Catatan Popular

Rabu, 19 April 2023

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 48 : JANGANLAH MENGHIASI ZAHIR TANPA MENGHIASI BATIN

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pada Selasa petang,  8 Sya’ban tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Nabi saw. bersabda :

“Barangsiapa berhias untuk manusia dengan sesuatu yang dicintai, dan menghadap Allah dengan sesuatu yang dibenci, maka Allah menjumpainya dengan dua kemurkaan.”

Dengarlah sabda Nabi, wahai munafiq secara berani kau jual akhirat dengan dunia. Wahai penjual Allah dengan ciptaan, wahai penjual sesuatu yang kekal dengan binasa, amat disesalkan perdaganganmu dan lenyap sumber-sumber kekayaanmu.

Celaka, kamu berkepentingan dengan sesuatu yang dibenci Allah; orang yang berhais diri karena manusia dengan sesuatu yang tidak ada padanya itu justru dibenci Allah. Hiasilah lahirmu dengan adab syariat dan batin dengan pembebasan diri dari ciptaan, tahanlah jalur-jalur mereka tentu memfanakan mereka dari sudut hati, hingga seakan mereka tidak terpotong. Kamu jangan bersangka bahwa mereka membawa kesulitan dan kegunaan, sungguh kamu repot oleh penghiasan diri lahiri dengan meninggalkan hati, hiasilah hati dengan tauhid, ikhlas dan menggenggam teguh perintah Allah, selalu mengenang-Nya dan mengesampingkan yang lain.

Bertekunlah untuk memperoleh iman, jika kamu telah mendapat iman bertaubatlah, takut, menyesal dan teteskan iar matamu, karena tangis itu termasuk perbuatan takut Allah, ia bisa memadamkan api maksiat atau juga bisa memadamkan kilatan murka Allah, apabila kamu bertaubat setulus hati tentu cahaya taubat itu memancar di wajah.

Wahai sahaya, bertekunlah untuk menjaga sirrimu sekiranya kamu menjaganya, jika kamu terkalahkan berarti dirimu surut, bertekunlah sampai dirimu sirna dan hanya Dia yang ada. Jadilah bersama-Nya seperti orang mati yang dimandikan atau seperti Ashabul Kahfi yang bersama Jibril a.s. Bersamalah Dia tanpa wujud, tanpa ikhtiar, tanpa perangan dalam bentuk apa pun, teguhlah di hadapan-Nya di atas pijakan iman dan menundukkan nafsu di saat ketentuan yang berat turun padamu. Iman itu tetap teguh menyertai ketentuan (qadar), sedang munafik itu menjauhinya. Orang munafik bila hari-harinya berlalu ia kering dengan niat, tetapi nafsu, tabiat plus hawanya semakin dipersarat, mata sirr dan mata hatinya buta, tampak dari luar ia meah tapi dalamnya remuk, ingatannya kepada Allah hanya di bibir bukan di hati, sedang orang beriman kebalikan orang munafiq.

Wahai manusia, jika terpaksa kamu tidak mampu mengikuti seruan ini, jadikan dirimu pada pintu dunia dan hatimu pada pintu akhirat – sirrimu di pintu Allah sampai jiwa berubah jadi hati dan mampu merasakan sesuatu yang bisa dirasa, hati berubah jadi sirr dan mampu merasakan sesuatu yang terasa, dan sirr berubah jafi fana’ yang pada akhirnya kamu tidak bisa merasakan atau tidak terasakan, lalu hidupmu hanya untuk Dia bukan yang lain. Amat beruntung orang yang mengamalkan anjuranku dan ikhlas dalam pelaksanaannya. Amat beruntung orang yang beramal dengan tangan sendiri lalu memperdekat kepada orang yang diamali kepada Allah.

Wahai sahaya, sampai kapan engkau bersekutu dengan ciptaan, bergantung kepada mereka? Kamu wajib mengerti bahwa seseorang pun di antara mereka tidak bermanfaat atau membawa kesulitan bagimu; ya, kekafiran mereka, kekayaan mereka, kemuliaan mereka dan kehinaan mereka. Peliharalah taqwa, jangan bergantung manusia atau pada matapencaharian, daya kekuatanmu, bergantunglah pada keutamaan Allah, jalinlah hatimu kepada-Nya, lalu mengenang-Nya – seperti cara peringatan para penghuni sorga di dalam sorga yang berhari seperti di hari dunia.

Wahai manusia, janganlah mengakhirkan tuntutan dan perhitungannya atas jiwamu, segerakanlah hal ini; sejak dunia sampai akahirat. Uang itu sentral neraka dan dirham itu sentral keinginan, apalagi jika berhasil menggaet keduanya dari jalur haram dan mempergunakan pada jalur haram pula. Besok akan tampak jelas bagimu, tentang ucapan yang kau ucapkan di hari ini, rupanya kamu buta dan pekak.

Sabda Nabi saw. :

“Cintamu terhadap sesuatu itu memperbuta dan memperpekak diri.”

Telanjangi dirimu dari dunia, laparkan dan dahagakan sampai Allah membusanai, menyantapi dan menemani dirimu, serahkan lahir dan batin-mu untuk Dia, jangan berangan macam-macam, bahkan jadikan Dia tanpa perwujudan dirimu. Dunia adalah negeri untuk beramal dan akhirat negeri balasan, negeri tempat pemberian dan pelimpahan. Nah, demikian yang lebih ghalib sebagai hak orang shalih, adapun yang lebih pelik buat mereka adalah orang yang bebas amal di dunia tetapi ia diberi sesuatu, diberi rakhmat dan segera mendapat peristirahatan, ini sebelum datang ke akhirat, berarti ia terputus untuk mendatangi hal wajib dan bebas dari kesunahan, karena kewajiban tidak bisa gugur oleh segala tingkah dan maqamat. Demikian kewajiban setia individu – sebagai hamba Allah – Dia Mahaganjil dari yang ganjil.

Wahai sahaya, berzuhudlah, kamu jangan memakan sesuatu disertai nafsu dan hawa karena hal itu suatu terali yang bisa menutup hati dari Tuhan. Orang beriman jika makan bukan untuk nafsu atau dengan nafsu, juga ia tidak mengenakannya atau tidak bersenang-senang, sebaliknya menjadi bekal untuk bertaqwa mentaati perintah Allah, ia makan apa yang ditetapkan lahir di hadapan Allah, ia makan disertai syara’ bukan terdorong oleh hawa. Sedang bagi Wali, makan karena perintah Allah, dan bagi Qutub makan atau penasarufannya seperti Nabi bila sedang makan, ia bertasaruf bagaimana tidak seperti itu, bukankah satu-satunya pelayan Nabi, pengganti beliau di tengah-teengah ummatnya? Ya, Qutub adalah khalifah Nabi dan Khalifah Allah, ia adalah khalifah batin serta imam kaum muslimin, orang-orang Islam tidak diperkenankan meninggalkan Qutub atau meninggal beritba’ dan mentaatinya.

Dikatakan bahwa, Imam orang Islam jika adil maka menjadi Qutub zaman, kamu jangan mengira bahwa perkara ini hanya sandiwara, sungguh itu telah menjadi bebanmu, barangsiapa menghitung perbuatan lahirmu berarti ia telah menghitung perbuatan batinmu. Tidak seorang pun di antaramu kecuali didtangkan di hari kiamat disertai para Malaikat yang setia mencatat kebaikan atau keburukan di dunia, para Malaikat sama membawa 99 Sijjil (Catatan oleh Malaikat tentang perbuatan baik atau buruk manusia), Setia Sijjil itu menyimpan satu pandangan yang menghasilkan baik dan buruk beserta segala sesuatu yang keluar darinya, lalu ia pun membaca catatan itu – jika di dunia tidak berlaku baik tentu tertulis dan tidak terbaca adanya bak di sana, karena dunia itu ssanggar hikmah dan akhirat sanggar penentuan. Dunia membutuhkan segala macam peralatan yang diakit dengan sebab penghasilan, sedang akhirat tidak membutuhkan itu semua. Bila seorang di antaramu membuka hasil yang ada di dalam catatannya segera bersaksilah seluruh organ tubuh sesuai dengan apa yang tercantum dalam catatan tersebut. Ya, setiap organ tubuh memberi kesaksian pada batas-batas segala amal yang diperbuat. Sungguh untukmu telah dicipta ketentuan yang luar biasa. Belumkah kamu mendapat berita dari Allah :

“Adakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu (hanya) bermain-main dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Qs. 23:115).

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 47 : JAUHILAH MAKHLUK JIKA IA MEMBAHAYAKAN DIRI MU

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pada Selasa, 1 Syaaban, tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Belajarlah, kemudian beramal, ikhlas, sunyikan jiwamu dan ciptaan.

“Katakan (yang menurunkan itu) Allah!, kemudian biarkanlah mereka main-main dengan percakapan kosong (Qs. 6 : 91).

Katakan seperti perkataan Ibrahim a,s,. Sebagaimana tesebut dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya pujaan-pujan itu musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.” (Qs. 26 :77).

Singkirkan ciptaan dan bencilah mereka, selagi di hadapanmu hanya membawa bencana. Jika Tauhid bersih, dalam arti keburukan, syirik lepas dari hati tujulah mereka, seperti transfertasi ilmu dan penujukan pada pintu kebenaran.

Ketidakbutuhan al-Khowash itu ketidakbutuhannya terhadap ciptaan; dalam bentuk kematian kehendak dan ikhtiar, siapa bersih dari ketidakbutuhan ini maka bersihlah kehidupannya secara abadi bersama Allah. Pabila kamu ingin hal ini kamu harus menjaga perolehan ketajaman ma’rifat, dekat dan terlena pada tangga Allah, hingga kamu tercabut oleh tangan rakhmat dan kelembutan, ketika itu, niscaya kamu bisa hidup secara abadi, makanan tertolak dan sirri menjadi makanan. Karena itu Nabi bersabda :

“Aku bernaung di sisi Tuhanku, maka Dia memberi makanan daku dan meminumi daku.”

Artinya; memberi makanan sirri berupa ma’ani, memberi makanan ruh berupa ruhaniyat, memberi makanan yang khusus.

Pertama kali perubahan sikap disertai hati, lalu ketetapan perubahan itu dan terjadilah pengangkasaan hati dan sirrinya. Ketika itu ia hadir di tengah-tengah manusia. Nah, demikian kaitan kebenaran orang yang meneyatukan antara ilmu dan amal, ikhlas dan pengajaran.

Wahai manusia, makanlah sisa-sisa orang berilmu, minumlah sesuatu yang masih tertinggal dalam cawan-cawan mereka. Wahai pengaku berilmu, tiada teladan dengan ilmumu. Barangsiapa tidak sedia berteladan dengan ilmunya, tanpa ikhlas, sesungguhnya laksana tubuh tanpa nyawa. Di antara tanda-tanda ikhlas dalah, bahwa kamu tidak mencari pujian orang atau cela mereka, juga tidak mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka bahkan ia menyodorkan konsepsi Ketuhanan sebagai haknya. Beramallah untuk sang pemberi nikmat, bkan untuk nikmat untuk sang pengausa (Allah) bukan untuk yang dikuasai, untuk kebenaran bukan kebatilan. Jika kebenaranmu telah sempurna, ketika itu telah telanjang dari segala keberadaan selain Dia. Telanjang itu pada hati, bukan apda tubuh, zuhud itu apda hati bukan untuk tubuh, berpaling itu untuk sirr bukan pada lahir, penglihatan itu pada ma’ani bukan untuk bangunan, padangan itu pada Allah bukan untuk ciptaan, ketidakadaan dunia-akhirat tanpa sesuatu selain-Nya. Orang yang dicintai Allah yaitu orang yang diberi kekhususannya agar diberi nikmat berupa cobaan pada fisiknya, yaitu menjadi syahid di ujung pedang orang kafir.

Maka, bagaimana dengan para syuhada yang mati di ujung pedang diliput cinta. Bahwa pnghancuran itu diproyeksikan mengarah bangunan-bangunan yang digunakan untuk bermaksiat. Jika kamu lihat pusat-pusat maksiat menghancurkan penghuninya, hancurkanlah ia, karena maksiat itu bisa menghancurkan negara dan merusak ibadah. Nah, demikian seharusnya niatmu; jika mengetahui di mana ada negara bermaksiat hancurkanlah, tapi jika dirimu yang bermaksiat, tentu kehancuran melummat dirimu sampai merusak jiwa, menjalar kemudaian merusak konstruksi agama sampai kebutaan hati menyelimutimu berakhir dengan kelenyapan iman. Di samping itu berbagai penyakit menyerang, fakir datang, maka ludeslah perbendaharaan, akhirnya kamu butuh kepada teman-teman sejawat dan musuh-musuhmu.

Celaka kau munafik, jangan menipu Allah, kau beramal sesuatu amal sembari memperlihatkan kepada manusia, padahal amal itu untuk Allah. Rupanya kamu ahli beriya’, ahli pengibul dan lupa Tuhan. Tidak lama kau akan terlempar dari dunia dengan kemiskinan. Wahai pengidak penyakit dalam, peliharalah pengobatanmu – inilah terapinya – yaitu kamu jangan bergaul sesama ciptaan kecuali dengan orang-orang shalih, ambillah terapi dari mereka dan amalkanlah tentu kesembuhan segera mendekatimu selamanya; meliputi kesehatan ma’ani, hati, sirr bahkan kamu dapat bersembunyi bersama Tuhan; Kala mata hati di buka, kamu melihat Tuhan, kini kamu berarti tergolog orang yang dicintai Allah yang selalu siaga di pintu-Nya – tanpa melihat – sesuatu selain Dia. Tapi bila hati berisi bid’ah bagaimana bisa digunakan untuk melihat Allah?

Wahai manusia, beritba’lah (Mengikuti perilaku Nabi saw. dalam kehidupan sehari-hari) jangan berbid’ah, bersesuailah jangan bersyirik, Esakan Allah jangan tinggalkan pintunya, pintalah Dia jangan pinta yang lain, pintalah pertolongan dengan-Nya jangan yang lain, tawakallah kepada-Nya jangan kepada yang lain. Wahai khowash, serahkan jiwa ragamu untuk-Nya, relakan apa yang ditentukan Dia, padati hari-harimu dengan mengenang bukan memohon. Pernah kamu dengar firman Allah :

“Barangsiapa memadati hari-harinya dengan mengenang Aku meliputi masalah yang Kubawa, tentu ia Kuberi sesuatu yang lebih baik daripada yag Kuberikan kepada peminta.”

Wahai orang yang sibuk mengenang Allah dan meluluhkan hati karena Dia, jika kamu rela atas pemberian Allah, tentu Dia menjadi teman dudukmu. Allah berkata :

“Aku menjadi teman duduk orang yang mengenang (dzikir) kepada-Ku.”

Juga katanya :

“Aku di samping orang yang luluh hati karena Aku.”

Wahai sahaya, kenanglah Dia tentu memperekat hati kepada-Nya dan membawamu masuk ke pesanggrahan yang dekat dengan-Nya, dan memperlakukanmu sebagai tamu, sedang di mana saja tamu pasti dimuliakan, apalagi sebagai tamu sang Maha Raja (Allah).

Kamu jangan membuat masalah baru (bid’ah) dalam agama Allah, ikutilah para ssaksi yang adilm berdasar Kitab dan Sunnah, karena keduanaya itu bisa mempertaut kepada Allah, tapi jika kamu berbid’ah, maka saaksimu (syahid) adalah hawa dan nafsu, yang berarti mempertaut diri dengan neraka secara pasti, di sana kamu akan  dipertemukan Fir’aun, Haman beserta bala tentaranya.

Jadikan lakumu untuk mencari ilmu dan amal, jangan jadikan untuk mencari dunia. Dalam waktu dekat lakumu akan terputus, karena itu jadikan ia dalam hal yang membawa ma’rifat.

Wahai sahaya, menghadaplah dan jalinlah sesuatu untuk mencari ridla Tuhan, karena bila Dia berkenan meridlaimu niscaya Dia menyintaimu. Himmahmu adalah apa yang menjadi tujuanmu, jika himmahmu dunia berarti kamu penyertanya, bila himmahmu akhirat berarti kamu bersamanya, bila himmahmu ciptaan berarti kamu pengiring mereka, dan jika himmahmu Allah berarti kamu bersama Dia, baik dunia atau akhirat.

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 46 : IKUTILAH JEJAK LANGKAH RASULULLAH S.A.W

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pada Ahad , 28 Rajab tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Dunia diperumpamakan pasar yang tidak lama lagi pasti tertutup. Tutuplah pintu penglihatan untuk ciptaan, bukalah jalan penglihatan menuju Allah, tutuplah jalan-jalan keuntungannya, causalita dalam situasi hati yang jernih dan pendekatan sirri dalam sesuatu yang memperkhusus dirimu; bukan yang umum; dari keahlian atau pengikut, tapi usahakan keuntungan selain untukmu, mafaat selain untukmu, pendapatan selain untukmu, sebaliknya carilah sesuatu yang memperkhusus dirimu dari berbagai keutamaan-Nya. Tempatkan dirimu bersama dunia, hatimu bersama akhirat, sirrimu bersama Allah, sesungguhnya kamu menyadari apa yang menjadi kehendak-Nya.

Ulama itu sebenarnya pengganti para Nabi, maka terimalah kata mereka – meliputi perintah – karena mereka hanya memerintah berdasar perintah Allah dan Rasul-Nya, juga membendung apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, juga membendung apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, mereka bicara sambunglah, mereka memberi ambillah, mereka tidak bergerak menurut gerak tabi’at kemanusiaan atau mengikuti letupan nafsu mereka. Mereka tidak perrnah meyekutukan Allah – dalam agama – karena terbawa oleh keinginan yang rendah. Ikutilah Rasulullah, baik menurut kata atau tindakannya. Firman Allah :

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu hendaklah kamu terima dan apa yang dilarangnya hentikanlah.” (Qs. LIX :7).

Ikutilah Rasulullah sehingga memperdekat dirimu darinya yang berarti memperdekat dengan Allah.

Wahai munafik, kau kira agama itu membawa kebencian, dan urusan yang dibawa sia-sia? Sungguh tiada kemuliaan bagimu termasuk pembujuk dan teman-temanmu yang buruk !

Wahai Allah, limpahkanlah taubat untukku dan untuk mereka, lepaskanlah mereka dari kehinaan sifat-sifat munafik dan keteguhan syirik.

Sembahlah Allah, mohonlah bantuan untuk mampu menyembah-Nya yaitu dengan mencari barang halal, karena Allah menyukai orang beriman yang tunduk, makan dari hasil halal. Dia menyukai mereka yang makan dari hasil kerja dan membenci orang yang makan tapi tidak suka bekerja. Dia menyukai orang yang makan atas hasil usaha sendiri, dan membenci orang makan dari hasil kemunafikan di samping dari hasil penggantungan kepada sesama ciptaan. Dia mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang bersekutu (bersyirik). Demikian di antara syarat orang yang menyinta lagi bersesuaian dengan-Nya.

Serahkan jiwamu kepada Tuhan, relakan atas kehendak-Nya di dunia sampai akhirat. Suatu hari aku pernah mendapat cobaan maka aku memohon kepada Allah untuk kesembuhannya, tetapi justru datang lagi cobaan lain menimpaku, ketika itu aku berikhtiar, tiba-tiba ada suara berbicara padaku : “Apakah kamu hendak mengalihkan coba itu kepada kami dalam situasi permulaanmu, jika kamu benar-benar pasrah, maka sopanlah dan diamlah.”

Celaka kau, mengaku cinta Allah, ternyata kau mencinta yang lain. Dia adalah penjernih, padahal yang lain pengaruh. Bila kamu membaut keruh di atas kejernihan dengan laku menyinta yang lain – bukan Allah – justru perbuatan itu memperkeruh dirimu. Dia berbuat kepadamu tidak beda seperti yang diperbuat atas Ibrahim a.s. dan Ya’kub a.s. ketika sibuk menyeru orang tuanya dengan membakar hati keduanya. Ibrahim dan Ya’kub sama-sama diuji. Nabi kita Muhammad saw. kala cenderung sibuk kepada anak menantunya (cucu) yakni Hasan dan Husain, Jibril datang kepada beliau, katanya : “Apa kamu mencinta mereka? Nabi menjawab : “Ya benar”, Lalu Jibril berkata : “Satu di antaranya akan diracun dan yang lain akan dibunuh”.  Maka segera Nabi mengusir rasa kecintaan itu dari hati dan menghabiskan waktu untuk Tuhan, dengan demikian beralihlah kegembiraan terhadap kedua cucunya dengan kedukaan atas mereka.

Sungguh Allah amat cemburu terhadap hati para Nabi, para Wali dan para hamba yang shalih. Wahai pencari dunia, dengan laku munafiq bukalah tanganmu tentu kamu tidak melihat sesuatu pun di sana. Celaka, kamu tidak suka berusaha, kamu hanya suka duduk sambil menikmati harta orang lain dengan imbangan agama. Bekerja adalah termasuk perbuatan para Nabi seluruhnya. Bukan termasuk golongan mereka kecuali orang yang sedia bekerja, di akhirat nanti mereka mengangkat manusia atas izin Allah.

Wahai pemabuk tuak dunia, kegemerlapan dan kegialannya, dalam waktu dekat, kamu akan diluruskan dalam luang kuburmu !.

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 45 : BERPEGANGLAH ENGKAU PADA TALI YANG KUKUH

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pada Jumaat, 26 Rajab tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Sabda Nabi Muhammad saw. :

“Amat dilaknati orang yang berteguh dengan makhluk semisal dirinya.”

Betapa banyak orang yang terbilang mendapat laknat seperti ini, selebihnya hanya ada satu golongan manusia yang berteguh dengan Allah. Di antara orang itu adalah seperti yang difirmankan Allah :

“Sesungguhnya dia telah berpegang pada tali yang teguh.” (Qs. 2:256).

Barangsiapa berpegang teguh dengan makhluk maka ia laksana orang menggambar air, kala tangan dibuka ia tidak melihat apa-apa.

Celaka, ciptaan kau jadikan sentral kebutuhan, baik sehari, dua hari, tiga hari, sebulan, setahun atau dua tahun, padahal di akhirat mereka justru bosan dirimu. Peliharalah komunikasi bersama Allah, adukan kebutuhanmu kepada-Nya, karena Dia tidak akan pernah membosankan. Orang bertauhid dalam keteguhan tauhidnya tidak mengenal kata ayah atau ibu, keluarga atau teman, musuh atau harta, pangkat atau kediaman, semua itu tidak ada dalam hati selain bergantung di pintu Allah dan pemberian-Nya.

Wahai orang yang berbpegang teguh pada uang, apa yang ada dalam genggamanmu, tidak akan lama tentu lenyap, bahkan siksa akan menimpamu. Wahai orang tolol, pelajarilah ilmu karena Allah, amalkan ia, karena ia penuntun dirimu. Ilmu itu lambang kehidupan, ketololan itu lambang kematian. Orang benar jika usai mendalami cabang-cabang ilmu kemudian mendalami satu ilmu (spesialisasi) yaitu ilmu hati dan sirri, bila telah menekuni ilmu ini, ia menjadi pelindung agama Allah, mencegah menurut pencegahan-Nya, ia mengambil sesuatu dari tangan mereka berdasar perintah Allah; di sini berarti hukum telah mengiringi mereka dan bersama Allah dengan ilmu.

Orang arif itu selalu siaga di pintu Allah, ia dipasrahi ilmu ma’rifat, diperlihatkan segala perkara yang tidak diperlihatkan kepada orang lain, bila diperintah agar memberi, maka ia segera memberikan jal itu, jika diperintah untuk menggenggam hak itu ia pun menggengggamnya. Sertai ilmu dan ulama yang beramal dengan ilmunya, jika kamu bersabar menyertai ilmu – pertama – maka tentu ia mengikuti untuk yang kedua. Bersabarlah dalam pelayana itu, jika kamu sabar melayani ilmu, niscaya diberi kefahaman hati dan diberi cahaya batin.

Wahai manusia, serahkan perkaramu kepada Allah, karena Dia Mahatahu daripadamu, tinggalkan keleluasaannya karenadari waktu ke waktu terdapat keleluasaan. Ikutilah Allah dan bukalah pintu-Nya, tutuplah tembusan-tembusan pintu makhluq, jika hal itu terjadi dirimu dilihatkan keanehan-keanehan yang tidak terdapat pada perhitunganmu.

Tidakkah kamu sadari jika Allah menghendaki dirimu membawa manfaat untuk orang lain tentu menjadikan dirimu bermanfaat bila Allah berkehendak menjatuhkan di hadapan manusia maka hal itu menipu memperlunak dan memperketat hati mereka. Dia Mahapenghidup lagi Mahamematikan, Maha Awal dan Akhir, Lahir dan Batin, setiap permasalahan itu tidak pernah berobah bagi-Nya. Tancapkan iktikad ini dalam hati, berbaiklah dalam pergaulan bersama manusia dengan sifat-sifat lahir, sebab perrmasalahan ini menjadi tradisi orang-orang shalih yang bertakwa kepada Allah dalam segala kondisinya. Mereka juga berkeliling untuk berdakwah menurut kajian akal yang selaras dengan hati mereka – disetai akhlak mulia – yaitu akhlak Qur’an dan Sunnah, dan menyeru mereka untuk mengikuti kedua konsepsi tersebut, jika mereka menerima tentu kepayang kepadanya jika mereka lari dari kedua konsepsi itu, berakibat tanpa membawa kesan antara mereka (orang-orang shalih) dan mereka sendiri (ma’du), tanpa ada jalinan cinta kasih. Jadikan hatimu sebagai tempat ibadah, sekali-kali kamu jangan menyeru Allah bersama ciptaan. Firman Allah :

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk Allah (semata) sebab itu janganlah kamu puja siap jua pun bersama Allah.” (Qs.LXXII :18).

Jika telah mencapai peringkat ibadah ini – dari Islam ke Iman, dari Iman ke Yakin, dari Yakin ke Ma’rifat ke ilmu Mahabbah (cinta) dari Mahabbah ke Mahbubiyah, dari pencarinya ke orang yang mencarinya, jika kamu lupa tidak sampai tertinggal dan jia lalai akan teringat, jika tidur akan terbangun, jika lupa segera bangkit, jika dikuasakan segera menerima, jika diam bicara, maka semuaitu tidak akan pernah hilang; terus menerus siaga secara bersih karena ia telah terjernihkan oleh pusat hati. Seperti yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw : “Bahwa mata beliau tidur tapi hatinya tidak tidur. Ia melihat dari balik tabir seperti melihat wujud aslinya, setiap individu terbangkit olehnya menurut kemampuan akan keberadaannya.

Adapun Nabi saw. tidak bertaut pada seseorang pun sampai ia membangkitkannya, dan ia tidak ingin menyatukan seseorang dalam kekhususannya. Selain kaum abdal, para wali dan ummatnya yang ingin menyucup selisih makanan dan minuman. Beliau berikan setitik hamparan dan sekerat mutiara dari keagungan keramatnya, karena mereka sedia mengikuti beliau.

Orang yang menggenggam aga,a Islam tentu membantu beliau untuk mengedarkan butir-butir ilmu agama dan syariat beliau sampai kiamat. Ikutilah milad Ibrahim – pilihan Allah – yang berspekulasi mencari Tuhan melalui bintang, bulan dan matahari; yang terakhir beliau berkata : “Aku tidak suka sesuatu yang tenggelam, sesungguhnya aku menghadapkan wajah (diri) ku kepada Dzat yang mencipta langit dan bumi secara lurus dan bukanlah aku termasuk orang-orang musyrik.”

Setelah lama Ibrahim bersandar atas kekeliruan itu lalu mengenal Allah, segera beliau membenarkan-Nya, maka terbukalah pintu kebenaran dan hatinya terseruu untuk memasuki, kemudian observasi Ibrahim dijadikan contoh bersama sesuatu yang berlaku di dunia akhirat. Sedang kini beliau memahami hal itu datang dari Allah. Berpengaruh, jadilah pusat hatinya berada di sisi Allah dan menanggalkan selain-Nya, jadilah beliau sebagai penghamba mereka, ya penghamba semata untuk Allah, merdeka terhadap sesuatu selain Dia secara mutlak, di langit, di bumi Ibrahim tidak dikendalikan sesutu, justru beliau mengendalikan sesuatu itu. Tak ayal beliau menjadi pemimpin yang tidak terpimpin selain Allah, pintu terlintas di hadapannya dengan izin mutlak, tanpa penghalang atau penutup.

Wahai sahaya, jadilah pembantu manusia, karena dunia akhirat melayani mereka; yakni dimana saja mereka kehendaki segera mencomotnya dengan izin Allah, bila demikian tentu kamu diberi lukisan keberadaan dunia yang bermakna akhirat.

Wahai Allah, berilah kearifan kepada kami dan mereka, dunia dan akhirat. 

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 44 : DUNIA ADALAH PENJARA BAGI ORANG YANG BERIMAN

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Selesa Petang,  23 Rajab tahun 545 Hijriyah, di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Orang beriman itu jauh di dunia, sementara ahlu zuhud jauh di akhirat dan orang arif jauh dari selain Allah. Orang beriman itu terpenjara dalam dunia, kendati ia punya kelapangan rizki dan tempat persinggahan keluarga, tapi mereka sama mentransfer harta dan kemuliaannya, lalu mereka riang ketawa di sekitarnya, sedang mereka berada dalam penjara batin. Riangnya di wajah sedih dalam hati, ia mengenal dunia tapi secepat itu ditolak hati. Pertama kali sesuatu yang ditolak – satu tolakan – karena takut kalau sampai membalikan pandang, maka ketika berbuat hal itu tiba-tiba pintu akhirat terbuka untuknya. Kemudian ia datang dengan wajah berseri sembari menolak dunia – sebagai penolakan kedua – ketika itu akhirat datang mendatanganinya dan memeluknya, tetapi dunia tetap ditolak untuk penolakan ketiga kali, lalu ia bermukim bersama akhirat, ketika itu kelembutan dan cahaya Allah mendatanginya, lalu akhirat pun ditolak. Dunia berkata : mengapa engkau ditolak? Ia menjawab : Kurasa aku lebih baik darimu. Akhirat juga berkata : Kenapa kamu tolak aku? Ia menjawab : karena aku baru diadakan lagi tergambar, sedang kamu lain darinya, bagaimana aku tidak menolakmu? Maka ketika itu nyatalah ma’riffat kepada Tuhan lebih sempurna, praktis ia terbebas dari selain Allah, jauh dunia, jauh akhirat, kosong dari segala sesuatu sehingga dunia terbalik menjadi pelayannya.

Tujulah Tuhanmu dengan perangkat yang ada ini, tinggalkan pagi ini sampai jauh kemarin, semoga esok nanti datang lagi, sedang kamu telah mati. Wahai orang kaya, janganlah pongah dengan kekayaanmu, mungkin esok datang apdamu sedang kau telah fakir. Janganlah keberadaanmu bersanding dengan sesuatu, tetapi bersandinglah selalu bersama Allah. Tradisikan beribadah, tinggalkan kebinasaan, jika tradisi buruk hangus terbakar pula hukum yang ada di alam tradisi itu; untuk merombak; sehingga Allah merombak dirimu, Firman-Nya :

“Sesungguhnya Allah tiada merobah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merobah keadaan diri mereka sendiri.” : (Qs. 33:11).

Keluarlah nafsu termasuk   ciptaan yang mendekam dalam hati, saratilah dengan memberadakan keduanya sampai keberadaan itu kembali untukmu. Betapa, ini sesuatu yang datang di sertai puasa siang dan sholat  di malamnya disertai kesucian hati dan kejehrnihan sirri.

Ada ulama berkata : Bahwa puasa dan shalat di malamnya itu sunyi dan tumbuh di atas hidangan dan makanan, selamanya keduanya benar, pertama datang makanan lalu datang warna setelah warna makanan, kemudian dimakan, menyuci tangan lalu datang menjumpai Allah, kemudian sunyi, terputus, ramai, kembali, menyerahkan tempat tinggal dan tercabut.

Jika hati telah baik kepada Allah, bertempat di dekat-Nya, maka ia diberi kekuasaan seisi bumi dan spektrum (pancaran sinar) dakwah diserahkan untuknya – dari tangan ciptaan – bersabar atas siksa mereka, untuk merombak kebatilan juga diserahkan kepadanya; termasuk hakikat kebenaran diberikan dan diperbekalkan. Kalaupun ia diberi kaya batinnya tetap terpenuhi hukum Allah.

Wahai sahaya, makanan haram itu bisa mematikan hati, tapi makanan halal justru memperhidup hati, satu suap mampu menerangi hati dan sesuap yang lain justru memperpendeknya, satu suapan menempa hidup di dunia dan satu suapan lain menempa kehidupan di akhirat, sesuap menjauhkan diri dari dunia – akhirat dan sesuap yang lain cukup mempersuka untuk mencari keduanya, makanan haram membimbangkan hidup di dunia, mendorong jiwa cenderung untuk berbuat maksiat, tapi makanan halal mempertebal diri ke akhira dan mendorong kecenderungan untuk bertaat, makanan halal memperdekat hati kepada Allah. Nah, demikian makanan yang tidak kamu ketahui rahasianya kecuali disertai ma’rifat Allah. Ma’rifat Dia sesungguhnya terletak dalam hati, bukan dalam buku, ia ada dari-Nya bukan dari manusia.

Hanyasaja ma’rifat bisa diperoleh setelah beramal berlandas hukum Allah, ya, setelah pembenaran dan kebenran, setelah bertauhid dan berteguh dengan-Nya dan setelah semua ini merdeka dari ciptaan. Bagaimana kamu mengenal Allah, padahal yang kamu kenali selama ini hanya sekitar makanan, minuman, busana, kawin tanpa memperdulikan dari mana semua itu diperoleh.

Nabi Muhammad saw. bersabda :

“Barangsiapa tidak memperdulikan dari mana makanan dan minuman diperoleh, maka Allah juga tidak mengambil peduli dari pintu mana ia dimasukkan ke dalam neraka.”

Kamu tidak perlu menghiraukan keberadaan ini, jangan mabuk kepayang dengannya, jangan tertempa sesuatu itu, jangan kau perkuat ciptaan darinya, selain kamu membicarai mereka tentang masalah-masalah yang bisa mereka cerna. Sampaikan untuk mereka apa yang diberikan Tuhan, bertatakramalah kepada mereka dengan sesuatu kemuliaan yang diberikan-Nya, berlemah lembutlah bersama mereka, ciptakan kondisi lakumu menurut akhlaq Allah dan kondisi tindakan menurut perintah-Nya.

Pengajar (guru) itu ada dua kriteria; yaitu Guru Hikmah dan Guru Ilmu. Dia-lah type manusia yang menggiring dirimu menuju pintu Allah. Di lain pihak ada dua pintu yang pasti dimasuki manusia; yaitu pintu makhluk dan pintu Allah, pintu dunia dan pintu akhirat. Pertama pintu makhluk, kedua pintu Allah. Dalam hal ini kamu tidak mungkin memahami rahasia pintu akhirat kecuali bila kamu menggladi pintu pertama; yaitu pembebasan hati dari unsur dunia sampai masuk ke pintu akhirat. Sambutlah Guru Hikmah hingga mengantarmu sampai ke pintu Guru ilmu, bebaskan diri dari makhluk sampai mengenal Allah. Dia Mahatinggi – di atas ketinggian, keduanya itu selamanya ta’arudl (kontra) tidak pernah bisa diakurkan. Demikian sesuatu yang bertentangan, karena itu kamu tak perlu spekulatif mencarinya dalam usaha pemaduan, itu tidak akan berhasil. Lepaskan hati yang seharusnya menjadi persemayaman Asma Allah, jangan menggandeng yang lain. Bila Malaikat saja tidak mau masuk rumah yang didalamnya terpampang gambar, maka bagaimana Allah sudi memasuki hati yang berpenghuni patung berhala; selain Dia termasuk berhala; karena itu hancurkan ini, sucikan kediaman ini tentu kamu melihat persesuaian dengan-Nya mendatangimu, di samping itu kamu akan bisa melihat keajaiban-keajaiban yang belum pernah kamu lihat.

Wahai Tuhan kami, berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat dan lepaskanlah kami dari siksa neraka.

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 43 : JIKA KAMU INGIN BAHAGIA TENTANGLAH NAFSU MU

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Ahad pagi, 21 Rajab , Tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Wahai sahaya, jika kamu ingin beruntung, tentanglah nafsumu dalam rangka menyesuaikan diri dengan Allah. Kamu menghijab diri berma’rifat dengan ciptaan, dan ciptaan menghijabmu dari berma’rifat Allah. Selagi kamu bersama nafsu, selama itu tidak mengenal Dia, selagi kamu bersama dunia tidak akan mengenal akhirat. Demikian halnya Allah dan makhluk tidak bisa dipadukan.

Nafsu itu senantiasa menyuruh berbuat jahat – demikian sebagian besar – lalu ia menjauhkan diri sampai kau terperintah tunduk di bawahnya dengan komando hati. Tentanglah dia dalam segala kondisi hidup, jangan kau perbantukan untuk dirimu. Allah berfirman :

“Dan diilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (yang benar)”. (Qs. XCI :8).

Olahlah dia dengan mujahadah, karena bila ia terolah sedang kamu jadi fana’, maka tenteramlah kamu bersama hati, kemudian menenteramkan hati menuju sirri, kemudian menenangkan sirri menuju Allah. Dari sini kamu jadi pusat perhatian ciptaan. Bila pengolahanmu sempurna ia terpanggil menurut kehendak hati.

“Dan janganlah kamu membunuh bangsamu sendiri, sesungguhnya Allah itu penyayang kepadamu.” (Qs. 4:29).

Hanya saja khitob ini dikemukakan oelh Allah setelah ia bersih dari keruh, tercair buruknya dan hati terharumi dengan mengenang Allah beserta Taat.

Bila ini tidak bisa diperoleh, maka jangan harap bisa dekat Allah, bagaimana kamu memperoleh kedekatan diri dari Allah sedang dirimu masih terlekati najis dan kependekan beragama; padahal kamu mengikuti setiap kehendaknya. Turuti ia dengan penuturan Rasulullah :

“Jika kamu berpagi hari maka kamu jangan perbincangkan dirimu di waktu sore, dan jika kamu bersore hari maka  jangan perbincangkan dirimu diwaktu pagi, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi dirimu besok.”

Katakan : bagaimana apa yang kamu perbuat dan atasmu apa yang kamu perbuat. Hanya satu yang kau kerjakan tapi tidak kau berikan dengan amalmu sedikitpun, apalagi berupa amal dan mujahadah. Kebenaranmu tergantung atas penolakan musuh-musuhmu, aku lihat kamu berada di sisi ciptaan bukan di samping Allah. Berikan hak (kewajiban)mu dan sifat kemakhlukanmu, berikan hartamu sebagai hak Allah sambil mensyukuri nikmat-Nya, jika kamu tahu bahwa sesuatu yang ada di sisimu itu semata datang dari Allah di mana syukurmu, dan jika kami tahu bahwa Dia yang menciptamu, maka di mana ibadahmu, penunaian perintah-Nya mencegah larangan-Nya dan sabar atas coba, perangi nafsumu hingga memeproleh petunjuk.

“Dan orang-orang yang berjuang dalam (urusan) Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami (Qs. XLVII:7).

Kamu jangan terima ia dengan ucapan, karena ia tidak menyuruh selain keburukan, jika kamu menjawabnya, jawablah dengan perlawanan tentu membawa kebaikan. Wahai pengaku menerima kehendak Allah, padahal ia mengikuti nafsunya, amat dusta pengakuanmu. Nafsu dan Al Haq selamanya tidak bisa disatukan, dunia akhirat tidak bisa dikompromikan, barang siapa bersama nafsu berarti hilanglah kebersamaan dengan Tuhannya, barangsiapa bersama dunia lenyaplah kebersamaannya dengan akhirat.

Sabda Nabi saw. :

“Barangsiapa mencinta dunia berarti mempersempit akhiratnya, dan barang siapa lebih menyintai akhirat, berarti mempersempit dunianya.”

 Nabi saw.

Sabarlah, bila sabarmu sempurna, sempurna pula ridlamu, kemudian fana’ mendatangimu, maka segala ini jadi baik, beban terbalik jadi syukur, jauh jadi dekat, syirik jadi tauhid, berdampak kamu tidak melihat adanya ciptaan membawa dlar atau naf’, kamu tidak lagi melihat musuh, sebaliknya lebih bersandar pada pintu Allah dan bertekun diri. Ketika itu kamu tidak lagi melihat kecuali bertekun yang satu – dalam situasi yang bagaimana tidak menambat ciptaan, hanya untuk satu manusia yang bagaimana tidak menambah ciptaan, hanya untuk satu manusia dari setiap juta manusia, sampai terputus oleh jiwa yang satu.

Wahai sahaya, bertekunlah sampai mengantar kematianmu, di sana – di hadapan Tuhan – bertekunlah sampai nafsumu tersumbat sebelum ruh keluar dari tubuh, kesabaranmu terfana’ tetapi balsannya tidak. Sesungguhnya aku bersabar, karena aku lihat dampak bersabar itu terpuji; ia (naffsu) bisa mati, hanya dengan sabar dan perlawanan, maka dalam waktu dekat ia akan membawa keuntungan yang memujamu, ia mematikan lalu menghidupkan aku lalu mematikan aku, melenyapkan aku lalu menemukan aku dari kelenyapan itu, aku binasa bersamanya dan menguasai bersamanya, jiwaku bertekun dalam rangka meninggalkan ikhtiar dan iradah sampai hal itu ku peroleh, maka jadilah qadar memperkuat daku, munnah menolongku, perebuatan menggerakan aku, cemburu menjagaku, aqdar mempertaat aku, bersegera memajukan aku dan Allah mengangkat derajatku.

Celaka, kau menjauh dariku padahal aku mengisimu, peliharalah tempat di sisiku, jika tidak niscaya kamu rusak, wahai orang tolol, berhajilah kepadaku lebih dulu kemudian baru ke Baitullah, aku pintu Ka,bah, kemarilah agar aku mempelajarimu bagaimana cara berhaji; aku yang mengajarimu, karena hal itu telah dikhitob untukmu – oleh Tuhan yang punya Ka,bah. Tentu akan kamu lihat kala debu-debu bertebaran, duduklah wahai pengerat, berlindunglah kepadaku karena aku telah diberi ketentuan Allah. Manusia sama menuruhmu atas sesuatu seperti apa yang aku perintah, rela, mencegah sejalan dengan pencegahanku, adapun pencegahan mereka atasmu telah dipasrahkan kepada mereka, nasihat untukmu, maka mereka melaksanakan amanat itu.

Bersamalah dalam persinggahan, berhikmah sampau mempertaut dirimu pada persinggahan qudrah. Dunia adalah hikmah akhirat sebagai qudrah, hikmah membutuhkan perabot, kuasa dan qudrah tidak membutuhkan itu, tetapi perbuatan Allah meliputi hal itu, agar terbeda kediaman qudrah dari kediaman hikmah, akhirat di dalamnya timbul tanpa sebab, ia membicaraimu, menyaksikanmu atas perbuatan-perbuatanmu yang melanggar ketentuan Allah, di hari kiamat hijab-hijab terbuka darimu dan tampak jelas kerendahan – baik kamu bersedia atau menolak  -- tiada seorang pun masuk neraka kecuali jika berhati beku, bacalah Kitabmu dengan perantara Sunnah, resapi kandungannya, lalu bertaubatlah dari berbagai keburukan dan bersyukur atas kebaikan, ringkaslah catatan maksiat, kemudian robahlah menjadi Taubat.

Wahai sahaya, bertaubatlah melalui aku, dan menjalin sahabt denganku, jika kamu tidak menghadap aku tentu aku tidak akan bicara kepadamu. Mana mungkin ini bermanfaat bagimu; bentuk ilustrasi yang kau sukai; tanpa arti, siapa berkehendak temani aku, terimalah kataku, amalkan ia. Berapa kali aku bicara denganmu tapi kamu tidak menggubris atau mendengarnya, sebenarnya kamu membutuhkan ddiriku, bukan aku, aku tidak takut kamu tidak mengharapkanku atau tidak memisah antara keruntuhan dan keramaian, antara yang tetap dan yang mati, antara kaya dan fakir, antara milik dan penguasa, ketentuan berada dalam kekuasaan selain kamu. Ketika aku keluarkan rasa cinta dunia – bersama hati – aku jadi baik, bagaimana tauhid bisa baik sedang hati masih terbersit cinta dunia. Kamu dengr sabda Nabi saw. :

“Cinta dunia itu, menjadi pemula setiap kesalahan.”

Celaka, kamu sia-siakan masa untuk mencari ilmu tanpa pengamalan, sebenarnya yang demikian malah mengantar dirimu pada kebodohan. Kamu bantu musuh-musuh Allah dan bergelantung kepada mereka, padahal Dia lebih kaya daripadamu atau orang yang kamu gantungi, penggantungan itu tidak diterima. Sampai kini yang masih aku ketahui adalah; ternyata kamu penghamba orang yang mengendalikan ddirimu,jika ingin beruntung lepaskan kendali hati melalui Kuasa Allah, tawakkal kepada-Nya sebentar tawakal. Layani Dia lahir dan batin, Dia Maha Mengetahui dirimu – meliputi kebaikan atau keburukan yang mengeram dalam hati – sedang kamu sendiri tidak menyadari. Peliharalah sikap dia (takut) di hadapan-Nya, berpejam mata, berlintas hati dan kelu sampai memperoleh izin dari-Nya melalui penuturan, maka kamu pun bertutur melalui-Nya – bukan darimu – ketika itu tutur katamu menjadi terapi penyakit hati, penyembuh rahasia dan penerang akal.

Wahai Allah, sinarilah hati kami, rendahkan kepada-Mu dan jernihkan sirri kami dekatkan dari-Mu.

Dan berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 42 : TAQWA KEPADA ALLAH ADALAH SUMBER KEMULIAAN

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pagi Jumaat Pagi , 19 Rajab tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Ma’murahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Nabi bersabda :

“Barngsiapa lebih suka menjadi manusia termulia hendaklah bertakwa kepada Allah, dan barangsiapa lebih suka menjadi manusia terrkuat, hendaklah bertawakal kepada Allah, dan barang siapa lebih suka menjadi manusia terkaya, hendaklah kukuh menggenggam sesuatu yang ada dalam kekuasaan Allah melebihi kekukuhan sesuatu yang ada pada dirinya.”

Barangsiapa lebih suka mendapat kemuliaan dunia akhirat bertakwalah kepada Allah, karena Dia berfirman :

“Sesungghnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah, ialah  yang lebih bertakwa.” (Qs. IL:13).

Kemuliaan terletak menurut ukuran takwa kepada Allah, dan kehinaan terletak menurut jalan maksiat. Barangsiapa lebih suka memperkokoh Agama Allah, maka bertakwalah kepada-Nya, karena takwa itu memperjernih hati, memperkokoh, mengajar dan memperlihatkannya pada keajaiban. Sekali-kali kamu jangan bergelanyutan pada uang dan causalita yang mengitarimu, karena hal itu hanya memperlemah dirimu, sedang takwa kepada Allah itu memperkokoh diri, memperjelas penglihatan, memperlunak dan membukakan untukmu berbagai jalur pembebas causalita tanpa diduga. Janganlah memperdulikan kedatangan dunia atau kelenyapannya, jika mampu maka ketika itu kamu menjadi oarng paling kuat. Penggantunganmu pada harta, pangkat, keluarga da causalita yang mengitarimu, sungguh bisa memalingkan diri dari Allah, sebab hal itu penipu yang tidak menghendaki hatimu terus melihat selain Dia.

Barangsiapa lebih cinta ingin kaya di dunia – akhirat, hendaklah bertakwa kepada Allah, berhenti di pintu-Nya, merasa malu jika hendak datang ke pintu yang lain, lalu pejamkan mata dari penglihatan yang menuju selain Dia; yang daku kehendaki dengan penglihatan disini adalah penglihatan hati.

Bagaimana kamu teguh menggenggam sesuatu yang ada padamu, sedang ia cenderung meninggalkanmu – sampai kamu mengesampingkan pertalian dengan Allah, padahal Dia tidak akan pernah lenyap, sekejap pun. Kedunguanmu akan hal ini malah bisa membawamu berteguh pada yang lain daripada teguh bersama Allah.

Wahai pemaling takwa, sungguh keramat dunia akhirat diharamkan atasmu, wahai orang yang bertawakal kepada sesama dan causalita, sungguh kekuatan dan kemuliaan bersama Allah diharamkan untukmu; dunia atau akhirat. Wahai orang yang teguh menggenggam sesuatu, sungguh kekayaan Allah diharamkan bagimu di dunia akhirat.

Wahai sahaya, jika ingin menjadi orang bertakwa, tawakal, peneguh, maka harus mampu memelihara sabar, karena hal itu merupakan landasan setiap kebaikan, bila nikmat bersabarmu telah bersih, maka bersabrlah karena Allah, niscaya Dia akan membalasmu;  yaitu memasukan rasa cinta-Nya dan pendekatan-Nya dalam hatimu di dunia atau di akhirat.

Kamu jangan sibuk mencari dunia dan berbangga-bangga atas sesama ciptaan, karena perbuatan itu tidak menghasilkan untung dari Allah sedikit pun. Hatimu saja kotor oleh syirik, skeptis (ragu) tentang keberadaan-Nya. Lagi membenci-Nya, kala diketahui hal itu menjadi sifatmu, ternyata kamu marah yang justru kau tuduhkan kepada orang-orang shalih.

Di antara Ulama rahimullah ada juga yang enggan keluar rumah kecuali setelah membalut mata – perbuatan itu dilakukan oleh puteranya – hal itu ditamppakkan di hadapan orang banyak. Jika ditanya orang ia menjawab : demikian ini sehingga aku tidak melihat orang kafir penentang Allah. Suatu hari ia keluar rumah dengan mata telanjang, ketika itu segera mendadak ada selelmbar penutup yang jatuh dari atas menutup matanya. Alangkah besar kecemburuan Allah, jika demikian bagaimana kalau kamu bersembah selain untuk-Nya, bahkan kamu menyekutukan segala? Bagaimana kamu tega menyantap nikmat pemberian-Nya, di lain pihak kafir kepada Dia?Kendati kamu tidak mencoba memperbaiki hal itu, sebaliknya justru bergantung orang kafir, dan serta merta merengek di hadapannya, suka menemani. Tentu saja dalam hatimu tidak terbersit rasa iman dan cemburu untuk Allah.

Peliharalah taubat, istighfar dan bermalu di hadapan Allah, tanggalkan busana penutup mulutmu untuk-Nya dan berjongkoklah di hadapan-Nya, jauhilah keharaman dunia beserta syahwatnya, kaerna perolehanmu pada dunia dengan hawa dan syahwat cukup mempersibuk diri, lupa Allah, Sabda Nabi :

“Dunia adalah sijn (penjara) bagi orang-orang beriman.”

Bagaimana orang Islam bisa bersukaria dalam penjara, sama sekali tidak meriakan; hanya keriangan tampak di wajah sedih dalam hatinya, dan Allah mencintai orang-orang penyabar.

Sebenarnya ini hanya sebagai ujian Allah karena amat mencintanimu, kala kamu turiti perintah-perintah Dia, mencegah larangan-Nya, bertambahlah cinta Allah, ketika kamu sabar atas coba, bertambahlah kedekatan Dia kepadamu.

Ada Ulama berkata : “Sesungguhnya Allah menolak untuk menyiksa kekasihnya, tetapi Dia hanya mencobai dan mempersabarkannya.

Nabi Muhammad sendiri bersabda :

“Seakan-akan dunia tidak ada, dan seolah-olah akhirat tidak sirna.”

Wahai pencari dunia, wahai pecinta dunia, kemarilah menghadap aku sampai aku tahu aibmu lalu aku tunjukkan jalan menuju Allah, dan aku pertemukanmu dengan orang-orang yang mengendari keridlaan Allah semata. Kini, sebenarnya kamu berada dalam lingkaran gila. Dengarkan kataku, amalkan konsepsi lalu ikhlaslah dalam beramal, jika kamu faham apa yang ku katakan kemudian sempurna dalam beramal niscaya terangkat ke illiyyin, di sana kamu lihat, bahwa pusat kataku berada di sana, percayalah atas kebenaran Isarah yang ku tunjukkan ini.

Wahai manusia, tinggalkan kegilaanmu, kepercayaan yang batil dan persibuklah dengan mengenang Allah. Bicaralah tentang sesuatu yang bermanfaat bagimu, berdiamlah atas perkara yang membawa bencana, jika hendak bicara pikirlah dulu, apa yang hendak dibicarakan dan hasil apa yang didapat – jika sudah – berniatlah yang baik, baru berbicara. Karena itu ada orang berkata : “Lisan yang tolol itu di depan hati dan lisan yang berakal lagi berilmu itu di belakang hati.”

Sibukkan dirimu bersama Allah, jika Dia mengendalikanmu bicara tentu Dia membicaraimu. Jika kamu menghendaki perkara segeralah menuju-Nya. Dia menemani segala kebisuan, bila bisu telah sempurna pembicaraan datang dari-Nya, atau mengekalkan dirimu sampai berpagut akhirat. Demikian amksud Sabda Nabi :

“Barangsiapa mengetahui Allah, penatlah hatinya.”

Suara lahir dan batin penat menyanjung Dia dalam segala kondisi hidup, lalu terjadi penyesuaian tanpa pembantah, mata hatinya buta memandang yang lain; hari-hari dunianya tercerai lalu menjauh dari keberadaannya, demikian pula dunia akhirat pun menjauh dan jabatannya lenyap :

“Sesudah itu apabila  dikehendaki-Nya dibangkitkan-Nya.” (Qs. LXXX:22).

Dia temukan setelah faqd (sunyi), Dia mengembalikan dalam bentuk lain, memfanakan dengan kuasa fana’ lalu Dia mengembalikan dengan kuasa baqa. Demikian tercapai pertemuan. Setelah itu Dia mengembalikan manusia untuk  berseru dari fakir ke kaya. Kaya adalah jika bersama Allah dengan menjalin pertalian dengan-Nya. Fakir adalah jauh dari Allah dengan memperkaya selain-Nya. Berkaya itu termasuk pertumbuhan hati, bedekat Allah, sedang fakir kebalikannya. Siapa ingin kaya tinggalkan dunia akhirat dan apa saja yang ada di sana.

Wahai Allah, tunjukkan hati kami kepadamu dan berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 41 : KECINTAAN TIDAK AKAN BERSATU DENGAN PEMILIKAN

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu bergerak melalui penggerak-Nya dan diam melalui pendiam-Nya. Jika hal ini telah menjadi kehendak-Nya, sudah barang tentu Dia menolak untuk dipersekutukan dengan ciptaan dan ciptaan bebas dari tanggungan yang dibebankan oleh-Nya, karena Dia tidak cela di hadapan meraka dan tidak menghendaki sesuatu yang ada di sisi mereka Dia menghendaki terahdap sesuatu yang mereka cari berdasar syar’i, itu cukup. Karena itu mereka harus mencari syar’i dan memperbanyak ilmu secara menyeluruh; yaitu antara hukum dan ilmu.

Ketahuilah bahwa perbuatan Allah atas ciptaan termasuk aqidah, yang dengannya tidak merusak hukum. Dia menentukan dan sumber pencarian. Firman-Nya :

“Dia tidak ditanya tentang perbuatannya dan merekalah yang akan ditanya.” (Qs. 21:23).

Ini menjadi akidah bagi setiap muslim yang yaqin, bertauhid, meridlai Allah, menerima ketentuan dan ketetapan-Nya. Dia Maha Kaya meliputi nafsu dan sabarmu, tetapi Dia juga melihat bagaimana amalmu; adakah benar atau dusta. Pencipta tidak mungkin membebani sesuatu pun beban kepada yang dicintai, cinta dan yang dikuasai tidak bisa disatukan dengan jalan kecintaan kepada Allah, namun kelurusan dalam mencintainya malah bisa mendatangkan penyerahan jiwa, harta, akhirat serta kehidupan kepada Allah semata.

Wahai orang yang mencintai Allah, cintamu tidak sempurna sampai kamu menerapkan kesungguhan (ketekunan) sebagai kewajiban, tiada satu pun yang tertinggal untukmu kecuali penekunan. Kecintaan mampu mengusir ciptaan dari lubuk hati dari arasy ke bawah (bumi), janganlah kamu mencoba untuk mencintai dunia atau akhirat, keagresifan untukmu dan kejinakan dengan Allah, sehingga dirimu seperti orang (Qais) yang gila kepada Laila. Ketika cintanya sudah tak tertahan lagi, ia menjauh dari keramian manusia demi kerelaan yang satu itu lalu merantau ke padang belantara  -- tempat-tempat binatang buas – ia menjauh dari  keramaian manusia lebih rela mengasingkan diri dalam bilik, ia menjauh dari pujian manusia atau cela mereka; praktis pembicaraan atau pendiaman mereka selalu berisi olokan yang mengiringinya – seorang diri – kerelaan darinya dan kebencian mereka dari sisi sendiri. Suatu hari orang berkata kepadanya : “Siapa kamu? Ia menjawab : “Laila”. Datang dari mana? “Dari Laila”, Ditanya lagi : “KE mana tamar (korma)?” Ia menjawab : “Laila”, Dengan demikian nyata sekali ia telah buta selain kepada Laila, tuli dari pembicaraan selains uara Laila, ia tidak akan kembali oleh celaan orang lain. Betapa bagus puisi yang disenandungkan oleh seorang Ulama :

“Ketiika nafsu membau keinginan rendah

Maka Perangai dibuat

Dalam besi yang dingin.

Hati, jika mengenal Allah dan mencintai, mendekati-Nya, maka keraslah ia terhadap ciptaan; keberadaannya tidak suka menerima makanan, minuman, pakaian serta persahabatan, ia liar dari keramaian, tiada sesuatu penguat kecuali ketentuan syara’, yaitu yang mengatur dalam perintah – larangan dan perbuatan, memperkuat dirinya sampai waktu datang ketentuan. Wahai Allah, janganlah Engkau menolak kami untuk mendapat rakhmat-Mu, sampai menyebabkan kami tenggelam dalam samudra dunia beserta keberadaannya. Wahai pemberi Mulia, tautkan – lah kami.

Wahai sahaya, siapa di antaramu tidak menerapkan aturan yang ku katakan, berarti ia tidak memahami kataku, jika menerapkan dalam perikehidupan berarti ia memahami. Pabila kamu tidak berbaik sangka kepadaku, tidak mempercayai kataku dan tidak mengamalkannya, bagaimana kamu bisa disebut memahami? Sebenarnya kamu itu lapar, kamu menunggu sisa makananku, tapi kamu sengaja tidak mau menyantap sisa makananku, bagaimana kau bisa kenyang.

Dari Abu Hurairah, r.a. ia berkata : Aku dengan Rasulullah saw. berkata :

‘ Barangsiapa sakit satu malam sedang ia rela kepada Allah, bersabar atas penyakit yang menimpanya, ia terrbebas dari dosanya seperti di hari dilahirkan ibunya.”

Alaha Muadz r.a. berkata kepada sahabatanya : “Bangkitlah kalian, mari kita beriman sesaat”, artinya : “berdirilah kalian rasakan (dzauq)-lah sesaat, bangkitlah kalian mesukan pintu sesaat untuk menemani mereka, Ketika itu ia berisyarah menunjukkan sesuatu memberi memejamkan mata, ia berisyarah pada penglihatan dengan mata yaqin. Belum tentu setiap Muslim mukmin atau setiap mukmin yakin. Karena itu ketika ada seorang sahabt bertanya kepada Nabi saw. katanya : “bahwa Muadz berkata kepada kami : “bangkitlah kalian kita beriman sesaat”, bukankah kita orang berriman? Nabi menjawab : “serulah ajakan-Mu’adz dan kehendaknya.”

Wahai penyembah nafsu dan hawa tabiat, setan dan dunia, dalam pandangan Allah atau para hamba yang shalih, sebenarnya kamu tak punya kemampuan, barangsiapa menyembah akhirat berarti tidak mengikuti-Nya, bagaimana penyembah dunia ?

Celaka, kamu berbuat hanya melalui lisan tanpa fakta, kamu dusta kendati menurut dirimu benar, kamu bersyirik, kendati menurut dirimu bertauhid. Sibukkan selalu untuk menyertaiku, aku menahanmu agar tidak berbuatdusta dan ku suruh agar berbuat benar. Padaku ada tiga penggosok, yang lebih kupahami adalah Kitab dan Sunnah, sedang hatiku sebagai penggosok akhir yang bisa memperjelas orang. Hati tidak akan sampai ke peringkat ini higga ia menetapkan amal berlandas kitab dan sunnah, beramal dengan ilmu, kejernihan yang amat jernih, mutiara di atas mutiara, batu di atas batu, amal yang disertai ilmu memperbagus hati sekaligus membersihkannya. Pabila hati bersih organ tubuh pun sehat, jika hati suci organ tubuh pun suci. Tapi jika hati sunyi dari hal itu, berarti ia sunyi pula dari surga, jika bagus konstruksinya pun sehat, kebersihan menunjukkan kejernihan sirri yang terletak di antara manusia dan Allah. Sirr itu laksana burung dan hati sangkarnya, dan jika hati diumpamakan burung maka konstruksi itu sangkarnya, bila konstruski itu semisal burung, maka kubur sebagai sangkarnya, dialah sarang hati yang tidak bisa tidak pasti harus memasukinya.

Selasa, 18 April 2023

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 40 : KEIMANAN HANYA TUMBUH PADA HATI YANG LEMBUT

(Percikan Cahaya Ilahi)

 

SULTHANUL AULIYA SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI

Pada Ahad pagi , 14 Rajab tahun 545 Hijriyah, di Madrasah Al’Mamurahnya.

 

Syeikh Abdul Qadir Al Jalani bertutur :

Sabda Nabi :

“Jika Allah menghendaki hambanya jadi baik, maka Allah menguasakan kefahaman agama kepadanya, dan penglihatannya selalu mengawasi aibnya sendiri (Instropeksi diri).”(Dikeluarkan oleh Dailami)

Faham agama adalah asalah satu jalur yang bisa mengenal jiwa. Barangsiapa mengenal Tuhannya, maka ia mengetahui segala sesuatu – melalui Dia --- sehingga peribadatan menjadi benar dan merdeka dari penakluk ciptaan. Tiada keberuntungan untukmu, tiada kebahagiaan sampai kemu mengikuti-Nya, yaitu mengikuti agama mengalahkan syahwat, akhirat atas dunia, Pencipta (Allah) atas cimptaan. Amalkan ini tentu kamu tercukupi. Rupaya kau tertutup dari Allah, tiada pengabulan untukmu, pengabulan hanya terjadi setelah menuruti perintah, jika kamu menuruti perintah-Nya  -- dengan amal – tentu permohonanmu terkabul, keberadaan tanaman hanya bisa tampak (tumbuh) setelah penanaman bibit, maka bercocoklah sampai kamu menuai akhirat. Nabi Muhammad saw. bersabda :

“Dunia itu ladang akhirat.” (Hadis Syarif)

Sedang cara bercocok tanam yang baik adalah dengan menggunakan hati dan anggota tubuh; yaitu iman lalu memeliharanya; mengairi dan menyirami dengan amal shalih. Bila hati bercokol di sana, maka ia pun lunak, halus dan rakhmat tumbuh di sana. Tapi bila kamu keras dan teramat kaku, tentu tanah itu jadi gersang tidak mungkin bisa ditanami, jika kamu bercocok di puncak gunung, niscaya ia tak kan tumbuh, bahkan ia mendadak rusak (harus dilihat di tanah mana, tentu yang dimaksud Sayyid Abdul Qadir adalah pegunungan di Arab), pelajarilah bercocok tanam itu, kamu jangan mengandalkan pendapat sendiri.

Sabda Nabi saw. :

“Ambillah pertolongan atas setiap pembentukan (perbuatan sesuatu) dengan membaiki pemiliknya.”

Sebenarnya kamu tipe manusia yang suka bersibuk urusan dunia, jika tahu bahwa mencari dunia itu tidak menguntungkan bersama akhirat, yaitu kamu tidak bisa menyaksikan (syuhud) Allah, apabila kamu menghendaki akhirat harus meninggalkan dunia, jika kamu menghendaki Allah, maka harus meninggalkan bagian dunia dan ciptaan, jika batasan ini telah baik justru dunia, akhirat beserta bagian-bagiannya dan ciptaan lainnya datang mengikutimu, baiks ecara rela atau terpaksa. Karena Dzat asal wujudnya semua materi itu bersamamu, sedang setiap cabang pasti mengikuti asalnya.

Jadilah pemikir. Amat sulit kamu memperoleh iman berakal sehat dan pendewasaan diri, bila saja masih menjagakan kehendak ciptaan, tentu kamu mudah binasa jika tak segera bertaubat. Wahai sahaya, tegarlah di hadapan Allah kendati cobaan mendepakmu, bertahanlah di atas pijakan cinta-Nya jangan goncang, jangan beringsut oleh angin atau hujan, jangan mudah terkoyak oleh panah, tegarlah lahir batinmu, tegakkan dalam tempat yang di sana tidak ada ciptaan, dunia akhirat atau bagian dari semua itu, jadilah bersama Allah di belakang penerimaan akal manusia, jin, Malaikat dan seluruh ciptaan. Betapa lebih bagus apa yang dikatakan Ulama : “Jika aku benar, ikutilah, dan jika tidak jangan ikuti kami.”

Juga ada Ulama berkata : “Ikutilah Allah sebagaimana yang kau perlakukan kepada ciptaan-Nya, dan janganlah mengikuti ciptaan sebagaimana kebutuhan geraknya kepada Allah.”

Koyaklah orang yang mengoyakmu, sombongilah orang yang menyombongimu.

Bagaimana aku memperdulikan kamu, sedang kau masih giat menentang Allah, merendahkan pintu-Nya dn mencampakkan larangan-Nya, tak perduli siang atau malam, sungguh kau terlaknat.

Firman Allah dalam sebagian Kalam-Nya :

“Jika kamu mentaati-Ku, tentu Aku meridhaimu, jika Aku rdha kamu terberkati dan kau pakai nihayah berkat Aku, tapi jika kamu menentang-Ku, nisscaya Aku memurkaimu, jika Aku memurkai berarti kamu terlaknat, sedang laknatku turun sampai ke tujuh keturunan.”

Rupanya masa kini berlaku penjualan agama dengan tanah, di mana iman selalu diselimuti peranganan yang panjang dan kelobaan yang kuat. Bertekunlah sampai kamu menjadi orang yang termasuk difirmankan Allah :

“Dan Kami datang dengan sengaja pada pekerjaan yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan debu yang bertebaran.” (Qs. Al Furqan :23).

Setiap amal yang diperuntukan selain Allah termasuk sia-sia (bertebaran).

Wahai sahaya, olahkanlah nafsumu dengan suka lapar, memagari syahwat, rasa, perkara-perkara lain dan olahlah hatimu dengan rasa takut dan muraqabah, jadikan istighfar sebagai pengolah nafsu meliputi juga hati dan sirri, karena setiap hal itu terdapat disa khusus, bisakan mereka dengan menetapi dan mengikuti-Nya – meliputi segala kondisi.

Wahai orang yang pendek akal, jika kamu tidak mampu menolak kehendak Allah, merubah, menghapus, atau menentang-Nya, maka kamu jangan coba-coba menolaknya menurut kehendakmu. Bila ia tidak medantangi jika dikehendaki kamu jangan menghendaki, bila ia menghendaki sesuatu kamu tidak bisa menyempurnakan, kamu jangansusahkan diri dan hatimu di dalamnya.

Pasrahkan segala bebanmu kepada Allah, bergantung di bawah rakhmat-Nya dengan menggantungkan taubatmu, jika kamu kekal dalam hal ini dunia tersingkir dari mata hati dan mata kepala, bahkan kamu malah meremehkan musibahnya, meninggalkan syahwat dan kelezatannya. Kamu jangan mengadu akan keberhentian mengalirnya atau kelapangannya, atau merasa pedih oleh cobaan seperti yang diterima Aisyah r.a. Isteri Fir’aun; kala ia menyatakan iman kepada Allah. Fir’aun bertitah agar menghukumnya dengan menjepit tangan dan kaki dengan lempengan besi, pada akhirnya ia menjatuhkan siksa dengan pencambukkan. Ketia ia mengangkat wajah ke langit , di mana ia melihat pintu-pintu surga di buka, sedang para Malaikat membangun istana di dalamnya, baru Malaikat maut datang mencabut rukhnya. Ketika itu bangunan-bangunan istana tersebut berkata kepadanya : “Aku milikmu” lalu ia pun tersenyum sehingga rasa ssakit tidak terasa, di penghujung hayat ia berkata :

“Wahai Tuhanku!, bangunkan bagiku istana di dalam surga.” (Qs. LXVI :11).

Nah, jika demikian kamu baru jadi orang. Sebab kamu telah mampu memandang sesuatu dengan padangan hati dan yakin pada sesuatu yang mendesak, lalu kamu bersabar atas sesuatu yang ada di sana – baik bala’ atau afat – lalu keluar dari daya kekuatanmu; tidak terambil, tidak terberi, tidak tergerak, tidak terdiam kecuali oleh daya kekuatan Allah. Hanyutkan di hadapan-Nya, serahkan perkaramu kepada-Nya, ketentuan-Nya tentu berlaku atasmu dan ciptaan lain, jangan kmu belakangi bersama pembelakangan kepada-Nya, juga jangan berikhtiar bersama ikhtiarnya. Siapa memahami konsepsi ini teka perlu mencari orang lain, baginya tiada amniyah yang menyamainya. Bagaimana orang berpikir tidak mau mengarap hal ini dan menjalin pertalian dengan Allah, padahal tiada kesempurnaan kecuali Dia.