Catatan Popular

Isnin, 10 Ogos 2015

DARI KITAB BAWA MUHAIYADDEEN : MEMANDANG ALLAH (NUKILAN 1)



Nukilan Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen     
     
(TOKOH SUFI AGUNG DARI SRI LANKA)



Cinta kepada Allah ini adalah hal yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita yang terakhir. Kita telah berbicara berkenaan bahaya kerohanian yang akan menghalangi cintakepada Allah dalam hati manusia, dan kita telah berbicara berkenaan berbagai sifat-sifatyang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta Allah itu.

Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Allah ini. Cinta kepada Allah ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta kepada Allah melebihi cinta kepada yang lain.

Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu hal yang senang sehingga ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta kepada Allah atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh mencintai Allah Subhanahuwa Taala karena Allah itu bukanlah sejenis dengan manusia. Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Allah saja.

Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya agama itu.Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Allah (cinta Alloh) itu adalah satu tugas.Allah ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;

‖ Hai orang -orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ―. (Al Maidah:54)

 Nabi pernah bersabda;

Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia Mencintai Allah dan Rasulnya lebihdaripada yang lain‖.

Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata, Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?‖

Allah berfirman,

Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?‖

 Kemudian Nabi Ibrahim berkata, Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!‖
 Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;

Ya Allah, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada Cinta Mu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.‖

 Hasan Basri berkata;
Orang yang kenal Alloh akan Mencintai Allah , dan orang yang mengenal dunia akan benci kepada dunia itu‖.

Sekarang marilah kita membicarkan pula berkenaan dengan keadaan cinta itu. Bolehlah ditafsirkan bahwa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang indah atau nyaman. Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) yaiitu tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keindahan atau kepuasan kepadanya. Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah. Telinga cinta kepada bunyi-bunyinya yang merdu, dan sebagainya. Inilah jenis cinta yang kita miliki dan binatang pun memilikinya.

Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam hati, dan ini tidak ada pada binatang. Dengan melalui inilah kita mengenal keindahan dan keagungan keruhanian. Oleh karena itu, mereka yang terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahwa baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan bau harum wangi, meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga oleh baginda. 

Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua hal-hal yang zhahir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun. Orang yang memandang zhahir saja akan berkata bahwa kecantikan itu terletak pada warna kulit yang putih dan merah, kaki dan tangan yang eloknya dan sebagainya lagi, tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak, seperti apa yang dikatakan orang bahwa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang indah‖. 

Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai orang-orang besar yang telah kembali kealam baka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar misalnya, karena kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat yang agung dan mulia, meskipun tubuh mereka telah aancur menjadi tanah. Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir saja,tetapi memandang kepada sifat-sifat batin. Bahkan apabila kita hendak menimbulkan cintadalam hati kanak-kanak terhadap seseorang, maka kita tidak memperihalkan keindahanbentuk zhahirnya, dan lain-lain, tetapi kita perihalkan keindahan-keindahan batinnya. Apabila kita gunakan prinsip ini terhadap cinta kepada Allah, maka kita akan dapati bahwa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta. Mereka yang tidak mencintai Allah itu ialah karena mereka tidak mengenal Allah itu. 

Apa saja yang kita cinta kepada seseorang itu, kita cintai karena itu adalah bayangan Allah. Karena inilah kita cinta kepada Muhammad Saw karena baginda adalah Rasul dan kekasih Allah, dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang auliya itu adalah sebenarnya cinta kepada Allah. Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang menyemarakkan cinta.Sebab pertama ialah, bahwa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan menyempurnakan keadaannya sendiri.

Ini membawanya secara langsung menuju Cinta kepada Allah, karena wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah semata-mata Kurniaan Allah saja. Jika tidaklah karena kehendak Allah Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya, manusia tidak akan zhahir ke alam nyata itu. Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga dengan kurnia Allah semata. Sungguh aneh jika seseorang itu berlindung ke bawah pohon dari sinar matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pohon itu.Begitu jugalah jika tidaklah karena Allah, manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung. Oleh karena itu, kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Allah? Jika tidak cinta kepada Allah berarti ia tidak mengenalNya. Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya, karena Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak mengenal. 

Sebab yang kedua ialah, bahwa manusia itu cinta kepada orang yang menolong dan memberi kurnia kepada dirinya. Pada hakikatnya yang memberi pertolongan dan kurnia itu hanya Allah saja. Sebenarnya apa saja pertolongan dan kurnia dari makhluk atau hambaitu adalah dorongan dari Allah Subhanahuwaa Taala juga. Apa saja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain, sama ada keinginan untuk maju dalam bidang agama atau untuk mendapatkan nama yang baik, maka Allah itulah pendorong yang menimbulkan niat, keinginan dan usaha untuk mencapai apa yang dicinta itu

Sebab yang ketiga ialah cinta yang ditimbulkan dengan cara renungan atau tafakur tentang Sifat-sifat Allah, Kuasa dan KebijaksanaanNya. Dan bermula Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari Kekuasaan dan Kebijaksanaan Allah Subhanahuwa Taala juga. Cinta ini adalah seperti cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di zaman dulu, misalnya Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menyangka menerima sebarang faedah pribadi dari mereka itu, dan dengan itu adalah jenis yang tidak mencari untung. Allah berfirman kepada Nabi Daud,
“Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan karena takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu, tetapi adalah semata-mata karena Aku ini Tuhan.‖

 Dalam kitab Zabur ada tertulis,
“Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu karena takutkanNeraka atau berkehendakkan Syurga? Jika tidak aku jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?‖

Sebab yang keempat berhubungan dengan cinta ini ialah karena keterikat yang erat antara manusia dan Tuhannya, yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Alloh jadikan manusia menurut bayanganNya‖

 Selanjutnya Allah berfirman;
“HambaKu mencari kehampiran denganKu, supaya Aku jadikan dia kawanKu, dan bila Aku jadikan ia kawanku, jadilah Aku telinganya, matanya dan lidahnya‖.

 Allah berfirman juga kepada Nabi Musa;
“Aku sakit, engkau tidak mengungjungiKu.‖ Nabi Musa menjawab, ―Aahai Tuhan, Engkauitu Tuhan langit dan bumi, bagaimana engkau boleh sakit?‖ Alloh menjawab, “Seorang hambaKu sakit, kalau engkau mengunjungi dia, maka engkau mengunjungi Aku.‖

Ini adalah satu hal yang agak bahaya hendaklah dikaji lebih dalam karena ia tidak terjangkau oleh pengetahuan orang awam, bahkan yang bijak pandai pun mungkintumbang dalam perjalanan hal ini, lalu menganggap ada penzhahiran atau penjelmaanTuhan dalam manusia. Tambahan pula hal kemiripan hamba dengan Tuhan ini dibantah oleh Alim Ulama‘ yang tersebut diatas dulu karena mereka berpendapat bahwa manusia itu tidak dapat mencintai Allah oleh sebab Alloh bukan sejenis manusia. Walau pun berapajauh jaraknya antara mereka, namun manusia boleh mencintai Alloh karena yangkemiripan itu ada ditunjukkan oleh sabda Nabi :

“Allah jadikan manusia menurut rupanya.‖

Dan kataku pula (suluk), untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhahir dan batin ini, perlulah diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbillah dari kalangan Aulia Allah yang apabilaaberbicara, hanya akan mengungkapkan sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi, bukan beralaskan sesuatu kepentingan atau pengaruh hawa nafsunya. Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari Allah Taala yang didapati terus dari Allah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutul lil Duniyyah sebagaimana berikut;
 Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghaibi manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham dinamakan Ilmu Laduni.Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwadan Allah Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atasQalbu yang bersih, kosong lagi halus (Lathif)

Semua orang Islam percaya bahwa memandang Allah itu adalah puncak segala kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum. Tetapi bagi kebanyakan orang, ini adalah berbicara dimulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati. 

Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal? Kita akan coba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Allah itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai oleh manusia.

Pertama , tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu. Ini serupa saja sejak dari kehendak tubuh yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi. Usaha mental (otak) yang paling rendah pun mendatangkan ketertarikan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak tubuh saja. Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia Sultan dan rahasia menteri. 

Dengan demikian, oleh karena Allah itu adalah objek atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Allah itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain. Orang yang mengetahui dan mengenal Allah walaupun dalam dunia ini. seolah-olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.

Firman Allah SWT :
‖ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ‖ (Al Imran:133)

 Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh memandangnya  dengan benar.Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Allah , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya. Karena inilah Allah berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai, Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa:  “YaTuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau‖.
Tuhan berfirman:  “Kamu sekali -kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu,maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku‖.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman‖. (AlAraaf:143)

Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia, dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Allah yang diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi Memandang Allah‖ di akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidakakan dibagi-bagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi konsep pemahaman mereka tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.Allah itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin.
Ada yang lurus, ada yang bengkok,ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya. Orang yang Menyintai Allh sepenuh hati dan Cintanya kepada Allah melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan ini.

Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada wajah yang cantik. Orangyang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orangyang mempunyai wajah itu.Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup. Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Allah itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri darihawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud. Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap Memandang Allah‖ adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kalajengking yang senatiasa menggigitnya.

Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Allah yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaandi dunia ini, lalu melihat dia tanpa hijab lagi .

Abu Sulaiman berkata;

“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga dengan dirinyadi akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak‖.

 Yahya bin Mu‘adz menceritakan;
 “Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :
“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, tetapi aku tidakmeminta itu; ada pula yang meminta harta karun, tetapi aku tidak meminta itu, kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata; “Kamu di situYahya?‖ Saya menjawab; “Ya!‖ Beliau bertanya lagi; “Sejak bila?‖ Saya menjawab;”Telah lama saya di sini‖ Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada sayasetengah daripada pengalaman keruhaniannya.

“Saya akan menceritakan‖ Jawab beliau.  Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu, Allah Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke palingrendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Allah) berkata;”Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki‖.
 Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau‖.
 JawabNya (Allah) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar benarnya‖.

 Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:
“Sekiranya Allah mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian  Isa, namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu‖

 Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu‖.

 Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun,engkau tidak akan mendapatkannya‖.
 Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?‖
 Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya obat itu‖.
Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar meminta supaya diceritakan,Abu Yazid pun berkata;
“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah pakaianmu itukecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang berisi Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini‖ Kemudian dalam keadaan inipergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku‖.
 Kata sahabatnya; ―Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara yang lain‖.
Abu Yazid pun berkata; “Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi‖.

Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allahsebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong -penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?‖

Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong -penolong agama Allah‖, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikankekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu merekamenjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff:14)

Apabila orang bertanya kepada Nabi Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali derajatnya?‖ Beliau menjawab; “Mencintai Allah dan tunduk kepadaNya‖.
 Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Allah bernama Rabi‘atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ‖ Cinta kepada Allah menghalang aku cinta kepada makhluk‖.

 Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata; ―Ya Allah! pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan kepadaku‖.

Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena segala-galanya diakhirat itu adalah kembali kepada Allah dan Allah itulah alamat yang dituju dan dicapaisetelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya. Nikmat memandang Allah itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka kepada Allah di sini, maka di sana pun iatidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit saja sukanya kepada Allah di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Allah di sana . 

Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar Cintanya kita kepada Allah di dunia ini. Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang berlawanan dengan Allah, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain, akan mendatangkan azab sengsara kepadanya. Mudah-mudahan Allah lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :
Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah. Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, ―Wah! Inilah sebenarnya wangi!‖

 Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhahiran Jamal (keindahan) Allah SubhanahuwaTaala.
Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:
…….., Sesungguhnya Allah menyukai orang -orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.(Al Baqarah:222)

Dosa dan maksiat sangat bertentang dengan masalah ini. Oleh karena itulah tercantum dalam Al-Quran: Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. (Al Jaatsiyah:27)

Orang yang dikaruniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu  lagi. Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi, ibarat orang yang mengkaji ilmu pengobatan, akan tahu adakah orang yang berbicara berkenaan pengobatan itu sebenarnya dokter ataupun bukan. Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu dibantu dengan mukjizat atau perbuatan yang diluar kebiasaan karena yang demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.
Apa yang Tuhan inginkan Ada sebuah fase ketika seorang pejalan dan orang-orang yang percaya mesti sejenak berhenti, barangkali di antara jeda-jeda nafas ini: apa yang sebenarnya Tuhan inginkan? Apakah diam saja bagai emas atau berbicara? Apakah tetap tinggal atau hijrah? Apakah mesti ke dokter atau biarkan saja? Apakah sekolah lagi atau bekerja? Apakah mesti memberinya atau membiarkannya? Yang mana yang Ia maui? Pertanyaan serupa diajukan di sebuah diskusi bersama Bawa Muhaiyaddeen (seorang sufi asal Srilanka), terekam di (dan diterjemahkan dengan semena-mena tanpa ijin dari) buku.

Tiada ulasan: