Catatan Popular

Rabu, 22 November 2017

KITAB FADHAIL AMAL 10. Kisah Kaum Muslimin Hijrah Ke Habsyah Dan Pemboikotan Banu Abi Thalib

(BAB I KISAH-KISAH KETABAHAN)

Ketika penyiksaan kaum kafir teifaadap kaum muslimin dan Nabi saw. tidak semakin berkurang bahkan semakin bertambah, Nabi saw.
mulai mengijinkan para sahabat untuk berhijrah ke tempat lain. Banyak diantara sahabat yang berhijrah ke Habasyah. Meskipun Raja Habasyah adalah seorang Nasrani, dan sampai saat itu belum memeluk Islam, namun ia terkenal dengan kelembutan hatinya juga keadilannya.
Pada tahun kelima kenabian, dalarn bulan Rajab, diberangkatkan jamaah pertama ke negeri Habasyah sebanyak sebelas atau dua belas orang laki-laki dan empat atau lima orang wanita. Para kafirin Mekkah berusaha menghalangi kepergian mereka. Setibanya di negeri Habasyah, kaum muslimin mendapat kabar bahwa seluruh penduduk Mekkah telah masuk Islam, dan Islam mendapat kemenangan. Mereka demikian senang atas berita tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Tetapi, ketika hampir memasuki Mekkah, mereka baru mengetahui bahwa kabar tersebut tidak benar. Bahkan, bukannya lebih baik, tetapi semakin bertambah memusuhi, dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin ada yang kembali, dan ada yang terus memasuki Mekkah dengan jaminan seseorang. Peristiwa ini disebut hijrah ke Habasyah yang pertama.
Setelah peristiwa itu, ada rombongan sahabat yang lebih banyak jumlahnya, yaitu 83 orang lelaki dan 18 wanita hijrah ke Habasyah. Perjalanan ini disebut hijrah ke Habasyah yang kedua. Sebagian sahabat ada yang mengikuti kedua hijrah ini dan ada yang mengikuti satusaja.
Ketika kaum kafirin mengetahui bahwa kaum muslimin telah hidup tenang di Habasyah, maka mereka bertambah marah. Mereka mengirim satu rombongan ke Habasyah untuk menemui raja Najasyi sambil membawa banyak hadiah. Mereka juga membawa banyak hadiah untuk kalangan penting istana serta untuk para pendeta di sana. Setibanya di Habasyah, pertama kali mereka menjumpai para pembesar kerajaan dan para pendeta kristen. Setelah menyuap mereka dengan hadiah, maka dengan perlindungan mereka, utusan kafirin itu dapat berjumpa dengan Raja Najasyi. Mereka langsung bersujud di hadapan Raja, dan menyerahkan berbagai hadiah kepada beliau. Lalu, mereka mengemukakan maksud mereka dengan diperkuat oleh para pembesar kerajaan yang telah disuap itu. Mereka berkata, “Wahai raja, ada sebagian kecil kaum kami yang bodoh telah meninggalkan agama. nenek moyang mereka dan masuk ke dalarn agama baru, yang kami pun tidak mengenalnya. Begitu juga denganmu. Mereka telah datang dan tinggal di negerimu. Tokoh-tokoh Mekkah yang mulia dan orang tua mereka, serta keluarga mereka, telah mengutus kami untuk membawa mereka pulang. Kami memohon kepadamu untuk menyerahkan mereka kepada kami.” Jawab Najasyi, “Kami tidak dapat menyerahkan orang yang telah meminta perlindungan kepada kami, tanpa memeriksa lebih dahulu masalah mereka. Akan kupanggil mereka dan kutanyai mereka. Jika ceritamu benar, maka akan kukembalikan mereka kepadamu.” Kaum muslimin pun dipanggil oleh Naj asy i untuk menghadap kepadanya.
Pada mulanya kaum muslimin sangat khawatir apa yang harus mereka lakukan. Tetapi, Allah dengan segala karunia-Nya, telah menolong dan membantu mereka, sehingga mereka dapat memenuhi panggilan raja dan dapat berbicara dengan lancar dan tenang. Mereka memulai perjumpaannya dengan raja dengan ucapan salam. Seseorang menegur mereka, “Kalian tidak beradab kepada raja dengan tidak bersujud di hadapannya!” Jawab mereka, “Kami telah dilarang oleh Nabi kami untuk bersujud kepada selain Allah.” Lalu, raja meminta mereka untuk menjelaskan keadaan mereka yang sebenarnya.
Ja’far ra., mewakili yang lainnya maju ke depan dan berkata, “Dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah, kami tidak mengenal Allah, juga tidak mengenal Rasul-Nya. Dulu kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat jahat, dan memutuskan kekeluargaan, yang kuat diantara kami menindas yang lemah. Demikianlah keadaan kami dahulu. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Allah mengutus Rasul-Nya, yang keturunannya, kejujurannya, sifat amanahnya, kesucian hidupnya, sangat kami kenal. Beliau mengajak kami untuk menyembah Allah yang Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang kami dari menyebah berhala. Beliau menyuruh kami untuk berbuat baik, dan melarang kami dari perbuatan jahat. Beliau menyuruh kami berkata jujur, bersifat amanat dan menjaga silaturrahmi. Juga menyuruh agar berbuat baik terhadap tetangga, mengerjakan shalat, berpuasa dan bersedekah. Beliau mengajar kami dengan akhlak yang terpuji, melarang kami dari zina, dusta, memakan harta anak yatim, mencaci orang lain, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Beliau mengajarkan kami Al-Quran yang mulia, dan kami beriman atasnya, serta mengamalkan segala firman-Nya. Atas hal ini, kerabat kami telah memusuhi kami dan menyiksa kami dengan berbagai penyiksaan. Kami adalah orang-orang yang tertindas, dan Nabi kami telah menyuruh kami untuk hijrah memohon perlindungan di negerimu ini.”
Raja Najasyi bertanya lagi, “Sekarang, coba perdengarkanlah kepadaku Al-Quran yang telah dibawa oleh Nabimu itu.” Maka Ja’far ra. membacakan sebagian ayat di permulaan swat Maryam. Bacaannya tersebut membuat raja dan para pendeta serta hadirin lainnya menangis, sehingga janggut-janggut mereka basah kuyup oleh air mata. Setelah itu, Raja berkata, “Demi Tuhan, ayat-ayat ini sama dengan ayat-ayat yang telah diturunkan kepada Musa, yang bersumber dari Nur yang sama.” Kemudian dengan tegas Raja Najasyi menolak permintaan kaum kafir Qurasy itu, “Saya tidak dapat memenuhi permintaan kalian!” Para utusan itu merasa khawatir dan merasa terhina, sehingga mereka berembuk kembali. Salah seorang dari mereka berkata, “Besok saya akan mengatur sesuatu, sehingga raja akan mengusir mereka.” Tetapi, teman-temannya tidak menyetujui usulannya. Teman-temannya berkata, “Walaupun mereka telah menjadi muslim, mereka tetap kaum kerabat kita.” Namun temannya itu tidak mau menurutinya.
Pada hari kedua, mereka kembali menemui raja, dan berkata, “Orang-orang Islam itu tidak menerima Nabi Isa as., juga tidak mengakui bahwa Nabi Isa as. adalah anak Allah.” Maka raja memanggil kembali kaum muslimin. Sahabat ra. bercerita, “Pada hari kedua, kami dipanggil lagi, dan hal itu membuat kami bertambah cemas. Walaupun demikian, kami tetap menghadap raja. Raja bertanya, “Bagaimana menurut kalian tentang Isa as.?” Kami menjawab, “Kami katakan seperti apa yang diturunkan kepada Nabi kami mengenainya. Bahwa Isa adalah Hamba Allah, Nabi Allah, dan Ruh-Nya. Kami percaya atas kalimah yang diturunkan kepadanya, yang Allah turunkan melalui Maryam yang suci.” Najasyi berkata, “Demikianlah pengakuan Isa as. tentang dirinya sendiri, tiada yang berbeda.” Para pendeta ketika itu saling berbisik dan gaduh atas jawaban raja. Raja berkata kepada mereka, “Apa yang kalian kehendaki katakanlah!” Kemudian, Raja Najasyi mengembalikan semua hadiah-hadiah yang sudah diberikan kepadanya, lalu berkata kepada kaum muslimin, “Tinggallah kalian di sini dengan aman, orang-orang yang menyakiti kalian akan menerima hukuman yang berat.” Kemudian beliau mengumumkan: “Barangsiapa menyakiti kaum muslimin, maka akan dihukum berat. Karena itulah, kaum muslimin di negeri itu sangat dimuliakan dan dilayani dengan baik.” (Khamis)
Orang-orang musyrik itu kembali ke Mekkah dengan penuh malu dan kesal. Kaum kuffar di Mekkah pun bertambah marah dan memperlihatkan kemarahan mereka atas hal ini. Bersamaan dengan itu, Umar ra. memeluk Islam, sehingga menambah kekesalan mereka terhadap kaum muslimin. Mereka setiap saat berpikir, bagaimana caranya agar orang-orang tidak dapat bertemu dengan kaum muslimin, dan bagaimana caranya menghancurkan Islam. Untuk itu, para tokoh kafir Mekkah segera mengadakan perundingan besar untuk membunuh Muhammad saw. Membunuh Muhammad saw. bukanlah mudah, karena Bani Hasyim adalah kaum yang sangat besar jumlahnya. Mereka termasuk kaum yang terhormat di Mekkah. Walaupun sebagian besar belum masuk Islam, tetapi mereka tidak akan tinggal diam jika Nabi Muhammad saw. dibunuh.
Akhirnya, di pertemuan itu diputuskan suatu ketentuan agar memboikot Banu Hasyim dan Banu Muraallib. Orang-orang dilarang bertemu dengan anggota Banu Hasyim dan Banu Muthallib, ataupun sebaliknya. Juga tidak diperbolehkan jual beli, berbicara dengan mereka, bahkan tidak boleh berkunjung ke rumah-rumah mereka. Ketentuan ini akan terus berlaku, selama mereka tidak menyerahkan Muhammad saw. untuk dibunuh. Keputusan tersebut tidak cukup dengan kata-kata saja, mereka membuat perjanjian tertulis pada tanggal satu Muharram tahun ketujuh kenabian. Dan kertas perjanjian itu digantungkan di Baitullah, agar semua orang dapat menghormatinya dan dapat menunaikan isi perjanjian tersebut. Akibat perjanjian itu, keluarga Banu Hasyim dan Banu Muthallib terkepung diantara dua buah gunung yang menghimpit. Tiada seorang pun yang dapat menemui mereka, dan mereka pun tidak dapat menemui siapapun. Mereka tidak dapat membeli sesuatu dari orang Mekkah dan tiada pedagang pun dari luar yang dapat datang ke tempat mereka. Jika ada seseorang dari mereka yang keluar dari daerah tersebut, maka orang itu akan disiksa. Jika ada yang memerlukan sesuatu dari orang lain, maka jawabannya telah jelas, bahwa barang-barang yang biasa pun sulit didapatkan. Mereka menjalani kehidupan dengan kelaparan ~dan penderitaan. Sehingga kaum wanita pun sudah tidak memiliki air susu lagi untuk disusukan kepada bayinya, dan anak-anak mereka menangis menjerit-jerit kelaparan. Anak-anak itu lebih merasa lapar dari-pada kelaparan yang diderita oleh ibu-ibu dan orang tua mereka.
Setelah tiga tahun berlalu, dengan kemurahan Allah, kertas perjanjian itu hancur dimakan rayap. Dengan ini, penderitaan Banu Hasyim dan keluarganya pun berakhir. Tiga tahun mereka diboikot dan ditutup jalur perhubungan serta perdagangannya, dan selama itulah mereka mengalami penderitaan yang sangat berat. Namun, walau demikian berat penderitaan para sahabat ra., mereka tetap berpegang teguh atas agama ini, bahkan terus menyebarkannya.
Faedah :
Penderitaan dan kesusahan *yang demikian berat telah dijalani para sahabat ra.. Sekarang, kita hanya menyandang nama serta mengaku sebagai pengikut mereka. Namun, kita baru memahami bahwa kemajuan kita, dibandingkan dengan keunggulan para sahabat ra., hanyalah seperti melihat mimpi. Yang jelas, kita perlu merenungkan; bagaimana para sahabat ra. dapat berkorban begitu tinggi untuk agama ini? Sedangkan kita? Apa yang telah kita lakukan untuk agama dan untuk kebangkitan Islam? Sesungguhnya, keberhasilan itu senantiasa diperoleh melahii kesungguhan dan usaha.
Kita menginginkan suatu kehidupan yang damai, sedangkan orang-orang kafir semakin giat merusak agama dan dunia kita. Kemajuan Islam tergantung pada diri kita. Lalu, bagaimanakah kita membuktikannya? Sebuah syairberbunyi,

Aku khawatir tak dapat mencapai Ka ‘bah karenajalanyang kutempuh jalan lain yang menuju Turkistan.

Tiada ulasan: