FATHULLAH GULLEN (PENGASAS
HIZMET TURKI)
"Firar" berarti: Melarikan diri dan menjauhi
sesuatu. Dalam tasawuf, istilah ini berarti: Bergerak dari makhluk kepada
Khaliq s.w.t., berlindung dari "bayangan" kepada "yang
asli", meninggalkan "tetesan air" untuk menuju
"samudera", meninggalkan "potongan kaca" untuk menuju
"matahari", dan meninggalkan egoisme atau pemujaan eksistensi diri
menuju cahaya Allah s.w.t., yang semua ini dapat berhubungan dengan apa yang
difirmankan oleh Allah s.w.t. dalam ayat: "Maka
segeralah kalian kembali (firrû) kepada Allah." (QS. al-Dzâriyât [50]:
51). Itu dilakukan dengan "pergerakan hati dan pergerakan rohani"
oleh manusia. Setiap kami seseorang menjauh dalam jalan imannya dari atmosfer
jasmaniah yang mematikan, ia selalu mendekat kepada Allah ta'ala,
sehingga membuatnya akan mengalami peningkatan kualitas diri.
Untuk mengetahui bagaimana orang yang "melarikan
diri" kepada Allah s.w.t. dapat mengalami peningkatan diri, kita dapat
menyimak apa yang dikatakan oleh Nabi Musa a.s. ketika menyikapi hal ini. Musa
berkata: "Lalu aku lari
meninggalkan kalian ketika aku takut kepada kalian, kemudian Tuhanku memberikan
ilmu kepadaku serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul."
(QS. al-Syu'arâ` [26]: 21). Ucapan Musa a.s. ini menarik karena di dalamnya
terkandung pernyataan bahwa jalan menuju kedekatan kepada Allah ternyata muncul
dari tindakan "melarikan diri" (al-firâr). Kata-kata Musa itu
menunjukkan adanya peran tuntunan dan bimbingan kepada kehendak yang diikuti
oleh misi kenabian.
Pada kaum awam firâr adalah: Berlindung dari
himpitan entitas dan keburukan maksiat menuju serambi kasih-sayang Allah dan
keindahan ampunan-Nya. Mereka yang melakukan ini selalu merapalkan bacaan ayat:
"Wahai Tuhanku berilah ampun dan
berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik."
(QS. al-Mu`minûn [23]: 118). Baik dalam diam maupun dalam gerak,
orang-orang ini selalu berkata: "Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan
yang kulakukan."
Adapun pada kaum khusus (khawas), firâr
mereka adalah: Pergerakan dari sifat-sifat tertentu menuju sifat-sifat
tertentu, dari sirr kepada kesaksian, dari bentuk kepada esensi, dan
dari keinginan nafsu menuju kesadaran rohani, sehingga membuat wirid yang
selalu mereka rapalkan adalah: "Wahai Allah, aku berlindung dengan
ridha-Mu dari murka-Mu, dan dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu”
Adapun pada kaum khusus di antara yang khusus (Akhashsh
al-Khawash), firâr mereka adalah: dari "sifat-sifat"
menuju "Zat", dan dari Allah s.w.t. menuju Allah s.w.t.. Mereka
selalu berkata: "Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu." Dan mereka
hidup dalam atmosfer wibawa Allah dan rasa takut kepada-Nya.
Ketiga jenis firâr ini berujung pada upaya
mencari iltijâ` (tempat pengungsian), himâyah (tempat
perlindungan), dan i'tishâm (pegangan). Sebagaimana halnya aktivitas al-firâr
berbanding lurus dengan kedalaman spiritual orang yang melakukannya (al-fârr),
maka titik yang berhasil dicapai oleh orang tersebut juga berbeda-beda:
Kelompok pertama: mereka mendirikan "kemah-kemah"
mereka di pinggiran kawasan makrifat. Mereka selalu berzikir mengingat Allah
s.w.t. dalam menghadapi segala hal, dari urusan yang kecil-kecil sampai yang
besar-besar. Mereka selalu mencari berbagai hal yang sangat sulit mereka capai,
lalu mereka mulai mencari hal-hal yang tidak mungkin dapat dicamapi. Ketika
mereka menemukan di dalam hati mereka kebenaran ucapan yang berbunyi:
"Kami tidak pernah mampu mengenalmu dengan sebenar-benarnya," maka
mereka akan mengulang-ulang syair:
Manusia berpegang pada-Mu dengan makrifat-Mu
Siapapun tak mampu menjelaskan sifar-sifat-Mu
Ampunilah kami, karena kami hanya manusia
Kami tidak mampu mengenalmu dengan sebenar-benarnya
Kelompok kedua: di setiap saat mereka selalu membentangkan layar
bahtera mereka untuk mengarungi samudera makrifat yang baru. Mereka
menghabiskan umur mereka dengan proses transformasi spiritual yang
bermacam-macam. Karena mereka tidak mampu menyelamatkan diri dari batas-batas
yang membuat mereka tidak bisa mencapai ufuk al-hairah (keterhenyakan)
yang sempurna. Setiap saat, mereka selalu melayangkan pandangan ke arah tangga
naik, lalu mereka terbang dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain
sembari merasakan takut kalau-kalau mereka terjatuh.
Kelompok ketiga: mereka adalah orang-orang yang selamat dari
gelombang "al-hâl" dan tarikannya. Kepala mereka selalu
tenggelam di kedalaman baru di tengah kawasan al-hairah. Mereka mereguk
minuman dari "Air Kehidupan" sehingga mereka mencapai ekstase luar
biasa yang mungkin akan membuat mereka tidak akan pernah siuman lagi meski
mendengar suara sangkakala Israfil. Tidak ada seorang pun yang dapat
menjelaskan kedalaman pikiran mereka serta arus imajinasi mereka, kecuali
orang-orang yang ikut merasakan ekstase semacam itu.
"Sesungguhnya
khayalan yang menjadi semacam jaring bagi para wali, sebenarnya adalah cermin
yang merefleksikan wajah-wajah brecahaya di taman Allah."
Yang dimaksud "bustân khadâ" adalah
martabat ketunggalan (martabah al-wâhidiyyah).
Yang dimaksud "mah ruyân" adalah
nama-nama dan sifat-sifat Allah yang agung yang tampak pada martabat keesaan (martabah
al-ahadiyyah). Berdasarkan ini kita dapat memahami masalah ini sebagai
berikut:
Sesungguhnya jaring yang terlipat di kaki para wali
tidak lain adalah manifestasi dari asma dan sifat-sifat. Semua itu tidak lebih
dari sebuah imajinasi atau khayalan bagi mereka yang kehilangan penglihatan
serta pintu mereka tertutup di depan hakikat.
Shari Abdullah Effendi menyatakan:
Sesungguhnya cermin hati para nabi dan wali, meski
merupakan penampakan atau refleksi dari asma` dan sifat-sifat kuliyyah
Ilahiah, namun sifat-sifat Rabbaniah menjadi taman bagi wajah-wajah mereka yang
berpendar laksana rembulan yang menyihir mereka setiap saat dengan keajaiban
yang selalu baru.
Kesimpulannya, orang-orang yang melarikan diri
(melakukan firâr) dari segala hal yang harus mereka tinggalkan, menuju
sebuah pilar kokoh yang termaktub dalam ayat: "...maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang
amat kuat yang tidak akan putus." (QS. al-Baqarah [2]: 256).
Mereka tidak akan pernah terputus darinya dengan izin Allah s.w.t..
Itu dapat terjadi karena Zat yang mereka tuju dan
mereka jadikan sebagai tempat mengungsi, adalah sang Wujud yang Sejati (al-Maujûd
al-Haqq), selalu ada dari zaman azali sampai keabadian, Mahamelihat segala
sesuatu, Mahamengawasi segala sesuatu, dan Dia adalah sang Mahabesar,
Mahatinggi, dan Mahabenar.
Mereka telah berhasil menemukan Dia, lalu berpegang
dengan tali-Nya yang sangat kuat. Itulah sebabnya mereka berada di tempat
keselamatan dari kebinasaan serta terhindar dari jalan sesat dan kesendirian.
Itu terjadi karena: "Allah
Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman)." (QS. al-Baqarah [2]: 257).
Demikianlah, maka kegelapan yang mengepung mereka
menjadi sirna dan menghilang, sehingga mata mereka dapat melihat hakikat dengan
jelas, dan telinga mereka dapat mendengar hakikat dengan jelas. Langit
menampilkan bintang-bintang yang tersenyum ke arah mereka. Selaksa rembulan dan
matahari memakaikan pakaian akhirat kepada mereka, sehingga mereka melihat
segala sesuatu sebagai kitab indah yang mudah dibaca, dan sebagai pemandangan
elok yang mudah dilihat...baik dari hal yang kecil-kecil maupun yang
besar-besar. Musim yang semi pun tiba dengan tawa yang menyenangkan. Sementara
kemarau memperdengarkan ke dalam jiwa kita nyanyian merdu... Segala penyakit
musnah. Semua nestapa enyah. Cita rasa spiritual memancar dari segenap penjuru,
untuk membuat manusia merasakan keindahan hidupnya dan dapat merasakan
eksistensinya sebagai manusia.
Orang-orang yang ingin merasakan ekstase spiritual
yang kekal hingga alam keabadian ini selalu melakukan hijrah yang luar biada di
setiap saat; dari segala yang tidak diinginkan oleh Allah menuju segala yang
diinginkan Allah, dari segala yang dilarang oleh-Nya menuju segala yang
diperintahkan-Nya, dari segala yang tidak disukai-Nya menuju segala yang
disukai-Nya, dan dari segala yang tidak diridhai-Nya menuju segala yang
diridhai-Nya. Sehingga mereka pun hidup dalam firâr atau pelarian menuju
Allah s.w.t.. Tidak ada ketetapan apapun yang berarti bagi mereka, selain hanya
segala yang disandarkan kepada Allah s.w.t.. Inilah yang dimaksud sebagai i'tisham
(berpegang) yang sejati.
Wahai Allah, sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu
kebaikan yang diminta kepada-Mu oleh Nabi-Mu Muhammad s.a.w..
Dan hamba berlindung kepada-Mu dari keburukan yang
dimintai perlindungan darinya kepada-Mu oleh Nabi-Mu Muhammad s.a.w..
Tiada ulasan:
Catat Ulasan