Muhammad al Qandahari kemudian berguru kepada khalifah Syaikh Abdullah ad Dahlawi di India yaitu kepada Syaikh Abu Sa’id al Ahmadi dan kepada putra Syaikh sekaligus  khalifahnya yaitu Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi
Dalam waktu empat belas bulan Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal bersama Syaikh Ahmad Sa’id di Madinah. Dan dalam masa itu Syaikh Ahmad Sa’id mengangkat Dost Muhammad al Qandari menjadi khalifah nya di Daerah Afghanistan.

Setelah mendapat ijazah dari gurunya itu beliau lalu tinggal di kota Qandahar. Namun pada tahun 1842 di daerah Afghanistan yang merupakan jajahan Inggris terjadi pertikaian politik. Pada tahun itu penguasa Afghanistan yang bernama Shah Shuja terbunuh sehingga berakibat fatal bagi ulama’-ulama’ di Afghanistan. Syaikh Haji Dausat muhammad al Qandahari terpaksa disuruh hijrah ke Daerah Pasto dan Punjab oleh gurunya yang bernama Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi. Namun Dost Muhammad al Qandhari memilih dan menetap di desa Mussa Zai Sharif di dekat Dera Ismail Khan Negara Pakistan. Beliau mendirikan khanaqahnya dan menyebarkan tarekat di sana.

Pada waktu Syaikh Dausat Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afganistan beliau banyak menarik pelajar dari seluruh negeri. Begitu pula aktifitasnya di negeri Pakistan. Haji Dost Muhammad al Qandhari wafat pada tanggal 17 Februari 1868 di makamkan di Desa Mussa Zai Sharif (Pakistan).

Sebelum wafat Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari mengangkat khalifah yang juga sangat terpelajar dalam ilmu agama untuk menggantikannya yaitu Syaikh Muhammad Usman ad Damani.

Syaikh Muhammad Usman ad Damani lahir pada tahun 1244 H di Kota Loni di distrik Dera Ismail Khan Pakistan. Beliau adalah seorang khalifah Khwaja Dost Muhammad Qondhari dan merupakan penerus khanaqah Mussa Zai Sharif. Tidak hanya Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah, Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari juga memberikan ijazah tarekat Qadiriyah, Chistiyah, Suhrawardiyah, Sattariyah, Madariyah, Kubrawiyah, dan Qalandariyah, yang dimilikinya kepada Syaikh Muhammad Usman Damani. Di seluruh Negeri Pakistan Syaikh Muhammad Usman Damani sangat berpengaruh dan mempunyai banyak pengikut. Beliau banyak mengarang kitab yang diterbitkan dalam sebuah koleksi yang bernama Tuhfah Zahidiyah. Beliau juga mengangkat empat khalifah untuk menjadi pegantinya. Mereka antara lain: Syaikh Muhammad Sirajuddin an Naqsyabandi (putranya sendiri), Sayyad Laal Shah Hamdani (Wafat tahun 1896), Syaikh Maulana Syirazi, Syaikh Abdurrahman Bahadur Kilmi (wafat tahun 1222 H).

Syaikh Muhammad Usman ad Damani wafat pada hari Selasa tanggal 26 Januari 1897 dan dimakamkan di Mussa Zai Sharif di samping makam Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Pengganti utama dan khalifah di Khanaqah Mussai Zai Sharif adalah putranya yang bernama Syaikh Khwaja Muhammad Sirajuddin. Seperti ayahnya, Syaikh Muhammad Sirajuddin juga adalah seorang guru tarekat yang sangat 'alim. Beliau adalah seorang sarjana muslim dan guru sufi terkemuka dari Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Selatan. Beliau banyak mengangkat khalifah dari berbagai Negara. Jumlah khalifahnya adalah 36 orang.

Pada waktu masih muda Syaikh Muhammad Sirajuddin berguru kepada Syaikh Mulla Shah Muhammad. Beliau Mendapat prestasi yang cukup menakjubkan, dalam usia 14 tahun Muhammad Sirajuddin Kecil telah menuntaskan berbagai ilmu dalam semua cabang keagamaan. Syaikh Muhammad Sirajuddin mengambil tarekat dari ayahnya, beliau juga  mempelajari maktubat Syaikh Imam Sirhindi dan karya Syaikh Muhammad Ma’sum al Ahmadi. Syaikh Muhammad Usman ad Damani (ayahnya) memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah kepada Syaikh Muhammad Sirajuddin pada tanggal 10 Mei 1894.

Syaikh Muhammad Sirajuddin bin Muhammad Usman ad Damani wafat pada tanggal 12 Februari 1915 di makamkan di samping makam ayahnya. Dari 36 khalifah yang diangkatnya ada 8 khalifah yang cukup terkenal dan berpengaruh, mereka adalah:
1.     Syaikh Khwaja Ali Shah Pir Fasal Quraesy. Beliau paling menonjol dan terkenal sebagai pengganti Syaikh Muhammad Sirajuddin, disamping itu beliau menerima ijazah dari Sayyad Laal Shah Hamdani.
2.     Syaikh Maulana Hafidz Muhammad Ibrahim (putra Syaikh Muhammad Sirajuddin).
3.     Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani. Beliau adalah khalifah Syaikh Muhammad Sirajuddin untuk Madinah.
4.     Syaikh Abu Sa’ad Ahmed Khan.
5.     Syaikh Husain Ali Maulana
6.     Syaikh Abdul Ahad.
7.     Syaikh Abu Muhammad Barkat Ali Shah
8.     Syaikh Maulana ghulam Hasan

Khalifah yang mempunyai hubungan dengan Indonesia sekarang adalah Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani melalui khalifahnya yang bernama Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas bin Abdul Aziz al Maliki al Hasani.

Pada tahun 1924 terjadi penaklukan terhadap kota suci Mekkah yang dilakukan oleh Abdul Aziz ibnu Sa’ud yang berpaham wahabi. Kaum wahabi telah melumpuhkan kegiatan seluruh tasawwuf dan seluruh organisasi tarekat di kota suci Mekkah dan Madinah. Kaum wahabi tidak segan-segan mengusir, membantai, atau memenjara para Syaikh-syaikh tarekat. Seluruh ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dibasmi dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah telah dikafirkan oleh kaum wahabi. Kaum Sunni yang bertahan, harus sembunyi-sembunyi mengajar. Sejak tahun 1924 hingga saat ini Tikus-Tikus Wahabi telah mengusai Saudi Arabia.

Seluruh macam tarekat sufi telah lenyap dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan Tikus-Tikus Wahabi telah dikirim ke Malaysia, Indonesia, Mesir, Yaman, dan negara-negara Islam lain. Tujuannya adalah membasmi atau menghancurkan ajaran tasawwuf dan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tikus-Tikus Salafi Wahabi adalah pelanggar HAM (hak asasi manusia) paling kotor peringkat nomor 2 di dunia setelah Tikus-Tikus Syi’ah.

Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani terpaksa berhati-hati dan dengan secara sembunyi-sembunyi mengajar tarekat di Madinah. Sebelum wafat, Syaikh Abdul Ghafur al Abbas memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah-nya kepada murid yang sangat dicintainya yaitu kepada seorang ulama’ dan Imam yang belum ada tandingannya di abad 20 ini. Beliau adalah Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang bermukim di Mekkah.

Pada era tahun 1980 hingga 2002 Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang terkenal dengan nama Syaikh Maliki banyak mengadakan perjalanan ke seluruh dunia. Beliau banyak mengunjungi para waliyullah, ulama’-ulama’, syaikh-syaikh tarekat, dan tokoh agama Islam yang ada di seluruh dunia. Mulai dari Damaskus, Irak, Kurdi, Mesir, Yaman, India, China, Indonesia, Malaysia, hingga tidak bisa dihitung lagi beberapa negara yang beliau kunjungi. Hampir para waliyullah dan ulama’-ulama’ seluruh dunia yang hidup sezaman dengan beliau mengenal siapa Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki.

Pada salah satu kunjungan ke Indonesia di tahun 1985 Sayyid Muhammad Alwi bertemu dengan Syaikh Naqsyabandi Indonesia KH Lathifi Baidhowi. Dari pertemuan dua Wali Allah inilah maka rahasia-rahasia ilmu serta barokah Tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari bisa sampai ke Ikhwan Akhawat Muzhariyah Indonesia. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki terkesan dengan kealiman Syaikh KH Lathifi Baidhowi, begitu pula Syaikh KH Lathifi Baidhowi sangat terkesan dengan kealiman dan kesolehan Sayyid Muhammad Alwi bin Maliki. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah-nya dan ijazah semua cabang ilmu keagamaan miliknya kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi.

Jadi Syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang telah memperoleh ijazah dari dua jalur khalifah atau rantai isnad Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi (Wafat 1860) yaitu Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi dan Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Seluruh guru-guru tarekat yang kami ceritakan di atas adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah tulen. Hingga sekarang guru-guru maupun khalifah-khalifah mereka tetap mempertahankan pandangan puritanisme dan ortodoksi Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah dibina oleh Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruqi as Sahrandi. Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah adalah tarekat yang paling Syari’ah Minded dan tarekat yang paling Syari’ah Oriented dibanding tarekat-tarekat yang lain. Hampir 95% semua guru-guru Mursyid Naqsyabandiyah Mudzhariyah menguasai berbagai cabang ilmu keagamaan Islam. Di samping mereka menguasai ilmu keagamaan, semua guru-guru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mempunyai ijazah Mursyid yang memang pasti.

Demikianlah asal-usul singkat tentang Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Indonesia.

    

Tiada ulasan: