Catatan Popular

Isnin, 26 Februari 2018

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 37 : IKHLAS


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah
befirman di dalam Al-Qur'an,
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganmemurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) aga-madengan lurus." (Al-Bayyinah: 5).
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kcpunyaan Allahlah aga-mayang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3).
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).

Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya di dalam ayatini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."
Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling
ikhlas dan paling benar itu?"Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidakbenar, maka ia tidak akan diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlasialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakanmenurut As-Sunnah." Kemudian dia membaca ayat,
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, makahendaklah ia mengerjakan amal yangshalih dan janganlah iamempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya."(Al-Kahfi:110).
Allah juga telah befirman,
"Dan, siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlasmenyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakankebaikan?" (An-Nisa': 125).
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan danamal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikutiRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga befirman,
"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23).
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskanbukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. NabiShallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'd bin AbiWaqqash,
"Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hinggaengkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah,melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajat danketinggian karenanya."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik RadhiyallahuAnhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tiga perkara, yang hati orang Mukmin tidak akan berkhianat jika adapadanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepadapara waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim,karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka."
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentangberperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karenakesatriaan, manakah di antaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliaumenjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allahlah yang palingtinggi, maka dia berada di jalan Allah."
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tamadiperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, muja-hiddan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agardikatakan, "Fulan adalah qari', Fulan adalah pemberani, Fulan ada-lahorang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas kare-naAllah.
Di dalam hadits qudsy yang shahih disebutkan,
"Allah befirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuandari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatuamal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menja-dimilik yang dia sekutukannya dan Aku terbebas darinya'."
Di dalam hadits lain disebutkan,
"'Allah befirman pada hari kiamat, Pergilah lalu ambillah pahalamudari orang yang amalmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahaladi sisi Kami'."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, beliau bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupakalian, tetapi Dia melihat hati kalian."
Banyak definisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namuntujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendi-rikanAllah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinyamembersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Ada yang berpendapat,ikhlas artinya menjaga amal dari perhatian manusia, termasuk pula dirisendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja.
Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shadiq tidak ujub. Ikhlas tidakbisa sempurna kecuali dengan shidq, dan shidq tidak bisa sempurnakecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengansabar. Ada pula yang berpendapat, siapa yang mempersaksikan adanyaikhlas dalam ikhlas, berarti ikhlasnya membutuhkan ikhlas lagi.
Kekurangan orang yang mukhlis dalam ikhlasnya, tergantung daripandang-an terhadap ikhlasnya. Jika dia tidak lagi melihat ikhlasnya, makadialah orang yang benar-benar mukhlis. Ada pula yang berpendapat, ikhlasarti-nya menyelaraskan amal-amal hamba secara zhahir dan batin. Riya'ialah jika zhahirnya lebih baik daripada batinnya. Shidq dalam ikhlas ialahjika batinnya lebih semarak daripada zhahirnya.
Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena menusia adalahriya'. Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlasialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkankeduanya."
Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah danhamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat, sehingga dia menulisnya,tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahuihawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."
Yusuf bin Al-Husain berkata, "Sesuatu yang paling mulia di duniaadalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapiseakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."
Pengarang Manozi/us-Sa'irm berkata, "Ikhlas artinya membersihkanamal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampurisesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entahkarena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang,mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan san-jungan,karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lainyang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukansebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ikhlas ini ada tiga derajat:1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dantidak puas terhadap amal.
Ada tiga macam penghalang dan perintang bagi orang yang beramaldalam amalnya: Pertama, pandangan dan perhatiannya. Kedua, keinginanakan imbalan dari amal itu. Ketiga, puas dan senang kepadan-ya.Yang bisa membersihkan hamba dari pandangan terhadap amalnya ialahmempersaksikan karunia dan taufik Allah kepadanya, bahwa amal itudatang dari Allah dan bukan dari dirinya, kehendak Allahlah yangmembuat amalnya ada dan bukan kehendak dirinya, sebagai-manafirman-nya,
"Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendakiAllah, Rabb semesta alam." (At-Takkwir: 29).
Di sini ada yang sangat bermanfaat baginya, yaitu kekuasaan Allah,bahwa dirinya hanyalah alat semata, perbuatannya hanyalah sepertigerakan pohon yang terkena hembusan angin, yang menggerakkannyaselain dirinya, dia ibarat mayat yang tidak bisa berbuat apa-apa, yangandaikan segala sesuatu diserahkan kepadanya, maka tidak ada perbuatannyayang bermaslahat sama sekali, karena jiwanya bodoh danzhalim, tabiatnya malas, yang dipentingkannya adalah syahwat.
Kebaikan yang keluar dari jiwa itu hanya berasal dari Allah dan bukanyang berasal dari hamba, sebagaimana firman-Nya,
Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamusekalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatanperbuatankeji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkansiapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nur: 21).
Semua kebaikan yang ada pada diri hamba semata karena karunia Allah,pemberian, kebaikan dan nikmat-Nya. Pandangan hamba terhadapamainya yang hakiki ialah pandangannya terhadap sifat-sifat Allahyang berkaitan dengan penciptaan, yang semua semata karena pemberianAllah, karunia dan rahmat-Nya. Jadi, yang bisa membersihkanhamba dari perintang ini adalah mengetahui Rabb-nya dan juga mengetahuidirinya sendiri.
Sedangkan yang bisa membersihkan hamba dari tujuan mencari imbalanatas amainya ialah menyadari bahwa dia hanyalah hamba semata.Seorang hamba (budak) tidak layak menuntut imbalan dan upah daripengabdiannya terhadap tuannya. Sebab imbalan hanya layak dimintaorang yang merdeka atau budak orang lain. Sedangkan yangmembersihkan hamba dari kepuasan terhadap amainya ada dua macam:
- Memperhatikan aib, cela dan kekurangannya dalam amal, yang didalamnya banyak terdapat bagian-bagian syetan dan nafsu. Jarangsekali ada amal melainkan syetan mempunyai bagian dalam amalitu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang seseorangyang menengok saat mendirikan shalat. Maka beliau menjawab,"Itu adalah rampasan yang diambil syetan dari shalat hamba."
Jika ini berlaku untuk sekali tengokan yang hanya sesaat saja, lalubagaimana dengan hati yang menengok kepada selain Allah? Tentusaja bagian syetan lebih banyak lagi. Ibnu Mas'ud berkata, "Seseorangdi antara kalian tidak memberikan bagian kepada syetan darishalatnya, sehingga syetan itu melihat ada hak atas shalat tersebut,melainkan karena dia menengok ke arah kanannya."
- Mengetahui hak Allah atas dirinya, yaitu hak ubudiyah beserta adabadabzhahir dan batin serta memenuhi syarat-syaratnya, menyadaribahwa hamba itu terlalu lemah untuk dapat memenuhi hak-hak itu.Orang yang memiliki ma'rifat ialah yang tidak ridha sedikit pun terhadap amainya dan merasa malu jika Allah menerima amainya.
2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha, berusaha sekuat tenagamembenahi amal dengan tetap menjaga kesaksian, memelihara caha-yataufik yang dipancarkan Allah.
Hamba yang merasa malu kepada Allah karena amainya, karena diamerasa amal itu belum layak dilakukan karena Allah, tapi amal itutetap diupayakan. Allah befirman,
"Dan, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnyamereka akan kembali kepada Rabb mereka." (Al-Mukminin: 60).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda menjelaskan maksud ayatini,
"Dia adalah orang yang berpuasa, mendirikan shalat, mengeluarkanshadaqah, dan dia takut amal-amalnya ini tidak diterima."
Sebagian ulama berkata, "Aku benar-benar mendirikan shalat dua rakaat,namun ketika mendirikannya aku tak ubahnya seorang pencuriatau pezina yang tidak dilihat orang, karena merasa malu kepadaAllah."Orang Mukmin adalah orang yang memadukan kebajikan disertai ketakutandan buruk sangka terhadap dirinya, sedangkan orang yangtertipu dan munafik adalah orang yang berbaik sangka terhadap dirinyadan juga berbuat jahat.
Maksud memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah, bahwa dengancahaya itu engkau bisa tahu bahwa amalmu semata karena karu-nia Allahdan bukan karena dirimu sendiri.
Derajat ini mencakup lima perkara: Amal, berusaha dalam amal, rasamalu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberiandan karunia Allah.
3. Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, membiarkanamal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allahdan membebaskannya dari sentuhan rupa.
Perkataan, "Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal",ditafsiri dengan lanjutannya, yaitu membiarkan amal itu berlalu berdasarkan
ilmu dan engkau tunduk kepada hukum kehendak Allah.
Artinya, engkau menjadikan amalmu mengikuti ilmu, menyesuaikan diridengannya, berhenti menurut pemberhentiannya, bergerak menu-rutgerakannya, melihat hukum agama dan membatasi dengan batasanbatasannya,memperhatikan pahala dan siksa di kemudian hari.
Meskipun begitu engkau juga harus berlalu dengan memperhatikanhatimu, mempersaksikan hukum alam, yang di dalamnya terkandunghukum sebab akibat, yang tak sedikit pun lepas dari kehendak Allah.Sehingga seorang hamba bertindak berdasarkan dua perkara:
Perta-ma,perintah dan larangan, yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakannya dan apa yang harus ditinggalkannya. Kedua, qadha' dan qadar,yang berkaitan dengan iman, kesaksian dan hakikat. Dengan begitu diabisa melihat hakikat dan bertindak berdasarkan syariat. Dua perkarainilah ubudiyah seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
" (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabiladikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takkwir: 28-29).
Membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu merupakan kesaksian darifirman Allah, "Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalanyang lurus", sedangkan pelakunya yang tunduk kepada hukum kehendakAllah merupakan kesaksian terhadap firman-Nya, "Kamusekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah".Tentang perkataan, "Membebaskan amal dari sentuhan rupa", artinyamembebaskan amal dan ubudiyah dari selain Allah. Karena apa punselain Allah hanyalah rupa yang hanya tampak di luarnya saja.

Tiada ulasan: