Catatan Popular

Ahad, 9 Julai 2017

KITAB AL- LAMAAT CAHAYA : CAHAYA KETIGA : Penjelasan mengenai hakikat kalimat, “ya baaqi anta baaqi”



KARYA BADIUZZAMAN SAID NURSI DALAM KITAB INDUK “RISALAH NUR”



O Penjelasan mengenai hakikat kalimat,  “ya baaqi anta baaqi”

(Wahai Yang Maha Kekal, Engkaulah Yang Maha Kekal).

a. Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Allah
b. Rindu akan keabadian yang tertanam dalam fitrah manusia
c. Perbedaan waktu terhadap kehancuran sesuatu dan proses perubahan umur yang fana kepada yang abadi.

(Pada cahaya yang ketiga ini, unsur emosi dan perasaan terlibat didalamnya. Oleh karena itu kami berharap ia tidak diukur dengan ukuran logika. Sebab, faktor yang membuat perasaan ini bergejolak seringkali tidak logis dan tidak rasional)

Segala sesuatu hancur binasa kecuali Dzat-Nya. Segala ketetapanadalah milik-Nya. Dan kepada-Nya kalian dikembalikan. (al-Qashash [28]: 88)

Ayat al-Quran di atas ditafsirkan oleh dua kalimat yangmenjelaskan dua hakikat penting yang oleh sekelompok guruTarekat Naqsyabandiyah dijadikan sebagai esensi wirid merekaketika mereka melakukan khataman al-Quran secara khusus. Bunyikedua kalimat tersebut adalah:

Wahai Yang Maha kekal, Engkaulah Yang Maha Kekal. WahaiYang Maha Kekal, Engkaulah Yang Maha Kekal .Karena kedua kalimat itu termasuk dalam pengertian maknaAyat di atas, kami akan menyebutkan beberapa catatan untukmenjelaskan dua hakikat yang menggambarkan keduanya



1. PENGOSONGAN KALBU DARI SEGALA SESUATU SELAINALLAH

Pengulangan kata Ya Baqi Anta al-Baqi pada bagian yang pertama adalah untuk mengosongkan kalbu dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala. Dalam hal ini, ia menyerupai sebuah operasipembedahan dengan memutuskan kalbu dari segala hal selain Allah.Jelasnya adalah sebagai berikut:

Dengan substansi komprehensif manusia memiliki beraneka macam ikatan dengan sebagian besar entitas. Dalam substansi tersebut terdapat kecenderungan cinta tak terbatas yang bisa mem-buat manusia memiliki kecintaan yang mendalam terhadap entitas pada umumnya. Ia mencintai dunia yang besar ini sebagaimana iamencintai rumahnya. Ia juga mencintai surga yang kekal sebagai-mana ia mencintai tamannya. Padahal, seluruh entitas yang dicintaimanusia itu tidaklah langgeng. Semuanya akan pudar dan lenyap.

Karena itu, manusia senantiasa merasa tersiksa akibat pedihnyaperpisahan. Dari sinilah kecintaan yang amat sangat itu menjadifaktor utama yang membuat batinnya begitu tersiksa. Sebab, ia telahceroboh dalam menempatkan rasa cintanya itu. Berbagai derita yang dialaminya bersumber dari kecerobohannya sendiri. Padahal, Allahsengaja membekali manusia dengan perasaan cinta di atas untuk diarahkan kepada Pemilik keindahan yang benar-benar abadi (Allah). Namun manusia justru mengarahkan cintanya pada entitas yang fana. Akhirnya, ia pun merasakan berbagai penderitaan akibat pedihnya perpisahan.

Maksud dari pengulangan kalimat Ya Baqi Anta al-Baqi adalahlepasnya diri si pelantun dari kecerobohan di atas, ia memutuskan ikatan cinta terhadap sesuatu yang bersifat fana, berpisah dengan semua yang ia cintai sebelum semua yang dicintainya itu berpisah dengannya. Selanjutnya, ia hanya mengarahkan perhatian pada Kekasih yang kekal abadi, yaitu Allah Ta’ala semata.

Pengertian dari ucapan tersebut adalah, “Tidak ada yang benar-benar kekal kecuali Engkau wahai Tuhanku. Segala sesuatu selain-Mu bersifat fana dan sementara. Sementara sesuatu yangbersifat sementara tak layak untuk mendapat cinta abadi dan tak layak untuk diikatkan secara kuat kepada kalbu yang pada dasarnya telah dicipta untuk kekal abadi. Karena semua entitas yang adabersifat fana dan akan meninggalkanku, maka aku akan meninggalkannya sebelum ia meninggalkanku dengan mengucap Ya Baqi Anta al-Baqi secara berulang-ulang”. Artinya, aku yakin dan percayabahwa tidak ada yang kekal kecuali Engkau wahai Tuhanku.

Kekalnya entitas bergantung pada bagaimana Engkau membuatnyakekal. Dengan demikian, ia hanya boleh dicintai selama tidak keluar dari cahaya cinta-Mu. Jika tidak, ia tak layak menjadi kaitan kalbu.

Kondisi di atas akan membuat kalbu bersih dari segala sesuatu yang tadinya sangat dicintai. Manusia akan menyaksikan bahwa segala sesuatu yang terlihat indah hanya bersifat sementara. Ketika itulah, ikatan yang tadinya mengikat kalbu dengan segala entitas akan terputus. Namun jika kalbunya masih tidak bersih dari sesuatu yang dicintai, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Berbagai luka,derita, dan penyesalan akan memancar dari kedalaman kalbu sesuai
dengan kadar entitas fana yang dicintainya.

Lalu kalimat kedua yang berbunyi sama, ya Baqi Anta al-Baqi,berkedudukan sebagai salep penyembuh dan balsem ampuh, Ia dioleskan pada operasi bedah yang dilakukan kalimat pertamaterhadap kalbu beserta segala ikatannya. Arti dari kalimat kedua tersebut, “Cukuplah Engkau wahai Tuhanku sebagai Dzat Yang Maha Kekal. Kekekalan-Mu menggantikan segala sesuatu. Karena Engkau ada, segala sesuatu pun menjadi ada”.

Segala sesuatu yang terlihat baik, bagus, dan sempurna sehingga dicintai oleh manusia tidak lain merupakan petunjuk akan kebaikan dan kesempurnaan Dzat Yang Maha Kekal. Kebaikandan kesempurnaan tersebut adalah pancaran lembut dari-Nya yang menembus dari balik tirai yang tebal. Bahkan ia merupakan pancaran dari manifestasi nama-nama Allah yang mulia.



2. FITRAH MANUSIA YANG MENGINGINKANKEABADIAN

Dalam fitrah manusia ada keinginan yang sangat kuat terhadap keabadian. Sampai-sampai ia berangan-angan agar semuayang ia cintai bersifat abadi. Bahkan, ia hanya mau mencintai sesuatu yang disangkanya abadi. Akan tetapi, ketika ia menyadari bahwaapa yang dicintainya hanya bersifat sementara atau ia menyaksikan bahwa apa yang dicintainya itu musnah, ia akan segera mengalami kesedihan yang mendalam. Ya, semua ratapan yang muncul akibat adanya perpisahan adalah merupakan ungkapan tangisan yang bersumber dari kecintaan terhadap keabadian. Seandainya manusia tidak menghayalkan adanya keabadian, ia tidak akan mencintai sesuatu.

Bahkan bisa dikatakan bahwa yang menjadi salah satu sebabadanya alam keabadian dan surga yang kekal adalah karenakecintaan yang sangat kuat terhadap keabadian yang tertanam pada fitrah manusia, serta karena do’anya yang umum dan menyeluruhuntuk bisa kekal. Maka, Allah Yang Maha Kekal mengabulkan keinginan dan do’a tersebut. Allah menciptakan bagi manusia yang fana sebuah alam yang kekal dan abadi.

Sebab, mana mungkin Sang Pencipta Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih mengabulkan doa perut yang berukuran kecil saja yang dipanjatkan lewat lisanul hal (perbuatan) dengan menciptakanuntuknya beragam makanan lezat yang tak terhingga, sementara tidak mengabulkan doa yang dipanjatkan manusia dengan ucapan,lisanul hal, dengan terus-menerus dan kulli
(secara utuh), keinginankuat yang bersumber dari kebutuhan fitrinya? Naudzu Billah,Karena itu, sangat mustahil Allah mengabaikan doa manusia. Sebab,sikap mengabaikan doa tidak sesuai dengan kebijaksanaan, keadilan,rahmat, kekuasaan-Nya.

Selama manusia sangat mencintai keabadian, pastilah semuakesempurnaan dan perasaannya tergantung pada keabadian itu.Selama kekekalan tersebut menjadi sifat istimewa Dzat Yang MahaKekal Yang Memiliki Keagungan, maka seluruh nama-Nya yang mulia juga ikut kekal. Semua cermin yang memantulkan manifestasinama-nama tersebut diwarnai keabadian dan mengambil hukum-nya. Maksudnya, semua nama tersebut juga memperoleh sejeniskeabadian. Maka itu, yang paling utama untuk dilakukan manusiaserta tugas paling agung yang dimiliki manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Dzat Yang Maha Kekal Dan Agungserta berpegang dengan nama-nama-Nya yang mulia. Sebab, apa yang dikorbankan di jalan Dzat Yang Maha Kekal, juga akanmenerima sejenis sifat kekal.

Hakikat ini dijelaskan oleh kalimat kedua, ya Baqi Anta al-Baqi.Dia tidak hanya menyembuhkan “luka” maknawi manusia yangtak terhingga, tetapi juga memenuhi keinginan kuatnya untuk bisa
kekal seperti yang tertanam dalam fitrahnya.

3.PERBEDAAN PENGARUH WAKTU TERHADAP MUSNAHNYA SESUATU DAN PERUBAHAN UMURYANG FANA KEPADA KEKAL

Dalam kehidupan dunia ini, pengaruh waktu terhadapmusnahnya segala sesuatu berbeda-beda. Walaupun semua entitas,antara yang satu dengan lainnya, saling mengitari seperti lingkaranyang saling bersambung, namun dilihat dari kemusnahannya adaperbedaan yang sangat mencolok.

Sebagaimana pergerakan jarum detik, menit, dan jam berbedakecepatan meskipun bentuk lahiriahnya sama, demikian puladengan kondisi manusia. Pengaruh waktu terhadap kondisi jasmani,jiwa, kalbu, dan ruh manusia berbeda-beda. Anda menyaksikanbahwa kehidupan, keabadian, dan keberadaan wujud jasmani hanyaterbatas pada hari atau pada saat ia hidup. la terputus dari masalalu dan masa depan. Lalu Anda menyaksikan bahwa kehidupandan domain keberadaan kalbu membentang-luas hingga mencakupbeberapa hari sebelum dan sesudahnya. Bahkan kehidupan dandomain ruh jauh lebih besar dan jauh lebih luas. Ia mencakupbeberapa tahun sebelumnya dan sesudahnya.

Demikianlah, atas dasar itu, sesungguhnya disamping umurmanusia yang fana terdapat umur lain yang bersifat kekal ditinjaudari sisi kehidupan kalbu dan rohaninya. Keduanya akan terushidup lewat adanya pengenalan terhadap Tuhan, kecintaan pada-Nya, pengabdian kepada-Nya, serta keridhaan-Nya. Bahkan, umurkekal ini akan mengantar kepada alam yang abadi. Sehingga umuryang fana tadi akan berkedudukan seperti umur yang kekal abadi.
Ya, satu detik yang dihabiskan manusia di jalan Dzat YangMaha Kekal, di jalan cinta-Nya, di jalan makrifah-Nya, dan dalamrangka mencari ridha-Nya, akan terhitung satu tahun penuh.

Bahkan ia akan abadi tak pernah musnah. Sementara waktu satu tahun yangtidak dipergunakan di jalan-Nya, terhitung satu detik. Maka, seratustahun usia orang-orang yang lalai tidak lebih dari satu detik darisisi dunia.Ada sebuah ungkapan terkenal yang menjelaskan hakikat tersebut. Bunyinya, “Berpisah sekejap seolah-olah satu tahun,sementara satu tahun bersua seolah-olah sekejap”. Artinya, berpisahsatu detik saja terasa sangat lama sehingga seolah-olah satu tahun.

Sedangkan bersua selama satu tahun terasa sangat singkat seolah-olah hanya satu detik.Hanya saja, aku mempunyai pandangan berbeda denganungkapan di atas. Menurutku, satu detik yang dipergunakanmanusia dalam sesuatu yang diridhoi Allah Ta’ala, serta di jalanDzat Yang Maha Kekal dan Agung—yaitu satu detik perjumpaan tidak hanya seperti satu tahun. Tetapi ia seperti sebuah jendelaperjumpaan yang kekal abadi. Adapun perpisahan yang bersumbedari kelalaian dan kesesatan, tidak hanya membuat waktu satu tahunmenjadi seperti satu detik. Bahkan ribuan tahun pun menjadi sepertisatu detik.
Ada lagi pepatah yang lebih terkenal daripada sebelumnyayang memperkuat penjelasan di atas. Makna dari pepatah tersebutadalah, “Tanah lapang jika bersama musuh seolah seluas cangkir.

Sementara lobang jarum jika bersama kekasih seolah sepertilapangan”.Jika kita ingin menjelaskan sisi kebenaran dari pepatah di atasadalah sebagai berikut:Perjumpaan segala entitas fana sangatlah singkat sebab iabersifat fana. Betapapun lamanya, ia hanya berlangsung sekilas lalu berubah menjadi kenangan menyedihkan dan mimpi yang menye-babkan duka. Kalbu manusia yang merindukan keabadian hanyamenikmati kelezatan yang hanya seukuran satu detik saja dalamsatu tahun perjumpaan dengan entitas tersebut. Sementara saatperpisahan dengannya terasa sangat panjang dan luas. Satu detikmencakup berbagai macam perpisahan selama satu tahun bahkanselama bertahun-tahun. Kalbu yang rindu pada keabadian akanmerasa sakit ketika berpisah satu detik saja seolah-olah ia diterpaoleh berbagai derita akibat perpisahan selama bertahun-tahun.

Sebab, perpisahan tersebut mengingatkannya pada aneka macamperpisahan yang tak terhitung banyaknya. Demikianlah, masa laludan masa depan dari semua bentuk kecintaan terhadap materi penuhdengan aneka macam perpisahan.Terkait dengan hal itu, kami ingin bertanya, “Wahai anusia,apakah engkau ingin mengubah umurmu yang singkat menjadiumur yang kekal, panjang, bermanfaat dan menghasilkankeuntungan?”Jika jawabannya ya, berarti sesuai dengan fitrah manusia.Kalau begitu, pergunakanlah umurmu di jalan Allah Yang MahaKekal. Sebab, apa saja yang mengarah pada Dzat Yang Maha Kekalakan memperoleh bagian dari manifestasi-Nya yang kekal.Ketika manusia sangat menginginkan umur yang panjang danrindu pada keabadian, sementara ada sebuah sarana di hadapannyauntuk mengubah umur yang fana menjadi umur yang kekal. Selamasifat manusiawinya masih ada, ia pasti akan mencari sarana tersebut.Ia akan segera berusaha mengubah apa yang tersembunyi itumenjadi sebuah perbuatan konkret dan bergerak sesuai dengantujuan tersebut.

Karena itu, pergunakanlah sarana tersebut! Berbuatlah untukAllah, bersualah demi Allah, serta berusahalah karena Allah. Jadikansemua gerakanmu dalam naungan ridho Allah (Untuk Allah, demiAllah, dan karena Allah). Dari situ engkau akan menyaksikan bahwamenit per menit dari umurmu yang singkat menjadi senilai tahunan.Hakikat ini ditunjukkan oleh Laylatul Qadri.

Meskipun ia hanya satumalam, tetapi ia lebih baik daripada seribu bulan sesuai denganbunyi ayat al-Quran. Artinya ia senilai delapan puluh tahun lebih.Petunjuk lainnya adalah sebuah kaidah yang telah ditetapkanoleh para wali dan ahli hakikat. Yaitu masalah ‘pengerutan waktu’yang ditunjukkan secara nyata oleh peristiwa Mi’raj Nabi SAW. Da-lam peristiwa tersebut, hitungan detik dikerutkan menjadi hitungantahun. Apalagi dengan hitungan jamnya, ia menjadi begitu luas danpanjang seukuran ribuan tahun. Sebab, dengan peristiwa Mi’rajtersebut, Nabi SAW. telah memasuki alam baka (keabadian). Bebe-rapa menit dari alarn keabadian senilai ribuan tahun ukuran dunia.Adanya pembentangan waktu tersebut juga diperkuat oleh berbagai peristiwa yang pernah dialami oleh para wali yang saleh.Ada di antara mereka yang melakukan amal-amal perbuatan satuhari hanya dalam satu detik. Ada lagi yang menyelesaikan tugasdan kewajiban satu tahun hanya dalam satu jam. Serta ada pula diantara mereka yang mengkhatamkan al-Quran hanya dalam satu menit.

Demikianlah, berbagai riwayat di atas dan yang sejenisnya,tidak diragukan lagi adanya. Sebab, para penyampai riwayattersebut adalah orang-orang yang jujur dan saleh. Mereka takmemiliki sifat bohong. Apalagi peristiwanya sudah mutawatir danseringkali terjadi. Mereka menyampaikan riwayat tersebut seolah-olah menyaksikan secara langsung. Tak ada yang diragukan.
Pengerutan waktu tersebut merupakan sebuah kenyataan takterbantahkan.
Pengerutan waktu dapat terlihat pada mimpi yangdibenarkan oleh semua orang. Bisa jadi dalam satu menit mimpisaja, ia dapat mengalami berbagai kondisi, bisa berbincang-bincang,merasakan aneka kenikmatan, serta merasakan siksa yang dalamwaktu sadar membutuhkan waktu satu hari, atau bahkan mem-butuhkan waktu berhari-hari.

Sebagai kesimpulan, pada dasarnya manusia adalah makhlukyang fana. Hanya saja ia kemudian diciptakan kekal abadi. Allah,Sang Pencipta Yang Maha Mulia, menciptakan manusia dalamkondisi seperti cermin yang memantulkan manifestasi-Nya yangkekal. Allah juga membebaninya dengan berbagai kewajiban yangmembuahkan hasil yang kekal, serta membentuknya dalam bentukyang paling baik agar bisa menjadi tempat dituliskannya berbagaimanifestasi dari nama-nama-Nya yang mulia dan kekal.

Karena itu,kebahagiaan dan kewajiban manusia yang paling mendasar adalahterletak pada bagaimana ia menghadapkan wajah kepada Dzat YangMaha Kekal dengan segenap upaya, raga, dan seluruh potensi fitrahnya, berjalan melangkah di jalan keabadian. Sebagaimanalisannya mengucapkan YaBaqi Anta al-Baqi, begitu juga seluruhinderanya berupa kalbu, ruh, dan akal mengucapkanDialah Yang Maha Kekal. Dialah Yang Maha Azali dan Abadi.Dialah Yang Tak pernah berakhir. Dialah Yang Maha Permanen.Dialah Yang Maha Diminta. Dialah Yang Maha Dicinta. DialahYang Maha Dituju. Serta Dialah Yang Maha Disembah.

Maha Suci Engkau. Tak ada yang kami ketahui kecuali yangEngkau ajarkanpada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahuidan Maha Bijaksana. (al-Baqarah [2]: 32)

Wahai Tuhan kami, janganlah Kau hukum kami jika kami lupaatau salah.
(al-Baqarah [2]: 286)



Tiada ulasan: