Catatan Popular

Isnin, 26 Februari 2018

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 33 : TABATTUL (PEMUTUSAN)


TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NABUDU WA IYYAKA NASTAIN

IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH

Kaitannya dengan tempat persinggahan tabattul ini Allah telah
befirman,
"Dan sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepada-Nya denganpenuh ketekunan." (Al-Muzzammil: 8).

Tabattul artinya pemutusan atau pemisahan, merupakan kata akti-vadari bail yang artinya putus atau pisah. Maryam disebut al-batul karena diaterpisah dari hubungan dengan suami mana pun, yang artinya perawanatau bujang, dan tidak ada seorang pun wanita yang dapat menandinginya, sehingga dia lebih unggul dan lebih dari semua wanitayang ada pada zamannya.
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Tabattul artinya memisah-kandiri dari segala sesuatu agar bisa beribadah kepada Allah secara total.

Firman Allah, "Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) doa yang benar", artinyaperlucutan secara total. Perlucutan ini artinya tidak memperhati-kanimbalan. Orang yang tabattul tidak bisa seperti buruh yang tidak mau bekerjakecuali untuk mendapatkan upah. Jika dia sudah mendapat upah itu, makadia akan meninggalkan pintu orang yang mengupahnya. Ber-beda denganhamba yang berbakti karena penghambaannya, bukan kare-na untukmencari upah. Dia tidak meninggalkan pintu tuannya kecuali karenamemang dia bermaksud untuk melarikan diri darinya. Sementara hambapelarian tidak memiliki kehormatan sama sekali sebagai hamba dan jugatidak mempunyai kemerdekaan.
Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat tabattul:
1. Memurnikan pemutusan hubungan dengan keinginan-keinginan terhadapdunia, karena takut, mengharap atau pun karena selalu memikirkan-Nya.
Menurut hemat saya, tabattul memadukan dua perkara, menyambungdan memisahkan. Tabattul tidak dianggap sah kecuali dengan duaperkara ini. Memisahkan artinya memutuskan hati dari segala sesuatuyang mencampuri kehendak Allah dan dari apa-apa yang mengarah-kanhati kepada selain Allah, entah karena takut kepada-Nya, mengharapkan-Nya, atau karena selalu memikirkan-Nya. Sedangkan menyambungtidak akan terjadi kecuali setelah memutuskan. Maksud-nyaadalah menyambung hati dengan Allah, menghadap kepada-Nya danmenghadapkan wajah kepada-Nya, karena mencintai, takut, ber-harapdan tawakal kepada-Nya.
2. Memurnikan pemutusan hubungan dari mengikuti nafsu, denganmenjauhi hawa nafsu, menghembuskan rahmat Allah dan memasukkankilat cahaya ilmu.
Perbedaannya dengan derajat pertama, bahwa derajat pertama pemutusanhubungan dengan makhluk, sedangkan derajat ini merupakanpemutusan hubungan dengan nafsu. Caranya ada tiga macam:- Menjauhi nafsu dan melarang dirinya mengikuti nafsu. Sebab parapengikut nafsu menghalangi tabattul. Menghembuskan rahmat Allah dan kasih sayang-Nya. Kedudukanrahmat bagi ruh seperti kedudukan ruh bagi badan. Jadi rahmat merupakansesuatu yang disenangi ruh. Rahmat ini bisa diperoleh denganmenjauhi nafsu. Pada saat irulah bisa dirasakan hembusan rahmat Allah.
Sebab jiwa itu membutuhkan gantungan. Ketika terputusketergantungan jiwa dengan hawa nafsu, maka jiwa tersebut akanmendapatkan ketentraman dengan bergantung kepada Allah.- Memasukkan kilat cahaya ilmu. Ilmu di sini bukan upaya mengungkapapa-apa yang di dalam batin manusia, tapi ini adalah ilmumengungkap tempat-tempatpersinggahan, mengungkap aib diri danamal serta mengungkap makna-makna sifat, asma' Allah dan tau-hid.
3. Memurnikan hubungan agar dapat terus maju ke depan, dengan caramembenahi istiqamah, tekun untuk mencapai tujuan dan melihat apayang terjadi saat berdiri di hadapan Allah.
Raja'Kaitannya dengan tempat persinggahan raja' (mengharap) ini, Allahtelah befirman,
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepadaRabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) danmengharapkan rahmat-Nya dan takut adzab-Nya."(Al-Isra': 57).
Mencari jalan dalam ayat ini artinya mencari cara untukmendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ubudiyah dan jugamencintai-Nya. Ada tiga sendi iman: Cinta, rasa takut dan berharap.Tentang harapan ini Allah telah menjelaskan,"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendak-lahia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia memperseku-tukanseorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110).
"Mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha Pengam-punlagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 218).
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu,diaberkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, tiga hari sebelum wafat,
"Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan diaberbaik sangka terhadap Rabbnya."Juga dari Jabir disebutkan di dalam Ash-Shahih, Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda,
"Allah Azza wa Jalla befirman, 'Aku berada pada persangkaan hambaKukepada-Ku. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepada-Kumenurut kehendaknya."
Raja' merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempatSang Kekasih, yaitu Allah dan kampung akhirat. Ada yang berpendapat,artinya kepercayaan tentang kemurahan Allah.Perbedaan raja' (mengharap) dengan tamanny (berangan-angan),bahwa berangan-angan disertai kemalasan, pelakunya tidak pernah bersungguh-sungguh dan berusaha. Sedangkan mengharap itu disertai denganusaha dan tawakal. Yang pertama seperti keadaan orang yang berangan-angan andaikan dia mempunyai sepetak tanah yang dapat dia tanamidan hasilnya pun dipetik. Yang kedua seperti keadaan orang yangmempunyai sepetak tanah dan dia olah dan tanami, lalu dia berharaptanamannya tumbuh. Karena itu para ulama telah sepakat bahwa raja'tidak dianggap sah kecuali disertai usaha. Raja' itu ada tiga macam; Duamacam terpuji dan satu macam tercela, yaitu:
1. Harapan seseorang agar dapat taat kepada Allah berdasarkan cahayadari Allah, lalu dia mengharap pahala-Nya.
2. Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat dan mengharap ampunanAllah, kemurahan dan kasih sayang-Nya.
3. Orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah tan-padisertai usaha. Ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.
Orang yang berjalan kepada Allah mempunyai dua pandangan:
Pandangan kepada diri sendiri, aib dan kekurangan amalnya, sehinggamembukakan pintu ketakutan, agar dia melihat kelapangan karunia Allah,dan pandangan yang membukakan pintu harapan baginya. Karena itu adayang mengatakan bahwa batasan raja' adalah keluasan rahmat Allah.Ahmad bin As him pernah ditanya, "Apakah tanda raja' pada dirihamba?" Dia menjawab, "Jika dia dikelilingi kebaikan, maka dia menda-patilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allahdi dunia dan di akhirat, serta mengharap kesempurnaan ampunan-Nya diakhirat."
Maka ada perbedaan pendapat, mana di antara dua macam raja'yang paling sempurna, ra/'a'-nya orang yang berbuat baik untuk mendapatkanpahala kebaikannya, ataukah ra/'a'-nya orang yang berbuat keburukanlalu bertaubat dan mengharapkan ampunan-Nya?Pengarang Manazilus-Sa'irin mengatakan, bahwa raja' merupakantempat persinggahan dan kedudukan yang paling lemah bagi orang yangberjalan kepada Allah, karena di satu sisi raja' menggambarkan perlawanan,dan di sisi lain menggambarkan protes.Memang kami mencintai Abu Isma'il yang mengarang Manazilus-
Sa'irin. Tapi kebenaran jauh lebih kami cintai daripada cinta kamikepadanya. Siapa pun orangnyaselain Rasulullah Shallallahu Alaihi waSallam yang ma'shum, perkataannya boleh diambil dan bolehditinggalkan. Kami berprasangka baik terhadap perkataan Abu Isma'il ini,tetapi kami akan menjabarkannya agar menjadi lebih jelas.
Perkataannya, "Raja' merupakan tempat persinggahan dan edudukanyang paling lemah bagi orang yang berjalan kepada Allah", hal itujika dibandingkan dengan tempat persinggahan lain seperti ma'rifat, cinta,ikhlas, jujur, tawakal dan lain-lainnya, bukan berarti keadaannya yanglemah dan kurang.
Sedangkan perkataannya, "Karena di satu sisi raja' menggambar-kanperlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", karena raja'merupakan kebergantungan kepada kehendak hamba agar mendapatkan
pahala dan karunia dari Allah. Padahal yang dikehendaki Allah dari hambaialah agar hamba itu memenuhi hak Allah dan bermu'amalah dengan-Nyadengan hukum keadilan-Nya. Jika dalam mu'amalahnya dengan Allah,hamba mendasarkan kepada hukum karunia, maka hal ini terma-sukbentuk perlawanan. Seakan-akan orang yang berharap menggantunghatinya kepada sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Penguasa.Berarti hal ini menajikan hukum kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya.
Berarti raja' hamba itu berlawanan dengan hukum dan kehendak-Nya.Orang yang mencintai ialah yang mengabaikan kehendak dirinya sendirikarena mementingkan kehendak kekasihnya. Sedangkan dari sisi yangmenggambarkan protes, karena jika hati bergantung kepada raja', lalutidak mendapatkan apa yang diharapkan, maka ia akan protes. Kalau punhati mendapatkan apa yang diharapkan, ia tetap protes, karena apa yangdidapatkan tidak tepat dengan apa yang diharapkan. Toh setiap orang tentumengharap karunia Allah dan di dalam hatinya pasti melintas harap-an ini.
Ada sisi lain dari protes ini, yaitu dia protes kepada Allah karena apa yangdiharapkannya itu. Sebab orang yang berharap tentu meng-anganangankanapa yang diharapkannya dan dia terpengaruh olehnya. Yangdemikian ini berarti merupakan protes terhadap takdir dan menajikankesempurnaan kepasrahan dan ridha kepada takdir.Inilah yang dikatakan Abu Isma'il di dalam Manazilus-Sa'irin beser-tainterpretasinya yang paling baik. Hal ini dapat ditanggapi sebagai beri-kut,bahwa apa yang dikatakan itu dan sejenisnya merupakan ketergelin-cuauyang diharapkan diampuni karena kebaikan beliau yang banyak, iamemiliki kejujuran yang sempurna, mu'amalahnya dengan Allah benar,keikhlasannya kuat, tauhidnya murni tetapi tidak ada orang selain RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam yang terjaga dari kesalahan dankekurangan.
Ketergelinciran ini mendatangkan fitnah terhadap golongan orangorangyang kebaikan, kehalusan jiwa dan mu'amalahnya tidak sepertimereka. Lalu mereka pun mengingkari dan berburuk sangka terhadapgolongan ini. Bualan ini juga mendatangkan cobaan terhadap orangorangyang adil dan obyektif, yang memberikan hak kepada orang yangmemang berhak dan menempatkan segala sesuatu pada proporsinya, yangtidak menghukumi sesuatu yang benar dengan yang cacat atau kebalikannya.
Mereka menerima apa yang memang diterima dan menolak apayang memang harus ditolak. Bualan-bualan inilah yang ditolak dan diingkaripara pemuka ulama dan mereka membebaskan diri dari hal-halseperti ini serta akibat-akibat yang ditimbulkannya, seperti yang
diceritakan Abul-Qasim Al-Qusyairy, "Aku mendengar Abu Sa'id Asy-Syahham berkata, "Aku pernah bermimpi bertemu Abu Sahl Ash-Sha'lukyyang sudah meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya (dalam mimpi),"Apa yang dilakukan Allah terhadap dirimu?" Abu Sahl menjawab, "Allahtelah mengampuni dosaku karena masalah-masalah yang ditanyakan orangorangyang lemah."
Tentang perkataan Abu Isma'il, "Raja' merupakan tempat Persinggahandan kedudukan yang paling rendah", maka ini tidak benar, bah-kanini merupakan tempat persinggahan yang agung, tinggi dan mulia.Harapan, cinta dan rasa takut merupakan inti perjalanan kepada Allah.Allah telah memuji orang-orang yang berharap dalam firman-Nya
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yangbaik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21).
Disebutkan di dalam hadits shahih, dari Nabi Shallallahu Alaihi waSallam,
"Allah befirman, 'Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi kamu ber-doadan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampuni dosamu, apa punyang kamu lakukan dan Aku tidak peduli."
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam, beliau bersabda,
"Allah befirman, Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Kudan Aku besertanya. Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, makaAku mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalamkeramaian orang, maka Aku mengingatnya di dalam keramaian orangyang lebih baik dari mereka. jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal,maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika dia mendekat kepada-Kusehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berlari lari kecil." (Muttafaq Alaihi).
Allah telah mengabarkan orang-orang khusus dari hamba-hamba-Nya, yang kemudian orang-orang musyrik beranggapan bahwa hambahambayang khusus ini bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Padahalhamba-hamba yang khusus itu pun masih berharap kepada Allah dantakut kepada-Nya,
"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selainAllah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkanbahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya'. Orangorangyang mereka sent itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabbmereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) danmengharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnyaadzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra': 56-57).
Allah befirman, "Orang-orang yang kalian sembah selain-Ku adalahhamba-hamba-Ku, yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan taatkepada-Ku, mengharap rahmat-Ku dan takut adzab-Ku. Lalu mengapakalian menyembah mereka?" Di sini Allah memuji keadaan hamba-hamba-Nya itu, yang memiliki cinta, rasa takut dan harapan.
Tentang perkataan Abu Isma'il, "Di satu sisi raja' menggambarkanperlawanan, dan di sisi lain menggambarkan protes", juga tidak bisa dianggapbenar. Sebab raja' merupakan ubudiyah dan bergantung kepadaAllah, karena di antara asma'-Nya adalah Al-Muhsin Al-Barr (Yang berbuatkebaikan dan kebajikan). Beribadah dengan asma' ini dan mengetahuiAllah merupakan pendorong bagi hamba untuk mengharap, entah diamenyadari atau tidak menyadarinya. Kekuatan harapan tergantung darikekuatan ma'rifat tentang Allah, sifat dan asma'-Nya, rahmat dan murka-Nya. Andaikata tidak ada ruh harapan, tentu banyak ubudiyah hati dananggota tubuh yang ditelantarkan, biara dan masjid dirobohkan, yang didalamnya nama Allah banyak disebut. Bahkan andaikata tidak ada ruhharapan, tentu anggota tubuh tidak mau bergerak untuk melakukanketaatan. Andaikata tidak ada angin harapan yang berhembus, tentuperahu amal tidak akan melaju di lautan kehendak.Kekuatan cinta menjadi gantungan kekuatan harapan. Setiap orangyang mencintai tentu berharap dan takut. Dialah orang yang palingmengharapkan apa yang ada pada diri kekasihnya. Begitu pula rasa takutnya,dia adalah orang yang paling merasa takut andaikan dirinya dipandangsebelah mata oleh kekasihnya, andaikan dia jauh darinya. Ketakutannyamerupakan ketakutan yang teramat sangat dan harapannya merupakancermin cintanya. Tidak ada kehidupan bagi orang yang jatuh cinta,tidak ada kenikmatan dan keberuntungan kecuali berhubungan dengankekasihnya. Setiap cinta tentu disertai rasa takut dan harapan. Seberapajauh cinta ini bersemayam di dalam hati orang yang mencintai, makasejauh itu pula rasa takut dan harapannya. Tapi ketakutan orang yangmencintai tidak disertai kekhawatiran seperti halnya orang yang berbuatkeburukan. Harapan orang yang mencintai tidak disertai alasan, berbedadengan harapan buruh atau upahan. Bagaimana mungkin harapan orangyang mencintai disamakan dengan harapan buruh, sementara perbedaankeadaan di antara keduanya amat jauh berbeda?
Secara umum, harapan merupakan sesuatu yang amat penting bagiorang yang ber jalan kepada Allah dan orang yang memiliki ma'rifat. Sebabtentunya dia tidak lepas dari dosa yang dia harapkan pengampunannya,tak lepas dari aib yang dia harapkan pembenahannya, tidak lepas dariamal shalih yang dia harapkan penerimaannya, tidak lepas dari istiqamahyang dia harapkan kekekalannya, tidak lepas dari kedekatan dengan Allahyang dia harapkan pencapaiannya. Maka bagaimana mungkin harapandikatakan sebagai tempat persinggahan dan kedudukan yang palinglemah?
Harapan merupakan sebab yang dengannya hamba bisa memperolehapa yang diharapkan dari Rabb-nya, bahkan ini merupakan sebabyang paling kuat. Sekiranya harapan itu mengandung perlawanan danprotes, tentunya doa dan permohonan lebih layak dikatakan sebagaibentuk perlawanan dan protes. Doa dan permohonan hamba kepada Rabbnyaagar Dia memberikan petunjuk, taufik, jalan lurus, menolongnyaagar tetap taat, menjauhkannya dari kedurhakaan, mengampuni dosadosanya,memasukkannya ke surga, menjauhkannya dari neraka, berartimerupakan bentuk perlawanan dan protes. Sebab hamba yang berdoa inimengharap dan menuntut apa yang diharapkannya, berarti dia lebih layakdikatakan melawan dan memprotes.
Harapan dan doa tidak mengandung perlawanan terhadap tindak-anPenguasa di dalam kekuasaan-Nya. Hamba hanya mengharap tindak-an-Nya, sesuai dengan sesuatu yang paling disukainya dari dua hal, kare-nasesungguhnya Allah lebih menyukai karunia daripada keadilan, Allah lebihmenyukai ampunan daripada dendam, Allah lebih menyukai teng-gangrasa daripada penelitian secara detail, dan yang rahmat-Nya mengalahkanmurka-Nya. Orang yang berharap mengaitkan harapannyadengan tindakan yang paling disukai dan diridhai-Nya.
Tentang protes hamba jika tidak mendapatkan apa yang diharapkannya,maka ini merupakan kekurangan dalam ubudiyah dan kebodohanterhadap Rububiyah. Hamba yang berharap dan berdoa mengharap suatulebihan yang sebenarnya bukan merupakan haknya dan tidak seharus-nyadia meminta imbalan. Kalau memang dia diberi, maka itu semata karenakarunia Allah. Jika dia tidak diberi, bukan berarti haknya tidak akandiberikan kepadanya. Maka protesnya ini merupakan cermin kebodohan.
Jadi memang tidak mendapatkan apa yang diharapkan dalam hak hambayang lurus tidak semestinya menimbulkan perlawanan dan protes.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan tigapermintaan bagi umatnya kepada Allah. Dua dipenuhi dan satu ditolak.Beliau ridha terhadap apa yang diberikan Allah ini dan tidak mem-protesapa yang tidak diberikan.
Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, harapan itu ada tiga derajat:
1. Harapan yang bisa membangkitkan hamba yang beramal untuk berusaha,yang melahirkan kenikmatan dalam pengabdian, dan yangmembangunkan tabiat untuk meninggalkan larangan.
Dengan kata lain, harapan ini membuatnya semakin bersemangat untukberusaha dan mengharapkan pahala dari Rabb-nya. Siapa yangmengetahui kadar tuntutannya, maka dia akan menganggap remehusaha yang telah dilakukannya. Melahirkan kenikmatan dalam pengabdianartinya setiap kali hatinya merasakan buah pengabdian itu danhasilnya yang baik, maka dia menikmatinya. Yang demikian ini sepertikeadaan orang yang mengharapkan keuntungan yang me-limpah dalamperjalanannya, dengan membandingkan beratnya per-jalanan yangharus dilaluinya. Setiap kali hatinya menggambarkan hal ini, makasegala kesulitan dianggap enteng dan bahkan dia menik-mati kesulitanitu. Begitu pula keadaan orang yang mencintai secara tulus, yangberusaha mendapatkan keridhaan dan cinta kekasihnya, yangmenikmati segala usaha yang dilakukannya karena menggambarkan hasilkeridhaannya. Sedangkan tentang membangunkan tabiat untukmeninggalkan larangan, karena tabiat itu mempunyai gambar-angambaranyang menguasai hamba, yang tidak berkenan meninggalkangambaran-gambaran itu kecuali jika dia mendapatkan imbalan yanglebih disukainya. Jika ketergantungan hamba kepada imbalan yanglebih baik ini, maka tabiatnya menjadi lega. Jiwa tidak maumeninggalkan sesuatu yang dicintainya kecuali dia berikan kepadakekasih yang lebih dicintainya, atau jiwa itu akan mewaspadai sesuatuyang paling banyak mendatangkan kerusakan.
2. Harapan orang-orang yang biasa melatih jiwa, agar mereka mencapaisuatu kondisi yang dapat membersihkan hasrat, dengan menolakberbagai macam kesenangan, memperhatikan syarat-syarat ilmu danberusaha agar terlindung dari hal-hal yang dikhawatirkan akan mendatangkanmudharat di dunia dan di akhirat.
3. Harapan orang-orang yang dapat menguasai hati, yaitu harapan untukbersua Khaliq yang membangkitkan kerinduannya, yang tidakmenyukai kehidupan lebih lama dan yang zuhud di tengah makhluk. Inimerupakan jenis-jenis harapan yang paling baik dan paling tinggi. Inimerupakan harapan yang menjadi inti iman.

Tiada ulasan: