Catatan Popular

Selasa, 8 November 2011

RISALAH AL QUSYAIRI BAB 42 : PERSAHABATAN



Allah swt. berfirman :

“.......sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata pada sahabatnya : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (Qs. At-Taubah :40).

Abul Qasim al-Junayd r.a. berkata : “Ketika Allah swt. menetapkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai sahabt, Allah menjelaskan, bahwa Nabi saw. menampakkan sifat kepedulian yang besar kepadanya. Dalam firman-Nya : “Di waktu dia berkata pada sahabatnya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah berserta kita.” Orang yang merdeka adalah senantiasa peduli atas orang yang menjadi sahabatnya.
Riwayat dari Anas bin Malik r.a. Rasulullah saw. bersabda : “Kapankah aku bertemu kekasih-kekasihku?” Para sahabt menjawab : “Demi ayah, engkau dan ibu kami, apakah kami-kami ini bukan kekasihmu?” Rasul saw. besabda : “Engkau adalah sahabt-sahabtku. Sedangkan kekasih-kekasihku adalah kaum yang belum pernah jumpa denganku, (tetapi) beriman kepadaku. Aku lebih banyak rindu kepada mereka.” (H.r. Abu Syeikh, dalam Bab ats-Tsawab).
Persahabatan itu ada tiga macam : 1) Bersahabt dengan orang yang lebih atas dari Anda. Persahabatan ini pada hakikatnya lebih sebagai rasa bakti; 2). Bersahabat dengan orang yang ada di bawah Anda. Persahabatan ini menuntut agar Anda bersikap peduli dan kasih sayang. Sementara yang mengikuti Anda harus selalu serasi dan bersikap hormat. 3). Bersahabt dengan mereka yang memiliki kemampuan dan pandangan ruhani. Yaitu suatu persahabatan yang menuntut sikap memprioriatskan sepenuhnya kepada sahabtnya itu.
Siapa yang bersahabat pada syeikh yang memiliki derajat lebih daripada dirinya, etikanya ia harus meninggalkan sikap kontra, bersikap ramah dan respektif kepadanya, dan mempertemukan diri dengan ihwal ruhaninya melalui iman.
Saya mendengar Manshur bin Khalaf al-Maghriby berkata ketika ditanya oleh sebagian murid-murid kami : “Berapa tahun Anda bersahabt kepada Sa’id bin Salam al-Maghriby?” Beliau melirik dengan tajam kepada penanya, sembari berkata : “Aku tak pernah bersahabat dengannya, tetapi aku berkhidmat padanya beberapa saat.”
Apabila orang yang menyahabati Anda adalah orang yang berada di bawah Anda, maka, suatu penghianatan dalam persahabatannya, adalah ketika Anda tidak memperingatkannya atas kekurangan perilakunya.
Abul Khair at-Tinaty menulis surat kepada Ja’far bin Muhammad bin Nashr : “Dosa kebodohan para fakir ditimpakan kepada Anda, karena Anda sibuk dengan diri Anda sendiri, meninggalkan upaya mendidik mereka, sehingga mereka tetap bodoh. Namun, apabila orang yang bersahabt dengan Anda memiliki status yang sama, Anda harus menjaga cacatnya. Dan lebih bersikap bijak dan baik semaksimal mungkin, dengan menafsirkan yang lebih berkenan atas tindakannya. Bila tidak ada penafsiran positif, lebih baik Anda menyangka diri Anda telah berbohong dan berhak mendapat celaan.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Ahmad bin Abul Hawary berkata : “Aku bicara pada Abu Sulaiman ad-Darany : “Ada seseorang yang tidak berkenan di hatiku!.” Lantas Abu Sulaiman menjawab : “Sama, ia juga tak berkenan di hatiku. Tetapi, wahai Ahmad, barangkali generasi sebelum kita dulu menganggap kita bukan tergolong orang-orang yang saleh, lalu apakah kita tidak mencintai mereka?”
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang bersahabat pada Ibrahim bin Adham. Ketika orang tersebut mau berpisah, berkata pada Ibrahim : “Bila engkau melihat diriku ada cacat, maka ingatkanlah diriku.” Ibrahim menjawab : “Aku tak pernah melihat cacatmu, karena aku melihatmu dengan mata kecintaan, sehingga aku selalu memandangmu dengan mata pandangan kebaikan. Tanyakan saja pada selain diriku tentang cacatmu.”
Dalam hal ini para Sufi bersyair :
Mata pandang ridha akan suram
Dari segala cela
Namun mata pandang dendam
Tampak buruk segalanya.
Abu Ahmad al-Qaalnasy berkata : “Aku berteman dengan beberapa kaum di Bashrah, dan mereka menghormati aku. Sekali waktu kukatakan pada mereka : “Manakah sarungku?” Tiba-tiba sarung itu jatuh dari mata mereka.”
Seseorang berkata pada Sahl bin Abdullah : “Aku ingin berteeman denganmu wahai Abu Muhammad.” Beliau menjawab : “Bila di antara kita ada yang mati, maka kepada siapa salah satu di antara kita bersahabat?” Orang itu berkata : “Allah swt.” Sahl  balik menjawab : “Maka, sejak saat ini, bersahabtlah dengan-Nya.”
Ibrahim bin Adham bekerja sebagai pengetam dan penjaga beberapa kebun, serta pekerjaan lainnya. Hasilnya diinfakkan pada para sahabatnya (santrinya). Dikatakan : “Ibrahim bersama suatu jamaah dari para sahabatnya (santrinya), sedangkan dirinya bekerja di siang hari untuk diberikan kepada mereka. Mereka berkumpul di malam hari di suatu tempat, dan pada siang hari mereka berpuasa. Suatu ketika Ibrahim pulang terlambat dari kerja. Dan pada suatu malam mereka berkata : “Kemarilah, kita berbuka apa adanya.” Ibrahim pulang lebih cepat setelah peristiwa itu. Mereka akhir berbuka dan tidur nyenyak. Ketika Ibrahim pulang, didapati para sahabtnya itu tertidur pulas. “Kasihan!” barangkali mereka tidak menemukan makanan.” Kata Ibrahim. Lalu, Ibrahim membuat jenang dari tepung yang ada, dan menyalakan api serta bara. Ketika mereka melihat Ibrahim sedang meniup-niup api sambil menempelkan sisi wajahnya pada tanah, para sahabtnya mengingatkan akan kejadian tersebut. Beliau menjawab : “Aku katakan, barangkali kali kalian semua tidak mendapatkan makanan untuk berbuka, sehingga kalian tertidur semua. Aku ingin membangunkan kalian nanti setelah bara menyala.” Maka masing-masing sahabatnya itu saling berkata : “Lihatlah, apa yang telah kita lakukan, dan lihatlah apa yang dilakukan untuk kita........????”
Dikatakan bahwa, jika seseorang ingin bersahabt dengan Ibrahim bin Adham, ia mensyratkan bahwa orang itu harus berbakti dan memberitahu padanya; tangannya haurs sama dengan tangan mereka dalam hal seluruh rezeki yang telah dibuka oleh Allah bagi mereka di dunia.
Suatu hari, salah seorang santrinya berkata pada Ibrahim bin Adham : “Aku tidak mampu melakukan ini.” Ibrahim menjawab sambil terkejut : “Sungguh aku kagum atas kejujuranmu.”
Yusuf ibnur Husain berkata : “Aku berkata pada Dzun Nuun al-Mishry : “Kepada siapa aku harus bersahabat?” Dzun Nuun menjawab : “Dengan orang yang sama sekali tidak kau sembunyikan tentang dirimu, dimana Allah swt. mengetahui dirimu.”
Sahl bin Abdullah berkata pada seseorang : “Bila Anda termasuk orang yang takut binatang buas, jangan berteman denganku.”
Bisyr al-Harits berkata : “Berteman dengan kejahatan akan melahirkan sangkaan buruk dengan bebas.”
Al-Junayd berkata : “Ketika Abu Hafs masuk ke Baghdad, ia disertai seorang yang botak bagian kepala depannya, sama sekali bungkam tak bicara. Kemudian aku bertanya pada para sahabat Abu Hafs mengenai keadaan orang tersebut. Mereka menjawab : “Lelaki itu telah menafkahkan seratus ribu dirham untuk diinfakkan kepada Abu Hafs. Abu Hafs tidak memperkenankannya bicara sekecap pun.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata : “Janganlah bersahabat dengan Allah swt. kecuali senantiasa dalam keselarasan; jangan pula dengan makhluk kecuali dengan saling menasehati; jangan pula dengan nafsu kecuali dengan menentangnya; jangan bersahabat pula dengan setan kecuali dengan memusuhi.” Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun : “Siapakah yang bisa kujadikan sahabat?” Beliau menjawab : “Seseorang yang bila engkau sakit, ia menjengukmu, bila engkau berbuat dosa, ia menganjurkan tobat padamu.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Pohon bila tumbuh dengan sendirinya, namun tidak diolah oleh manusia, ia akan tumbuh dengan daunnya, tetapi tidak bisa bebuah. Begitu juga seorang murid bila berkembang tanpa guru ia akan muncul, namun tidak berbuah.”  Beliau juga berkata : “Aku mendapatkan tharikat ini dari an-Nashr Abadzy , dan Nashr Abadzy dari asy-Syibly, sedangkan asy-Syibly dari al-Junayd, dan al-Junayd dari as-Sary, as-Sary dari Ma’ruf al-Karkhy, Ma’ruf al-Kharkhy dari Dawud ath-Tha’y, dan dawud ath-Tha’y dari para Tai’in.” Saya mendengar pula bahwa beliau semoga rahmat Allah swt. padanya --- berkata : “Takpernah sekalipun aku mengikuti majelisnya Nashr Abadzy, kecuali aku selalu mandi sebelumnya.”
Saya sendiri, tak pernah masuk ke tempat guru saya Syeikh Abu Ali pada awal belajar saya di sana, kecuali saya selalu berpuasa dan sebelumnya saya mandi dahulu. Padahal saya memasuki pintu madrasahnya tidak sekali. Saya selalu kembali ke pintu itu, saya khawatir beliau marah jika memasuki pintu itu. Dan seketika saya melintas, lalu memasukinya. Bila sampai di tengah ruang madrasah, beliau mendekati diri saya, dan saya benar-benar terdiam senyap, Seandainya ada jarum yang menusuk pada mulut saya pun, tak akan saya rasakan. Jika saya duduk, dan ada suatu masalah yang mengganggu diri saya, saya tidak ingin bertanya pada beliau, melalui ucapan saya. Dan setiap kali saya berada di majelis, beliau selalui melalui menjelaskan persoalan saya. Tidak sekali hal-hal seperti itu saya saksikan dengan mata kepala. Seringkali saya berpikir, seandainya Alalh swt. mengutus seorang Rasul pada zaman saya, mungkinkah saya menambah rasa hormat padanya dalam hati saya, lebih dari rasa hormat saya pada guru saya --- semoga Allah swt. merahmatinya. Dan sama sekali tidak tergambarkan kemungkinan seperti itu. Saya tidak ingat lagi, sepanjang saya mengikuti majelisnya, kemudian kenyataan diri saya setelah mendapatkan kesinambungan jiwa, tak pernah sekalipun terbersit untuk kontra padanya, sampai beliau wafat.”
Dikatakan Muhammad an-Nashr al-Harits, “Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Musa as, “Jadilah kamu orang yang bangun dan kembali, serta menjadi sahabat bagi dirimu. Setiap sahabat yang tidak menggembirakan hatimu, maka jauhilah ia, dan janganlah bersahabat dengannya, karena ia akan mengeraskan hatimu. Bagimu ia menjadi musuh. Banyak-banyaklah mengingat-Ku karena akan mendatangkan rasa syukur kepada-Ku, dan mendapatkan tambahan dari anugerah-Ku.”
Abu Yazid al-Bisthamy berkata : “Bersahabtlah kalian dengan Allah swt. Bila kalian tidak mampu, maka bersahabatlah dengan orang yang bersahabt dengan Allah swt. karena bersahabt dengannya bisa menghubungkan kalian kepada Allah swt. melalui berkat persahabatannya dengan Allah swt.”

Tiada ulasan: