Catatan Popular

Rabu, 22 November 2017

KITAB FADHAIL AMAL 3. Kisah Perjanjian Hudaibiyah, Abu Jandal ra. Dan Abu Bashir ra.

(BAB I KISAH-KISAH KETABAHAN)

Pada tahun keenam Hijrah, Nabi saw. ingin menunaikan ibadah umrah dan berziarah ke Mekkah. Berita ini telah diketahui oleh orang-orang kafir di Mekkah. Dengan berita itu, mereka merasa terhina, sehingga berencana untuk menghalangi perjalanan Nabi saw. di suatu tempat yang bernama Hudaibiyah. Ketika itu, Nabi saw. dan para sahabatnya berjumlah kurang lebih 1.400 orang, yang telah siap mengorbankan jiwa raga mereka untuk berperang di jalan Allah swt.. Tetapi, demi kebaikan penduduk Mekkah, Nabi saw. tidak menginginkan peperangan. Beliau berusaha mengadakan perjanjian dengan mereka. Bahkan, Nabi saw. menyatakan siap menerima syarat apapun yang akan diajukan kaum kuffar. Sebenarnya, para sahabat ra. merasa sangat tertekan dengan perjanjian ini. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun atas keputusan Nabi saw., karena mereka telah menyerahkan jiwa raga mereka untuk mentaati Nabi saw.. Sehingga seorang pemberani seperti Umar ra., pun merasa tertekan dengan perjanjian ini.
Salah satu isi keputusan perjanjian Hudaibiyah ialah: Orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, hendaknya dikembalikan ke Mekah. Sedangkan, orang Islam yang murtad dari Islam, tidak boleh dikembalikan ke kaum muslimin.
Seorang sahabat bernama Abu Jandal ra., yang telah ditahan kaum kafir karena keislamannya dan telah disiksa dan dirantai karena ke-Islamannya. Ketika ia mendengar ada rombongan kaum muslimin datang ke Mekkah, maka ia melarikan diri, dengan harapan bila ia bergabung dengan kaum muslimin, maka ia dapat bebas dari musibah dirinya. Bapaknya, yaitu Suhail, yang ketika itu belum masuk Islam (ia masuk Islam pada Fatah Mekkah. Dan ia adalah wakil orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah) menampar anaknya, dan memaksanya kembali ke Mekkah. Sabda Nabi saw., “Perjanjian Hudaibiyah belum diputuskan, maka tidak ada peraturan yang berlaku di sini.” Tapi ia terus memaksa, lalu sabda Nabi saw., “Saya minta agar ada satu orang yang diserahkan kepadaku.” Tetapi, mereka tetap menolak pertukaran itu. Abu Jandal ra. berkata kepada kaum muslimin, “Saya datang untuk Islam, banyak penderitaan yang saya alami, namun sekarang saya akan dikembalikan.” Hanya Allahlah yang mengetahui bagaimana kesedihan para sahabat ra. ketika itu. Atas nasehat Nabi saw., Abu Jandal ra. bersedia kembali ke Mekkah. Nabi saw. berusaha menghibur hatinya, dan menyuruhnya agar tetap bersabar. Nabi saw. bersabda, “Dalam waktu dekat, Allah swt. akan membukakan jalan untukmu.”
Setelah sempurna perjanjian Hudaibiyah, ada seorang sahabat, yaitu Abu Bashir ra., setelah masuk Islam, ia melarikan diri ke Madinah. Kaum kuffar mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Mekkah. Dan sesuai dengan perjanjian, Nabi saw. mengembalikan Abu Bashir ra. kepada mereka. Abu Bashir ra. berkata, “Ya Rasulullah, saya datang setelah muslim, dan engkau mengembalikan saya kepada kaum kuffar.” Nabi saw. menasehatinya agar bersabar, lalu bersabda, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan tempat ini dalam keadaan bagaimana pun, karena musuh dapat menyerang dari arah belakang.” Pada permulaan perang, kaum muslimin telah memperoleh kemenangan, dan kaum kafir melarikan diri. Melihat kemenangan ini, orang-orang yang telah ditunjuk oleh Nabi saw. itu, segera meninggalkan tempat tugas mereka. Mereka menyangka k’aum muslimin telah menang, dan peperangan telah usai, karena orang-orang kafir telah melarikan diri. Akhirnya, mereka berebut mendapatkan rampasan perang. Pimpinan pasukan itu sebenarnya telah melarang dan mengingatkan agar tidak meninggalkan bukit, ia berkata, “Kalian jangan tinggalkan tempat ini, Rasulullah saw. telah melarangnya.” Tetapi mereka menduga bahwa perintah Nabi saw. itu hanya berlaku ketika perang saja. Mereka turun ke tempat perang, meninggalkan bukit. Pada saat itulah, pasukan kafir yang sedang melarikan diri melihat bahwa tempat yang seharusnya dijaga oleh kaum muslimin telah kosong, maka mereka segera kembali, dan menyerang kaum muslimin dari arah belakang.
Hal ini sama sekali tidak disangka oleh kaum muslimin, sehingga mereka kalah dan terjepit dalam kepungan kaum kafir. Keadaan menjadi kacau. Anas ra. melihat sahabat, Sa’ad bin Mu’adz ra. sedang berjalan. Kata Anas ra., “Hai Sa’ad, mau kemana engkau? Sungguh demi Allah, saya mencium harumnya surga datang dari arah Uhud.” Setelah berkata demikian, beliau mengacungkan pedang di tangannya, dan menyerbu kaum kafir dan bertekad, jika belum syahid, ia tidak akan berhenti berperang. Sehingga ia syahid di medan Uhud. Ketika tubuhnya diperiksa, tubuhnya begitu rusak. Kurang lebih 80 luka akibat tebasan pedang dan panah di tubuhnya. Hanya saudari wanitanya saja yang dapat mengenalinya melalui jari-jari tangannya.
Faedah:

Orang yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menunaikan perintah Allah swt., ketika di dunia pun Allah memberinya kesempatan untuk merasakan nikmat surga. Inilah kisah Anas bin Nadhar ra. yang telah mencium harumnya surga ketika masih hidup di dunia. Saya pun mendengar langsung dari khadim khusus Maulana Abdurrahim Raipuri rah.a., bahwa beliau sering berkata, “Bau harum surga sedang berhembus….” Kisah beliau telah ditulis dalam kitab Fadhilah Ramadhan.

Tiada ulasan: