Catatan Popular

Sabtu, 4 Ogos 2012

HIKAM ATAI’ILLAH NO 5 VERSI PONDOK: YAKIN JANJI ALLAH

VERSI PONDOK PASENTREN

PADAMNYA NUR MATA HATI MU

Menurut Kalam Hikmah ke 23 , Imam Ibnu Athaillah Askandary 

"Usaha kamu pada perkara yang sudah dijamin Allah dan lalai kamu akan tugas yang diwajibkan padamu adalah sebagai pertanda akan padamnya mata hatimu"

1. Penjelasan
 
Etika yang tidak kalah penting bagi seorang mukmin adalah yakin akan janji Allah. Seorang yang patuh kepada Allah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Jika kewajiban tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan benar, maka Allah akan memenuhi janjinya, yaitu mensejahterakan kehidupan dan menjadikan masyarakat disekelilingnya patuh demi kebaikan mukmin tadi. Hal tersebut tidak lain karena Allah telah memerintahkan kita, dan di sisi lain Allah juga telah berjanji akan menanggung kehidupan kita. Oleh karena itu, yang harus kita laksanakan adalah mencurahkan segala kemampuan dan pikiran untuk melakukan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan Allah. Kita juga harus yakin akan tanggungan Allah yang telah dijanjikan kepada kita, sehingga kita tidak perlu pusing untuk memikirkan diri kita sendiri.
Sebagai manusia kita harus tahu bahwa semua makhluk baik hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun benda mati pasti diberi kewajiban oleh Allah SWT. Coba kita amati makhluk-makhluk kecil yang tidak bisa tampak kecuali dengan pembesar (mikroskop). Kemudian makhluk yang lebih besar dan lebih besar lagi sampai planet dan bintang-bintang dengan berbagai jenisnya, burung-burung serta ikan yang ada di laut. Maka kita akan menemukan bahwa semua makhluk tersebut melaksanakan kewajiban atau rutinitas yang telah di tetapkan Allah. Semuanya tidak ada yang melanggar atau keluar dari jalur hukum Allah. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-Nur ayat 41:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ.
Ertinya :. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing Telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Manusia bukanlah makhluk yang baru, namun manusia sangat berbeda dengan makhluk yang lain karena manusia diberi petunjuk pada sesuatu yang penting. Kalau makhluk lain melaksanakan kewajibannya dengan paksaan dan tabiat (insting), maka manusia diciptakan oleh Allah memiliki kemauan dan keinginan (ikhtiar). Oleh karena itu, manusia melaksanakan kewajibannya dengan ikhtiar tersebut bukan dengan paksaan pada dirinya. Hal ini tidak lain untuk memuliakan dan mensucikan manusia agar tidak disamakan seperti hewan dan makhluk lainnya yang hanya berdasar pada insting belaka.
Hal di atas lah yang menjadikan sebagian besar manusia durhaka, bahkan menyimpang dari kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan. Sementara itu, makhluk-makhluk lain dengan berbagai jenisnya selalu patuh dan melaksanakan kewajiban serta tugas yang diciptakan untuknya. Ini karena manusia melakukan kewajiban atau rutinitasnya dengan hurriyyah (kemerdekaan, kemandirian) dan kesenangannya. Jadi penyimpangan dan kepatuhan pasti bisa timbul pada diri manusia. Adapun makhluk lain, dalam melaksanakan kewajibannya, sebagaimana pada benda-benda mati dan tumbuh-tumbuhan maka dengan menggunakan tabiat / insting seperti halnya pada binatang-binatang. Jadi penyelewengan akan tertutup dan tidak akan timbul. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 18 :
.
Ertinya :Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.

Dalam ayat di atas sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud sujud adalah patuh pada kewajiban atau tugas yang dibebankan Allah pada makhluk. Coba kita lihat dalam ayat tersebut bahwa Allah mengumumkan kepatuhan semua makhluk yang disebut, pada perintah-perintah yang telah dibebankan-Nya. Lalu ketika sampai pada manusia, maka Allah menjelaskan bahwa pada manusia itu ada yang patuh dan ada yang durhaka. Oleh karena itu, Allah mengatakan (menyambung) dengan lafadz كثير من الناس (sebagian banyak manusia), bukan dengan lafadz كل الناس (semua manusia), lebih-lebih setelah itu Allah menjelaskan bahwa yang paling banyak adalah manusia yang durhaka sehingga mereka akan mendapatkan siksa-Nya.
Dari fenomena itulah, maka banyak sekali orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebutuhan hidup (padahal hal tersebut sudah ditanggung oleh Allah), namun mereka malah lalai dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah SWT. Ini menunjukkan betapa buramnya hati mereka sebagaimana kata hikmah Ibnu 'Atho'illah : "Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".
 
2. Dalil a. Surat Al-Dzariyyat ayat 56-58
 
Ertinya : 56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

58. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh

Dan surat Thaha ayat 132
Ertinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

b. Surat Al-Nahl ayat 97.
Ertinya Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

c. Surat Al-Nur ayat 55
Ertinya Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

3. Aplikasi
 
Allah memang tidak akan mengingkari janji-Nya dan seandainya saja sejarah tidak menyaksikan kebenaran janji Allah tersebut, maka akan ada keraguan pada diri orang Islam. Mereka pasti akan ragu pada janji Allah, melihat zaman sekarang ini banyak orang Islam yang sangat lemah keyakinannya atas janji Tuhan mereka sendiri.
Sejarah Islam telah berbicara kepada telinga dunia ini atas kebenaran janji-janji Allah. Pada awal pertumbuhan Islam, orang muslim hanyalah sekelompok kecil dari orang-orang Arab. Namun setelah mereka mendengarkan perintah Allah, menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh-Nya, beriman kepada-Nya, percaya akan janji dan hukum Allah, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan tugas-tugas yang diwajibkan (beribadah kepada Allah), maka Allah memenuhi janji yang telah disanggupi-Nya.
 
Allah telah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 13-14 :
 
Ertinya :
13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".


Kita telah mengetahui bahwa Allah telah menaklukkan kerajaan Romawi, Persia dan Yunani, serta menjadikan orang Islam (sekelompok kecil orang Arab) sebagai pemimpin di negara-negara tersebut. Allah juga telah mewariskan bumi dan kekayaan yang ada dalam negara-negara tersebut kepada mereka.
Orang yang mau berfikir pada sejarah tersebut pasti akan heran atas apa yang telah Allah penuhi sebagai ganti atas apa yang telah bangsa Arab lakukan. Orang tersebut akan menemukan bahwa kejadian tersebut tidak ada keraguan lagi.
Contoh realita yang lebih jelas lagi adalah ucapan Sayyidina Umar ra. kepada Abu Ubaidah. Suatu ketika Sayyidina Umar ra. sampai ke negara Syam dan bertemu dengan pembesar-pembesar negara tersebut. Waktu itu Sayyidina Umar memakai baju yang tidak kurang dari dua belas tambalan. Pada waktu itu juga Abu Ubaidah berbisik pada telinga Sayyidina Umar supaya beliau mengganti pakaianya, maka Sayyidina Umar mengatakan:
"Kita adalah suatu kelompok yang dimuliakan Allah dengan Islam. Dan kapan saja kita mencari kemuliaan dengan cara yang tidak dimuliakan Allah, maka Allah pasti akan menghina kita".
Seandainya saja Sayyidina Umar ra. memakai baju yang mewah dan menghadap pembesar-pembesar Syam dengan sombong, pasti hal tersebut akan mengisyaratkan bahwa bangsa Arab bisa menang dan mengalahkan mereka dengan kemewahan tersebut. Dengan demikian akan muncul distorsi pada sebab yang hakiki dan akan melupakan anugerah Allah yang telah menolong dan memuliakan orang Arab. Oleh karena itu, pembesar-pembesar Syam harus melihat realita keadaan bangsa Arab pada waktu itu, sehingga mereka tahu bahwa yang mengangkat bangsa Arab hanyalah Allah SWT.
Itulah sikap yang ditampilkan Sayyidina Umar ra. pada pembesar-pembesar Syam, yaitu dengan memakai baju tambalan yang mengandung dua hal pokok :
1). Sangat minimnya sarana dan prasarana untuk mencapai kemenangan orang arab dan sungguh tidak ada tipe untuk bisa mengalahkan musuh-musuhnya yang sangat kuat.
2). Kekuasaan Tuhanlah yang telah mengangkat derajat dan mengharumkan nama mereka dan Allahlah yang menganugrahi segala keagungan padahal mereka sangat-sangat lemah.
Adapun kita sekarang ini sebagai generasi mereka, maka kita justru tidak mau bangkit dengan tugas yang dibebankan Allah kepada kita. Kita juga tidak mempercayai janji Allah dan tidak mau berkaca pada sejarah Islam. Kebanyakan dari kita justru berkelana ke penjuru dunia dan mencari pintu-pintu kehinaan, bukannya pintu kemuliaan Allah. Hal itu akan semakin menambah kerugian jika kita tidak mau kembali pada pintu yang telah di tunjukkan Allah dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan-Nya.
b. Kewajiban seorang mukmin
Adapun kewajiban agama yang dibebankan Allah kepada mukmin dan keluarganya dalam etika ini adalah belajar hukum-hukum agama, mengetahui aqidah-aqidah islam beserta dalil-dalinya, belajar Al-Qur'an beserta tafsir dan mendidik keluarganya dengan tarbiyyah (pendidikan) Islam. Dia juga harus bersungguh-sungguh dalam mencari rizqi dengan cara-cara yang di syari'atkan oleh Allah. Walaupun pada kenyataannya mencari rizqi adalah kebutuhan duniawi, namun pada hakekatnya adalah bagian dari tugas yang dibebankan oleh Allah SWT, lebih-lebih jika dalam mencari rizqi tersebut bertujuan untuk menjalankan perintah Allah sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Al Mulk ayat 15 :

Ertinya Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
Bahkan mencari rizqi dengan cara dan tujuan seperti di atas merupakan bagian dari jihad di jalan Allah.
Imam Thabarani dalam kitab mu'jamnya, meriwayatkan hadist dari Ka'ab bin Ujrah. Suatu ketika Rasulullah SAW keluar bersama shahabatnya. Kemudian mereka melihat seseorang yang bekerja pagi-pagi sekali. Mereka sangat heran ketika melihat kerja keras dan semangat orang itu. Lalu salah satu dari shahabat berkata : "Celaka orang ini. Seandainya saja dia mau jihad di jalan Allah". Kemudian Rasulullah bersabda :
Ertinya :
"Jika orang tersebut bekerja untuk anak-anak kecilnya, maka orang tersebut berda dalam jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia juga berada di jalan Allah. Dan jika orang tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maka orang tersebut juga berada di jalan Allah dan jika orang tersebut bekerja untuk kesombongan dan mencari kekayaan, maka dia berada di jalan syaitan."
 
Memang ibadah itu tidak hanya tertentu dalam sholat, puasa, haji, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ibadah juga mencakup semua perbuatan-perbuatan untuk mencari kedekatan kepada Allah. Oleh karena itu, semua jenis pekerjaan, perdagangan, pertanian dan pembangunan adalah bagian dari ibadah.
Namun yang perlu diketahui adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencari ridla Allah itu harus disyari'atkan dan diperbolehkan. Usaha-usaha tersebut juga harus dilakukan setelah ibadah-ibadah wajib yang menjadi rukun islam di kerjakan dengan baik. Sebelum itu salik juga harus mengatahui dua sumber utama hukum Islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Salik juga harus mengetahui hukum-hukum syari'at islam yang menjadi dasar dan hukum-hukum yang berhubungan dengan individu.
Jika tidak demikian, lalu bagaimana mungkin perdagangan, pekerjaan, dan kegiatan politik itu dikatakan usaha di jalan Allah atau salah satu dari ibadah dan amal untuk mendekatkan kepada Allah, jika orang yang melakukannya lupa pada shalat, ibadah dan berpaling dari pendidikan Islam, sedangkan dia juga tidak mau tahu-menahu akan aqidah dan hukum-hukum Islam?
Orang yang demikian pasti tidak mungkin tujuan dari amal dan kegiatan duniawinya itu termasuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Karena jika tujuannya adalah untuk Allah, maka hal itu pasti akan mendorongnya untuk menghadiri shalat jumuah, jamaah, majlis ilmu dan juga majlis dzikir.
Memang kebanyakan kegiatan duniawi sekarang ini sangat jauh dari apa yang telah dikatakan Rasulullah bahwasanya dia berada di jalan Allah. Jika kita melihat mayoritas masyarakat, maka kita akan tahu bahwa mereka memang lupa atau sengaja melupakan perintah-perintah dan tugas-tugas yang telah di bebankan Allah. Mereka tidak mau tahu hukum agama Islam dan membuang serta melupakan risalah Al-Qur'an yang telah diturunkan Allah SWT. Lafadz-lafadz Al-Qur'an asing di lidah mereka apalagi artinya. Merekalah realita dari ucapan Ibnu 'Atha'illah :
"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang diperintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu".
 c. Kesimpulan
Sebagai hamba Allah yang shalih, kita memang harus terus percaya kepada janji-janji-Nya. Marilah kita berkaca pada pemimpin-pemimpin pada awal perkembangan Islam. Allah telah membukakan kepada mereka pintu-pintu kemenangan dan juga menjadikan mereka kaya setelah fakir. Hal tersebut terjadi tidak lain karena mereka menjalankan agama Allah, menjadikan diri mereka sebagai pasukan untuk memenuhi tugas-tugas yang telah dibebankan Allah dan mereka juga membenarkan Allah atas apa yang telah disanggupi mereka. Oleh karena itu, benarlah firman Allah (surat Ibrahim ayat 13-14) :
 
Ertinya : 13. Orang-orang kafir Berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu,
14. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku".


Dan juga lihatlah orang-orang setelah mereka yang juga menjalankan tugas-tugas yang telah dibebankan oleh Allah seperti Nuruddin zinki, Shalahuddin Al-Ayyubi, Usman Arthagrul (pendiri khilafah Umayyah), Muhammad Al-Fatih (penakluk Al-Qustantiniyyah) dan Abdul Al-Rahman Al-Dakhil (pendiri daulah Umayyah di Eropa).
Dan marilah kita juga berkaca pada orang-orang yang hanya ingin merasakan manisnya dunia, yaitu orang-orang yang datang setelah para pimpinan-pimpinan yang sholih. Orang-orang tersebut lupa akan tugas suci yang di bebankan kepada mereka. Mereka hanya mengumpulkan harta, membangun istana yang indah, mencari kesenangan dan kenikmatan. Mereka menganggap bahwa yang menjadikan mereka hidup enak adalah kekuatan dan kemenangan mereka.
Sungguh suatu musibah tampak pada buramnya mata hati mereka. Mereka lupa bahwa sumber kemuliaan mereka adalah Islam. Mereka mengingkari dan berpaling dari Islam. Mereka mencoba mencari-cari apa yang menjadikan mereka mulia, tapi mereka tidak menemukannya.
Sungguh benar perkataan Ibnu 'Atha'illah,
"Kesungguhanmu dalam hal-hal yang telah di tanggung oleh Allah dan kecerobohanmu dalam hal-hal yang di perintahkan kepadamu adalah bukti betapa buramnya hatimu."


Tiada ulasan: