Catatan Popular

Selasa, 9 Januari 2018

KISAH SYEIKH HAKIM AT TIRMIDZI DAN ABU BAKAR AL WARRAQ

Setiap hari minggu Syeikh Abu Bakr al-Warraq mengisahkan Nabi Khidir mengunjungi Muhammad bin Ali at-Tirmidzi dan kemudian mereka memperbincangkan berbagai persoalan.
Pada suatu hari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata kepadaku : “Hari ini engkau hendak ku ajak pergi ke suatu tempat.”
“Terserah kepada guru,” jawabku.
Kami pun berangkat. Tatkala kami sampai di sebuah padang pasir tiu aku melihat sebuah singgasana kencana di bawah naungan sebatang pohon yang rindang di pinggir sebuah telaga. Pada singgasana itu duduk seorang berpakaian indah. Syeikh menghampirinya, orang itu berdiri dan memepersilahkan syeikh duduk di atas singgasana itu. Kemudian orang-orang berdatangan dari segala penjuru dan berkumpul di tempat itu. Semuanya berjumlah empat puluh orang. Kemudian mereka memberi isyarat ke atas. Seketika itu juga tersajilah berbagai hidangan dan mereka pun makan. Syeikh mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan orang itu memberi jawaban. Tetapi bahasa yang mereka pergunakan sama sekali tidak dapat kupahami. Beberapa lama kemudian Muhammad bin Ali at-Tirmidzi memohon diri dan menginggalkan tempat itu.
“Mari kita pergi,” ajak Muhammad bin Ali at-Tirmidzi kepadaku. “Engkau telah diberkahi.”
Sebentar saja kami telah berada kembali di Tirmidzi. Aku bertanya kepada Syiekh Muhammad bin Ali at-Tirmidzi :
“Apakah artinya semua kejadian tadi? Temmpat apakah itu dan siapakah orang itu.?”
“Itulah lembah pemukiman Putera-putera Israil,” jawab Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, “Dan orang tadi adalah Paul.”
“Bagaimana kita dapat pulang pergi dalam waktu sesingkat ini,?” tanyaku.
“Abu Bakr,” jawab Muhammad bin Ali at-Tirmidzi, “Jika Dia mengantarkan maka sampailah kita. Apakah gunanya kita bertanya mengapa dan bagaimana, yang perlu engkau sampai ke tujuan bukan untuk bertanya-tanya.”
Kemudian Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertutur : Betapa pun besar perjuanganku untuk menundukkan hawa nafsu, namun aku tidak berhasil.
Di dalam keputusasaan aku berkata : “Mungkin Allah telah menciptakan diriku ini untuk disiksa di dalam neraka. Mengapakah diri yang terkutuk ini harus ku pelihara lagi?.
Maka aku pergi ke pinggir Sungai Oxus. Kepada seseorang yang berada di situ aku minta tolong untuk mengikat kaki dan tanganku, dan setelah itu iapun pergi meninggalkan seorang diri. Aku berguling-guling dan jatuh ke dalam air. Aku ingin mati terbenam! Tetapi ketika terbentur permukaan air, ikatan di tanganku terlepas dan sebuah gulungan ombak menghempaskan tubuhku ke pinggir.
Dengan putus asa aku berseru : “Ya Allah, Maha Besar Engkau yang menciptakan seseorang yang tak pantas diterima baik di surga maupun di neraka!.” Berkat seruan ku di dalam keputus asaan itu terbukalah mata hatiku dan terlihatlah olehku segala sesuatu yang harus ku lakukan.
Pada saat itu juga terbebaslah aku dari hawa nafsu. Selama hataku, aku bersyukur terhadap saat-saat kebebasan itu,
Abu Bakr al-Warraq juga mengisahkan sebgaia berikut ini :
Pada suatu hari Muhammad bin Ali at-Tirmidzi menyerahkan buku-bukunya kepadaku untuk dibuang ke sungai Oxus. Ketika ku periksa ternyata buku-buku itu penuh dengan seluk beluk dan kebenaran-kebenaran mistik. Aku tak tega melaksanakan perintah Muhammad bin Ali at-Tirmidzi itu dan buku-buku tersebut ku simpan di dalam kamarku. Kemudian aku katakan kepadanya bahwa buku-buku itu telah ku lemparkan ke dalam sungai. Tetapi Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertanya kepadaku : “Apakah yang engkau saksikan setelah itu.?
“Tidak sesuatu pun.” Jawabku.
“Kalau begitu, engkau belum membuang buku-buku itu ke dalam sungai. Pergilah dan buanglah buku-buku itu,” perintah Muhammad bin Ali at-Tirmidzi.
“Ada dua persoalan,” aku berkata di dalam hati. “Yang pertama, mengapa ia ingin membuang buku-buku ini ke dalam sungai? Yang kedua, apakah yang akan kusaksikan nanti setelah mencampakkan buku-buku ini kdalam iar?.”
Aku terus berjalan menuju sungai Oxus dan melemparkan buku-buku itu. Tetapi seketika itu juga air sungai terbelah dan terlihatlah olehku sebuah peti yang terbuka tutupnya. Buku-buku itu jatuh ke dalam peti itu, kemudian tutup peti tersebut mengatup dan air sungai bersatu kembali. Aku terheran-heran menyaksikan kejadian ini.
Ketika aku kembali, Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bertanya : “Sudahka engkau lemparkan buku itu?.”
Aku menyahut : “Guru, demi keagungan Allah, katakanlah kepadaku apakah rahasia di balik semua ini?.”
Muhammad bin Ali at-Tirmidzi menjelaskan : “Aku telah menulis buku-buku mengenai ilmu sufi dengan keterangan-keterangan yang sulit untuk dihamai oleh manusai-manusia biasa.

Saudara ku Khidir meminta buku-buku itu. Peti yang engkau lihat tadi telah dibawakan oleh seekor ikan atas permintaan Khidir, sedang Allah Yang Maha Besar memerintahkan kepada air untuk mengatarkan peti itu kepadanya.”

Tiada ulasan: