Catatan Popular

Ahad, 14 Januari 2018

SABAR DALAM KETAATAN

Imam Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al-Qulyuby.

Diceritakan : dari sebagian orang shalihin dia berkata : “aku adalah orang yang thawaf ke baitullah ketika itu ada seorang lelaki yang sujud sambil mengucapkan : “apa yang kau lakukan wahai tuanku  terhadap perintah hambamu yang ihram ?”.

Selama aku lewat di depannya aku mendengarnya mengucapkan hal tersebut. Kemudian ketika aku selesai dari thawaf dan dia selesai dari sujudnya aku bertanya  kepada lelaki itu mengenai masalah tersebut. Kemudian dia berkata padaku : “ketahuilah !, kita  berada di Negara Romawi kita akan menyerang benteng mereka”.

Kemudian pasukan kami mengumpulkan semua pasukan dalam jumlah yang besar  dan mereka pergi dari negaranya. Kemudian pemimpin pasukan mengambil sepuliuh pasukan kuda dari kita, aku merupakan salah satu darinya, lantas kami diutus menjadi pasukan depan.

Kemudian kami mendatangi padang sahara yang tandus ( mafazah) , kami disana melihat 60 orang kafir  lalu kami melihat ke mafazah lain tiba-tiba kami melihat 600 orang kafir. Kemudian kami pulang. Kemudian kami mengabarkan hal tersebut pada pemimpin maka pemimpin mengutus pasukan muslim ke mafazah tersebut. Kemudian mereka semua ditahan , lalu pemimpin berkata pada kami : “sesungguhnya kalian membawa barokah”.
Kemudian mereka keluar pada tengah malam seperti biasanya. Kita tiba dengan 1000 pasukan berkuda lalu kami bebaskan semua tahanan. Bersama mereka kami tiba di Negara Romawi, kemudian raja  memerintahkan menahan kita. 

Kemudian sampai berita padanya bahwa pasukan Islam telah membunuh tawananan salah satu diantarannya yaitu Ibnu Amil al Malik sehingga sang raja menjadi  sangat sedih akan kejadian teresebut.

Kemudian sang raja memerintahkan untuk menghukum kami, kemudian mereka menyiksa mata kami kemudian si waqif  berkata : “demi kepala raja apa yang mengenai mata mereka untuk meringankan mereka maka bukalah mata kalian agar kalian bisa melihat bahwa siksaan sebagian dari kalian lebih berat daripada kalian. 

Mereka menyingkap dari penglihatan kami. Lantas  kami melihat seseorang  yang berdiri dihadapan kami, dia memakai pakaian sutera dan bermahkotakan dari emas.  Dulu dia seorang laki-laki muslim kemudian dia murtad dan masuk ke kelompok orang-orang kafir.

Kemudian aku tidak mampu berkata-kata dengannya. Kami melihat ke atas, kami melihat sepuluh budak wanita yang tiap-tiap dari mereka membawa sapu tangan dan tilam. Di atas mereka terdapat beberapa pintu lorong menuju langit.

Kemudian algojo memulai membunuh kami satu persatu. Ketika setiap kali algojo membunuh satu dari kami maka satu budak wanita menyongsong dan memungut ruhnya serta merusaknya di dalam sapu tangan, menaruhnya di atas piring dan menaikkannya ke satu pintu menuju langit.

Tinggallah aku yang terakhir, ketika semua masalah telah berakhir. Budak wanitakupun telah bersiap-siap melakukan apa yang seperti diperlakukan kepada teman-temanku.Ketika algojo hendak membunuhku, seseorang yang berdiri di hadapan raja berkata : “Wahai raja, ketika mereka dibunuh semua, maka siapa yang mengabarkan ke orang-orang muslim tentang pembunuhan mereka?, tinggal orang inilah yang mengabarkan kepada orang muslim”. Kemudian algojo berpaling dari membunuhku dan budak wanita pergi dariku sambil berkata: “Tidak dapat apa-apa, tidak dapat apa-apa”.

Oleh karena hal tersebut, aku mendekatkan diri ditempat ini seraya  aku berkata : “Ya Tuhan, Bagaimanakah Engkau membuat masalah Tidak dapat apa-apa?”.


Sebagian orang berkata : “Tidak apa-apa, Allah mengutamakan orang-orang yang besar”.

Tiada ulasan: