Catatan Popular

Ahad, 9 Julai 2017

KITAB AL- LAMAAT CAHAYA : CAHAYA KEEMPAT : Risalah Minhaj As-Sunnah (Konsep Sunnah)



KARYA BADIUZZAMAN SAID NURSI DALAM KITAB INDUK “RISALAH NUR”

Risalah Minhaj As-Sunnah (Konsep Sunnah)

Catatan Pertama: Kebaikan dan kasih sayang RasulullahSAW. terhadap umatnya
•Catatan Kedua: Keharmonisan antara tugas kerasulanSAW. dengan persoalan-persoalan sekunder
•Catatan Ketiga: Tafsir Firman Allah, “kecuali kasih sayang
terhadap keluarga”
•Catatan Keempat: Kekhalifahan, antara Ahlu Sunnah Waal-Jamaah dan Syiah


MESKIPUN persoalan imamah merupakan persoalan yangbersifat furu(cabang) namun karena sering menjadi perhatian, iakemudian dimasukkan ke dalam salah satu kajian keimanan dalambuku-buku ilmu kalam dan ushuluddin. Dari sisi ini ia memilikikorelasi dengan tugas pokok kita untuk mengabdikan diri pada al-Quran dan masalah iman. Karena itu, di sini saya juga sedikit
membahasnya.

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummusendiri. la merasa sakit dengan penderitaanmu, begitu perhatianterhadapmu, serta amat kasih dan sayang terhadap orang-orangmukmin. Jika mereka berpaling, katakanlah, Cukuplah Allahbagiku. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Hanya kepada-Nya akubertawakkal. Dia adalah Tuhan Pemilik arasy yang agung.
(At-Taubah [9]: 128-129)

Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atasseruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan . (Asy-Syura [42]:23)
Kami akan menunjukkan sejumlah hakikat agung yangtersimpul dalam ayat-ayat mulia di atas dalam dua bagian.


A. BAHAGIAN KESATU

Bahagian ini memuat empat catatan:

1. Catatan Pertama

Ayat di atas menggambarkan sifat Rasul SAW. yang begitupengasih dan penyayang terhadap umatnya. Ya, memang adabeberapa riwayat sahih yang menjelaskan sifat kasih sayang beliau
yang sempurna terhadap umatnya. Contohnya adalah pada saatseluruh manusia dibangkitkan nanti, ketika itu beliau menyerudengan berkata, “Umatku, umatku”

Padahal di saat tersebut setiaporang, bahkan para nabi sekalipun, menyeru dengan ungkapan,“Diriku, diriku”.

Mereka mengucapkan hal tersebut karena situasiyang mencekam dan menakutkan. Dalam riwayat lain, di saatkelahirannya, ibu beliau juga mendengar beliau mengucapkan,“Umatku, umatku”. Riwayat ini dibenarkan oleh para waliyullahyang telah mencapai tingkat kasyaf.

Demikianlah, keseluruhanperjalanan hidup beliau yang harum semerbak yang memancarkan keluhuran akhlak bermahkotakan kasih sayang menjelaskan kepadakita tentang kecintaan dan kasih sayang beliau yang sangatsempurna. Selain itu, beliau memperlihatkan rasa cinta yang begitubesar tadi dengan menampakkan rasa butuh beliau yang takterhingga terhadap kiriman salawat dari umatnya. Salawat tersebutmenggambarkan sebegitu besar ikatan kasih beliau terhadap merekasemua.

Maka itu, sikap berpaling dari sunnah beliau yang mulia betul-betul merupakan satu bentuk kekufuran yang sangat besar, bahkanhal itu menjadi indikasi atas matinya hati nurani seseorang.

2. Catatan Kedua

Rasul SAW. telah memperlihatkan rasa cintanya yang besarterhadap sesuatu yang remeh dan bersifat khusus, padahal misikenabian yang beliau bawa bersifat umum dan komprehensif. Secaralahiriah, kelihatannya rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesuatuyang remeh dan bersifat khusus itu tidak sesuai dengan tugaskenabian beliau yang agung.

Namun sebenarnya, unsur yang kelihatannya remeh dan khusus tersebut menggambarkan satu tepidari sebuah rangkaian yang pada masa selanjutnya akan meng-emban seluruh misi kenabian.Contohnya adalah sikap Rasul SAW. yang menunjukkan rasacinta dan perhatiannya yang besar kepad Imam Hasan dan Husein di saat mereka masih muda belia bukan semata-mata karena nalurikasih sayang dan rasa cinta yang muncul dari adanya hubungankeluarga. Akan tetapikarena keduanya (Hasan dan Husein) merupa-kan pangkal dari rangkaian cahaya yang membawa salah satu misikenabian beliau yang agung. Keduanya menjadi sumber dari sebuahkomunitas agung yang mewarisi kenabian, serta menjadi cermindan teladan kenabian.Ya, sikap Rasul SAW. yang memeluk Hasan ra. serta menciumkepalanya dengan penuh kasih disebabkan oleh karena banyaksekali para pewaris kenabian, pembawa syariat agung, yang berasaldari anak cucu Hasan serta bersumber dari keturunannya yangbersinar dan penuh berkah itu. Di antara mereka adalah SyaikhAbdul Qadir al-Jailani

Dengan penglihatan kenabian, Rasul SAW.telah menyaksikan tugas suci yang diemban oleh orang-orang itudi masa mendatang. Sehingga beliau menghargai dan menghormati jasa dan pengabdian mereka. Beliau mencium kepala Hasan ra.sebagai bentuk penghormatan dan sokongan.

Lalu, ketika Rasul SAW. memberikan perhatian dan cinta yangbegitu mendalam terhadap Husein ra. sebetulnya hal itu diper-untukkan bagi keturunannya. Yaitu para imam agung yang berposisi sebagai pewaris kenabian yang hakiki seperti Zainal Abidin danJa’far ash-Shodiq. Ya, beliau telah mencium leher Husein ra., sertabeliau telah memperlihatkan kasih sayang dan perhatian yang besarkepadanya demi orang-orang nurani bagaikan mahdi yang akanmeninggikan panji Islam dan mengemban tugas kerasulan sesudah beliau.Dengan kalbu beliau yang mengetahui hal gaib, Rasul SAW.dapat menyaksikan padang mahsyar padahal beliau masih beradadi dunia. Beliau bisa menyaksikan surga di langit yang tinggi sertamenyaksikan malaikat yag terdapat nun jauh di sana padahal beliauberada di bumi. Beliau juga bisa melihat berbagai peristiwa yangtertutup tirai masa lalu yang gelap sejak zaman Nabi Adam as.Bahkan penglihatan beliau dapat menyaksikan Allah Taala. Denganbegitu tidak aneh kalau kemudian penglihatan beliau yang bersinaserta mata batin beliau yang menembus masa depan bisa menyaksi-kan para tokoh agung dan para imam pewaris kenabian yang berasaldari keturunan Hasan dan Husein. Atas dasar itulah, beliau mencium kepala keduanya atas nama mereka semua. Ya, dalam ciuman RasulSAW. terhadap Hasan ra. terdapat bagian besar yang dimiliki olehSyaikh Abul Qadir al-Jailani.


3.Catatan Ketiga

Pengertian dari firman Allah yang berbunyi, (kecuali kasih sayang terhadap keluarga), menurut sebuah pendapatadalah dalam mengemban misi kerasulan, Nabi SAW. tidak pernahmeminta upah dari seseorang. Yang beliau minta hanyalah kecintaanterhadap keluarganya.Barangkali ada yang bertanya-tanya bahwa dalam pengertianayat di atas upah diberikan atas dasar kedekatan keturunan.Sementara, ayat al-Quran berikut ini:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisiAllah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat [49]: 13)

Menunjukkan bahwa tugas kerasulan terus berlangsungberdasarkan kedekatan seseorang kepada Allah, bukan berdasarkankedekatan keturunan.Jawaban terhadap pendapat di atas adalah sebagai berikut.

Rasul SAW., dengan pandangan kenabian yang menembus alamgaib, mengetahui bahwa keturunannya akan berkedudukan sepertipohon yang bersinar terang dan besar di seluruh dunia Islam.Mereka yang mengantarkan berbagai lapisan masyarakat muslimkepada petunjuk dan kebaikan serta yang menjadi contoh pribadimanusia sempurna, sebagian besarnya akan berasal dari keluargabeliau.

Beliau juga mengetahui pengabulan doa umatnya yang terkaitdengan ahlul bait seperti terdapat dalam tasyahhud berikut ini:YaAllah limpahkan salawat atas Muhammad dan atas keluargaMuhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawatatas Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Artinya, sebagaimana sebagian besar para pembimbing danpemberi petunjuk atas agama Ibrahim itu terdiri dari para nabi yangberasal dari keturunan dan keluarganya, demikian pula para tokohahlul bait berposisi seperti para nabi Bani Israil bagi umatMuhammad. Mereka melaksanakan tugas agung dengan mengabdikepada Islam dalam berbagai aspek. Karena itu, Rasul SAW. diper-intahkan untuk berkata, “Katakan, Aku tidak meminta kepadamu upah
apa pun atas dakwahku kecuali kasih sayang terhadap keluarga”.
La meminta kepada umat ini agar mencintai keluarga beliau (ahlul bait).Hal ini didukung oleh beberapa riwayat lain. Nabi SAW. pernahbersabda, “Wahai manusia, aku telahmeninggalkan untuk kaliansesuatu yang jika kalian berpegang padanya kalian takkan tersesat.

Yaitu kitabullah (al-Quran) dan keturunanku (ahlul bait)”

Sebab,ahlul bait merupakan sumber dari Sunnah Nabi yang muliasekaligus pemelihara dan pihak pertama yang harus komitmenpadanya.Dengan demikian hakikat hadits di atas menjadi jelas. Yaituia berisi perintah untuk mengikuti al-Quran dan as-Sunnah yangmulia.

Jadi, yang dimaksud dengan ahlul baitdi sini—ditinjau darisisi tugas kerasulan adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Dengandemikian, orang yang meninggalkan sunnah yang mulia sebenarnyatidak termasuk ahlul bait. Ia juga tidak termasuk pengikut ahlulbait yang hakiki.Kemudian hikmah yang bisa dipetik dari keinginan Nabi SAW.untuk mengumpulkan seluruh umatnya di sekitar ahlul bait adalahkarena beliau mengetahui dengan izin Tuhan bahwa ketuunanahlul baitakan bertambah banyak seiring perjalanan waktu, semen-tara Islam akan kembali melemah. Dengan kondisi semacam itu,harus ada komunitas yang saling mendukung dan saling menopangdalam jumlah dan kekuatan besar guna menjadi pusat dan sentraldunia Islam secara moral. Rasul SAW. telah mengetahui hal itu.Maka, beliau menginginkan umatnya berkumpul di sekitar keturunannya.Meskipun ada individu-individu dari kalangan ahlul baityang tidak lebih unggul dari lainnya dalam masalah iman dan keyakinan.Namun mereka adalah orang-orang yang jauh lebih dulu tunduk,berkomitmen, dan mendukung Islam.

Sebab secara fitrah, secara tabiat, dan keturunan, mereka memang telah loyal terhadap Islam,Loyalitas alamiah tersebut tak pernah hilang walaupun beradadalam kondisi lemah, tak dikenal, atau bahkan walaupun berada dalam kebatilan. Jika demikian, bagaimana dengan loyalitasterhadap sebuah hakikat yang dimiliki oleh nenek moyang mereka,yang demi hakikat tersebut mereka rela mengorbankan jiwanya hingga memperoleh kemuliaan. Hakikat tersebut benar-benar15 ) berada dalam puncak kekuatan, kemuliaan, dan di atas kebenaran.Maka, mungkinkah orang yang secara spontan merasakan kebenaran loyalitas alamiah tersebut akan meninggalkannya?Dengan komitmen fitri mereka yang sangat kuat terhadapIslam, ahlul baitmemandang sebuah petunuk Islam yang sederhana sekalipun sebagai bukti yang kuat. Sebab mereka memangtelahmemilikiloyalitas fitri terhadap Islam. Adapun orang lain, merekabaru memberikan komitmen setelah adanya bukti yang kuat.

4. Catatan Keempat

Terkait dengan catatan ketiga di atas ada sebuah isyaratsingkat yang mengarah pada masalah yang sangat besar sampai-sampai ia masuk ke dalam pembahasan buku-buku akidah dantermuat bersama pokok-pokok keimanan. la adalah masalah yangmemicu perselisihan antara kalangan Ahlu Sunnah dan Syiah.Masalah tersebut adalah sebagai berikut:

Kalangan Ahlu Sunnah berpendapat bahwa Imam Ali ra.merupakan khalifah yang keempat di antara para Khulafa ar-Rasyidin.
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. lebih utama dan paling berhak terhadapkekhalifahan. Karena itu, dialah yang pertama-tama menerimatongkat kekhalifahan.Namun menurut kalangan Syiah, “Hak kekhalifahan tersebutberada di tangan Ali ra. Hanya saja ia kemudian dizalimi. Ali lahyang paling utama dari semua khalifah yang ada”. Kesimpulan darikeseluruhan argumen mereka adalah bahwa banyak sekali haditsyang menyebutkan keutamaan Sayyidina Ali
ra. Ia merupakanrujukan bagi sebagian besar wali dan jalan-jalan sufi sehingga iadisebut sebagai Sultanul awliya (pemimpin para wali). Selain itu, iamemiliki berbagai kemuliaan baik dalam hal pengetahuan, kebe-ranian, dan ibadah. Terlebih lagi, Rasul SAW. telah memperlihatkanhubungan yang sangat kuat dengannya dan dengan ahlul baityangberasal dari keturunannya. Semua itumenjadi petunjuk bahwa Alira. adalah yang paling utama. Jadi, kekhalifahan merupakan haknya,hanya saja kekhalifahan itu kemudian dirampas darinya.
Jawaban dari pernyataan di atas adalah sebagai berikut:

Pengakuan berulang kali yang diberikan oleh Sayyidina Ali ra. Danpara pengikutnya terhadap tiga khalifah sebelumnya, pengangkatandirinya sebagai Syaikhul qudhot (Hakim Tertinggi)selama 20 tahunlebih, merupakan kenyataan yang membantah klaim kalangan Syiah.Apalagi berbagai kemenangan Islam dan perjuangan melawan paramusuh berlangsung di masa tiga khalifah sebelumnya. Sementarapada masa kekhalifahan Ali ra. terjadi banyak fitnah. Hal ini tentujuga membantah klaim Syiah dari sisi kekhalifahan. Artinya, klaimyang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah adalah benar.

Barangkali ada yang berpendapat bahwa golongan Syiah(pendukung dan pengikut Ali ra.) terbagi dua: Ada Syiah wilayah(yang menempatkan Ali sebagai rujukan para wali) dan ada pula Syiah khilafah (yang meyakini Ali sebagai orang yang paling layaksebagai khalifah). Salahnya golongan kedua karena tercampurnya antara politik dan kepentingan-kepentingan tertentu dalam klaimmereka. Golongan pertama, yang justru terbebas dari  percampuran tersebut.  

Anggaplah golongan yang kedua ini bersalah karenamasalah politik dan kepentingan telah bercampur dalam klaimmereka. Akan tetapi pada golongan pertama tidak terdapatkepentingan atau keinginan politis apa pun. Tapi pada gilirannya,Syiah wilayah juga tercampur dengan kelompok Syiah khilafah. Maksudnya, segolongan wali yang mengarungi jalan sufi meman-dang bahwa Sayyidina Ali ra. sebagai orang yang paling utama.Sehingga mereka juga membenarkan klaim Syiah khilafah yang memasuki wilayah politik.

Jawaban atas pendapat tersebut adalah bahwa Imam Ali ra.harus dilihat dari dua sisi: Yang pertama, sisi kepribadian beliauyang mulia dan kedudukan pribadi beliau yang tinggi. Sedangkanyang kedua adalah sisi keadaan beliau sebagai cerminan dari sosokahlul bait. Tentu saja sebagai sosok ahlul bait ia memantulkansubstansi Rasul SAW.Dilihat dari sisi yang pertama, semua ahli hakikat—termasukImam Ali ra. sendiri yang berada di garda terdepan—telah memulia-kan Abu Bakar ra. dan Umar ra. Mereka menganggap keduanyasebagai orang yang lebih utama dalam pengabdian mereka terhadapIslam dan kedekatan mereka kepada Ilahi.Lalu dilihat dari sisi yang kedua di mana Imam Ali ra.dipandang sebagai cerminan sosok ahlul bait 16
. Sebagai sosok ahlulbait yang mencerminkan hakikat Muhammad SAW., ia sama sekali tak boleh dibandingkan dengan siapapun. Dan jika ditinjau dari sisiyang kedua ini telah banyak hadits-hadits Nabi SAW. yang isinyamemuji Imam Ali ra. serta menjelaskan berbagai keutamaannya. Diantaranya adalah hadits sahih yang berbunyi, “Keturunan setiapnabi berasal darinya (Adam as.), sementara keturunanku berasaldari Ali”

Adapun berbagai riwayat yang terkait dengan kepribadianAli ra. dan pujian terhadapnya yang jumlahnya lebih banyakdaripada khalifah-khalifah lainnya hal itu disebabkan oleh karenakalangan ahlu sunnah telah menyebarkan berbagai riwayat yangterkait dengan Imam Ali ra. guna menghadapi serangan dan celaankaum Umayyah dan kaum Khawarij yang ditujukan kepadanya.
Sementara para khulafa ar-Rasyidin lainnya tidak mengalami kritikandan celaan seperti itu. Dengan begitu, tidak ada alasan yangmendorong mereka untuk menyebarkan hadits-hadits yang terkaitdengan keutamaan para khalifah lainnya.

Kemudian, Rasul SAW. melihat dengan kacamata kenabianbahwa Sayyidina Ali ra. akan menghadapi berbagai peristiwamenyakitkan dan berbagai fitnah internal. Karena itu, beliaumenghibur Ali ra. sekaligus mengajarkan umat Islam dengan hadits-hadits yang mulia. Misalnya, “Siapa yang aku sebagai walinya, makaAli juga walinya”.

Hal ini untuk menolong Ali ra. dari keputus-asaan, serta untuk menyelamatkan umat ini agar jangan sampaimempunyai prasangka buruk erhadapnya.Kecitaan berlebih yang ditampakkan oleh golongan Syiahwilayah kepada Sayyidina Ali ra. dan sikap mereka yang meng-utamakan Ali ra. atas yang lain dari sisi tarekat tidak menjadikanmereka memikul pertanggungjawaban yang sama besarnya denganyang dipikul oleh golongan syiah khilafah.

Sebab, para wali tersebutmemandang Ali ra. dengan pandangan cinta seorang muridterhadap mursyidnya. Dan biasanya orang yang sedang mabuk cintamempunyai sikap yang berlebihan dengan memandang kekasihnya.Begitulah sebenarnya pandangan mereka.

Gejolak cinta berlebihanyang ditunjukkan oleh para wali itu masih berpeluang untukdimaafkan dengan syarat sikap mereka yang lebih memuliakanImam Ali ra. tersebut tidak sampai ke tingkat mencela dan memu-suhi para Khulafa ar-Rasyidin lainnya. Serta, tidak sampai keluar dariprinsip-prinsip dasar Islam.Adapun golongan Syiah khilafah, karena sudah bergelutdengan kepentingan politis, mereka tidak mungkin lepas dari sikappermusuhan dan kepentingan pribadi sehingga tidak mendapat hakuntuk ditoleransi. Bahkan mereka justru menunjukkan sikapdendamnya terhadap Umar ra. yang dibungkus dalam kecintaan terhadap Ali ra.Sebabnya, bangsa Iran merasa telah
disakiti oleh Umar ra. Sampai-sampai sikap mereka itu sesuaidengan sebuah ungkapan yang berbunyi, “Sebetulnya bukan karenacinta pada Ali, tetapi karena benci ada Umar”.

Tindakan Amru ibnal-Ash yang melawan Ali ra., serta tindakan Amru ibn Sa’ad yangmemerangi Sayyidina Husein ra dalam perang yang memilukan danmenyakitkan telah mewariskan kebencian dan permusuhan yangsangat hebat bagi kalangan Syiah terhadap nama yang berbau Umardan sejenisnya.Sementara golongan Syiah willayah mereka tidak pernahmengkritik kalangan Ahlu Sunnah. Sebab, kalangan Ahlu Sunnahtidak merendahkan kedudukan Ali ra. bahkan mereka secara tulussangat mencintainya. Hanya saja mereka menghindarkan sikap cintaberlebihan sebab hal itu berbahaya seperti yang disebutkan dalamhadits. Adapun pujian Nabi SAW. terhadap kelompok pengikut Alira. sebagaimana yang terdapat dalam beberapa hadits, sebetulnyahal itu mengarah kepada kalangan Ahlu Sunnah. Sebab, merekaadalah orang-orang yang mengikuti Sayyidina Ali ra. secara konsis-ten. Karena itu, mereka juga disebut sebagai Syiah (pengikut) ImamAli ra.Ada sebuah hadits yang secara tegas menjelaskan bahwa sikap berlebihan dalam mencintai Sayyidina Ali ra. sangat berbahaya samaseperti bahaya yang menimpa orang-orang Nasrani ketika merekaberlebihan dalam mencintai Isa as.

Apabila golongan Syiah wilayah berpendapat bahwa jikaImam Ali ra. telah diakui mempunyai keutamaan yang luar”. Ali berkata,“maka sikap yang melebihkan Abu Bakar ra. di atas Ali ra. tidak bisaditerima, pernyataan tersebut dapat dijawab sebagai berikut:Apabila keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ra., danjasa-jasa mereka berdua yang begitu agung dalam mewarisi kenabi-an diletakkan dalam sebuah sisi timbangan. Lalu keistimewaan Alira. yang luar biasakerja kerasnya memimpin kekhalifahan, berbagaipeperangan internal berdarah-darah yang terpaksa dilakukannya,serta prasangka buruk yang diterima sebagai akibatnya, diletakkandi sisi timbangan lainnya, pastilah timbangan Abu Bakar ash-Shiddiqra., timbangan Umar ibn al-Khattab, atau timbangan Dzun-NurainUtsman ibn Affan ra. akan lebih berat. Inilah yang diakui olehkalangan Ahlu Sunnah dan ini pula yang menyebabkan merekamelebihkan ketiganya.

Seperti yang telah kami sebutkan dalam kalimat ketiga belasdan kedua puluh empat pada buku al-Kalimat, martabat kenabianjauh lebih mulia dan lebih tinggi daripada derajat kewalian bahwasatu gram kenabian lebih berat daripada satu kilokewalian.

Darisisi ini, bagian yang dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar ra. dalammewarisi kenabian dan menegakkan hukum-hukum Islam lebihbesar. Kedamaian yang terjadi pada masa kekhalifahan mereka bagikalangan Ahlu Sunnah menjadi buktinya. Keutamaan pribadi Alira. tidak membuat jatuh kedudukan mereka itu. Imam Ali ra. telahmenjadi Syaikhul Qudhot (Hakim Tertinggi) bagi kedua tokoh ter-sebut di masa kekhalifahan mereka. Dan ia menghormati keduanya.

Bagaimana mungkin kelompok yang benar, yaitu kalanganAhlu Sunnah, yang mencintai dan menghormati Sayyidina Ali ra.,tidak akan mencintai dua orang yang dicintai dan dihormati olehSayyidina Ali ra.? dan Kami akan memperjelas masalah ini dengan sebuah contoh.Seorang yang sangat kaya membagi-bagikan warisan dan hartanyayang berlimpah kepada para anaknya. Salah satu dari anaknya itudiberi dua puluh pound perak dan empat pound emas. Sementara yang kedua diberi lima pound perak dan lima pound emas. Laluyang ketiga diberi tiga pound perak dan lima pound emas.

Tentu saja, meskipun kuantitas atau jumlah yang didapatkan oleh dua anakyang terakhir lebih sedikit dari yang pertama, tetapi dari segi kualitas apa yang mereka dapatkan lebih berharga.Dengan contoh di atas, maka sedikit kelebihan yang dimilikioleh Abu Bakar dan Umar yang berupa emas hakikat kedekatanIlahi yang berasal dari pewarisan kenabian dan penegakan hukum-hukum Islam lebih berat jika dibandingkan dengan banyaknyakeutamaan pribadi, essensi kewalian, dan kedekatan ilahi yangdimiliki oleh Ali ra. Karena itu, dalam menimbang dan memberikan.penilaian, hendaknya sisi ini harus diperhatikan. Namun, gambarantentang hakikat tersebut akan berubah manakala penilaiannya hanya terbatas pada sisi keberanian dan pengetahuan pribadi, serta hanyaterbatas pada sisi kewalian.

Selanjutnya, sebagai cerminan sosokahlul bait yang tampak dalam kepribadiannya, dari sisi pewarisankenabian, kedudukan Sayyidina Ali ra. tidak bisa ditandingi olehsiapapun. Sebab, rahasia agung yang dimiliki oleh Rasul SAW.terletak pada sisi ini. Adapun golongan Syiah  khilafah, sepantasnya mereka maluterhadap kalangan Ahlu Sunnah. Sebab sebenarnya mereka telahmerendahkan kedudukan Sayyidina Ali ra. dengan pengakuanmereka yang berlebihan dalam mencintainya dan memberikangambaran yang buruk tentang akhlak Ali ra. Mereka berkata, “Sayyidina Ali ra. senantiasa mengikuti Abu Bakar ash-Shiddiq ra.dan Umar al-Faruq meskipun keduanya salah. la selalu menjaga diridari sesuatu yang ia takuti dari keduanya”. Sikap inilah yang olehkelompok disebut dengan istilah taqiyyah. Artinya, Sayyidina Alira. takut kepada ke duanya (Abu Bakar dan Umar) serta selalubersikap riya terhadap keduaya dalam beramal.

Demikianlahgambaran yang mereka berikan terhadap pahlawan Islam angagung yang bergelar “Singa Allah” yang telah menjadi pemimpinbagi prajurit ash-Shiddiq dan telah menjadi menteri bagi keduanya.Menurutku, tindakan mereka yang telah menggambarkan Sayyidina Ali ra. sebagai orang yang bersikap riya, takut, pura-pura cinta pada orang yang sebenarnya tak dicintainya, serta taat dan tunduk kepadadua tokoh yang berbuat salah selama lebih dari dua puluh tahunkarena rasa takut sama sekali bukanlah bagian dari cinta. SayyidinaAli ra. berlepas diri dari kecintaan yang semacam itu.
Sementara itu, kelompok al-haq (Ahlu Sunnah) tidak pernahmerendahkan martabat Sayyidina Ali ra. dari sisi mana pun pula.Mereka juga tidak memberikan tuduhan yang buruk terhadapnya,serta tidak pernah menggambarkan sang pahlawan pemberani itusebagai penakut. Mereka berpendapat, “Seandainya Sayyidina Alira. tidak melihat kebenaran pada Khulafa ar-Rasyidinsemenit pun iatidak akan memberikan loyalitasnya kepada mereka. Dan takmungkin ia akan tunduk pada pemerintahan mereka”. Artinya, Alira. telah mengetahui bahwa mereka (Khulafa ar-Rasyidin) berada diatas kebenaran. Ia juga mengakui kemuliaan merek sehingga maumengorbankan keberaniannya yang luar biasa karena cinta pada kebenaran.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap ekstrim dan berlebihan dalam hal apapun juga tidaklah baik. Sikap istiqamahadalah sikap pertengahan yang dipilih oleh kalangan Ahlu Sunnah.

Akan tetapi sayang sekali, sebagaimana beberapa pemikirankelompok Khawarij dan Wahabiah dibungkus dengan lebel AhluSunnah, segolongan orang yang tertarik dengan politik dansegolongan orang yang menyimpang mengkritik Sayyidina Ali ra.dengan berkata, “Ia (Ali ra.) sama sekali tidak tepat untuk memimpinkekhalifahan sebab ia bodoh dalam masalah politik. Karena itu, iatidak bisa memimpin umat di masanya”.

Tuduhan batil semacam itu tentu saja membangkitkankemarahan dan ketidaksenangan kalangan Syiah terhadap kalanganAhlu Sunnah. Padahal prinsip dan landasan pendirian Ahlu Sunnahtidak seperti itu bahkansebaliknya, Karenaitu, Ahlu Sunnah takbisa dirusak dengan memasukkan pemikiran-pemikiran yangbersumber dari kalangan Khawarij dan orang-orang yang menyimpang itu. Bahkan, kalangan Ahlu Sunnah merupakan orang-orangyang lebihloyal dan lebih cinta terhadap Sayyidina Ali ra. dibanding-kan dengan kalangan Syiah. Dalam setiap ceramah dan dakwahnya,mereka selalu menyebutkan pujian dan kemuliaan yang pantas di-miliki oleh Sayyidina Ali ra. Apalagi para wali dan para sufi sebagianbesarnya berasal dari kalangan Ahlu Sunnah. Mereka menjadikanSayyidina Ali ra. sebagai mursyid dan pemimpin mereka. Karenaitu,sepantasnya kalangan Syiah meninggalkan kaum Khawarij dankelompok sempalan yang sebenarnyamerupakan musuh Syiah dansekaligus Ahlu Sunnah dan tidak beroposisi dengan kalangan AhluSunnah. Sampai-sampai ada sebagian dari kalangan Syiah yangsengaja meninggalkan sunnah Nabi SAW. karena benci terhadapAhlu Sunnah.Bagaimanapun, kami telah membahas masalah ini secarapanjang lebar. Masalah tersebut juga telah banyak dikaji di antarapara ulama.Wahai kelompok al-haq, yaitu kalangan Ahlu Sunnah wal Jama ah!

Wahai kalangan Syiah yang telah menjadikan kecintaan padaahlul bait sebagai jalan kalian!

Buanglah segera konflik yang tak ada artinya, batil danberbahaya antara kalian. Jika kalian tidak membuang konfliktersebut, maka kaum kafir yang saat ini berkuasa secara kuat akanmenyibukkan kalian dengan saling bertengkar antara yang satudengan yang lain. Serta, mereka juga akan mempergunakan salahsatu di antara kalian sebagai alat untuk membinasakan lainnya.

Setelah kelompok tadi binasa, alat itupun akan ikut hancur binasa.Karena itu, kalian harus cepat-cepat membuang hal-hal sepeleyang bisa menimbulkan konflik. Sebab kalian adalah ahli tauhid.

Pada kalian ada ratusan ikatan suci yang bisa menjadi faktorpendorong bagi terwujudnya persaudaraan dan persatuan.

B. BAGIANKEDUA

Bagian kedua

ini akan dikhususkan untuk menjelaskan ayat al-Quran yang berbunyi:

Bagian ini telah ditulis dalam bagian tersendiri. Yaitu dalam cahaya yang
Ke sebelas.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah, CukuplahAllah bagiku. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Hanya kepadaNya akubertawakkal. Dia adalah Tuhan yang memiliki arasy yang agung .(at-Taubah [9]: 129)

Tiada ulasan: