Catatan Popular

Jumaat, 9 Oktober 2015

KITAB AJARAN KAUM SUFI AL-KALABADZI : AJARAN KAUM SUFI KE 24 TENTANG PARA MALAIKAT DAN RASUL



Kitab Al-Ta-aruf li-Madzhabi Ahl Al-Tashawwuf

Karya  Ibn Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub Al-Bukhari AL-KALABADZI

Sebagian besar tokoh Sufi menahan diri agar tidak melibatkan diri dengan pertanyaan apakah para Rasul lebih dipentingkan ketimbang pra malaikat, atau sebaliknya, dengan mengatakan bahwa keunggulan dimiliki oleh mereka yang lebih dipentingkan oleh Tuhan, dan bahwa masalah ini bukan merupakan masalah esensi, bukan pula masalah tindakan. Tapi, beberapa orang mengatakan bahwa para malaikat lebih dipentingkan ketimbang para Nabi, dan beberapa orang yang lain mengatakan bahwa para Nabi lebih dipentingkan ketimbang para malaikat. 

Muhammad ibn al-Fadhl berkata : “Malaikat sebagai suatu keseluruhan lebih baik ketimbang orang beriman sebagai suatu keseluruhan, tapi ada beberapa orang beiman tertentu yang lebih baik daripada malaikat.” Artinya, menurut mereka, para Nabi itulah yang lebih baik.
Mereka mengakui bahwa beberapa rasul tertentu lebih baik daripada yang selebihnya, dengan menafsir firman Tuhan : “Sesungguhnya kami telah memberikan keutamaan kepada beberapa Nabi lebih dari sebagai yang lain.” 

Tapi mereka menolak untuk menrinci sipa di antara mereka yang lebih disukai dan siapa yang kurang disukai, dengan begitu, hal ini sejalan dengan sanda Nabi : “Jangan memilih-milih di antara nabi-nabi itu.” Sekalipun begitu, mereka menetapkan, sebagai sebuah prinsip, bahwa Muhammad adalah yang paling baik di antara semua nabi, dengan berdasarkansabda beliau : “Akulah penghulu seluru puyra Adam, bukannya takabur. Adam dan semua yang hidup sesudahnya berada di bawah panji-panjiku.” Serta sabda-sabda beliau yang lain, juga pada firman Tuhan : “Kamu adalah umat pilihan yang telah dilahirkan untuk seluruh manusia.” Karena mereka adalah umat yang paling baik, sedangkan mereka adalah mereka umat beliau, maka hal ini berarti bahwa nabi mereka adalah nabi yang terbaik – bukti ini, dan bukti-bukti lain keunggulan beliau, bisa ditemukan dalam Al-Qur’an.

Mereka semua mengakui bahwa para nabi itu lebih baik dari manusia baisa, dan bahwa tidak ada orang yang dapat menyaingi kebaikan para nabi, entah dia orang yang benar-benar beriman, wali atau yang lain, betapa pun besar kekuasaannya dan hebat kedudukannya. Nabi berssabda kepada Ali : “Dua orang ini adalah penghulu para sesepuh penghuni surga, yang hidup terdahulu maupun tekemudian, kecuali para nabi dan rasul.” Dengan menunjukkan kata-kata ini kepada Abu Bakr dan Umar, dan mengisyaratkan bahwa mereka adalah manusia-manusia terbaik setelah para nabi. 

Abu Yazid al-Bistami berkata : “Taraf akhir orang mukmin sejati adalah taraf awal nabi, dan taraf akhir nabi tidak memiliki batas.” 

Sahl ibn  Abdillah berkata : “Tujuan-tujuan para ahli ma’rifat hanya sampai pada selubung, dan disana mereka berhenti dengan pandangan ke bawah, lalu izin diberikan kepda mereka dan mereka mengucap salam, mereka pun diberi pakaian jubah berkekuatan ketuhanan, dan diajuhkan dari kesalahan. Sedang tujuan-tujuan yang dicapai para nabi adalah berkeliling di seputar singgasana dan diberi pakaian cahaya, nilai mereka dimuliakan, dan mereka digabungkan denga  Yang Maha Besar, dan dibuat-Nya ambisi pribadi mereka mati, dan dilepaskan-Nya mereka dari nafsu, dan dijadikan-Nya mereka hanya berurusan dengan Dia dan demi Dia,” 

Abu Yazid berkata : “Jika satu zarah saja dari diri nabi mengejawantah dalam penciptaan, maka tiada sesuatu pun yang berada di bawah Singgasana akan bisa menanggungnya.” Dia juga berkata : “Ma’rifat dan pengetahuan manusia itu, kalau dibandingkan dengan ma’rifat dan pengetahuan Nabi, adalah bagaikan setets embun yang menetes dari pucuk kantung air kulit.” 

Salah seorang dari mereka berkata : “Tak satu nabi pun mencapai kesempurnaan kesetujuan (taslim) dan kepasrahan (tafwid), kecuali Yang Terkasih dan Sang Karib. Dengan alasan ini, tokoh-tokoh besar Sufi tak berharap bisa mencapai kesempurnaan, meski mereka dalam keadaan dekat (dengan Tuhan) dan telah mengalami perenungan yang sejati. 

Abu’l Abbas dan  Ibn Atha berkata : “Taraf yang paling rendah dari para rasul adalah yang paling tinggi dari para nabi, dan taraf paling rendah dari para nabi adalah yang paling tinggi dari orang-orang mukmin sejati, dan taraf yang paling rendah dari orang-orang yng benar-benar beriman adalah yang paling tinggi dari para syuhada, dan taraf paling rendah dari para syuhada adalah yang paling tinggi dari orang-orang takwa, dan taraf paling rendah dari orang-orang takwa adalah yang paling tinggi dari orang-orang yang beriman.

Tiada ulasan: