Catatan Popular

Isnin, 20 Julai 2015

KISAH KEISLAMAN ABU BAKAR ASH SHIDDIQ



Telah menjadi kebiasaan bagi Abu Bakar untuk duduk berlama-lama bersama tiga orang shalih yang merupakan penganut Hanafiyah (ajaran agama yang lurus sebagaimana diwariskan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam), yaitu Qus bin Sa’idah Al-Iyadi, Zaid bin Amr bin Nufail, dan Waraqah bin Naufal. Dia amat suka menyimak kata-kata mereka dan mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Namun, ketiga sosok tersebut hanya membatasi keyakinan tersebut untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan dakwah secara terorganisir dan tidak membawa suatu agama yang mengecam penyelewengan akidah kaum Quraisy dan kebiasaan buruk mereka. Ketika ketiganya semakin tua, sehingga bisa saja dalam waktu dekat mereka akan menemui ajalnya, Abu Bakar berpikir untuk mencari sosok lain yang dianggap bisa menggantikan posisi mereka.

Lantas terpikir olehnya sosok Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Sosok yang masih mudah, memiliki asal-usul dan garis keturunan yang baik, kedudukannya di tengah-tengah kaumnya laksana mutiara yang berkilauan. Saat itu Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dikenal sebagai sosok yang menolak menyembah berhala. Hari-harinya tidak ternodai oleh sifat-sifat negatif kehidupan jahiliyah. Bahkan belakangan dia lebih banyak menyendiri di gua Hira untuk melakukan perenungan tentang kehidupan. Sehingga dia sampai pada keyakinan adanya Sang Pencipta yang harus diagungkan dengan tanpa mengagungkan selainnya. Memang dia tidak menghina berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya, tapi dia pun tidak pernah memujinya apalagi bersujud padanya seperti yang biasa dilakukan oleh kaumnya. Dia telah memisahkan diri dari kaumnya untuk mencari kebenaran yang haqiqi.
Dapat dikatakan bahwa Abu Bakar merupakan teman sebaya Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam karena usia mereka tidak terpaut jauh. 

Abu Bakar melihat ada yang berbeda pada sosok yang satu ini. Menurutnya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam  pantas menjadi panutan dan layak dianggap sebagai teladan yang terpercaya. Abu Bakar mencoba menghidupkan kembali memorinya untuk mengingat-ingat berbagai kejadian penting yang senantiasa menjadi buah bibir di kalangan kaumnya di seantero Mekah. Ingatannya mulai tertuju pada suatu peristiwa luar biasa yang terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya ketika kaum Quraisy menyelesaikan proyek renovasi Ka’bah. Waktu itu, setiap orang bersikeras mendapatkan kehormatan untuk mengembalikan Hajar Aswad ke posisi semula.

Terjadilah keributan diantara mereka, hingga hampir menyulut terjadinya perang seperti perang Fijar (sebuah peperangan hebat yang melibatkan suku Quraisy). Pada saat pertikaian semakin sengit, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menyerahkan keputusan persoalan tersebut pada seorang yang paling pertama mendatangi tempat itu. Saat itu yang pertama datang adalah Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Lantas secara bersamaan mereka berteriak, “Ini dia Al-Amin (sang terpercaya) Muhammad…. dialah hakim terbaik!”
Lantas Abu Bakar menyoroti berhala-berhala sesembahan kaum jahiliyah dan keanekaragaman peribadatan mereka. Ada yang menyembah berhala, ada juga yang menyembah matahari, bintang-bintang, malaikat, jin, bahkan ada juga diantara mereka yang atheis.

Ajaran Hanafiyah pun tenggelam di balik gelombang kesyirikan, membuat Abu Bakar bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa tidak datang seseorang yang dapat menyelesaikan pertikaian kaum Quraisy dan menyelamatkan mereka dari pertumpahan darah!”
Abu Bakar pun berusaha mencari tahu lebih banyak tentang sosok “Al-Amin” yang tak lain merupakan teman dan sahabatnya sendiri. Untuk itu dia sengaja ikut dengannya dalam perniagaan ke negeri Syam, Sehingga dia pun sempat mendengar ucapan Rahib Buhaira tentang adanya tanda-tanda kenabian pada diri shahabatnya tersebut. Abu Bakar pun semakin mengagumi sosok Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia melihat pada diri shahabatnya itu potesi sebagai penyelamat dan pemberi solusi atas problem keyakinan yang dihadapi kaumnya.

Ditambah lagi dengan adanya kejadian yang dialaminya pada saat berniaga ke Yaman beberapa saat sebelum Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagi Nabi. Abu Bakar menuturkan, “Waktu itu saya singgah ditempat seorang Syaikh yang alim dari Azd. Dia telah membaca banyak kitab, menguasai banyak ilmu. Pada saat melihatku dia berkata, Aku memperoleh informasi yang akurat bahwa seorang nabi akan diutus ditanah haram (Mekah). Dia akan ditolong oleh seorang pemuda dan satu orang dewasa. Yang muda merupakan sosok yang suka menantang bahaya dan menolak berbagai bentuk kesengsaraan, sedangkan yang dewasa berkulit putih, berperawakan kurus, memiliki lalat diperutnya, dan memiliki di paha sebelah kiri.”

Lantas dia memintaku untuk menyingkap bagian perutku agar dia dapat melihatnya. Saya pun melakukan apa yang diminta, hingga dia melihat adanya tahi lalat hitan diatas pusarku. Dia pun berseru, “Kamulah orangnya, demi tuhan Ka’bah! saya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu, camkanlah!”

“Apa itu?” tanya Abu Bakar. “Janganlah engkau condong pada hawa nafsu, berpegang tegulah pada jalan yang utama dan pertengahan, dan takutlah pada Allah dalam segala sesuatu yang telah dianuhgerahkan-Nya padamu”.

Sekembalinya Abu Bakar ke Makah, dia menanti saat diutusnya sang Nabi yang ditunggu-tunggu. Maka begitu dia memperoleh informasi bahwa sahabat karibnya Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam memperoleh wahyu dan diberi amanah untuk mengemban risalah dari langit, dia pun bergegas menemuinya dan bertanya, “Wahai Muhammad, benarkah apa yang diberitakan oleh masyarakat Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan tuhan-tuhan kami, merendahkan akal kami, dan mengkafirkan para orang tua kami?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Benar. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah dan Nabi-Nya. Dia mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Saya pun sungguh-sungguh mengajak engkau ke jalan Allah. Demi Allah, ini adalah kebenaran yang hakiki. Saya mengajakmu wahai Abu Bakar untuk menyembah Allah semata yang tidak ada sekutu baginya. Maka janganlah engkau sembah sesuatu pun selain Allah. Saya pun mengajakmu untuk berjanji untuk senantiasa taat kepada-Nya.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Tanpa pikir panjang, Abu Bakar langsung menerima ajakan masuk Islam dan segera menyatakan penolokannya terhadap penyembahan berhala. Dia segera menanggalkan segala bentuk kemusyrikan dan menegaskan kebenaran Islam. Dia pun pulang dalam kondisi telah menjadi seorang muslim yang membenarkan kenabian Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam .

Abu Bakar terhitung orang yang pertama kali masuk Islam. Dia sangat yakin akan benarnya kenabian Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam  dan dakwahnya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan, “Setiap saya mengajak seorang masuk Islam, selalu terbesit tanya dan keraguan dalam benaknya. Berbeda dengan Abu Bakar, dia tidak terpikir panjang untuk memenuhi ajakanku dan dia tidak ragu sedikitpun.”

Tiada ulasan: