Catatan Popular

Ahad, 16 Julai 2017

KAMUS ILMU TASAWWUF (’G’)



GERJALIBIN :
1. Singkatan, Gerakan Jama’ah Lil-Muqorrobin, 2 Organisasi di dalam menjalankan dhawuh Guru, wadah aktiviti murid yang menuntut Ilmu Syaththariyah; 3) Gerakan hati nurani, roh dan rasa yang dilatih dan dididik supaya selalu bergerak menzikiri Ada dan Wujud-Nya Satu-SatuNya Zat Yang Mutlak Wujud-Nya (Isi-Nya Huw) untuk didekatkan oleh Allah SWT kepadaNya


GHAFLAH:
Lalai, tidak sedar dan tidak ingat kepada Allah
Kata Ghafala asy-sya’a wa ahmalahu adalah satu makna (hal ini jika ia melalaikan sesuatu danmelupakannya karena tiidak mengingatnya). Kata ghafala ‘anisy-syai’I ghaflatan melupakannya karena kurang mengingatkannya dan kurang sadar serta Dalam keadaan lalai .

Agfhlasy syai’a bermakna membiarkannya sia-siakan tanpa terlupakan. Tagahafala bermakna sengaja melupakan atau pura-pura lupa. Kata istaghfala bermakna menilainya lalai dan kelalainya terlihat. Mughaffal adalah orang yang tidak mempunyai kecerdasan.
Dengan demikian, ghaflan adalah kata yang dibawahnya termasuk semua hal yang tidak mencapai tingkat kesempurnaan karena sibuk atau menyibukkan diri deengan apa yang lebih rendah dari itu.
Al Qur’an membicarakan fenomena ini dalam banyak tempat seperti dalam firman Allah S.W.T sebagai berikut: dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Allah juga berfirman,
“. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Sayyid Quthb berkata, “Mereka tidak membuka hati mereka yang telah dianugrahkan kepada mereka agar mereka memahami. Padahal, bukti-bukti keeimanan dan petunjuk sangat jelas dalam wujud dan risalah-risalah yang ditangkap oleh hatiyang terbuka dan pandangan yang tidak tertutup.
Mereka tidak membuka mata merreka untuk melihat ayat-ayat semesta yang Allah hamparkan dan mreka tidak membuka telingamereka untuk mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan. Mereka telah menonaktifkan perangkat yang telah dianugrahkan kepada mereka dan tidak menggunakannya dengan seharusnya. Sehingga, mereka hidup dalam keadaan lalai dan tidak ber-tadabbur.
Sikap lalai merupakan suatu perlakuan yang salah terhadap segenap potenssi dan energy yang ada. Tentunya sikap seperti itu sama sekali tidak memberikan faedah,, malah membahayakan dan membinasakan. Al- Qur,anil karim menegaskan rusaknya kecenderungan seperi ini dan menamakannya sebagai kelalaian Allah swt berrfirman,
“ Mereka hanya mengetahui yang lahir(saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adlah lalai”
Ia memperhatikan urusan-urusan dunianya dengan mengalahkan akhiratnya.

GHAIB:
Sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar
1. Misteri, keghaiban atau Misteri Segala Misteri;
2. Ungkapan hadis “Tak ada sesuatu pun menyerupaiNya” mengacu kepada Al Ghayb. Inilah ketidakterbandingan-Nya yang berada diluar jangkuan visi hamba;
3. Segala sesuatu yang Allah sembunyikan dari hamba-Nya karena kondisi hamba-Nya dan bukan karena Allah. Untuk menca-pai al-ghayb sang hamba dan pecinta diperintahkan, “Tinggalkan dirimu sendiri dan datanglah!”;
4.Ada dan Wujud Diri-Nya Dzat satu-satu-Nya Yang Mutlak dan Wujud-Nya, dekat sekali dalam rasa hati, selalu menyertai dan senantiasa meliputi hamba-hamba-Nya.
5. Isi-Nya Huw;
6. Isim yang mufrad dan ma’rifah. Menunjuk pada keberadaan Satu-SatuNya Dzat Yang Allah AsmaNya, mutlak wujudnya dan ma’rifah. Jelas amat sangat dekat sekali dan jelas-jelas amat sangat mudah dan indah untuk selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati, apabila jihadunnafsinya menjadikan rela bertanya kepada ahlinya.


GHAIRIL MAGHDHUBI ALAIHIM WALAADHAALIM :
Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Jalan yang dimurkai adalah jalan yang iblis sebagai pemimpinnya. Hingga watak dan pandangan-pan-dangannya dengan sendirinya juga mengikut kepa-danya. Yang selalu memandang indah, baik dan be-nar berdasarkan watak akunya.
Yang dimurkai adalah mereka yang memilih jalan bukan jalan kehendakNya. Karena enggan, acuh, sombong  dan angkuh. Lalu watak aku yang diko-mandoi nafsu yang berbicara, maka watak abaa wastakbaranya menjadikannya tidak mengikut jejak para malaikaNya. Yang taatnya kepada diriNya bahkan rela diperintahkan sujud taqorrub. Yakni memperlakukan diri kal-mayyiti bagai mayit dihadapan wakil Ilahi yang ada di bumi hingga sekarang ini.
Jalan mereka yang sesat adalah mereka yang telah dikunci mati atas hatinya dan pendengarannya. Penglihatannya ditutup. Karena itu mereka ini sama sekali buta dan tuli terhadap keberadaan Al HaqNya sebagaimana firmanNya dalam QS 17 ayat 72 “ dan barangsiapa yang buta (mata hatinya) di dunia ini, niscaya di akherat ia akan lebih buta dan lebih tersesat jalan (nya)”. Yakni tidak kembali pulang kepada Tuhan.
Dan yang sesat karena taghut yang jadi pilihan kenikmatan dan kesenangan. Yakni mereka yang hati, rah dan rasanya dicelupkan kedalam nafsunya. Hingga nafsu yang hakekatnya adalah dunianya manusia menjadi raja yang menguasai jagad manusia yang ada dalam dadanya. Lalu mereka menjadi orang-orang yang lebih menyukai  kehi-dupan dunia. Daripada kehidupan akhirat (yang hidup langgeng dengan Tuhannya), dan mengha- lang-halangi manusia  dari jalan Allah serta meng-inginkan  agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itulah yang hidupnya ada dalam kesesatan yang jauh. (FirmanNya di Surat Ibrahim ayat 3).

GHAIM:
Tertutup


GHAIBAH:
Ghaibah adalah ketiadaan (kekosongan) hati dari ilmu yang berlaku bagi ahwal (kondisi atau perilaku) makhluk karena (terhalang oleh) kesibukan rasa dengan “sesuatu yang datang” (warid, kehadiran rasa alam spiritual) kepadanya. Kemudian, keberadaan rasa terhadap diri dan lainnya menjadi ghaibah (gaib atau hilang) sebab kehadiran warisitu yang berwujud dalam bentuk kesadaran akan ingatan pahala dan siksa.

Diriwayatkan bahwa ketika Rabi’bin Khaitsam berkunjung ke rumah Ibnu Mas’ud r.a. dan lewat di depan kedai seorang pandai besi, dia melihat sepotong besi yang dibakar di tungku ubupan besi dalam keadaan merah membara. Tiba-tiba matanya tidak kuat memandang lalu pingsan seketika. Setelah siuman, Rabi’ ditanya, lalu menjawab, “Sayua ingat keadaan penduduk neraka (yang sedang dibakar)di neraka”.

Sebuah kejadian yang sangat aneh pernah menimpa Ali bin Husin. Rumah yang ditempatinya terbakar saat dia menjalankan salat, dan dia tidak bergeming sedikitpun dari sujudnya ketika api mulai menjalar ke tempatnya salat dan kemudian memusnahkan rumahnya. Para tetangganya heran, lalu menanyakan keadaannya”. Api yang amat besar sangat menggelisahkanku dari pada api ini” jawabnya.

Terkadang kondisi ghaibah disebabkan ileh ketersingkapan sesuatu dalam dirinya dengan Al-Haqq, kemudian keberadaannya berbeda menurut perbedaan ahwal-nya

Keadaan(hal) yang mengawali Abu Hafsh An-Naisaburi saat meninggalkan pekerjaannya di kedai pandai besinya dimulai dari peristiwa pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dia dengar dari seorang qari’. Bacaan itu mempengaruhi hatinya sehingga membuatnya lupa tentang “rasa “ saat suatu warid dating menguasai jiwanya. Kemudian tangannya dimasukkan ke dalam api dan mengeluarkan potongan besi panas yang sedang membara tanpa merasakan panas sedikit pun. Seorang muridnya melihatnya dengan heran lalu berteriak, “Wahai Guru, ada apa ini?” Abu Hafsh sendiri heran, lalu melihat apa yang terjadi. Semenjak itu, dia banggun dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pandai besi.

Saya pernah mendengar Abu Nasher, seorang muazin Naisabur yang sangat saleh, menuturkan pengalaman spiritualnya, “Saya pernah baca Al-Qur’an di majelis Abu Ali Ad-Daqaq ketika beliau di Naisabur. Beliau banyak mengupas masalah haji sampai fatwanya sangat mempengaruhi hati sya. Pada tahun itu juga saya berangkat ke Mekkah utuk melaksanakan ibadah haji dan meninggalkan pekerjaan dan semua aktivitas keduniaan. Ustadz Abu Ali sendiri, semoga Allah merahmatinya, juga berangkat menunaikan haji pada tahun itu pula. Ketika beliau masih tinggal di Naisabur sayalah yang melayani keperluan beliau juga membacakan Al-Quran di majelisnya. Suatu hari saya melihat beliau di padang sahara sedang bersuci dan lupa (meninggalkan) sebuah tempayan yang tadi di bawanya. Lalu saya ambil dan mengantarkannya ke binatang tunggangannya dan meletakkan di sisinya. “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas apa yang kamu bawakan ini”, sambutnya sederhana. Kemudian beliau memandang saya cukup lama, seakan-akan belum pernah melihat saya sama sekali.”Saya baru melihatmu, siapakah Anda?”.


GHAIBUL GHUYUB:
Keghaiban alam dan makhluk masih boleh dijangkau oleh ilmu dan kasyaf atau masih boleh dijangkau oleh alam perasaan. Keghaiban Allah s.w.t melepasi kemampuan jangkauan ilmu, kasyaf dan alam perasaan. Benteng keperkasaan Allah s.w.t menahan apa sahaja daripada menyentuh-Nya. Keghaiban yang begini dinamakan Ghaibul Ghuyub.


GHAIBUL MUTLAK:
Sama seperti Ghaibul Ghuyub.


GHAIB AL ADAMI:
Ghaib tidak wujud


GHAIB AL MUTLAK:
Ghaib sepenuhnya, ghaib yang dihubungkan dengan Zat Allah


GHAIB AL WUJUDI:
Ghaib wujud, wujud tetapi tidak kelihatan


GHAIR(Ghayr):
Yang asing, lain dari Allah, yang tidak wujud


GHAIRIYAT:
Adalah lawan dari ainiyyat yang merupakan hayal atau dugaan. Ini merupakan bagian dari I’tibarat yang mewujud. Maksudnya ghairiyat antara rabb dan ‘abd hanyalah dugaan saja dan kemudiaan diungkapkan dalalm bentuk ibarat.


GHAIRULLAH:
Makhluk, segala sesuatu yang selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala                                              


GHALABAH:
Ghalabah adalah suatu keadaan yang dialami oleh para Sufi yang didalamnya ia tidak mampu melihat penyebabnya atau menjaga sikapnya, dan sama sekali tidak mampu membedakan apa-apa mengenai keadaan yang menimpanya, bahkan dia mungkin akan melakukan sesuatu yang akan menyebabkan dia tidak diterima dengan baik oleh ereka yang tidak mengerti keadaan dirinya. Tapi kalau ghalabah itu telah lewat maka dia akan kembali kepada keadaan dirinya yang normal. Kekuatan-kekuatan ini mungkin merupakan rasa takut, rasa terpesona, rasa hormat, rasa malu atau yang semacam itu.


GHALABAT:
Tidak mempu kendali diri


GHARQ:
Ketiadaan kemampuan bernafas disebabkan dia menahannya maka dia tidak bernafas dan tidak pula ghaib. Apabila memperoleh kekauatan, dia masuk ke dalam Ghaybah (lenyap)


GHASYYAH:
Ketidakahadiran hati pada apa yang datang padanya, munculnya bercampur dengan tabiat manusia, ia tidak berlaku tereus menereus


GHAUTS:
Kata al-Ghatsu adalah istilah yang sangat terkenal dalam kalangan kaum sufi dan para waliyullah. Beliau  merupakan tokoh utama dan sekaligus sebagai tauladan dalam menjalankan tuntunan Islam secara syari’ah dan  hakikah serta  lahiriyah  dan batiniyah.
Dari sisi ketaqwaan, Beliau adalah hamba Allah Swt yang  paling taqwa pada zamannya. Al-Ghauts  sering disebut Quthb al-Wujud, karena Beliau sebagai pusat segala wujud secara ruhaniyah. Al-Ghauts Ra merupakan satu-satunya wakilRasulullah Saw dalam mengemban tugas khalifah dalam alam fana ini, serta sebagai tempat tajalli-Nya yang sempurna
Darjat kewalian yang tinggi. Juga digelar Qutb al aqtab. Orang yan mengelolakan kehendak dan rayuan orang lain. Beliau adalah ketua aulia yang memrintah dunia. Pangkat di bawah beliau ialah Qutb dan bilanagnnyn tidak kurang dari empat orang pada sesuautu masa.


GHAYBAH:
Ghaybah mempunyai arti ketiadaan. Sebuah istilah yang menunjukkan ketidaktahuan hati manusia ihwal yang terjadi dalam berbagai situasi kemanusiaan karena segenap panca indranya sepenuhnya disibukkan oleh berbagai pengaruh. Ghaybah juga mengacu pada cara Kekasih menyembunyikan diri-Nya dari sang pecinta. Ketiadaan ini dilakukan demi menanamkan pengetahuan dan mengajarkan tata karma dalam cinta


GHAYRAH:
Al Ghayrah ertinya Kecemburuan.

Al ghayrah fi al Haqq ertinya kecemburuan demi kebenaran.

Al Ghayrah al Ilahiyyah ertinya Kecemburuan Ilahi.


GHIBAH:
1. Menggunjing; 2. Mengumpat; 3. Memfitnah; 4. Mengatakan hal-hal tentang seseorang yang tidak hadir yang akan menyedihkannya atau menjijikan bila dia mendengarnya; dan pada umumnya diang-gap merugikan (reputasi orang) dengan maksud merusak (reputasinya) dan  meremehkannya; jika benar disebut ghibah jika salah disebut buhtan (mengumpat, memfitnah).

GHIRAH:
Kecemburuan beragama. Perasaan yang demikian menggerakkan seseorang menjaga kemuliaan dan kesucian agamanya dan mempertahankannya daripada musuh-musuh yang cuba merosakkan agamanya dan juga penganut agamanya.

GHULAT:
Pelampau dalan golongan syiah yang percaya dengan tannasukh (penjelamaan)


GHURAIBA:
Langit yang ketujuh


GHURUR:
1 Diidentikan dengan diri bermaksud menipu diri sendidi
2 Di dalam al quran – kekayaan dan kesenangan dunia yang menipu
3 juga bererti i’jab @ berbangga kepada diri sendiri kerana merasa ada kelebihan
3 Merasa lebih daripada orang lain

GHUYUB:
1. Sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata fisik, dibangsakan gaib tetapi bukan DiriNya Illahi. 2. Makhluk Tuhan yang dibangsakan ghaib, tidak nampak oleh mata.

GNAWAH:
Sebuah perhimpunan muzik jalanan dengan corak keagamaan di Moroko

Tiada ulasan: