Catatan Popular

Sabtu, 27 Januari 2018

KITAB RAHASIA PUASA IHYA ULUMUDDIN: MUKADIMMAH

HUJJATUL IMAM AL GHAZALI
                      
KITAB RAHASIA-RAHASIA PUASA

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala pujian bagi Allah yang telah menganugerahkan kebaikan yang amat besar kepada segala hambaNya, dengan menolakkan tipuan dan kecerdikan setan daripada mereka. Dan menolakkan harapan dan mengecewakan sangkaan dari setan itu. Karena Allah telah menjadikan puasa suatu benteng dan kota pertahanan bagi segala auliaNya. Dan membukakan bagi mereka dengan puasa itu segala pintu sorga. Serta memperkenalkan kepada mereka, bahwa jalan setan ke dalam hati segala auliaNya, ialah nafsu yang telah teguh kuat. Dan dengan mencegah segala hawa nafsu itu, maka menjadilah jiwa yang aman tenteram, menampak keperkasaannya dalam membasmikan musuhnya yang teguh cita-citanya.
Dan selawat kepada Muhammad, pemimpin segala makhluk dan yang mempersiapkan sunnah (jalan yang akan ditempuh). Dan kepada kaum keluarga dan para sahabatnya, yang mempunyai pandangan mata yang tembus dan akal pikiran yang kokoh kuat. Kiranya Allah mencurahkan keselamatan yang sebanyak-banyaknya kepada mereka ! kemudian dari itu, bahwa puasa adalah ¼ iman, menurut sabda Nabi saw: “Puasa itu setengah sabar”. Dan menurut sabdanya lagi: “Sabar itu setengah iman”.

Kemudian, puasa itu memperoleh kedudukan yang istimewa, dengan disandarkan kepada Allah Ta’ala, bila dibandingkan dengan rukun-rukun Islam lainnya.

Karena firman Allah Ta’ala, menurut yang diceritakan Nabi saw: “Tiap-tiap perbuatan baik, pahalanya 10 kali, sampai kepada 700 kali, selain daripada puasa. Maka puasa itu adalah bagiKu dan Aku akan membalasinya”. Berfirman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati teguh (sabar) itu akan dibayar pahalanya dengan tiada terbatas”. S 39 Az Zumar ayat 10.

Dan puasa itu, adalah setengah (nishfu) sabar. Maka pahalanya melampaui undang-undang penentuan dan perhitungan.

Cukuplah bagi anda untuk mengetahui kelebihannya, akan sabda Nabi saw: “Demi Allah yang jiwaku didalam tanganNya ! sesungguhnya bau busuk mulut orang yang berpuasa, adalah lebih harum pada sisi Allah daripada bau kesturi.

Berfirman Allah Ta’ala: Sesungguhnya orang yang berpuasa itu meninggalkan hawa nafsu, makanan dan minuman karenaKu. Maka puasa itu untukKu dan Aku akan membalasinya.

Bersabda Nabi saw: “Sorga itu mempunyai sebuah pintu, yang dinamakan “Ar-Rayyan”, yang tidak memasuki pintu itu, selain orang-orang yang berpuasa. Dan dijanjikan dengan menjumpai Allah Ta’ala pada balasan puasanya”.

Bersabda Nabi saw: “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan: kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya”.

Bersabda Nabi saw: “Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai pintu. Dan pintu ibadah ialah puasa”. Bersabda Nabi saw: “Tidur orang yang berpuasa itu ibadah”.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila masuk bulan Ramadlan, maka terbukalah segala pintu sorga dan terkuncilah segala pintu neraka dan dirantaikan segala setan. Dan berserulah seorang penyeru: “Wahai orang yang ingin berbuat kebajikan ! marilah kamu ! wahai orang yang ingin berbuat kejahatan ! hentikanlah dari kejahatan itu !”.

Berkata Waki tentang firman Allah Ta’ala: “Makan dan minumlah dengan penuh kepuasan, disebabkan (perbuatan baik) yang telah kamu kirimkan lebih dahulu dihari yang lampau”. S 69 Al Haaqqah ayat 24, adalah yang dimaksudkan dengan hari yang lampau itu, ialah hari-hari puasa. Karena mereka telah meninggalkan padanya makan dan minum.

Telah dikumpulkan oleh Rasulullah saw dalam tingkatan membanggakan, diantara zuhud di dunia dan puasa, dengan sabdanya: “Bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala membanggakan pada para malaikatNya dengan seorang pemuda yang beribadah banyak dengan firmanNya: “Wahai pemuda yang meninggalkan hawa nafsunya karenaKu, yang menyerahkan kemudaannya bagiKu ! engkau pada sisiKu adalah seperti sebahagian para malaikatKu”.

Bersabda Nabi saw tentang orang yang berpuasa: “Berfirman Allah ‘Azza Wa Jalla: “Lihatlah wahai para malaikatKu kepada hambaKu yang meninggalkan hawa nafsunya, kesenangannya dan makan minumnya dari karenaKu”.

Ada yang mengatakan tentang firman Allah Ta’ala: “Seorangpun tiada mengetahui cahaya mata yang disembunyikan untuk mereka, sebagai pembalasan apa yang telah mereka kerjakan”. S 32 As Sajdah ayat 17, bahwa amalan mereka itu, ialah puasa.

Karena Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati teguh (sabar) itu akan dibayar cukup pahalanya dengan tiada terbatas”. S 39 Az Zumar ayat 10.

Maka dituangkan bagi orang yang berpuasa, pembalasannya dan dilebihkan dengan kelebihan tanpa takaran. Dan yang demikian itu tidak masuk di bawah sangkaan dan taksiran. Maka layaklah adanya yang demikian itu ! karena puasa adalah untukNya dan itu tanda kemuliaan, dengan disangkutkan kepadaNya.

Meskipun ibadah itu seluruhnya, adalah untukNya, sebagaimana dimuliakan sebuah rumah (al-bait), dengan disangkutkan kepadaNya (Baitullah), padahal bumi seluruhnya kepunyaanNya, adalah karena dua pengertian:
Pertama: bahwa puasa itu mencegahkan dan meninggalkan. Dan pada puasa itu sendiri ada rahasia. Tak ada padanya perbuatan yang terlihat. Sedang segala amalan taat adalah dengan dipersaksikan dan dilihat oleh orang ramai. Dan puasa itu tiada yang melihatnya selain Allah Azza Wa Jalla (Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar). Dari itu, puasa adalah amalan pada batin dengan kesabaran semata-mata.

Kedua: bahwa puasa itu adalah paksaan bagi musuh Allah ‘Azza Wa Jalla. Sesungguhnya jalan bagi setan -dikutuk oleh Allah dia kiranya- ialah hawa nafsu. Dan hawa nafsu itu kuat dengan makan dan minum. Karena itulah, bersabda Nabi saw: “Bahwa setan berjalan dari anak Adam pada tempat jalan darahnya. Maka sempitkanlah tempat jalannya dengan lapar”. Karena itu, bersabda Nabi saw kepada ‘Aisyah: “Terus meneruslah mengetuk pintu sorga !”. Bertanya ‘Aisyah: “Dengan apa ?”. Maka menjawab Nabi saw: “Dengan lapar !”. Dan akan datang keutamaan lapar pada Kitab Kelobaan Makanan dan Mengobatinya, dari bahagian (rubu’): Yang Membinasakan. Tatkala puasa itu khususnya adalah pencegahan bagi setan, penghambatan bagi tempat-tempat yang dilaluinya, penyempitan bagi tempat-tempat yang ditempuhnya, maka berhaklah puasa itu dikhususkan penyangkutannya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maka pada mencegah musuh Allah itu, adalah menolong (agama) Allah swt. Dan menolong Allah Ta’ala adalah terhenti kepada menolongNya. Berfirman Allah Ta’ala: “Kalau kamu menolong Allah (agamaNya) tentu Allah akan menolong kamu pula dan mengokohkan tegakmu”. S 47 Muhammad ayat 7.

Maka permulaannya, adalah dengan perjuangan dari hamba dan pembalasan dengan petunjuk daripada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Karena itulah, berfirman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang berjuang dalam (urusan) Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami”. S 29 Al Ankabuut ayat 69.

Dan berfirman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah tiada merobah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merobah keadaan diri mereka sendiri”. S 13 Ar Ra’d ayat 11.

Dan bahwasanya perubahan itu ialah: pembanyakkan hawa nafsu. Maka hawa nafsu adalah tempat bersenang-senang dan tempat menjaga diri setan-setan. Maka selama hawa nafsu itu subur niscaya tidak putus-putuslah setan-setan itu pulang-pergi. Dan selama mereka pulang-pergi, niscaya tidak terbukalah bagi hamba akan kebesaran Allah swt. Dan adalah ia terdinding daripada menjumnpaiNya.


Bersabda saw: “Jikalau tidaklah setan-setan itu berkeliling di atas hati anak Adam, niscaya anak-anak Adam itu melihat ke alam malakut yang tinggi”. Maka dari segi ini, jadilah puasa itu pintu ibadah dan benteng. Dan apabila besar kelebihannya sampai kepada batas ini, maka tak boleh tidak daripada menerangkan syarat-syarat, yang zhahir dan yang bathin dengan menyebutkan rukun-rukun, sunat-sunat dan syarat-syaratnya yang bathin. Dan kami terangkan yang demikian itu, dengan 3 pasal.

Tiada ulasan: