Catatan Popular

Selasa, 14 Januari 2014

QALBU, RUH, NAFSU DAN AKAL



Qalbu, ruh, nafsu dan akal adalah istilah yang jarang dipakai oleh kalangan tokoh para ulama. Jarang pula orang yang mengetahui makna tersebut sehingga sulit menjelaskan perbedaan makna dan batasan-batasannya.

Karena yang demikian itu sehingga kita seringkali memberi makna yang salah terhadap qalbu, ruh, nafsu, maupun akal. Pada bab ini akan kita kupas beberapa istilah tersebut.

Makna qalbu

qalbu, ada yang menyebut hati. Hati itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yakni hati dalam arti dahing dan hati dalam arti sesuatu yang halus, bersifat rabbaniyah (ketuhanan).

Hati dalam arti daging adalah sebuah organ tubuh kita yang tersimpan dan terlindungi oleh tulang belulang. Tempatnya didada sebelah kiri. Bentuknya seperti buah shanaubar, sehingga sering orang mengatakan hati sanubari.

Pada daging hati itu terdapat lubang dan jaringan yang halus. Didalam lubang atau rongga terdapat pula darah hitam yang menjadi sumber ruh. Namun kita tidak perlu menguraikan tentang hati dalam arti daging ini. Karena hal itu sudah dibahas secara terperinci dalam ilmu biologi maupun kedokteran.

Makna lain dari hati ialah merupakan sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniyah (kerohanian) dan mempunyai keterkaitan dengan hati yang jasmaniah (ditubuh kita ini).

Hati yang halus itulah hakikat manusia. Dialah yang mengetahui, yang mengerti dan yang mengenal diri sendiri. Dialah yang diajak bicara, disiksa, dicela dan dituntut oleh tuhannya.

Hati dalam pengertian ini, mempunyai kaitan dengan jasmaniah, yaitu keterkaitan dengan akhlak terpuji yang direalisasikan oleh gerak tubuh. Hati juga menentukan sifat serta watak manusia yang tampak secara lahiriah.

Makna ruh

secara umum ruh dapat dipahami sebagai nyawa. Ia berkaitan dengan tubuh manusia sehingga kita bisa hidup. Namun disisi lain, mengandung makna sebagai sesuatu yang halus dan ghaib. Ruh yang terakhir inilah yang berurusan dengan alam kubur. Akhirat dan tuhan.

Tuhan kita bisa hidup karena ditopang oleh jaringan-jaringan yang halus dan sistem yang rumit. Didalam tubuh kita terdapat organ jantung yang mengalirkan darah ke sekujur badan melalui urat-urat kecil dan besar.

Semua organ tubuh kita disebut sistem. Jika sistem tidak berjalan (berhenti) seseorang akan mati. Kita bisa hidup karena ada ruh yang tetap bekerja sesuai dengan sistemnya. Ibarat sebuah lampu diruangan, maka lampu itu adalah pusat jantung atau pusat organ utama. Ia memancarkan cahaya ke segala penjuru ruangan. Begitu pula ruh, ia akan memberikan kekuatan kepada segenap organ tubuh. Kita bisa bergerak, berbicara, berpikir, melihat, mendengar dan sebagainya karena sistem jaringan tubuh atau ruh tersebut.

Ruh atau nyawa ibarat lampu. Jika ia hidup tentu dapat memancarkan cahaya. Sama halnya ruh jika ia masih berada didalam tubuh, kita masih tetap hidup. Jika ia terlepas, kita akan mati.

Akan tetapi ruh dalam pengertian agama adalah sesuatu yang gaib, yang berkaitan dengan tuhan. Ruh juga kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hari kiamat. Ruh inilah yang disiksa di alam kubur atau di neraka. Ruh pula yang merasakan kebahagiaan surga. Karena itu dalam tataran keagamaan, ruh adalah sesuatu yang sangat rahasia dan sukar dipahami oleh akal. Hanya Allah yang mengetahuinya.

“Katakanlah : Ruh itu termasuk urusan tuhanku. (QS. Al-Isra' 85)

Makna Nafsu

ada dua makna tentang nafsu. Pertama, dipahami sebagai sesuatu yang menghimpun kekuatan, marah dan syahwat dan manusia. Istilah ini sering digunakan oleh ahli tasawwuf dalam menjelaskan tentang qalbu.

Mereka memberi pengertian bahwa nafsu adalah sesuatu yang menghimpun sifat-sifat tercela pada diri manusia. Mereka, para ulama sufi itu, mengajarkan agar kita melawan nafsu agar tidak memiliki sifat buruk.

“Paling berat musuhmu adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.” (Hr. Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas ra)

pengertian kedua, bahwa nafsu adalah sesuatu yang halus. Secara hakikat, dialah yang membentuk manusia dan dzatnya. Tetapi nafsu itu disifati dengan sifat-sifat yang bermacam-macam keadaannya.

Jika nafsu itu tenang, menurut perintah-perintah yang baik maka diistilahkan sebagai nafsu muthmainah. Allah swt. berfirman : “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanMu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al-Fajr :27-28)

jika tidak sempurna ketenangannya dan mendorong syahwat maka disebut nafsu lawwammah. Nafsu ini memprotes pemiliknya apabila teledor dalam beribadah kepada tuhannya. Nafsu ini setingkat lebih rendah daripada muthmainah. Seringkali nafsu lawwamah memunculkan penyesalan jika kita berbuat tidak baik.

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (Q.S Al-Qiyamah :2)

Ada satu lagi nafsu yang disebut amarah, yaitu nafsu yang tidak menghiraukan nasihat tetapi tunduk kepada dorongan-dorongan setan dan hawa nafsu. Nafsu ini cenderung kepada sesuatu yang buruk dan jahat.Allah swt. berfirman untuk menceritakan tentang yusuf alaihis salam dan istri Al-Aziz.

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS. Yusuf :53)

kadang-kadang bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan selalu menyuruh kepada kejahatan, adalah nafsu falam arti secara umum.

Makna Akal

istilah akal juga mengandung banyak pengertian. Namun dapat dibedakan menjadi dua. Kadang-kadang akal itu, secara umum dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan tentang hakikat-hakikat perkara. Maka akal adalah ibarat dari sifat ilmu yang tempatnya didalam hati.

Namun dapat pula dipahami sebagai hati yang halus. Kita ketahui bahwa setiap orang berilmu, ia mempunyai akal yang membaur dalam sifat mereka. Karenanya dapat pula diartikan bahwa akal adalah sifat orang berilmu yang mengetahui tentang sesuatu. Barangkali itulah yang dimaksudkan sabda Rasulullah, “Pertama yang diciptakan oleh adalah akal."

TINGKATAN AKAL

Salah satu uji coba Syaiful M. Maghsri untuk menjelaskan keterkaitan Tuhan dan manusia dijelaskan dalam konsep emanasi, tajjali atau teofani. Konsep pemancaran (emanasi) dimanfaatkan untuk menjelaskan hubungan-hubungan erat dalam proses penciptaan alam semesta. Jejak-jejak Tuhan dalam diri manusia dapat ditelusuri dalam konsep tingkatan akal

Akal merupakan daya terpenting yang dimiliki manusia, selain daya berpikir yang berpusat di dada dan daya nafsu yang berpusat di perut. Menurut Syaiful M. Maghsri daya tertinggi adalah daya berpikir. Posisi akal sempat menjadi perdebatan yang krusial. Perbedaan itu tampak dalam ungkapan-ungkapan, entah syair atau tulisan khusus, yang saling bersilangan terhadap akal.

Sebagaimana Syaiful M. Maghsri menyebut macam-macam akal untuk menunjukkan proses bekerjanya potensi-potensi dalam diri manusia. Pertalian intensif antara berbagai jenis akal, pada kondisi yang berbeda-beda, telah menghasilkan perhubungan yang erat antara Tuhan dengan manusia, antara ciptaan Tuhan sebagai alam besar (makrokosmos) dan manusia sebagai alam kecil (mikrokosmos).

Dua alam yang berbeda itu bertemu melalui alur kerja dari akal. Karena dalam pengertiannya yang asli, akal merujuk pada “pengikatan” atau “perlekatan” dan karena itu bersifat“membatasi”. Pada tingkatan alam kecil, akal membatasi pandangan dan mendapat manusia mengenai kenyataan. Dalam pengertian ini, Syaiful M. Maghsri menuturkan akal menjadi seperti otak rasional yang membatasi kenyataan sebagai yang dicerap oleh indra saja. Pada tingkatan alam besar, akal merupakan manifestasi (sebagai hasil dari emanasi, teofani atau tajjali) Tuhan. Penyataan ini benar karena alam ciptaan Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. Karena itu, ia (alam) yang diciptakan tentulah berbeda dengan Tuhan Sang Pencipta. Alam besar ini telah menyusutkan atau “membatasi” wujud Tuhan yang tak terbatas. Dalam pengertian dua posisi ini, akal telah menjadi sarana untuk membatasi dua belah pihak.

Bentuk hubungan di atas mungkin dapat menjelaskan fenomena ilham, intuisi, atau otak intuitif manusia. Sebab, sering terjadi informasi-informasi datang begitu saja dalam otak manusia tanpa disadari sumbernya. Jika kita cermati perkembangan Ilmu pengetahuan, jelas sekali adanya informas-informasi intuitif yang muncul dalam kepala manusia.

Syaiful M. Maghsri berpendapat bahwa akal manusia, tanpa bantuan wahyu, dapat tiba pada pengetahuan tentang Tuhan. Karena akal manusia merupakan bagian dari akal Ilahi, maka orang yang tingkat intelektualnya tinggi atau cerdas berkewajiban menemukan Tuhan melalui akal. Emanasi akal menjelaskan dua sudut perhubungan Tuhan dan manusia.

Di lihat dari atas dari sudut Tuhan sendiri, proses tajjali Tuhan yang tak terbatas itu “diikat” menjadi sepuluh jenis akal. Akal pertama dan seterusnya berpikir tentang Tuhan dan dirinya sendiri. Hasilnya adalah akal-akal di bawahnya yang berjumlah sepuluh. Oleh karena berbicara tenatang alam, maka Syaiful menggunakan istilah-istilah kosmologi yang dikenal waktu itu. Misalnya, pemancaran akal-akal dihubungkan dengan bintang-bintang, matahari, dan planet-planet. Akal kesepuluh adalah malaikat Jibril yang mengatur bumi.


Jejak tuhan dalam setiap tempat dapat dijelaskan dengan konsep akal kesepeluh ini, termasuk jejaknya dalam otak manusia. Karena itu, ilmu Bioenergi merupakan satu kesatuan karena sumbernya adalah akal Ilahi. Ilmu sejati menurut Syaiful adalah ilmu yang mencari pengetahuan mengenai esensi segala hal yang berkaitan dengan asal-usul Ilahiahnya. Pernyataan Syaiful dapat diartikan (1) mencari ilmu sama artinya dengan mencari Tuhan, (2) jejak-jejak Tuhan pasti ada dalam setiap ciptaan-Nya, terutama pada manusia sebagai ciptaan paling sempurna.

Realitas objektif alam tercermin dalam konsep Ibn ‘Arabi tentang al-hadharat al-ilâhiyyât al-khams (lima kehadiran Ilahi). Karena proses pemancaran “Akal Ilahi”, maka setiap tingkatan alam akan “mengandung” kehadiran Ilahi itu. Dengan demikian, realitas objektif sesungguhnya tidak betul-betul objektif karena di balik yang objektif itu ada sesuatu yang membawa “Kehadiran Ilahi”. Tidak ada sesuatu yang dapat dipisahkan dari “kehadiran” Ilahi.

Skema paling sistematis dari “kehadiran” Ilahi itu disusun oleh Abu Thalib Al-Makki (w. 996 M). Tingkatan ciptaan meliputi: (1) Nasut (Tabiat Kemanusian), (2) Hahut (Tabiat Esensial Tuhan), (3) Lahut (Tabiat Kreatif Ilahi), (4) Jabarut (Alam Pola Dasar), dan (5) Malakut (Alam Simbol).


Konsep dasar ini dapat menjelaskan mengapa otak, atau bagian tubuh mana saja dari manusia, dapat mengandung“kehadiran” Ilahi itu. Manusia adalah satu dari lima tingkatan alam yang ada. Dengan itu, adanya “God spot” dalam otak manusia bukanlah suatu hal yang mustahil. Termasuk di sini adanya kerja terpadu otak dan adanya kesadaran intrinsik otak yang dikenal sebagai isolasi 40 Hz dan kecerdasan Bioenergi (BQ).

Adanya “rasa ber-Tuhan” pada diri manusia itu sebatas mitos belaka atau gagasan-gagasan spekulatif saja. Beberapa orang, sebagian besar karena penasaran dan sebagian lagi karena motivasi ilmiah, berusaha mencari Tuhan di dalam diri manusia, tepatnya di dalam tubuh fisik manusia. Mereka mengangap bahwa Tuhan tidak hadir hanya sebatas“semangat” saja, atau sebatas kehadiran potensial semata. Bila Al-Qur’an menyatakan bahwa ke-hanif-an (kecenderungan kepada yang baik) manusia menunjukkan hadirnya Tuhan.

“Tempat” Tuhan sesungguhnya tidak lantas berarti bahwa ia bertempat. Karena dimensi tempat adalah terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas dan berbatas. “Tempat” Tuhan lebih dimaksudkan sebagai jejak-jejak Tuhan yang ada dalam tubuh manusia. Syaiful memberi perumpamaan astronot yang meninggalkan jejak kakinya di bulan, Tuhan pun meninggalkan jejak-Nya pada tubuh manusia. Sebagaimana kebutuhan makan telah diprogram dalam gen manusia, jejak ketuhanan pun diprogram dalam tubuh manusia.

Jika Tuhan diidentikkan dengan kegaiban, sel-sel tubuh dapat menjadi jejak-Nya. Karena sudah lama, mencoba menerobos kehidupan paling kecil itu. Kegaiban seluler tampak dari ketidakpastian kehadirannya. Mana yang disebut dunia seluler? Tanyakanlah kepada alat yang dipakai! Jika sel dilihat dengan mata biasa, yang ada adalah sekumpulan besar sel yang disebut jaringan atau organ tubuh. Dengan mata biasa, yang ada hanyalah organ-organ tubuh. Organ tubuh itu adalah dunia fisik yang paling sederhana dari manusia.

Jika lebih tajam dari mata, misalnya dengan memakai mikroskop yang tampak adalah sel-sel yang terpisah satu dengan yang lain. Itu pun jika dilihat dengan mikroskop hingga pembesaran 100.000 kali atau 1.000.000 kali. Dengan mikroskop elektron yang membesarkan hingga jutaan kali, tidak ada lagi sel-sel, yang ada hanyalah komponen-komponen di dalam sel, yang di antara komponen itu ada ruang kosong yang entah apa isinya. Bila ada alat yang dapat memperbesar lagi, maka yang ada adalah “ketiadaan”. Tubuh manusia penuh energi, bahkan alam semesta adalah energi itu sendiri atau disebut Bioenergi. Karena alam juga penuh energi, maka hubungan manusia dengan alam adalah hubungan totalitas. Manusia adalah bagian dari alam. Energi alam mengalir bolak-balik dalam energi manusia.

Ini karena otak telah dianggap sebagai pusat manusia. Kehidupan dan kematian sering diidentikkan dengan ada atau tiadanya fungsi-fungsi otak. Dunia medis menyatakan kematian manusia dengan kematian batang otak. Dengan posisi dan komposisi otak yang sedemikian rupa ia sering dianggap sebagai bagian terpenting dari tubuh manusia.

Fungsi kedua ditunjukkan oleh semaraknya penemuan dalam bidang keilmuan yang membuahkan teknologi, dari yang sederhana sampai yang tercanggih. Apa yang disebut sebagai revolusi paradigma, sesungguhnya adalah aktualisasi dari fungsi eksploratif tersebut. Fungsi rasional-eksploratif dari otak digambarkan secara jelas dan tegas dalam makna harfiah kata berpikir. Kata pikir (dalam bahasa Indonesia) itu diambil dari kata fikryang diubah dari bentuk awal fark. Kata fark itu sendiri bermakna, antara lain: (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai hancur, (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang, dan (4) menggosok hingga bersih. Dari keempat makna yang ditunjukkan pada usaha tak kenal lelah dan keras untuk “menyingkap”, “membuka” atau mengeksplorasi” setiap objek yang ada sehingga objek itu dapat dipahami dan ditangkap secara jelas.

Kehadiran Tuhan di otak merupakan suatu hal yang menarik. Bukan saja karena adalah CPU (Central Processing Unit)-nya manusia, melainkan juga karena isi dan fungsi otak merupakan pembentuk sejarah hidup pemiliknya maupun sejarah kehidupan itu sendiri. Banyak sekali kemampuan yang dinisbahkan kepada otak melebihi yang diberikan pada jantung atau ginjal.

Ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain, Pertama fungsi emosi, Kedua fungsi rasional-eksploratif atau fungsi kognisi, dan Ketiga fungsi refleksi.

Fungsi yang pertama ditunjukkan oleh beragam penemuan tentang emotional intelligence (EQ), termasuk penemuan faktor-faktor biologis yang mempengaruhi terjadi penyakit jiwa, antara lain penemuan psikoneuroimunologi dan pentingnya keyakinan dalam menciptakan kondisi biologis tubuh yang baik. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa keyakinan dapat menjadi salah satu terapi penting dalam menciptakan kondisi tubuh yang seimbang. Keyakinan untuk sembuh adalah metode penyembuhan itu sendiri. Keyakinan berhubungan secara timbal-balik dengan metabolisme tubuh. Dengan kata lain, optimisme dan positive thinking memberi pengaruh menguntungkan dalam kondisi biologis manusia. Sistem limbik dan amigdala yang terletak di daerah tengan otak merupakan dua komponen yang berperanan penting.

Fungsi ketiga mencakup hal-hal yang bersifat supranatural dan religius, yang menurut beberapa penelitian“bersumber” dari dalam otak manusia. Kulit otak (korteks serebri) manusia adalah contoh fungsi refleksi.

Fungsi ini hendaknya menegaskan bahwa“Keberadaan Tuhan” adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. “Keberadaan Tuhan” sedikitnya, ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan dan jaringan saraf manusia. Pernyataan ini tidak berarti bahwa “Tuhan”itu direduksi sampai bentuk seluler persarafan manusia atau tingkat terendah dalam wujud materi sebagaimana diyakini oleh para materialis. Makna “kehadiran Tuhan” berhubungan erat dengan adanya kesempurnaan tubuh fisik manusia. Kesempurnaan tubuh fisik manusia, antara lain ditunjukkan oleh adanya struktur tubuh yang efektif dan fungsional dalam menjamin fungsi-fungsi kehidupan yang penting. Posisi tegak, sistem lokomotorik, dan panca indra adalah tiga contoh kesempurnaan itu.

Walaupun bukan suatu hal yang baru, adanya tanda-tanda “kehadiran” Tuhan dalam otak manusia tetap dianggap sebagai hal yang menarik. Kelenjar pineal sebagai tempat bagi jiwa. Bagi orang Hindu, kelenjar yang terletak di tengah-tengah otak itu, merupakan “mata ketiga”,tempat bagi jiwa manusia. Ada juga yang menyebut liver (atau hati) sebagai tempat jiwa, otak sebagai tempat jiwa.

AKAL MENURUT IMAM AL GHAZALI

Al Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali R.A, berpendapat akal memainkan peranan yang penting kepada manusia untuk menerima ilmu pengetahuan. Beliau merumuskan akal berperanan sebagai gudang ilmu. Dalam erti kata lain akal berperanan menentukan 'kasta' seseorang manusia pada darjat atau kedudukan yang baik dan terpuji kerana keilmuan tersebut. Hal ini bertepatan dengan realiti masyarakat, di mana manusia yang berilmu dan luas pengetahuan dipandang mulia oleh masyarakat.

Di dalam Al-Quran al-Karim Allah SWT mengulang-ulang perkataan yang berkaitan dengan akal melebihi 50 kali. Ini menunjukkan betapa mulianya akal kepada manusia berbanding makhluk yang lain. Melalui nikmat akal tersebut manusia menerima taklif. Menerusi akal juga manusia mencari petunjuk serta kebenaran untuk menjadikan kehidupan mereka menghala kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Akal juga sangat luas peranannya kepada kehidupan manusia. Melalui akal manusia berfikir dan mengkaji untuk menjadikan kehidupan lebih bermakna. Akal akan melahirkan idea yang berkesan untuk menentukan baik buruk sesuatu perkara. Allah SWT menjadikan manusia sebagai makhluk yang sangat dinamik kerana penganugerahan akal tersebut. Melaluinya manusia mampu mentadbir dan memakmurkan dunia ini bagi melunasi taklif sebagai 'khalifah' serta mematuhi segala perintah dan menjauhi segala laranganNya.

Pun begitu, kemampuan akal adalah terbatas. Akal tidak mampu menanggap atau memikirkan semua perkara. Oleh sebab itu, manusia perlu menyedari dan menginsafi akan hal kejadian mereka yang tidak terlalu sempurna supaya menjadikan kehidupan seimbang dan tidak bersifat angkuh, sombong dan sebagainya. Renungi sejenak! Akal hanya mampu menaakul apa yang berkaitan dengan alam nyata sahaja, sedangkan apa yang menjangkaui alam ghaib akal tidak dapat mengetahuinya kecuali melalui wahyu sebagaimana yang berlaku kepada perutusan para nabi dan rasul Allah.

KEAJAIBAN AKAN FIIKIRAN (SUATU RENUNGAN)

Satu unsur sangat menonjol pada penciptaan manusia ialah akal fikiran yang menjadikan insan makhluk istimewa berbanding yang lain sehingga layak menggalas amanah sebagai khalifah di bumi.

Islam memandang tinggi akal fikiran kerana ia sumber segala ilmu malah banyak disebut dalam al-Quran.

"Jika Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, nescaya engkau lihat gunung itu tunduk serta pecah- belah kerana takut kepada Allah. Contoh perbandingan ini Kami kemukakan kepada umat manusia, supaya mereka memikirkannya." (a-Hasyr:21)

Keutamaan akal fikiran ini ditegaskan Rasulullah s.a.w dalam dalam satu hadis daripada Ibnu Hibban, maksudnya: "Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun."

Dalam satu kisah, Abu Said al-Khudri menyampaikan sabda Rasulullah yang bermaksud: "Berilah hak matamu di bidang ibadat!"

Sahabat bertanya: "Apakah hak mata di bidang ibadat itu wahai Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Membaca al-Quran, memikirkan isinya dan mengambil pengajaran keajaiban kandungannya."

Wahab bin Munabih pula berkata: "Semakin tajam seseorang itu berfikir, semakin berilmulah dia dan apabila dia berilmu, semakin banyaklah amalnya."

Al-Ghazali berkata, akal itu mulia dan menjadikan manusia mulia. Melalui akal, manusia mendapat ilmu.

Ibn Khaldun bersetuju akal fikiran (quwwah natiqah) membezakan antara manusia dengan makhluk lain.

Menurut Aristotle, jiwa manusia adalah hakikat diri manusia dan potensi berfikir adalah sebahagian darinya, sementara orang bijak pandai berkata 'berfikir itu pelita hati.'

Hasan al-Basri r.h berkata: "Sesungguhnya golongan yang berfikir mereka sentiasa mengulangi apa yang mereka ingati, sehinggalah hati mereka dapat berbicara dengan kata-kata hikmah."

Lukman al-Hakim berkata: "Sesungguhnya dengan lamanya duduk, aku akan lebih memahami untuk berfikir dan panjang berfikir, petunjuk jalan ke syurga."

Imam al-Ghazali menyifatkan akal fikiran sebagai sumber, tempat terbit dan asas ilmu. Ilmu pula apabila dinisbahkan kepada akal ibarat buah kepada pokok, cahaya kepada matahari, pandangan kepada mata.

Beliau memberikan empat kategori mengenai akal:
i. Akal merujuk kepada suatu sifat yang membezakan manusia dari sekalian haiwan. Akal dalam erti kata ini adalah sifat semula jadi manusia.

ii. Akal merujuk kepada ilmu daruri, terhasil apabila seorang mencapai usia

tamyiz. Ilmu daruri ialah ilmu membolehkan dikenali perkara wajib, mustahil dan harus pada akal. Contohnya, mustahil seorang manusia di dua tempat pada satu masa.

iii. Akal merujuk kepada ilmu pengetahuan diperoleh melalui uji kaji dan pengalaman hidup.

iv. Akal merujuk kepada kesempurnaan sifat akal, apabila ia mengetahui akibat setiap perkara dan mengekang syahwat dari menurut kelazatan sementara.

Apabila keadaan ini terhasil pada diri seseorang, dia dipanggil 'manusia berakal' kerana yang memandu tindakannya ialah kesedaran dan keinsafan terhadap perbuatannya, bukan dorongan hawa nafsu.

Merujuk kepada kategori ketiga, iaitu ilmu yang dipelajari dari pengalaman, perbezaan antara manusia berpunca daripada kemampuan asli akal itu sendiri dan pengalaman dilalui.

Bagi kategori keempat, perbezaan manusia kerana berbeza kemampuan mengekang nafsu. Manusia memiliki keupayaan berbeza dalam hal ini, bahkan seseorang mungkin berupaya mengekang nafsu dalam perkara tertentu dan tidak dalam hal lain.

Faktor yang boleh dikaitkan dengan akal fikiran dalam perbezaan ini ialah ilmu yang menyedarkan seseorang mengenai kemudaratan, akibat hawa nafsu. Seorang yang berilmu lebih mampu menjauhi maksiat berbanding si jahil kerana lebih tahu kemudaratannya.

Akal fikiran membolehkan manusia menilai baik dan buruk, mampu membezakan di antara yang benar dan palsu, bersih dan kotor, untung atau rugi, malah memandu untuk mengenal diri dan Penciptanya.

Penggunaan daya fikir yang tinggi dan lebih serius membolehkan manusia mencapai ketamadunan dan kemajuan dalam pelbagai lapangan.

Umat Islam satu ketika mampu meraih kegemilangan apabila menggunakan kemampuan daya fikir yang tinggi, sebagaimana ditonjolkan tokoh Muslim seperti Jabir bin Haiyan, al-Kindi, al-Khwarizmi, al-Farabi dan banyak lagi.

Al-Kindi (801-873) misalnya, cukup terkenal di Barat dengan nama Alkindus, seorang cerdik pandai Arab dalam pelbagai bidang, terutama sains, astrologi, kosmologi, logik, matematik, muzik, fizik, psikologi dan meteorologi.

Kisah seorang Barat, Isaac Newton (1643-1927), iaitu seorang ahli fizik, matematik, falsafah dan astronomi yang terkenal dengan penemuan formula graviti wajar juga diambil pengajaran.

Sejak lahir beliau tidak pernah melihat bapanya bekerja sebagai petani, kerana beberapa bulan sebelum lahir bapanya meninggal. Kehidupan beliau sangat susah, namun masih berpeluang mendapat ijazah sarjana muda pada usia 22 tahun.

Pada suatu malam, beliau berjalan-jalan di sekitar kebun sambil berfikir dan memerhatikan keadaan sekeliling. Tanpa sedar, fikirannya berakhir pada satu persoalan; mengapa bulan bergerak mengelilingi bumi?

Selepas letih berjalan dan tidak mendapat jawapan, beliau berehat di bawah pohon epal. Tiba-tiba buah epal jatuh berdekatannya.

Kejadian itu menimbulkan persoalan di dalam benaknya. Mengapa buah itu harus jatuh tepat di bawahnya dan tidak ke sekitarnya atau ke atas?

Beliau berfikir lagi hingga menemui satu kesimpulan, iaitu buah epal jatuh ke bawah kerana adanya tarikan dari bumi dan daya seperti itu dinamakan daya graviti. Ia bukan saja berlaku pada bumi, malah planet lain termasuk bulan, bintang dan matahari mempunyai daya gravitinya.

Demikianlah dengan kemampuan dan kehebatan akal fikiran. Bahkan, dengan fikiran yang sihat dapat memupuk keimanan kepada Allah serta menolak perkara bersifat tahyul dan khurafat

JANGAN PENUHI QALBU MU DENGAN DUNIAWI


PESAN SYEIKH ABDUL QADIR AL JILANI
Anak-anak sekalian, aku melihat aktivitasmu bukanlah upaya untuk muroqobah kepada Allah Azza wa-Jalla, yang senantiasa takut kepadaNya, tetapi lebih merupakan hubungan kaum jahat dan kehancuran, hubungan yang memisahkan diri dari para wali dan para sufi. 

Qalbumu kosong dari Allah Azza wa-Jalla, dan anda penuhi dengan kesenangan dunia, pendukungnya dan benteng-bentengnya.  Ingatlah bahwa rasa takut kepada Allah Azza wa-Jalla itu merupakan muatan yang menjaga hati dan menerangi qalbu, penjelas dan penafsir. Bila anda terus demikian, maka anda telah berpijak pada keselamatan dunia dan akhirat. Bila anda ingat mati, akan sedikit sekali rasa senangmu pada dunia, dan anda lebih banyak menghindari dunia. Siapa yang akhirnya adalah maut, bagaimana bisa gembira dengan suatu hal? 

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda: “Setiap pejalan selalu ada tujuan, sedangkan tujuan setiap yang hidup adalah mati.” (Takhrij Ibnu Mubarak).

Akhir setiap kegelisahan, kegembiraan, kekayaan, kefakiran, kesulitan, kemudahan, sakit dan lapar, adalah mati. Siapa yang mati, maka tegaklah kiamatnya, yang jauh menjadi sangat dekat dalam haknya. Semua yang ada pada dirimu sangat membingungkan. Menyingkirlah dari apa yang ada padamu itu dengan segenap hati, batin, dan rahasia batinmu.

Dunia ini ada batas tertentu, dan kehidupanmu di akhirat tiada terbatas. Seriuslah dirimu agar hidupmu penuh dengan ketaatan. Bila anda telah berbuat demikian, seluruh dirimu hanya untuk Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Maksiat itu adah eksistensi nafsu, dan taat itu adalah hilangnya nafsu. Raihan-raihan nafsu syahwat muncul dari nafsu, sedangkan mencegahnya adalah hilangnya nafsu tadi. Cegahlah kesenangan syahwatmu dan jangan mencarinya, kecuali berselaras dengan kepastian Allah Azza wa-Jalla, bukan berselaras dengan pilihan seleramu. Raihlah kesenangan nafsu dengan tangan zuhud secara paksa, maka tangan zuhud akan menggerakkanmu, dan kesenangan menyampaikan pada nafsu.

Zuhud itu harus ada sebelum anda tahu kondisi diri nafsu anda. Zuhud berada di tengah gelap, sedangkan pencarian dan kesenangan terang itu sendiri adalah gelap. Jika anda bisa keluar, anda benar-benar melihat terang. Kekuasaan itu adalah gelap, tetapi berpaku di hadapan Sang Empunya Kuasa adalah terang itu sendiri.

Awal perkara hidupmu adalah gelap, bila ketersingkapan qalbu dari Allah Azza wa-Jalla tiba dan anda berada di hadapanNya, maka perkara hidup anda jadi terang. Bila cahaya rembulan ma’rifat datang terbukalah kegelapan Lailatul Qadar. Bila matahari ilmu pengetahuan pada Allah Azza wa-Jalla terbit, hilanglah kepastian-kepastian darimu dan sirna kegelapan  total, maka akan jelas padamu apa dayamu dan mana yang jauh darimu, jelas pula yang yang dilematik dan problematik sebelumnya.

Lalu jelaslah perbedaan antara yang kotor dan yang bersih, apa yang ada dari Allah Azza wa-Jalla dan yang darimu sendiri.  Anda bisa membedakan mana kehendak makhluk dan mana kehendak Allah Azza wa-Jalla.  Anda pun melihat mana pintu makhluk dan mana Pintu Allah Azza wa-Jalla, anda akan melihat sesuatu yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah terlintas di qalbu.

Hatimu akan mengkonsumsi makanan Musyahadah, dan meminum minuman kemesraan, dan memakai pakaian penerimaanNya, kemudian dikembalikan kepada Allah demi kemashlahatan makhluk, mengembalikan mereka dari kesesatan mereka dan hijrahnya mereka dari Tuhannya Azza wa-Jalla, kemaksiatan mereka, lalu dikembalikan pada kekokohan benteng, penjagaan abadi dan keselamatan selamanya.

Hai orang yang tidak memahami dan tidak percaya hal ini, anda terlalu kerkutan pada kulitnya tanpa isinya, kulit kasar kering hanyalah layak bagi api neraka, kecuali anda tobat, beriman dan membenarkan.

Bila anda bertobat! Beriman dan membenarkan, maka dalam masa mudamu anda dapatkan kebaikan, keselamatan dan kemanisan. Bila anda tidak berbuat, anda dapatkan di dalamnya kaca yang bakal membelah lisanmu, permainanmu dan hatimu. Terimalah kata-kataku, aku sangat peduli padamu, kemarilah, jangan memusuhi aku, karena tak ada kebencian antara diriku dengan dirimu. Karena akulah tempat sujud bagi sholatmu, dan untuk membuang najismu dan kotoranmu, aku hadapkan kamu pada jalan, aku siapkan makan dan minuman, dan aku lakukan ini untukmu, tanpa minta sedikitpun imbalan darimu. Kesenanganku adalah khidmah sebagaimana para penempuh menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila pencarianmu benar kepada Allah Azza wa-Jalla, maka segalanya akan ditundukkan padamu. Karena bila tujuan hamba dan pencariannya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, segalanya akan ditundukkan padanya.

Anak-anak sekalian, jadilah dirimu orang yang menasehati dirimu. Jangan mencari kebutuhan padaku dan selain aku. Nasehati lahir dan batinmu. Nasehati dirimu dengan terus menerus mengingat mati dan memutuskan hubungan dari faktor dunia. Bergantunglah kepada Tuhan semesta, Sang Maha Budi yang Agung dan Maha Tahu.

Bergelayutlah pada tali rahmatNya dan rasa kasihNya, lalu jangan sibuk pada yang lainNya, karena akan menjadi hijab bagimu terhadapNya. Sungguh yang membahagiakan aku bila anda menerimaku dan menjadi sedih diriku bila tidak mau menerimaku. Karena orang beriman itu mendekat padaku, sedangkan orang munafik menjauh dariku.

Hai orang-orang munafik, aku senantiasa berserasi dengan Allah Azza wa-Jalla dalam hal kemarahanNya pada kalian. Dia benar-benar menjadikan nyala api neraka padaku untuk membakar kalian. Namun bila kalian menerima dan bertobat, aku tidak akan berbuat apa-apa. Dan jika anda sabar atas ucapanku yang kasar, aku jadikan api itu dingin dan sejuk nan damai.

Sungguh celaka kalian ini? Bagaimana taatmu hanya pada lahiriyah, sementara maksiatmu memenuhi batinmu. Dalam waktu dekat anda akan dijemput maut dan derita, lalu dipenjara dalam penjara neraka Allah Azza wa-Jalla. Dan anda wahai orang-orang yang sangat membatasi amal ibadah, apa yang anda miliki? Kalian malah rela dengan kebatilan, siang dan malam, lalu anda menginginkan anugerah dari sisi Allah dengan cara yang singkat? Bersegeralah untuk melakukan aktivitas amaliah, berarti kalian telah mengembalikan dirimu. Setiap yang masuk selalu bingung, dan yang lain sedang membersihkan kotoran.

Bila anda bertobat haruslah dari awal hingga akhir. Hai orang-orang yang membandel untuk berbakti pada Tuhannya. Wahai orang yang merasa cukup dengan pikiran-pikirannya, dan menolak pandangan para  Sufi, para Nabi, para Rasul dan orang-orang shalih. Wahai orang yang berpegang pada makhluk, bukan pada Allah Azza wa-Jalla, dengarkan sabda Nabi Saw.:

“Terlaknat, terkutuk, orang yang  keteguhannya justru pada makhluk yang sama dengannya.”

Janganlah anda memburu dunia, juga jangan membenci sesuatu dari dunia, karena hal demikian bisa merusak hatimu  sebagaimana madu dirusak oleh cuka.

Celaka! Anda menggabungkan cinta dunia dengan kesombongan, dua-duanya adalah perilaku yang tidak membuat orang bahagia selamanya, jika orang itu tidak mau taubat dari dua hal itu.

Jadilah orang yang berakal sehat, siapa dirimu, apa dirimu, dari apa anda dicipta, untuk apa anda dicipta? Jangan sombong,  karena tidak ada yang sombong kecuali orang bodoh pada Allah Azza wa-Jalla, RasulNya dan orang-orang saleh. Hai orang yang sempit akalnya, anda mencari keluhuran dengan kesombongan, kalian pasti akan terbalik. Karena Sang Nabi saw, bersabda:

“Siapa yang rendah hati kepada Allah, maka Allah Azza wa-Jalla akan meninggikan derajatnya, dan siapa yang sombong Allah akan merendahkan derajatnya.” (HR. Imam Ahmad).

KENALI 73 PERUSAK

Setiap sesuatu ada perusaknya, ……(73 yang ada perusaknya)

1. Rusaknya keahlian karena pujian yang berlebihan
2. Rusaknya keberanian karena kebrutalan
3. Rusaknya kebaikan karena diungkit-ungkit
4. Rusaknya keindahan karena kesombongan
5. Rusaknya ibadah karena santai
6. Rusaknya ilmu karena lupa
7. Rusaknya kelembutan karena kebodohan
8. Rusaknya kebangsawanan karena kebanggaan
9. Rusaknya kedermawanan karena keborosan
10. Rusaknya agama karena hawa nafsu
11. Rusaknya ibadah karena riya’
12. Rusaknya akal murni karena ujub (bangga diri)
13. Rusaknya kemurahan hati karena keangkuhan
14. Rusaknya malu karena kelemahan
15. Rusaknya lemah-lembut karena kerendahan akhlak
16. Rusaknya keuletan karena kekejian
17. Pengecut adalah kerusakan
18. Hawa nafsu adalah kerusakan bagi akal
19. Rusaknya iman karena kemusyrikan
20. Rusaknya keyakinan karena keraguan
21. Rusaknya nikmat karena pengingkaran
22. Rusaknya ketaatan karena maksiat
23. Rusaknya kemuliaan karena kesombongan
24. Rusaknya kecerdikan karena tipudaya
25. Rusaknya kedermawanan karena diungkit-ungkit
26. Rusaknya agama karena buruk sangka
27. Rusaknya akal karena hawa nafsu
28. Rusaknya kemuliaan karena halangan taqdir (ketentuan)
29. Rusaknya diri karena terlalu memberikan kecintaan pada dunia
30. Rusaknya musyawarah karena ide-ide yang bertentangan
31. Rusaknya para raja karena buruk sepak terjang
32. Rusaknya kabinet karena niat jahat
33. Rusaknya ulama karena cinta kekuasaan
34. Rusaknya para pemimpin karena lemah taktiknya
35. Rusaknya pasukan karena menyalahi komando
36. Rusaknya latihan karena dikalahkan oleh kebiasaan
37. Rusaknya rakyat karena meyalahi ketaatan
38. Rusaknya penjagaan karena kurangnya rasa kecukupan
39. Rusaknya peradilan karena kerakusan
40. Rusaknya para pelaku keadilan karena kurang hati-hatinya pengawasan
41. Rusaknya keberanian karena mengabaikan tekad
42. Rusaknya orangkuat karena menganggap lemah musuh
43. Rusaknya kelembutan karena kehinaan
44. Rusaknya pemberian karena mengulur-ulur
45. Rusaknya ekonomi karena pelit
46. Rusaknya wibawa karena senda gurau
47. Rusaknya pencarian karena tidak sukses
48. Rusaknya kerajaan karena lemahnya penjagaan
49. Rusaknya perjanjian karena kurangnya perhatian
50. Rusaknya kepemimpinan karena kebanggaan
51. Rusaknya penukilan karena sumber berita yang bohong
52. Rusaknya ilmu karena meninggalkan prakteknya
53. Rusaknya perbuatan karena tidak ada keikhlasan
54. Rusaknya kemurahan karena kebanggaan
55. Rusaknya masyarakat umum karena orang alim yang licik
56. Rusaknya keadilan karena orang zalim yang menyimpang
57. Rusaknya pembangunan karena penyimpangan para penguasa
58. Rusaknya kekuatan karena menghalangi untuk berbuat baik
59. Rusaknya pembicaraan karena dusta
60. Rusaknya amal-amal karena kelemahan para pelakunya
61. Rusaknya angan-angan karena tibanya ajal
62. Rusaknya kesetiaan karena penipuan
63. Rusaknya tekad karena kadaluarsanya perkara
64. Rusaknya amanat karena penghianatan
65. Rusaknya ahli fiqih karena tidak menjaga diri
66. Rusaknya kemurahan karena berlebihan
67. Rusaknya kehidupan karena buruknya pengaturan
68. Rusaknya pembicaraan karena terlalu panjang
69. Rusaknya kekayaan karena kikir
70. Rusaknya kebaikan karena teman yang buruk
71. Rusaknya kemampuan karena kesombongan dan keangkuhan
72. Pangkal berbagai kerusakan adalah cinta pada kelezatan
73. Kerusakan yang paling jelek pada akal adalah kesombongan
(Mizanul-hikmah Juz I: 110-113)

TUHAN YANG DISAKSIKAN

Alkisah, seorang Arab Badwi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencuba meletakkan karung itu di atas punggung unta; dan berulang kalilah pula ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada fikirannya jalan penyelesaian yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega, ketika kedua karung itu bergantung dengan seimbang pada kenderaannya. Segera ia berangkat ke pasar.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang-camping dan berkaki ayam. Ia diajak oleh orang asing itu untuk berhenti sejenak, beristirehat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja, orang Badwi itu menyedari bahawa yang mengajaknya berbincang itu orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan kerananya. Tiba-tiba, orang asing itu menyaksikan dua buah karung bergantung pada punggung unta.

“Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu; kelihatan sangat berat”, tanya orang asing itu. “Salah satu karung itu berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta”, jawab orang Badawi. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasihat, “Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta menanggung beban yang ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.”

Orang Badwi takjub. Ia tidak pernah berfikir secerdik itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “anda memang pintar. Tapi dengan segala kepintaran ini, mengapa anda berkeadaan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak punya sepatu. Mestinya, kepandaian anda yang dapat mengubah tembaga menjadi emas akan memberikan kekayaan kepada anda.”

Orang asing itu menarik nafas panjang, “Jangankan sepatu, hari ini pun saya tidak punya sedikit wang pun untuk makan malam saya. Setiap hari, saya berjalan dengan kaki ayam untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti.”

“Lalu apa yang Anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan anda itu.”

“Dari semua pelajaran dan pemikiran, aku hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semuanya itu hanya bencana bagiku, bukan keberuntungan.”

Orang Badwi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan bersiap-siap untuk pergi. Kepada filsuf yang kelaparan di pinggir jalan, ia memberi nasihat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku, kerana aku khuatir keadaanmu akan menular kepadaku. Bawalah semua kepandaianmu itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmumu itu kamu ambil suatu jalan, aku akan mengambil jalan yang lain. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat; tetapi itu lebih baik daripada kecerdikan yang sia-sia. Anda boleh jadi pandai, tetapi kepandaian anda itu hanya kutukan; saya boleh jadi bodoh, tapi kebodohan saya mendatangkan berkat, kerana walaupun saya tidak cerdik, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.”

Kisah Jalal al-Din Rumi, yang saya ceritakan kembali dengan bahasa saya itu, merupakan kritik halus kepada para filsuf yang berusaha mengetahui Tuhan dengan akalnya. Moral cerita ini ditutup dengan kutipan berikut:

Jika kau ingin derita
benar-benar hilang dari hidupmu
Berjuanglah untuk melepaskan
‘kebijakan’ dari kepalamu
Kebijakan yang lahir dari tabiat insani
tak menarik kamu lebih dari khayalan
Kerana kebijakan itu tidak diberkati
yang mengalir dari cahaya kemuliaan-Nya
Pengetahuan tentang dunia
hanya memberikan dugaan dan keraguan
Pengetahuan tentang Dia, kebijakan ruhani sejati
membuatmu naik keatas duniawi
Para ilmuwan masa kini telah menghempaskan
semua pengorbanan diri dan kerendahan hati
Mereka sembunyikan hati
dalam kecerdikan dan permainan bahasa
Raja sejati adalah dia
yang menguasai fikirannya
Bukan dia yang fikirannya
Menguasai dunia dan dirinya

Rumi menunjukkan bahawa dengan intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan kerana itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas. Sekiranya intelek mencuba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan.

Rumi mewakili para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata; melalui taqwa, bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan; mereka ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan ‘amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan.

Dalam Matsnawi, Daftar-e Sevon, Bait 1267, Rumi menyingkapkan pengetahuan hasil pemikiran: Az nazar keh guftesyan syud mukhtalef, an yeki dalesy laqb dad in alef (kerana pemikiran ucapan mereka bertentangan, kata yang satu dal kata yang satu alif).

Seperti Kucing Schrödinger dalam fizik, pengamat menciptakan realiti. Tuhan menjadi hasil konstruksi manusia. Tuhan dapat muncul dalam berbagai “bentuk” sesuai dengan siapa yang memahami-Nya.

Seperti Rumi, Ibn ‘Arabi menunjukkan kekeliruan pengetahuan tentang Tuhan yang dilakukan oleh para filsuf dan ahli ilmu kalam. Pemikiran tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan; malahan pemikiran seperti itu hanya menghasilkan tipuan, khayalan, dan pertentangan. Ia menulis:

Pengetahuan ahli ilmu kalam dan filsuf berkenaan dengan esensi Tuhan bukanlah cahaya. Tidak ada satu mazhab pun yang tidak punya para pendukungnya. Mereka sendiri tidak sepakat, tetapi mereka tetap juga digambarkan sebagai kaum Mu’tazilah atau Asy’ariyah, seperti itu juga pada filsuf dalam ajaran mereka tentang Tuhan dan apa yang harus dipercayainya. Mereka belum sepakat di antara mereka, tetapi setiap kelompok mempunyai status dan nama … Kita melihat nabi dan rasul yang terdahulu dan yang kemudian sejak Adam sampai Muhammad, termasuk yang datang di antara mereka ‘alayhim al-salam; mereka tidak pernah berikhtilaf dalam akar keimanan mereka pada Tuhan … Jadi, berpegang-teguhlah kepada keimanan dan lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu dan ingat Tuhanmu pada waktu pagi dan sore (al- A’raf/7:205) dengan zikir yang ditetapkan syari’at kepadamu baik dengan mengulangi la ilaha illa Allah (tahlil) atau tasbih dan takutlah kepada Tuhan. Jika al-Haqq berkehendak untuk memberikan kepadamu apa yang Dia mginkan berupa pengetahuan tentang Dia, hadirkan akalmu dan hatimu (lubb) apa yang Dia berikan dan anugerahkan kepadamu berupa pengetahuan tentang Dia. Sesungguhnya inilah pengetahuan yang bermanfaat dan cahaya yang dengan itu hatimu hidup, dan berjalan bersamamu di dunia ini. Dengannya kamu selamat dari kegelapan syubhat dan keraguan yang terjadi pada pengetahuan yang dihasilkan oleh pemikiran (afkar) … Saya sudah membimbingmu, saudara, bagaimana mencapai jalan pengetahuan yang bermanfaat. Jadi, bila kamu sudah merintis jalan yang lurus, ketahuilah bahawa Tuhan sudah membimbing tanganmu, memeliharamu, dan telah mempersiapkan kamu untuk diri-Nya.

Pada tempat lain, Ibn ‘Arabi menulis:

Di antara berbagai kelompok, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari orang yang memperoleh pengetahuan melalui taqwa. Taqwa terletak pada tingkat pencapaian pengetahuan yang paling tinggi. Ia saja yang memiliki keputusan yang pasti. Autoritinya berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan. Ia adalah qadli yang terbaik. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh pada tingkat permulaan. Kerana itu, hanya orang yang berilmu di antara orang yang beriman yang dipilih untuk memperolehnya: yakni, mereka yang tahu bahawa ada Seseorang untuk kembali, dan menyaksikan-Nya dapat diraih. Jika mereka jahil dari pengetahuan ini, aspirasinya (himmah) akan sangat lemah sehingga sekiranya al-Haqq menampakkan diri-Nya (tajalli) kepada mereka, mereka akan menafikan-Nya dan menolak-Nya, kerana pandangan mereka dibatasi (muqayyad) oleh sesuatu. Selama faktor pembatas itu tidak ada pada waktu penampakan diri-Nya (tajalli), mereka pasti akan menolak bahawa itu Tuhan, sekalipun Tuhan berbicara kepada mereka secara langsung atau mereka mendengar ucapan bahawa Dia itu Tuhan. Kerana tidak memperoleh ilham dan kerana pemikiran rasional mereka meyakinkan mereka bahawa tidak mungkin siapa pun dapat melihat al-Haqq –seperti para filsuf dan kaum Mu’tazilah– bahkan sekiranya kita mengetahui-Nya, mereka niscaya menolak-Nya dalam penampakan-Nya kepada mereka. Diperlukan bagi orang beriman agar cahaya imannya membawanya kepada apa yang telah membawa Musa a.s. ketika ia bertanya: Ya Tuhanku, tampakkan diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu (al-A’raf: 143).

Apa yang dikritik Ibn ‘Arabi dan para sufi lainnya bukan intelek dalam pengertian akal, tetapi salah satu di antara fakulti (quwwah) dibawah kekuasaan akal. Kekuatan itu disebut daya fikir (quwwah mufakkirah). Tidak mungkin kita mengulas epistemologi Ibn ‘Arabi di sini, baik kerana keterbatasan waktu maupun kerana sudah adanya tulisan orang lain yang lebih lengkap. Tetapi secara singkat boleh kita katakan, bahawa Ibn ‘Arabi menyatakan bahawa pengetahuan tentang Tuhan hanya dapat diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati.

Sekali intelek diyakinkan tentang perlunya mengambil pelajaran dari hati, manusia memulai kelahiran baru dalam perjalanan panjangnya. Ia akan beristirahat di tempat tinggalnya, berhenti di daerah-daerah pedesaan, merasakan situasi baru setiap saat, menunggu dengan penuh ghairah apa yang bakal datang, tetapi ia tidak akan pernah sampai, kerana pengetahuan tidak punya akhir dan tidak ada batasnya.

Pengetahuan yang diperoleh melalui hati adalah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan ini tidak didasarkan pada pendefinisian Tuhan, tetapi pada penyaksian Tuhan. Dalam istilah al-Qur’an, pengetahuan ini disebut pertemuan (liqa’). Bersama Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, al-Nasafi, dan tokoh-tokoh sufi lain sepanjang zaman kita diberi petunjuk bagaimana sampai kepada Pertemuan Agung ini.

Sebelum saya mengakhiri makalah ini dengan petunjuk Ibn’Arabi dalam Risalah al Anwar fi ma Yumnah al-Khalkwah min al-Asrar, saya tergoda untuk mengutip al-Syaykh Ahmad Rifa’i al-Husayni, tokoh sufi yang hidup pada abad keenam Hijriyah:

Kebanyakan orang mengetahui Tuhan melalui berita tentang Tawhid yang dibawa dari Nabi Muhammad s.a.w. Mereka membenarkannya dengan hati, mengamalkannya dengan tubuh, tetapi mengotori diri mereka dengan dosa dan maksiat. Maka hiduplah mereka di dunia dalam kebodohan dan kekurangan. Mereka berada dalam bahaya besar kecuali yang disayangi oleh Yang Pengasih dari segala yang mengasihi.

Lebih tinggi dari itu, ada sekelompok manusia yang mengenal Tuhan dengan pembuktian. Mereka adalah ahli fikir, nalar, dan akal. Mereka meyakini tawhid berdasarkan dalil, ayat-ayat, dan tanda-tanda ketuhanan. Mereka mengetahui yang gaib atas dasar yang konkret. Mereka meyakini kebenaran dalil. Mereka berada pada jalan yang benar, hanya saja, mereka terhalang tirai dari Allah Ta’ala dengan perhatian mereka kepada dalil-dalil mereka.

Ahli ma’rifat khusus mengetahuinya dengan keyakinan yang paling utama. Mereka tenteram dalam pengetahuan mereka. Tidak merisaukan mereka dalil. Tidak memalingkan mereka sebab. Dalil mereka Rasulullah s.a.w. Iman mereka al-Qur’an. Cahaya mereka menerangi di hadapan mereka.

Barangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala berdasarkan berita maka ia seperti saudara-saudara Yusuf ketika mengetahui rupanya tapi tidak menyadarinya, sehingga mereka dipermalukan di hadapannya, ketika mereka berkata: jika ia mencuri maka sesunggulmya saudaranya telah mencuri pula sebelum itu (Yusuf: 77). Barangsiapa yang mengenal Tuhan dengan dalil maka ia seperti Ya’qub a.s. ketika tahu bahawa Yusuf masih hidup, sehingga bertambah-tambah tangisan dan penderitaannya, sehingga ditanggungnya berbagai bala sampai putih matanya kerana kesedihan, kerana tahu bahawa Yusuf masih hidup dan kerana rindu untuk berjumpa dengannya. Ia berkata: Pergilah selidiki keadaan Yusuf, aku sudah mencium bau Yusuf. Kerana ucapannya itu, orang-orang yang tidak tahu berkata; Demi Allah sesungguhnya engkau dalam kesesatanmu yang terdahulu (Yusuf: 59). Mereka berkata: Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-arang yang celaka (Yusuf: 85).

Perumpamaan orang yang mengenal Tuhan melalui Tuhan adalah seperti Bunyamin yang diambil Yusuf untuk dirinya. Yusuf berkata: “Saudaraku, apakah kamu ingin menyaksikanku atau kembali kepada bapakmu?” Ia berkata: “Aku ingin menyaksikanmu”. Yusuf berkata: “Jika kamu menginginkan aku, bersabarlah atas ujianku”. Ia berkata: “Aku siap, kerana engkau akan ku pikul segala bencana asalkan aku tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu”. Kemudian Yusuf mengeluarkan gandum dari kantung Bunyamin dan menuduh saudaranya mencuri. Seluruh penduduk kola mengecam dan mengejek Bunyamin. Saudara-saudaranya mempersalahkannya. Tetapi ia sendiri bergembira, tertawa dalam kesendiriannya. Ia tidak takut pada ejekan orang-orang yang mengejek. Inilah perumpamaan ahli yaqin dalam pengetahuan mereka tentang Tuhan.

NAFS (JIWA)

Dalam bahasa Arab, nafs, mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa.  Nafs dalam arti jiwa telah di bicarakan para ahli sejak kurun waktu yang sangat lama. Persoalan nafs telah dibahas dalam berbagai kajian disiplin ilmu. Dalam psikologi misalnya, jiwa lebih dihubungkan dengan tingkah laku sehingga yang di selidiki oleh psikologi adalah perbuatan-perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa. Teori-teori psikologi, baik psikoanalisa, behaviorisme maupun humanisme memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada di belakang tingkah laku

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, nafsu dipahami sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat burukpadahal dalam al-Quran nafs tidak selalu berkonotasi negative.

Kajian tentang nafs merupakan kajian tentang hakikat manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa menempatkan dirinya menjadi subjek dan objek sekaligus. Ini tercermin dari banyaknya kajian tentang manusia dalam berbagai disiplin ilmu. Surat al-Rad  13: 11  mengisaratkan bahwa perbuatan manusia berhubungan erat dengan apa yang ada dalam nafs mereka. Di balik perbuatan seseorang atau suatu kaum ada sesuatu yang bersifat psikologis yang menentukan keberhasilan atau kegagalannya. Apakah perbuatan itu bernilai positif atau bernilai negative. Oleh karena itu kajian tentang konsep nafs dalam al-Quran, adalah penting dan tidak hanya terbatas pada kebutuhan pengetahuan, tetapi pada kepentingn mengurai, meramalkan, dan mengendalikan tingkah laku manusia, baik secara individual maupun secara kelompok baik dalam kaitannya dengan bidang dakwah atau pendidikan maupun social. Oleh karena itu penulis berupaya mengungkap konsef nafs menurut al-Quran.

Jiwa dalam Term nafs Al-Quran menyebutkan nafs dalam bentuk kata jadian anfus, nufus, nafs, mutanaffisun, yatanaafasu, tanaffasa. Dalam bentuk mufrad, nafs disebut 77 kali tanpa idhafah dan 65 kali kali dalam bentuk idhafah. Dalam bentuk jamak anfus disebut 158 kali. Sedangkan kata tanaffasa, yatanaafasu dan al-mutanafisu masing-masing hanya disebut satu kali.

 Dalam Bahasa Arab, kata nafs mempunyai banyak arti, tetapi yang menjadi objek kajian dalam tulisan ini adalah nafs seperti yang dimaksud dalam al-Quran. Term nafs dalam al-Quran semuanya disebut dalam bentuk isim atau kata benda, yakni nafs, nufus dan anfus. Sedangkan kata tanaffasa dalam surat al-Takwir / 81 : 18 : dan kata yatanaafasu dalam surat al-Muthaffifin / 83 : 26 meskipun kata-kata itu berasal dari kata nafisa atau nafasa, dalam kata jadian seperti itu mempunyai arti yang tidak berhubungan langsung dengan nafs.

Dalam Bahasa Arab, kata nafs, mempunyai arti untuk menyebut diri atau seseorang , sementara kata roh digunakan untuk menyebut nafas dan angin. Namun setelah al-Quran turun, masyarakat didunia islam menggunakan kata nafs dan roh dalam literatur arab secara silang, dan keduanya digunakan untuk menyebut rohani, malaikat dan jin. Bahasa arab juga menggunakan nafsiyun dan nafsaniyun untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan nafs

Dalam al-Quran, kata nafs mempunyai aneka makna, di antaranya :

Nafs Sebagai Totalitas Manusia  Kata nafs di gunakan ai-Quran untuk menyebutkan manusia sebagai totalitas , baik manusia sebagai mahluk yang hidup di dunia maupun manusia yang hidup di akhirat. Misalnya, al-Quran,.s. Yaasin/ 36: 54 );

Maka pada hari ini seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecil dengan apa yang telah kamu kerjakan.

 Dari penggunaan term nafs untuk menyebutkan manusia yang hidup di alam dunia maupun di alam akhirat melahirkan pertanyaan tentang pengertian totalitas manusia. Sebagaimana yang sudah menjadi pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, yaitu jiwa dan jasad. Tanpa jiwa dengan fungsi-fungsinya, manusia di pandang tidak sempurna, dan tanpa jasad, jiwa tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi. Al-Quran, Surat Yaasin / 36 : 54 mengisyaratkan bahwa di samping manusia hidup di alam dunia lain, yakni alam akhirat di mana manusia nanti harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi totalitas manusia menurut al-Quran tidak hanya bermakna manusia sebagai makhluk dunia, tetapi juga sebagai makhluk akhirat, yakni manusia juga yang harus mempertanggungjawabkan perbuatanya nanti di alam akhirat.

 2. Nafs sebagai sisi Dalam Manusia

 Al-Quran,. Surat al-Rad / 13: 10, mengisaratkan bahwa manusia memiliki sisi dalam dan sisi luar.

 Sama saja (bagi tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapanya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

 Kesanggupan manusia untuk merahasiakan dan berterusterang . Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan petunjuk adanya sisi dalam dan sisi luar dari manusia. Al-Quran juga menyebutkan hubungan antara sisi dalam dan sisi luarnya. Jika sisi luar manusia dapat dilihat perbuatan lahirnya, maka sisi dalam, menurut al-Quran berfungsi sebagai penggeraknya. Surat al-Syam / 91:7 ) secara tegas menyebutkan nafs sebagai jiwa. Jadi sisi dalam manusia adalah jiwanya.

Minimal al-Quran dua kali menyebutkan nafs sebagai sisi dalam yang mengandung potensi sebagai penggerak tingkah laku, yaitu pada surat al-Rad / 13 dan 11 dan surat al-Anfal / 8 : 53:

 Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dengan di muka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kebutuhan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya ; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. al-Rad/ 13: 11).