Catatan Popular

Sabtu, 15 November 2014

TOKOH SUFI AHMAD BIN KHAZRUYA DAN ISTERINYA (BAHAGIAN 1)



Ahmad bin Khazruya mempunyai seribu orang murid yang masing-masing dapat terbang di angkasa dan berjalan di atas air. Ahmad selalu mengenakan seragam tentara. Isterinya, Fathimah merupakan seorang pembimbing ke jalan kesufian; Ia adalah puteri pangeran kota Balkh, Setelah bertaubat, ia mengirim utusan kepada Ahmad disertai pesan.

"Lamarlah aku kepada ayahku".
Ahmad tidak memberi jawaban, kemudian dikirimnya utusan kedua dengan pesan,
"Ahmad, kusangka engkau lebih berjiwa satria daripada yang sebenarnya. Jadilah seorang pembimbing, janganlah menjadi seorang pembegal"

Maka Ahmad lalu mengirimkan wakilnya untuk melamar Fathimah kepada ayahnya. Karena menginginkan keridhaan Allah, ayah Fathimah menyerahkan puterinya kepada Ahmad. Fathimah meninggalkan segala urusan dunia dan memperoleh ketenangan menyertai Ahmad di dalam penyepian.
Hari demi hari mereka lalui sehingga suatu ketika Ahmad ber-maksud menemui Abu Yazid, Fathimah ikut serta. Ketika berhadapan dengan Abu Yazid, Fathimah membuka cadar mukanya dan turut berbincang-bincang. Ahmad kesal menyaksikan kelakuan isterinya itu dan api cemburu membakar dadanya.
"Fathimah, alangkah berani sikapmu ketika berhadapan dengan Abu Yazid?", tegur Ahmad kepada isterinya.
"Engkau mengenai ragaku, tetapi Abu Yazid mengenai batinku. Engkau membangkitkan hasratku, tetapi Abu Yazid mengantarkan aku kepada Allah. Buktinya, Abu Yazid dapat hidup tanpa kutemani tetapi engkau senantiasa membutuhkan kehadiranku" jawab Fathimah.

Sikap Abu Yazid terhadap Fathimah tidak canggung. Suatu hari terlihatlah olehnya jari-jari tangan Fathimah yang berinai. Abu Yazid lalu berkata;
"Fathimah, mengapakah engkau mencat jari-jari tanganmu?" "Abu Yazid, sebelumnya engkau tak pernah memperhatikan jari-jari tanganku yang berinai ini, karena inilah aku tak merasa canggung terhadapmu. Kini, setelah engkau memperhatikan tanganku, tak pantas lagi aku bergaul denganmu sela Fathimah.
Mendengar ini Abu Yazid tak mau kalah: "Aku telah meminta kepada Allah agar wanita-wanita yang terpandang olehku tidak lebih menggairahkan hatiku daripada dinding. Dan demikianlah yang diperbuat-Nya terhadap diri mereka dalam pandangan mataku".

Setelah itu Ahmad dan Fathimah berangkat ke Nishapur. Di sana mereka mendapat sambutan yang hangat. Suatu waktu, Yahya bin Mu'adz singgah di Nishapur sebelum meneruskan perjalanannya menuju Balkh, Ahmad bermaksud menyelenggarakan pesta menyambut kedatangannya, iapun meminta pendapat Fathimah,
"Apakah yang kita perlukan untuk pesta penyambutan Yahya?"
"Beberapa ekor lembu dan domba" jawab Fathimah, "'perlengkapan-perlengkapan, lilin-lilin dan minyak mawar. Di samping itu kita masih membutuhkan beberapa ekor keledai".
"Apakah gunanya kita menyembelih keledai?" tanya Ahmad terheran.

"Apabila ada seorang pejabat yang datang untuk bersantap maka anjing-anjing tetanggapun harus mendapat bagian pula'' jawab Fathimah.

Demikianlah semangat kekesatriaan sejati Fathimah, karena itulah Abu Yazid pernah berkata;
"Jika ada yang ingin menyaksikan seorang laki-laki sejati yang bersembunyi di balik pakaian perempuan, pandanglah Fathimah!"

Tiada ulasan: