Catatan Popular

Sabtu, 15 Ogos 2015

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 27 : FIRAR



IMAM IBN QAYYIM AL JAUZIYAH



Hakikat firar adalah melarikan diri dari sesuatu ke sesuatu yang lain.
Firar ini ada dua macam:
- Firar-nya orang-orang yang bahagia, yaitu firar kepada Allah.
- Firar-nya orang-orang yang menderita, yaitu firar dari Allah
kepada selain Allah.
Sedangkan firar dari Allah kepada Allah adalah firar-nya wali-wali
Allah. Dalam menafsiri firman Allah

 "Maka larilah kepada Allah"
,
IbnuAbbas berkata, "Artinya, larilah dari Allah kepada Allah dan taatlah kepada-
Nya." Sedangkan Sahl bin Abdullah berkata, "Artinya, larilah dari selain
Allah kepada Allah." Yang lain lagi berkata, "Larilah dari adzab Allah ke
pahala-Nya, dengan iman dan ketaatan."
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Artinya lari dari sesuatu yang
tidak ada ke sesuatu yang senantiasa ada.


Ada tiga derajat untuk firar ini:

1. Firar-nya orang-orang awam, dari kebodohan ke ilmu, dengan disertai
keyakinan dan usaha, dari kemalasan ke kerajinan yang disertai
kesungguhan dan tekad, dari kesempitan ke kelapangan yang disertai
harapan.
Tentang firar dari kebodohan ke ilmu, kebodohan itu sendiri ada dua
macam: Pertama, tidak mengetahui kebenaran yang bermanfaat. Kedua,
tidak beramal menurut keharusan dan kelazimannya. Kedua-duanya
sudah mendefinisikan makna kebodohan menurut bahasa, istilah,
syariat dan hakikat. Maka Musa berkata,

"Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari
orang-orang yang bodoh." (Al-Baqarah: 67).

Beliau berkata seperti itu setelah kaumnya berkata, "Apakah kamu
hendak menjadikan kami buah ejekan?" Berarti, Musa berlindung kepada
Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang suka
mengejek. Yusuf juga berkata,

"Dan, jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu
aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah
aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Yusuf: 33).

Artinya, agar beliau tidak termasuk orang-orang yang melakukan apaapa
yang diharamkan kepada mereka. Allah befirman,

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang
yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan." (An-Nisa': 17).

Qatadah berkata, "Para shahabat sudah sepakat bahwa apa pun ben-tuk
kedurhakaan terhadap Allah disebut kebodohan." Ada pula yang
berkata, "Para shahabat sudah sepakat bahwa siapa pun yang durhaka
kepada Allah adalah orang yang bodoh."
Seorang penyair berkata,

"Tak ada gunanya seseorang membodohi kami hingga kita lebih bodoh
dari jahily."

Orang yang tidak mendalami ilmu disebut bodoh, entah karena dia
tidak bisa mengambil manfaat dari ilmu itu, hingga dia disebut orang
bodoh, entah karena ketidaktahuannya terhadap akibat dari perbuatannya.
Firar ini merupakan firar dari dua macam kebodohan: Kebodohan
terhadap ilmu yang harus didapatkan dan diyakini, dan kebodohan terhadap
pengamalannya.
Firar dari kemalasan ke kerajinan yang disertai kesungguhan dan tekad,
artinya meninggalkan belenggu kemalasan lalu berbuat dan berusaha,
dengan kesungguhan dan tekad, tidak asal-asalan, tidak meremeh-kan
dan tidak berandai-andai. Kesungguhan artinya kebenaran dalam
beramal dan berusaha, sedangkan tekad merupakan kesungguhan dalam
kehendak. Maka Allah befirman kepada Yahya,

"Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh."
(Maryam: 12).

Quwwah dalam ayat ini berarti kesungguhan yang disertai tekad dan
usaha, tidak seperti orang yang mengambil perintah-Nya dengan ragu-ragu
dan setengah hati.
Firar dari kesempitan ke kelapangan yang disertai harapan artinya lari
dari dada yang terasa sesak dan penat karena kekhawatiran, kegelisahan,
kesedihan dan ketakutan yang dirasakan hamba dari dalam dirinya,
dan juga yang datang dari luar dirinya, seperti hal-hal yang berkaitan
dengan sebab-sebab kemaslahatan hidupnya di dunia ini, baik dalam masalah
harta, badan, keluarga, masyarakat atau musuhnya. Dia harus lari
dari semua jenis kesempitan yang menghimpit dada, lalu beralih ke kelapangan
keyakinan kepada Allah, tawakal dan harapan kepada-Nya.

"Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
mengadakan baginyajalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3).

Ar-Rabi' bin Khutsaim berkata, "Artinya, Allah menjadikan baginya
jalan keluar dari hal-hal yang biasanya membuat manusia merasa sesak
dadanya."
Abul-Aliyah berkata, "Artinya, Allah menjadikan baginya jalan keluar
dari segala kekerasan, baik kekerasan di dunia maupun di akhirat. Allah
pasti memberikan kelapangan bagi orang Mukmin dari segala hal yang
biasanya membuat manusia merasa sempit dan sesak dadanya."
Selagi seorang hamba mempunyai persangkaan yang baik terhadap Allah,
berpengharapan yang baik kepada-Nya dan tawakkal secara sung-guhsungguh,
maka Allah tidak akan menelantarkannya dan tidak akan
mengabaikan harapannya. Keyakinan dan baik sangka terhadap Allah
ini merupakan istilah lain dari kelapangan hati. Sebab tidak ada yang
lebih membuat dada terasa lapang setelah iman, selain dari keyakinan,
mengharapkan yang baik dan berbaik sangka kepada Allah.

2. Firar-nya orang-orang yang khusus, yaitu dari pengabaran ke kesaksian,
dari rupa ke inti, dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan.
Artinya, mereka tidak ridha jika iman mereka hanya sekedar dari
pengabaran. Mereka ingin naik lebih tinggi agar bisa menyaksikan siapa
pemberi kabar itu. Mereka ingin naik dari ilmul-yaqin lewat pengabaran
ke ainul-yaqin lewat kesaksian, seperti yang diinginkan Ibrahim Alaihis-
Salam dari Allah.
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbi, perlihatkanlah padaku
bagaimana Engkau menghidupkan orang mati!' Allah befirman, 'Belum
yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah meyakininya, tetapi
agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)'." (Al-Baqarah: 260).
Ibrahim menuntut agar keyakinannya nyata di depan mata dan apa yang
ingin diketahui dapat disaksikan. Inilah makna yang diungkapkan Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kesangsian, dalam sabda beliau,
"Kita lebih layak untuk sangsi daripada Ibrahim yang berkata, 'Ya
Rabbi, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang
mati!'"
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah sangsi, begitu pula
Ibrahim. Tapi memang begitulah beliau mengungkapkan makna ini. Apa
yang dituntut Ibrahim itu bukan karena sangsi atau ragu-ragu, tapi
karena beliau menuntut kemantapan.
Ada tiga tingkatan tentang hal ini: Ilmul-yaqin yang diperoleh dari
pengabaran, kemudian hati mendapatkan kejelasan hakikat pemberi
kabar. Ilmu tentang pemberi kabar ini berubah menjadi ainul-yaqin, setelah
itu menyatu menjadi haqqul-yaqin. Ilmu kita tentang surga dan neraka
pada saat ini disebut ilmul-yaqin. Jika surga ditampakkan kepada orangorang
yang bertakwa dan neraka diperlihatkan kepada orang-orang
yang durhaka, artinya mereka melihat dengan mata kepala sendiri,
maka hal itu disebut ainul-yaqin. Jika penghuni surga sudah masuk surga
dan peng-huni neraka masuk ke neraka, maka itu disebut haqqul-yaqin.
Firar dari rupa ke inti, artinya keluar dari ilmu dan amal-amal yang
tampak, lalu beralih ke hakikat iman dan mu'amalah hati. Orang-orang
yang mempunyai tekad yang besar tidak puas hanya dengan rupa-rupa
amal yang tampak mata. Mereka tidak mempedulikannya kecuali
dengan ruh dan hakikatnya. Pengetahuan tentang Allah tidak
mengharuskan seseorang untuk meninggalkan perintah seperti
anggapan orang-orang zindiq dan sufi. Bahkan seharusnya mereka bisa
menyimpulkan hakikat perintah, rahasia ubudiyah dan ruh amaliyah.
Mereka memposisikan diri di hadapan perintah seperti posisi orang
yang mengetahui maksud per-kataan orang lain yang berbicara
dengannya, entah yang tersamar, yang jelas atau yang berupa isyarat.
Sedangkan posisi selain orang-orang sufi seperti orang yang mengikut di
belakang orang yang berilmu itu dan hanya menghapal semata, tanpa
memahami dan mengerti maksudnya. Mereka ini lebih membutuhkan
kepada perintah, sebab mereka tidak sampai kepada pengertian dan
hakikat itu kecuali dengan adanya perintah, di samping harus ada
hapalan, pengetahuan dan pengamalan.
Orang-orang sufi ini mengartikan hakikat perintah yang dituntut adalah
ruhnya, bukan rupa dan zhahimya. Karena itu mereka berkata, "Kami
menghimpun hasrat pada tujuan dan hakikat, dan kami tidak membutuhkan
rupa dan zhahimya. Siapa yang menyibukkan diri dengan rupa
berarti melalaikan tujuan dengan suatu sarana."
Mereka tertipu, seperti halnya orang-orang yang hanya memperhatikan
rupa amal dan zhahimya tanpa memperhatikan hakikat, ruh dan
tujuannya. Golongan yang kedua mengabaikan rahasia amal, tujuan dan
hakikatnya, sedangkan golongan pertama mengabaikan rupa dan zhahimya.
Mereka menganggap telah sampai kepada hakikat amal sekalipun
tanpa zhahir amal itu. Padahal mereka hanya sampai kepada zindiq dan
kekufuran, mengingkari apa yang seharusnya diketahui tentang diutusnya
para rasul. Mereka adalah orang-orang kafir, zindiq dan munafik,
sedangkan golongan selain mereka juga tidak sempuma. Hati itu mempunyai
ubudiyah sebagaimana anggota badan. Mengabaikan ubudiyah
hati sama dengan mengabaikan ubudiyah anggota tubuh. Kesempurnaan
ibadah ialah dengan menerapkan ubudiyah untuk masing-masing pasukan,
pasukan hati dan pasukan anggota tubuh.
Firar dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan bagian itu ada
beberapa tingkatan, yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang benarbenar
memiliki ma'rifat tentang hak-hak Allah dan apa yang diinginkan-
Nya serta hak-hak hamba-Nya, mengetahui diri sendiri, amal dan penghalangnya.
Secara umum, bagian ini artinya apa pun selain yang dikehendaki Allah
darimu, entah yang hukumnya haram, makruh, mubah atau sunat.
Semua ini tidak akan diketahui kecuali dengan memiliki ilmu yang mendalam
tentang Allah dan perintah-Nya, tentang nafsu dan sifat-sifatnya.
Sebenarnya di sana ada bagian yang bisa didapatkan seorang hamba sebagai
haknya. Namun dia lari dari bagian ini untuk melepaskannya.
Namun jarang manusia yang mampu melakukan hal ini, karena mereka
beribadah kepada Allah justru untuk mendapatkan bagian dari apa yang
dikehendakinya. Kalau pun ada, maka itu adalah kedudukan para nabi
dan shiddiqin.

3. Adapun firar-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang
khusus ialah lari dari selain kebenaran kepada kebenaran, dari kesaksian
firar kepada kebenaran, kemudian firar dari kesaksian firar. Uraian
tentang masalah ini tidak jauh berbeda dengan uraian yang terdahulu.

Tiada ulasan: